AMPLOP MINGGUAN, SOLUSI TETAP PUNYA UANG HINGGA AKHIR BULAN

Jumat, November 09, 2018
Amplop mingguan solusi mengelola keuangan rumah tangga



Hari ini adalah hari Jumat. Hari yang paling membahagiakan buat anak-anak dan saya. 

Kenapa?

Bukan karena alasan religius atau sejenisnya ya. Tapi karena hari ini adalah Hari Buka Amplop Mingguan. Hari ini kami kaya raya. Di amplop bersegel itu berisi uang belanja Mama dan uang saku anak-anak untuk 1 minggu ke depan.


Amplop mingguan solusi mengelola keuangan rumah tangga
Ini loh yang maksud saya amplop bersegel. Maafkan kalau istilahnya agak aneh.

Pola ini baru kami temukan sekitar beberapa bulan terakhir. Sebelumnya saya selalu ruwet tiap tanggal 1. Gaji dari suami yang diberikan setiap tanggal 26 sudah lenyap tak bersisa. