Mengapa saya belum membelikan buku harga jutaan untuk anak. Kalau bisa murah, kenapa harus mahal?

/ October 05, 2017

Sebenarnya sudah lama saya mau curhat soal buku harga jutaan yang banyak berseliweran di timeline sosial media. Tidak ada yang salah dengan buku anak yang harganya jutaan dan bisa dicicil itu. Saya sangat mengapresiasi teman-teman para penjual yang membantu para orang tua untuk bisa memberikan buku-buku tersebut kepada anak mereka. Itu sangat lah mulia. 

Namun ada beberapa hal yang mengusik perasaan saya mengenai keberadaan buku harga jutaan ini. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi masukan buat para pembeli agar lebih bijak dan para penjual agar lebih tepat sasaran dalam menjual buku-buku tersebut. Bukan apa-apa, kasihan melihat orang-orang yang terpaksa mencicil dengan susah payah hanya demi sebuah buku. Mending kalau dia memang benar-benar tahu tentang buku tersebut dan punya banyak buku yang lain. Lah ini cuma itu satu-satunya koleksinya yang bisa dibaca. Asli miris lihatnya.

Saya tidak akan menyebut judul untuk buku harga jutaan itu. Tapi kriterianya adalah buku yang berjilid-jilid, hardcover, dan harganya di atas 1 juta. Bahkan ada yang 7 juta loh! Sebagai penggila buku tentu saja saya penasaran. Apa yang menyebabkan buku tersebut bisa semahal itu?

Alhamdullillah buku-buku harga jutaan ini bertebaran di sekitar saya. Ada yang punya tetangga, punya saudara, punya sekolah anak-anak, hingga di perpustaan kota yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Buku-buku tersebut boleh saya pinjam dan saya bawa pulang ke rumah untuk dibaca bersama anak-anak. Jadi saya punya kesempatan cukup banyak untuk bisa menilai buku tersebut sebelum mengeluarkan uang harga jutaan.

Berikut beberapa pertimbangan mengapa saya belum membelikan buku harga jutaan untuk anak:

#1 Harganya yang mahal


Bagi kami yang budget belanja buku per bulannya di kisaran Rp 100.000,- hingga Rp 200.000,- saja, angka jutaan itu terasa sangat besar sekali. Karena ini kan budget buku keluarga, bukan hanya buku anak saja. Masa setelah beli buku itu, kami harus puasa beli buku selama berbulan-bulan?

Budget buku segitu harus di eman-eman untuk bacaan Mama (ini yang utama), bacaan anak, dan keluarga. Mama sebagai teladan juga kan harus banyak baca buku loh.

Tapi kan dapatnya berjilid-jilid. Jatuhnya satu buku murah loh.

Coba deh dihitung benar-benar. Bagi jumlah harga yang kita bayar dengan jumlah buku yang didapat. Belum lagi kalau mau jujur, melihat berapa buku yang sebenarnya suka dibaca oleh anak kita? Benar-benar semua buku, atau cuma satu-dua buku saja? 

Kemudian pergilah ke toko buku, dan lihat berapa harga buku untuk buku sejenis. Dan kalian akan takjub dengan hasilnya.

Alhamdulillah saat ini banyak penerbit yang cukup sholeh dengan menjual buku dalam bentuk satuan dengan harga yang terjangkau. Setiap kali kami ke toko buku, kami akan membeli satu demi satu buku seperlunya sesuai kebutuhan dan keinginan anak-anak. Cukup 1 buku dalam 1 bulan. Jadi si Mama tidak perlu pusing dengan cicilan harga jutaan itu.

Sejujurnya, tidak ada bedanya buku itu dimiliki sekarang atau 2 bulan lagi. Sama seperti panci, untuk buku, saya lebih memilih tidak mencicil. Kalau punya uang kita beli, kalau tidak punya masukkan ke wishlist dulu. Insya Allah kalau rejeki, tu barang nggak akan kemana-mana. Bahkan bukan tidak mungkin akan ada diskon gede-gedean yang munculnya suka mengejutkan. Jadi mending uangnya ditabung dulu, daripada mencicil. Dapatnya Insya Allah lebih banyak. #cara_berpikir_mama_irit

#2 Ngabisin tempat

Rak buku di rumah yang sudah padat merayap.

Rumahku kecil euy. Cuma tipe 50m2. Dengan budget buku seperti saya sebutkan di atas, rak buku kami penuh dengan jumlah yang cukup signifikan. Padahal paling juga nambah rata-rata 2-3 buku per bulan.

Nah kalau melihat koleksi buku harga jutaan yang seabrek-abrek itu, saya langsung mikir ini sih harus beli rak khusus. Kalau bisa bufet buku yang di pajang di ruang tamu. Biar kelihatan oleh tetangga bahwa kami horang kaya yang bisa beli buku harga jutaan. Udah kaya rumah orang yang pamer kristal gitu deh. Harganya kan mirip-mirip itu.

Tapi setiap kali mau beli rak buku baru, uangnya keburu habis dibelikan buku. Jadilah rak buku baru belum terbeli, dan buku harga jutaan pun masih jauh dari daftar wishlist.

Kurangi dong buku yang ada. Kan mending simpan buku harga jutaan buat pajangan biar lebih berkelas.

Saya jawab komentar ini dalam alasan berikutnya.


#3 Banyak pilihan buku yang lebih murah

Ini bukan mau mengingatkan pada iklan pembasmi nyamuk itu ya, “Kalau yang lebih mahal banyak!” Karena budget buku yang terbatas, kami menjadi harus maha selektif dalam memilih buku yang perlu mengisi rumah mungil kami. Hanya buku-buku yang benar-benar kami butuhkan dan sukai yang berhak mendapat posisi istimewa di singgasana rak buku.

Kalau kita rajin ke toko buku, kita akan melihat begitu banyak pilihan buku yang ada. Apalagi kalau kita berteman dengan penulis-penulis buku papan atas. Wah…. ngiler tingkat dewa melihat buku-buku karya mereka. Ini bagus, itu bagus. Bawaannya semua mau dibeli. 

Saya sempat mengkhayal, kira-kira berapa budget belanja buku ideal agar semua wishlist buku saya bisa terwujud. Ternyata unlimited. Kalau diikuti, jadinya serakah dan tidak sehat juga nih. Makanya saya akhirnya membatasi dengan kemampuan kecepatan membaca saja. Paling juga 1 minggu 1 buku, atau 1 bulan 4 buku itu sudah maksimal. Cukup beli satu buku dan 3 buku meminjam di perpustakaan.

Dan bagaimana menentukan 4 buku yang beruntung itu? Kita baca review dan skimming dulu buku yang hendak kita baca. Makanya kalau saya paling tidak bisa beli buku sebelum benar-benar tahu dulu isinya seperti apa. Minimal reviewnya lah. Kalau kira-kira ada buku yang lebih baik, ya tidak perlu juga dipaksakan untuk membaca buku tersebut. Walau seluruh dunia akan menghujat kita karena menganggap kita tidak mengikuti selera pasar.

Buku itu benar-benar masalah selera sih. Dan kita tidak bisa didikte pasar untuk menentukan buku yang benar-benar kita perlukan. Apalagi jika berurusan dengan buku anak-anak. Kalau niatnya ingin membangkitkan semangat membaca anak, maka anak lah yang harus benar-benar suka dengan buku tersebut. Bukan Mamanya! 

Anak-anak makanya saya biasakan menabung jika menginginkan sesuatu. Apakah itu buku atau mainan. Jadi mereka akan lebih bertanggung-jawab terhadap milik mereka.

Saya sendiri sering berbeda selera dengan anak-anak masalah buku. Buku yang saya nilai bagus, ternyata mereka kurang suka. Buku yang saya nilai biasa saja, bisa tidak lepas dari tangan mereka sepanjang minggu. Namanya juga anak-anak.

Pilihan buku murah itu juga bisa diburu saat pameran buku, diskon gudang, atau ajang penjualan buku murah yang sekarang menjamur itu. Bahkan toko buku besar, punya lapak khusus untuk buku-buku diskon berkualitas. Itu murahnya bisa gila-gilaan.

Tapi memang ya, untuk bisa menemukan buku murah dan berkualitas itu perlu amalan yang agak kenceng. Kudu cinta sama buku dan rajin ke toko buku. Insya Allah, amalan kita akan mendapat buah yang manis. Nah kalau yang nggak ngerti soal buku, jarang banget ke toko buku, apalagi alergi melihat baris-baris tulisan dalam sebuah buku, ya memang rada susah untuk bisa menilai sebuah buku. Model seperti ini, siap-siap saja dikadalin penjual buku yang hanya mementingkan keuntungan tanpa mau peduli dengan kesulitan orang lain.

Saran saya, sebelum membeli buku harga jutaan, cobalah untuk beli buku yang murah-murah dulu. Nanti kalau sudah lebih advance, bolehlah membeli buku harga jutaan yang bisa kita jadikan pajangan itu.

Buku seri Genius Matematika keluaran Edutivity Gramedia ini sangat highly recommended untuk pemahaman matematika anak-anak. Harganya hanya Rp 28.000,- per buku.

#4 Tidak semua seri perlu dibaca

Satu yang bikin saya gondok tidak ketulungan sama buku berseri adalah pemaksaan untuk membeli seluruh set. Padahal tidak semua buku menarik dan perlu kita baca. Buat apa kita numpuk buku yang hampir tidak perlu kita sentuh selama bertahun-tahun. Apalagi anak-anak yang biasanya hanya suka satu dua buku saja. Bahkan bisa jadi buku itu cuma jadi mainan tumpuk-tumpukan saja. Padahal kan itu buku harga jutaan!

Kalau kita memang membutuhkan satu sub tema tertentu, biasanya banyak buku keren yang akan membahas tema tersebut secara menyeluruh. Bahasannya akan lebih menyeluruh dibanding buku yang terlalu umum dan membahas banyak hal. Buku yang membahas banyak hal itu bagus jika dilengkapi dengan index, yang akan membantu anak mencari bacaan yang mereka butuhkan. Tapi sayang tidak semua anak mampu membaca index buku ini. Saya aja tahu soal index ini ketika di perguruan tinggi. Diajarkan khusus oleh ibu dosen saya yang di rumahnya punya rak buku yang bikin ngiler. Terima kasih Bu Ririn, itu ilmu yang sangat penting dan bermanfaat.


Buku-buku pilihan yang tematik lebih cocok untuk keluarga kami daripada buku berseri.


#5 Bisa meminjam

Dan betulkah kita benar-benar harus memiliki buku itu sendiri? 

Buat saya, kategori buku yang perlu dimiliki itu adalah buku-buku yang memang perlu sering dibaca dan menyimpan informasi yang menarik. Itu juga yang menyebabkan saya tidak suka meminjamkan buku pribadi pada orang lain. Karena sangatlah mengesalkan, saat kita perlu sebagai referensi tulisan, buku tersebut tidak ada di tempatnya. Saya bahkan akhirnya memutuskan membeli beberapa buku yang sebenarnya sudah saya baca berulang kali dengan cara meminjam, hanya karena pada akhirnya baru dapat uang hidayah bahwa memang buku tersebut perlu saya miliki sendiri.

Saya senang sekali ketika tahu buku-buku mahal ini bisa dipinjam di perpustakaan sekolah anak-anak. Ada juga beberapa tetangga sholehah yang mengijinkan buku mewahnya dipinjam. Beda dengan saya yang pelit. Maka dengan senang hati lah kami meminjam satu demi satu buku untuk dibaca tuntas. Kami meminjam seperlunya saja. Paling 2-3 buku anak-anak sudah bosan.

Yang paling seru adalah buku di perpustakaan Bapusibda. Di sana ada selusin lebih buku berseri yang harganya jutaan itu. Saran saya, sebelum memutuskan membeli sebuah buku, cobalah cek dulu isinya di perpustakaan. Bandingkan satu buku dengan buku yang lain. Nanti akan ketemu deh pilihan terbaik yang lebih bijak dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak kita.


#6 Buku itu ada umurnya


Menurut saya buku itu gampang kuno. Bahkan buku-buku legendaris akan selalu dicetak ulang dengan pembaharuan di sana-sini agar tampil segar. Ganti cover lah, ganti layout lah, ganti jenis kertas lah, sehingga menarik mata yang baca. Buku-buku lama, apalagi yang tidak terawat dengan baik, mudah terlihat kusam.

Saya sebenarnya punya buku seri Enid Bylton yang seru-seru itu. Saya beli ketika saya SD di tahun 1980-an. Maunya sih, anak-anak ikut hanyut dalam kisah-kisah petualangan penulis Inggris ini. Tapi nyentuhnya saja mereka malas. Eh, pas di Gramedia, buku-buku ini dicetak ulang dengan kemasan baru. Lah, Sasya baru nangis-nangis pengen beli. Padahal di rumah yang versi tahun 1980-an di tolak mentah-mentah.

Menariknya sebuah buku ini penting banget buat anak-anak. Anak-anak lebih suka buku yang kertasnya masih kinclong, daripada buku lungsuran kakaknya. Ditambah lagi kemajuan ilmu itu sangat pesat di era digital seperti sekarang. Setiap tahun akan muncul buku-buku baru yang lebih baik dari sebelumnya. Terlebih untuk buku-buku ilmu pengetahuan.

Kemarin sempat juga baca kalau sebuah seri buku harga jutaan yang sempat dicintai sejuta umat, ternyata penulisnya menganut aliran yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Sebenarnya review tentang buku tersebut sudah banyak beredar sebelumnya. Di kenal sebagai buku yang mewah tapi kopong isinya. Tapi tetap saja saat itu banyak yang membelinya dengan bangga. Sekarang heboh deh para pembeli buku tersebut karena merasa nggak nyaman dengan buku mahal yang mereka beli itu. Duh kalau sudah begitu mau bagaimana? Masa buku harga jutaan mau dibuang hanya karena ketahuan penulisnya tidak sepaham dengan kita? 

Sekedar saran, kalau mau buang buku yang sudah kuno, mending ke perpustakaan saja. Mungkin ada yang perlu membacanya.

#7 Yang bacanya hanya sedikit

Kalau menurut saya yang pelit ini, kok sayang ya kalau buku harga jutaan yang baca hanya satu atau dua anak. Apalagi kalau rentang umurnya di atas 5 tahun. Kayanya keburu kuno deh. Akan banyak buku-buku baru yang lebih inovatif muncul.

Buku jutaan itu saya sangat sarankan dibeli oleh perpustakaan sekolah yang memungkinkan dibaca oleh para siswanya. Bila perlu 1 kelas punya satu seri untuk disimpan di kelas dan bisa dinikmati oleh puluhan anak. Tentunya dengan belajar bertanggung-jawab untuk merawat buku tersebut.

Bisa juga untuk dimiliki oleh perpustakaan rumahan yang bisa dinikmati para tetangga. Atau bahkan boleh kalau mau disewakan. Saya jadi ingat, dulu waktu SD sempat membuka penyewaan buku yang cukup laris manis. Jadi nggak mubazir bukunya bulukan di rak buku.

Dan menurut saya pangsa pasar yang bagus lainnya untuk buku harga jutaan ini adalah para kakek dan nenek tercinta. Serius loh, ini pasar yang empuk banget. Mereka bisa membeli buku banyak seperti itu dan membagi ke cucu-cucunya untuk dibaca bergiliran. Apalagi kalau si kakek atau si nenek suka membacakan cerita. Bisa jadi daya tarik tersendiri untuk membuat para cucu semangat di ajak ke rumah kakek nenek. Soal nanti penagihan diberikan kepada anak mereka a.k.a orang tua si cucu, itu mah urusan lain.


Demikian 7 alasan mengapa saya belum membelikan buku harga jutaan untuk anak-anak. Sebenarnya semua buku itu tidak bisa di bilang direkomendasikan dibeli atau tidak. Karena semua tergantung selera dan kebutuhan masing-masing orang. Jadi yang penting, kenalilah kebutuhan bacaan anak-anak dan tidak membeli buku hanya karena banyak orang membeli buku tersebut.

Buat teman-teman yang punya buku berseri untuk anak yang harganya jutaan, boleh dong tahu alasannya membeli buku tersebut dan membagi reviewnya dalam kolom komentar. Supaya ada masukan lain yang berimbang. Nuhun...

Selamat membaca dan bersenang-senang…



Sebenarnya sudah lama saya mau curhat soal buku harga jutaan yang banyak berseliweran di timeline sosial media. Tidak ada yang salah dengan buku anak yang harganya jutaan dan bisa dicicil itu. Saya sangat mengapresiasi teman-teman para penjual yang membantu para orang tua untuk bisa memberikan buku-buku tersebut kepada anak mereka. Itu sangat lah mulia. 

Namun ada beberapa hal yang mengusik perasaan saya mengenai keberadaan buku harga jutaan ini. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi masukan buat para pembeli agar lebih bijak dan para penjual agar lebih tepat sasaran dalam menjual buku-buku tersebut. Bukan apa-apa, kasihan melihat orang-orang yang terpaksa mencicil dengan susah payah hanya demi sebuah buku. Mending kalau dia memang benar-benar tahu tentang buku tersebut dan punya banyak buku yang lain. Lah ini cuma itu satu-satunya koleksinya yang bisa dibaca. Asli miris lihatnya.

Saya tidak akan menyebut judul untuk buku harga jutaan itu. Tapi kriterianya adalah buku yang berjilid-jilid, hardcover, dan harganya di atas 1 juta. Bahkan ada yang 7 juta loh! Sebagai penggila buku tentu saja saya penasaran. Apa yang menyebabkan buku tersebut bisa semahal itu?

Alhamdullillah buku-buku harga jutaan ini bertebaran di sekitar saya. Ada yang punya tetangga, punya saudara, punya sekolah anak-anak, hingga di perpustaan kota yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Buku-buku tersebut boleh saya pinjam dan saya bawa pulang ke rumah untuk dibaca bersama anak-anak. Jadi saya punya kesempatan cukup banyak untuk bisa menilai buku tersebut sebelum mengeluarkan uang harga jutaan.

Berikut beberapa pertimbangan mengapa saya belum membelikan buku harga jutaan untuk anak:

#1 Harganya yang mahal


Bagi kami yang budget belanja buku per bulannya di kisaran Rp 100.000,- hingga Rp 200.000,- saja, angka jutaan itu terasa sangat besar sekali. Karena ini kan budget buku keluarga, bukan hanya buku anak saja. Masa setelah beli buku itu, kami harus puasa beli buku selama berbulan-bulan?

Budget buku segitu harus di eman-eman untuk bacaan Mama (ini yang utama), bacaan anak, dan keluarga. Mama sebagai teladan juga kan harus banyak baca buku loh.

Tapi kan dapatnya berjilid-jilid. Jatuhnya satu buku murah loh.

Coba deh dihitung benar-benar. Bagi jumlah harga yang kita bayar dengan jumlah buku yang didapat. Belum lagi kalau mau jujur, melihat berapa buku yang sebenarnya suka dibaca oleh anak kita? Benar-benar semua buku, atau cuma satu-dua buku saja? 

Kemudian pergilah ke toko buku, dan lihat berapa harga buku untuk buku sejenis. Dan kalian akan takjub dengan hasilnya.

Alhamdulillah saat ini banyak penerbit yang cukup sholeh dengan menjual buku dalam bentuk satuan dengan harga yang terjangkau. Setiap kali kami ke toko buku, kami akan membeli satu demi satu buku seperlunya sesuai kebutuhan dan keinginan anak-anak. Cukup 1 buku dalam 1 bulan. Jadi si Mama tidak perlu pusing dengan cicilan harga jutaan itu.

Sejujurnya, tidak ada bedanya buku itu dimiliki sekarang atau 2 bulan lagi. Sama seperti panci, untuk buku, saya lebih memilih tidak mencicil. Kalau punya uang kita beli, kalau tidak punya masukkan ke wishlist dulu. Insya Allah kalau rejeki, tu barang nggak akan kemana-mana. Bahkan bukan tidak mungkin akan ada diskon gede-gedean yang munculnya suka mengejutkan. Jadi mending uangnya ditabung dulu, daripada mencicil. Dapatnya Insya Allah lebih banyak. #cara_berpikir_mama_irit

#2 Ngabisin tempat

Rak buku di rumah yang sudah padat merayap.

Rumahku kecil euy. Cuma tipe 50m2. Dengan budget buku seperti saya sebutkan di atas, rak buku kami penuh dengan jumlah yang cukup signifikan. Padahal paling juga nambah rata-rata 2-3 buku per bulan.

Nah kalau melihat koleksi buku harga jutaan yang seabrek-abrek itu, saya langsung mikir ini sih harus beli rak khusus. Kalau bisa bufet buku yang di pajang di ruang tamu. Biar kelihatan oleh tetangga bahwa kami horang kaya yang bisa beli buku harga jutaan. Udah kaya rumah orang yang pamer kristal gitu deh. Harganya kan mirip-mirip itu.

Tapi setiap kali mau beli rak buku baru, uangnya keburu habis dibelikan buku. Jadilah rak buku baru belum terbeli, dan buku harga jutaan pun masih jauh dari daftar wishlist.

Kurangi dong buku yang ada. Kan mending simpan buku harga jutaan buat pajangan biar lebih berkelas.

Saya jawab komentar ini dalam alasan berikutnya.


#3 Banyak pilihan buku yang lebih murah

Ini bukan mau mengingatkan pada iklan pembasmi nyamuk itu ya, “Kalau yang lebih mahal banyak!” Karena budget buku yang terbatas, kami menjadi harus maha selektif dalam memilih buku yang perlu mengisi rumah mungil kami. Hanya buku-buku yang benar-benar kami butuhkan dan sukai yang berhak mendapat posisi istimewa di singgasana rak buku.

Kalau kita rajin ke toko buku, kita akan melihat begitu banyak pilihan buku yang ada. Apalagi kalau kita berteman dengan penulis-penulis buku papan atas. Wah…. ngiler tingkat dewa melihat buku-buku karya mereka. Ini bagus, itu bagus. Bawaannya semua mau dibeli. 

Saya sempat mengkhayal, kira-kira berapa budget belanja buku ideal agar semua wishlist buku saya bisa terwujud. Ternyata unlimited. Kalau diikuti, jadinya serakah dan tidak sehat juga nih. Makanya saya akhirnya membatasi dengan kemampuan kecepatan membaca saja. Paling juga 1 minggu 1 buku, atau 1 bulan 4 buku itu sudah maksimal. Cukup beli satu buku dan 3 buku meminjam di perpustakaan.

Dan bagaimana menentukan 4 buku yang beruntung itu? Kita baca review dan skimming dulu buku yang hendak kita baca. Makanya kalau saya paling tidak bisa beli buku sebelum benar-benar tahu dulu isinya seperti apa. Minimal reviewnya lah. Kalau kira-kira ada buku yang lebih baik, ya tidak perlu juga dipaksakan untuk membaca buku tersebut. Walau seluruh dunia akan menghujat kita karena menganggap kita tidak mengikuti selera pasar.

Buku itu benar-benar masalah selera sih. Dan kita tidak bisa didikte pasar untuk menentukan buku yang benar-benar kita perlukan. Apalagi jika berurusan dengan buku anak-anak. Kalau niatnya ingin membangkitkan semangat membaca anak, maka anak lah yang harus benar-benar suka dengan buku tersebut. Bukan Mamanya! 

Anak-anak makanya saya biasakan menabung jika menginginkan sesuatu. Apakah itu buku atau mainan. Jadi mereka akan lebih bertanggung-jawab terhadap milik mereka.

Saya sendiri sering berbeda selera dengan anak-anak masalah buku. Buku yang saya nilai bagus, ternyata mereka kurang suka. Buku yang saya nilai biasa saja, bisa tidak lepas dari tangan mereka sepanjang minggu. Namanya juga anak-anak.

Pilihan buku murah itu juga bisa diburu saat pameran buku, diskon gudang, atau ajang penjualan buku murah yang sekarang menjamur itu. Bahkan toko buku besar, punya lapak khusus untuk buku-buku diskon berkualitas. Itu murahnya bisa gila-gilaan.

Tapi memang ya, untuk bisa menemukan buku murah dan berkualitas itu perlu amalan yang agak kenceng. Kudu cinta sama buku dan rajin ke toko buku. Insya Allah, amalan kita akan mendapat buah yang manis. Nah kalau yang nggak ngerti soal buku, jarang banget ke toko buku, apalagi alergi melihat baris-baris tulisan dalam sebuah buku, ya memang rada susah untuk bisa menilai sebuah buku. Model seperti ini, siap-siap saja dikadalin penjual buku yang hanya mementingkan keuntungan tanpa mau peduli dengan kesulitan orang lain.

Saran saya, sebelum membeli buku harga jutaan, cobalah untuk beli buku yang murah-murah dulu. Nanti kalau sudah lebih advance, bolehlah membeli buku harga jutaan yang bisa kita jadikan pajangan itu.

Buku seri Genius Matematika keluaran Edutivity Gramedia ini sangat highly recommended untuk pemahaman matematika anak-anak. Harganya hanya Rp 28.000,- per buku.

#4 Tidak semua seri perlu dibaca

Satu yang bikin saya gondok tidak ketulungan sama buku berseri adalah pemaksaan untuk membeli seluruh set. Padahal tidak semua buku menarik dan perlu kita baca. Buat apa kita numpuk buku yang hampir tidak perlu kita sentuh selama bertahun-tahun. Apalagi anak-anak yang biasanya hanya suka satu dua buku saja. Bahkan bisa jadi buku itu cuma jadi mainan tumpuk-tumpukan saja. Padahal kan itu buku harga jutaan!

Kalau kita memang membutuhkan satu sub tema tertentu, biasanya banyak buku keren yang akan membahas tema tersebut secara menyeluruh. Bahasannya akan lebih menyeluruh dibanding buku yang terlalu umum dan membahas banyak hal. Buku yang membahas banyak hal itu bagus jika dilengkapi dengan index, yang akan membantu anak mencari bacaan yang mereka butuhkan. Tapi sayang tidak semua anak mampu membaca index buku ini. Saya aja tahu soal index ini ketika di perguruan tinggi. Diajarkan khusus oleh ibu dosen saya yang di rumahnya punya rak buku yang bikin ngiler. Terima kasih Bu Ririn, itu ilmu yang sangat penting dan bermanfaat.


Buku-buku pilihan yang tematik lebih cocok untuk keluarga kami daripada buku berseri.


#5 Bisa meminjam

Dan betulkah kita benar-benar harus memiliki buku itu sendiri? 

Buat saya, kategori buku yang perlu dimiliki itu adalah buku-buku yang memang perlu sering dibaca dan menyimpan informasi yang menarik. Itu juga yang menyebabkan saya tidak suka meminjamkan buku pribadi pada orang lain. Karena sangatlah mengesalkan, saat kita perlu sebagai referensi tulisan, buku tersebut tidak ada di tempatnya. Saya bahkan akhirnya memutuskan membeli beberapa buku yang sebenarnya sudah saya baca berulang kali dengan cara meminjam, hanya karena pada akhirnya baru dapat uang hidayah bahwa memang buku tersebut perlu saya miliki sendiri.

Saya senang sekali ketika tahu buku-buku mahal ini bisa dipinjam di perpustakaan sekolah anak-anak. Ada juga beberapa tetangga sholehah yang mengijinkan buku mewahnya dipinjam. Beda dengan saya yang pelit. Maka dengan senang hati lah kami meminjam satu demi satu buku untuk dibaca tuntas. Kami meminjam seperlunya saja. Paling 2-3 buku anak-anak sudah bosan.

Yang paling seru adalah buku di perpustakaan Bapusibda. Di sana ada selusin lebih buku berseri yang harganya jutaan itu. Saran saya, sebelum memutuskan membeli sebuah buku, cobalah cek dulu isinya di perpustakaan. Bandingkan satu buku dengan buku yang lain. Nanti akan ketemu deh pilihan terbaik yang lebih bijak dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak kita.


#6 Buku itu ada umurnya


Menurut saya buku itu gampang kuno. Bahkan buku-buku legendaris akan selalu dicetak ulang dengan pembaharuan di sana-sini agar tampil segar. Ganti cover lah, ganti layout lah, ganti jenis kertas lah, sehingga menarik mata yang baca. Buku-buku lama, apalagi yang tidak terawat dengan baik, mudah terlihat kusam.

Saya sebenarnya punya buku seri Enid Bylton yang seru-seru itu. Saya beli ketika saya SD di tahun 1980-an. Maunya sih, anak-anak ikut hanyut dalam kisah-kisah petualangan penulis Inggris ini. Tapi nyentuhnya saja mereka malas. Eh, pas di Gramedia, buku-buku ini dicetak ulang dengan kemasan baru. Lah, Sasya baru nangis-nangis pengen beli. Padahal di rumah yang versi tahun 1980-an di tolak mentah-mentah.

Menariknya sebuah buku ini penting banget buat anak-anak. Anak-anak lebih suka buku yang kertasnya masih kinclong, daripada buku lungsuran kakaknya. Ditambah lagi kemajuan ilmu itu sangat pesat di era digital seperti sekarang. Setiap tahun akan muncul buku-buku baru yang lebih baik dari sebelumnya. Terlebih untuk buku-buku ilmu pengetahuan.

Kemarin sempat juga baca kalau sebuah seri buku harga jutaan yang sempat dicintai sejuta umat, ternyata penulisnya menganut aliran yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Sebenarnya review tentang buku tersebut sudah banyak beredar sebelumnya. Di kenal sebagai buku yang mewah tapi kopong isinya. Tapi tetap saja saat itu banyak yang membelinya dengan bangga. Sekarang heboh deh para pembeli buku tersebut karena merasa nggak nyaman dengan buku mahal yang mereka beli itu. Duh kalau sudah begitu mau bagaimana? Masa buku harga jutaan mau dibuang hanya karena ketahuan penulisnya tidak sepaham dengan kita? 

Sekedar saran, kalau mau buang buku yang sudah kuno, mending ke perpustakaan saja. Mungkin ada yang perlu membacanya.

#7 Yang bacanya hanya sedikit

Kalau menurut saya yang pelit ini, kok sayang ya kalau buku harga jutaan yang baca hanya satu atau dua anak. Apalagi kalau rentang umurnya di atas 5 tahun. Kayanya keburu kuno deh. Akan banyak buku-buku baru yang lebih inovatif muncul.

Buku jutaan itu saya sangat sarankan dibeli oleh perpustakaan sekolah yang memungkinkan dibaca oleh para siswanya. Bila perlu 1 kelas punya satu seri untuk disimpan di kelas dan bisa dinikmati oleh puluhan anak. Tentunya dengan belajar bertanggung-jawab untuk merawat buku tersebut.

Bisa juga untuk dimiliki oleh perpustakaan rumahan yang bisa dinikmati para tetangga. Atau bahkan boleh kalau mau disewakan. Saya jadi ingat, dulu waktu SD sempat membuka penyewaan buku yang cukup laris manis. Jadi nggak mubazir bukunya bulukan di rak buku.

Dan menurut saya pangsa pasar yang bagus lainnya untuk buku harga jutaan ini adalah para kakek dan nenek tercinta. Serius loh, ini pasar yang empuk banget. Mereka bisa membeli buku banyak seperti itu dan membagi ke cucu-cucunya untuk dibaca bergiliran. Apalagi kalau si kakek atau si nenek suka membacakan cerita. Bisa jadi daya tarik tersendiri untuk membuat para cucu semangat di ajak ke rumah kakek nenek. Soal nanti penagihan diberikan kepada anak mereka a.k.a orang tua si cucu, itu mah urusan lain.


Demikian 7 alasan mengapa saya belum membelikan buku harga jutaan untuk anak-anak. Sebenarnya semua buku itu tidak bisa di bilang direkomendasikan dibeli atau tidak. Karena semua tergantung selera dan kebutuhan masing-masing orang. Jadi yang penting, kenalilah kebutuhan bacaan anak-anak dan tidak membeli buku hanya karena banyak orang membeli buku tersebut.

Buat teman-teman yang punya buku berseri untuk anak yang harganya jutaan, boleh dong tahu alasannya membeli buku tersebut dan membagi reviewnya dalam kolom komentar. Supaya ada masukan lain yang berimbang. Nuhun...

Selamat membaca dan bersenang-senang…


Continue Reading
Sumber: IMDb

Apakah teman-teman lebih memilih melihat dunia yang terlihat indah walau penuh kebohongan, atau berani menerima kejujuran yang menyakitkan? Banyak kenyataan yang menolak kita akui, padahal bisa jadi tanda-tandanya bisa kita rasakan. Kita memilih untuk hidup dalam kebohongan yang melenakan. Bahkan orang-orang di sekitar turut mendukung itu semua dengan alasan mencintai dan tidak ingin membuat kita terluka.

Florence Foster Jenkins adalah seorang sosialite New York yang hidup dalam kebohongan. Wanita kelahiran tahun 1868 ini, pada usianya ke-76 tahun begitu percaya diri menganggap dirinya seorang penyanyi hebat. Ia bahkan menyewa Carnegie Hall dan mengundang 1000 tentara pada 25 Oktober 1944. Padahal sejujurnya, ia adalah penyanyi opera yang sangat buruk. Sulit bagi orang untuk tidak tertawa mendengarnya bernyanyi. Ia bahkan disebut sebagai “The world’s worst opera singer.”

Bagaimana ia bisa hidup dalam kebohongan yang luar biasa seperti itu?

Kisah hidup Madame Florence memang unik. Wajar kalau diangkat ke layar kaca untuk menjadi pelajaran bagi kita semua. Madame Florence terlahir sebagai anak orang kaya yang sebenarnya berbakat jadi pianis. Namun karena cedera, karirnya sebagai pianis tidak bisa berlanjut. Setelah menikah dengan Dr. Frank Thorton Jenkins tahun 1885, Madame Florence tertular penyakit Syphilis dari suaminya ini. Ia akhirnya memilih berpisah dan harus menjalani pengobatan yang serius.

Di tahun 1909 ia bertemu dengan seorang aktor Inggris, St.Clair Bayfield yang usianya 7 tahun lebih muda. Mereka dikenal sebagai sepasang suami istri walau tidak tinggal bersama. Madame Florence tinggal di sebuah rumah mewah, sementara Bayfield tinggal di sebuah apartemen bersama wanita simpanannya. Madame Florence tidak masalah dengan ini karena ia memang tidak mau menulari suaminya dengan Syphilis.

Eits jangan langsung sebel sama si Bayfield ini ya. Dia serius loh sangat mencintai istrinya. Bayfield akan menunggui istrinya hingga tertidur sebelum pulang ke apartemennya sendiri. Ia juga sangat mendukung kecintaan Florence terhadap musik. Musik adalah obat yang sangat mujarab untuk mengobati sakit Syphilis parah yang dialami Florence. Dokter saja heran melihat bagaimana Florence masih bisa bertahan hingga usia 76 tahun dengan penyakit seperti itu.


Doctor: "Her condition is improving. What is her secret?"
St. Clair Bayfield: "Music, she lives for music."

Bayfield berusaha memberikan panggung untuk Florence mewujudkan impiannya. Mulai dari membayar seorang pelatih vokal terkenal - Carlo Edwards - dan mengaudisi seorang pianis - Cosme McMoon, untuk mendukung karir istrinya. Walau Carlo Edwards mewanti-wanti Bayfields agar merahasiakan statusnya sebagai pelatih vokal Florence. Ternyata dia malu juga kalau ketahuan jadi pelatih vokal Madame Florence.

Di depan Florence, mereka semua memuji Florence setinggi langit. McMoon saat pertama kali mendengar suara Florence sangat heran dengan kejelekan suara Florence, dan sempat mengingatkan Bayfield untuk menunda melaksanakan konser.


"And you think I'm not aware of that? For 25 years I've kept the mockers and scoffer at bay.
I'm very well aware of what they might do, but Florence has been my life. I love her, and I think you love her too. Singing at Carnegie Hall is her dream and I'm going to give to her.
The only question now is whether you will stand by your patron and friend in her hour of need, or whether you will focus on your ambition?"

- St. Clair Bayfield kepada Cosme McMoon yang ragu untuk mendampingi Florence karena khawatir karirnya akan tercoreng.

Konser tetap dilaksanakan dengan undangan yang dibuat terbatas dan diberi uang agar mau mengapresiasi kemampuan bernyanyi sang sosialite. Benar saja, tepukan tangan dan pujian membanjir untuk Madame Florence. Hanya satu dua yang tidak sanggup menahan tawa hingga terguling-guling melihat buruknya suara Madame Florence bernyanyi.

McMoon yang awalnya miris dengan kebohongan yang didapat bosnya, akhirnya mulai bersimpati dan menjadi bersahabat. Mereka menggubah lagu bersama yang kemudian diperdengarkan di radio. Banyak orang mengapresiasi lagu itu karena menganggapnya sebagai sebuah komedi. Itu yang menyebabkan Madame Florence mengambil keputusan yang berani untuk menyewa Carnegie Hall yang kapasitasnya mencapai 3000 orang. Ia bahkan menyebarkan 1000 undangan gratis untuk para tentara. Kebayang dong kalang kabutnya Bayfield yang ketakutan kalau istrinya tidak sanggup menerima kenyataan. Tidak mungkin lah ia harus menyuap ribuan orang untuk memberikan standing ovation.

Alhasil konser berlangsung meriah dan dihadiri oleh sejumlah orang terkenal dan kolumnis dari sejumlah koran. Beberapa koran kecil yang bisa dibayar, tentu saja memberikan komentar positif. Namun koran sekelas New York Post tentu saja tidak bisa berbohong dengan menyebutkan betapa buruknya suara Madame Florence. Apa yang dilakukan Bayfield? Ia membeli semua koran dan membuangnya agar tidak sampai terbaca oleh istrinya.

Tapi sepintar-pintarnya usaha Bayfield, Madame Florence akhirnya membaca ulasan tersebut. Dan benar saja ia sangat kaget. Seminggu setelah konser, Madame Florence terserang penyakit jantung dan meninggal 1 bulan setelahnya.

Benar-benar perjalanan hidup seorang manusia yang wow banget kan? Film ini memenangkan banyak penghargaan bergengsi seperti Academy Award, Golden Globe Award, dan Bafta Award. Dengan biaya produksi US$29 juta, film ini mampu meraup box office US$44.3 juta.

Pelajaran dari film Florence Foster Jenkins

Sumber foto: IMDb
Setelah menonton film sepanjang 110 menit ini, ada sejumlah pelajaran yang bisa saya ambil. Pertama, belajarlah untuk menerima kenyataan seberapa buruknya itu. Jangan manja dan menuntut semuanya menyenangkan hati. Kadang orang-orang di sekitar kita lebih memilih membohongi kita biar urusan cepat beres. Asal Bapak Mama Senang. Anak-anak bisa saja kita omelin kalau makanannya tidak habis. Suatu saat, bukan tidak mungkin mereka lebih memilih membuang makanannya daripada diomelin Mama. Ada juga kasus suami yang memilih membohongi istrinya karena banyak hal. Ada waktunya kita perlu berdamai dengan ketidaknyamanan yang terjadi di sekeliling kita.

Kedua adalah betapa rasa bahagia itu adalah obat mengatasi rasa sakit yang sangat manjur. Hanya karena bahagia, Madame Florence mampu bertahan dari penyakit Syphilisnya hingga usia 76 tahun. Jadi jangan lupa untuk menikmati hidup dengan bersyukur dan berbahagia. Tentunya tidak dalam kebohongan ya.

Ketiga adalah kalau pun ada yang memuji-muji kita, jangan mudah percaya. Bisa jadi mereka hanya menyenangkan dan membesarkan hati kita. Perkenalkanlah karya kita ke khalayak yang lebih luas untuk mendapatkan penilaian yang lebih jujur. Banyak penulis yang bahagia dengan satu dua pujian, sehingga begitu percaya diri memasarkan produknya dengan lebih luas. Di sana baru mereka menghadapi kenyataan yang menyakitkan betapa buku mereka tidak laku di pasaran. Sebenarnya orang lain tahu, tapi tidak tega ngomongnya. Tidak semua orang siap loh dengan kritikan dan masukan orang lain. Itu sebabnya kita perlu bijak menghadapi kritikan. Tidak untuk selalu diikuti, tapi sekedar masukan yang bisa dijadikan bahan pertimbangan saja. Selera orang kan beda-beda.

Dan pelajaran terakhir yang menurut saya sangat penting adalah betapa kita perlu mencoba apa yang kita sukai. Seperti kata Madame Forence: “Biar orang bilang saya tidak bisa nyanyi, tapi tidak ada yang bilang saya tidak pernah bernyanyi.” Saya juga bisa bilang: “Biar kata tulisan saya berantakan dan tidak ada yang mengapresiasi, biarlah saya terus menulis dan bersenang-senang.” Jangan sampai tanggapan orang lain menghalangi kita untuk bisa bahagia dan menikmati apa yang kita kerjakan.

Data Film Florence Foster Jenkins

sumber: amazon
Judul Film: Florence Foster Jenkins
Genre: Biografi
Pemeran: Meryl Streep, Hugh Grant, Simon Helberg
Sutradara: Stephen Frears
Penulis Skenario: Nicholas Martin
Tahun: April 2016
Biaya produksi/Pendapatan: US$29 juta/US$44.3 juta
Rating IMDb - Rotten Tomatoes - Cerita Shanty: 6,9/10 - 88% - 8/10

Bacaan Referensi:













Setelah mulai ngeblog dengan lebih serius sejak awal tahun 2016, saat ini terus terang saya merasa sebagai blogger yang lagi puber. Bawaannya sudah seperti remaja yang tengah mencari jati diri. Saya mau membawa blog ini kemana? Mau mengenalkan diri sebagai apa? Apakah blog yang isinya sekedar menjadi etalase untuk produk jualan orang lain? Blog untuk curahan hati campur aduk? Blog yang isinya rak buku ilmu daripada menuh-menuhin isi kepala? Atau apa? Asli nggak jelas.

Sudah hampir 2 tahun kok masih nggak jelas?

Karena saya terlalu banyak masukan. Maklum, sejak serius dikenalkan dengan hingar bingar jagad perbloggeran, pergaulan saya jadi meluas dengan dasyatnya. Dari yang tadinya mau nyumput dengan teman cuma 500-an di Facebook, tiba-tiba meluas di angka ribuan. Mastah-mastah di dunia ini pun bermunculan sebagai bahan referensi.

Ada sejumlah blog-blog kece yang memesona saya. Seperti blognya Andra Alodita, Carolina Ratri, Grace Melia, Jihan Davincka, Langit Amaravati dan ada sekitar selusin lainnya. Sssttt iya, bisa jadi blog kamu juga yang suka saya kunjungi. Cuma kalau berkunjung saya nggak selalu suka memberi komen. Bukan apa-apa, terkadang saking terpesonanya, saya merasa nggak perlu komen. Numpang lewat doang, dibaca, dicatat, dan dipraktekkan. Blog-blog mereka ini asyik banget dan sangat mereka banget. Blog yang ‘gue banget’-nya terasa banget.

Nah setelah ngalor-ngidul pengen begini pengen begitu, kayanya saya juga memimpikan punya blog yang seperti itu. Blog yang ‘gue banget’ tapi jangan yang terlalu berantakan banget kaya ‘gue’. Blog saya yang sebelumnya di www.shantystory.com  itu terlalu berantakan sekali. Terlalu acak karena ikut sana ikut sini. Apalagi ditambah suka terjadi error ketika hendak posting. Agak malas untuk membahasnya dengan penyedia jasa webhosting yang selalu memanggil saya dengan sebutan Bapak itu. Padahal sudah dikasih tahu kalau saya itu perempuan. Kayanya beneran ngomong dengan robot deh.

Cuma niat mau merapikan blog ini nggak jadi-jadi juga. Ada-ada saja alasan buat menundanya. Hingga hari Sabtu kemarin saat saya menghadiri acara Workshop Vlogging dengan Smartphone bersama Ary Mozta. Saya terpesona dengan sebuah slide memperkenalkan diri sebagai berikut:

Twitter | IG | FB | YouTube
Ary Mozta
E-mail ary@Mozta.com
Blog: Mozta.com

Kenapa saya terpesona? Karena saat itu saya lagi sibuk ritual follow-memfollow dengan peserta lain. “Eh IG-nya apa sih?” “Twitternya apa?” “Nanti follback ya?” Saya selalu menghabiskan waktu agak banyak untuk urusan ini. Karena saya suka lupa akun sosmed sendiri. Sering saya harus menuliskan sendiri di HP orang lain, sekedar agar ia tidak salah orang. Ribet banget itu nulisnya www.shantystory.com. Ditambah dengan akun sosmed yang berbeda-beda. Saya yang punyanya aja bingung. Apalagi orang lain.



Jadi pagi hari ini saya bangun dengan sebuah ide brilian. Saya juga akan punya 1 nama untuk semua blog dan akun media sosial saya.
Shanty Dewi Arifin
Mama yang suka Membaca, Menulis, dan Belajar
www.ceritashanty.com

@ceritashanty

Mantab kan! Wah langsung deh semangat 45 untuk segera membereskan urusan pernak pernik rumah tangga. Menyiapkan sarapan buat Raka yang mau berangkat lomba Olimpiade Science pukul 6 pagi, cuci piring, nyapu rumah, masukkan cucian ke mesin cuci, mandi dan sarapan, tumben bisa dilakukan dengan sangat cepat. Biasanya ada aja nyangkut-nyangkutnya saat mengerjakan hal seperti ini. Karena ada maunya, semuanya bisa beres hanya sekitar 2 jam. Mama Shanty memang bisa sangat keren kalau ada maunya.

Mulai dengan membuat blog baru Cerita Shanty di Blogspot. Saya memang sudah lama ingin coba pindah ke Blogspot. Blog lama saya - www.shantystory.com menggunakan platform Wordpress. Saat beralih dari domain gratisan di wordpress.com ke domain berbayar di wordpress.org, saya menghabiskan budget sekitar Rp 300.000,- untuk membeli domain dan webhosting. Ditambah jasa untuk memindahkan postingan lama ke rumah yang baru sebesar Rp 300.000,-. Setelah 1 tahun, blog sudah penuh dan saya harus bayar Rp 300.000,- lagi untuk memperbesar kapasitas. Mending kalau blognya lancar dan nggak pake error. Lah ini bikin pusing kepala mama yang gaptek ini.

Jadi, saya putuskan untuk membuat blogspot baru dengan nama www.ceritashanty.blogspot.comEh blognya nggak tersedia dong. Tapi pas di cek www.ceritashanty.com, ternyata masih ada. Harganya cuma Rp 165.930,-/tahun kalau belinya langsung dari Blogspot. Kalau belinya di webhosting lokal, harga domain itu sekitar Rp 135.000-/tahun. Beda 30 ribu saja nih. Setara dengan 10 balok tempe. Kalkulator Mama bekerja dengan slow motion. Mending mana ya?

Akhirnya saya putuskan membeli langsung dari Blogspot. Pengen tahu aja sih bagaimana kalau beli langsung dari Blogspotnya. Karena teman-teman lain umumnya membeli dari webhostingan dalam negeri. Baru kemudian dimasukkan kode url domainnya dengan langkah-langkah tertentu. Katanya sih gampang. Cuma kalau saya lihat langkah-langkahnya, kok ya rada bikin mikir juga. Minggu pagi kaya gini saya lagi malas mikir. Sudah lah, bayar aja tambahan Rp 30.000,- itu. Mumpung besok gajian. Lagi pula saya jarang banget pakai kartu kredit dan belum pernah berani memakai kartu kredit untuk pembelian di internet.

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya masukkan nomor kartu kredit di form pembayaran domain blogspot. Dan voila, domain langsung terkirim ke e-mail saya. Setelah diverifikasi, dan linknya di klik, saya langsung punya www.ceritashanty.com Nggak pake ribet, nggak pake mikir. Semudah itu. Wow abis!!!

Saya memang berniat membuat blog baru ini dari nol lagi. Nggak perlu repot migrasi. Dan saya akan memulai dari postingan pertama lagi. Berusaha sabar menunggu masa panen yang mungkin akan berlangsung 6 bulan ke depan jika rajin diberi pupuk dan dirawat dengan benar. Kali ini, saya berusaha membuat blog saya dengan lebih rapi. Wish me good luck teman-teman.

Urusan blog sudah cakep. Sekarang lanjut ke masalah sosial media. Semua akun FB, Twitter, IG, YouTube bahkan e-mail mau ganti ah biar rapi. Untuk page FB ternyata untuk mengubah judul harus mengirimkan appeal (banding) dulu agar disetujui. Saya lagi menunggu semoga disetujui untuk mengubah page Shanty’s Story yang fansnya sudah 600 orang itu menjadi Cerita Shanty. Nanti kalau tidak bisa, mungkin saya akan buat page baru saja. Kalau sekedar url-page sih sebenarnya bisa langsung. Hanya nama page yang ternyata tidak bisa mudah diganti. Bisa jadi untuk menghindari sebuah page disalahgunakan.

Kalau IG juga ternyata mudah menggantinya. Tidak ada masalah. Twitter yang saya sempat kesulitan untuk mengganti nama. Akhirnya saya buat akun Twitter baru @ceritashanty. Mulai dari nol lagi. Follow saya ya, nanti saya follback. Agar tidak membingungkan, akun Twitter lama rencananya mau saya deactivate. E…saat mau deactivate ternyata dikasih tahu bahwa kita bisa mengubah nama akun. Lah, telat! Ah biarin deh, akun lama akhirnya saya deactivate, dan akun baru @ceritashanty saja yang dipakai. Mumpung follower di akun lama masih mentok di angka 200-an. 

Jadi buat teman-teman yang ingin mengubah nama akun Twitternya biar seragam, bisa melihat opsinya di bagian deactivate. Nggak harus membuat akun baru kok. Andai saya tahu lebih awal.

Untuk e-mail nih yang agak menarik. Saya buat akun gmail baru. Sementara saya buat blog kan dengan akun gmail yang lama. Jadi caranya kita harus memasukkan akun gmail baru kita di Setelan - Dasar - Izin - Tambahkan penulis. Setelah akun baru kita dikirimi notifikasi, nama gmail baru kita akan diangkat sebagai penulis. Kemudian kita buka lagi Blogspot dengan akun lama kita. Kita angkat penulis baru sebagai admin. Kalau sudah begitu, aman gmail lama kita untuk dihapus dari blog. Begitu saja.

Nah gitu deh kesibukan weekend ini. Tanpa banyak ditunda-tunda, punya seperangkat media sosial mulai dari Blog, FB, Twitter, IG, YouTube, dan Email ternyata tidak terlalu ribet. Gampang lah pokoknya. Kalau bingung, silakan ngacung untuk bertanya ya. 

Jangan lupa follow akun baru Cerita Shanty ya. Biar bisa saya follback. Nuhun...


Twitter @ceritashanty
YouTube channel Cerita Shanty
Email ceritashanty@gmail.com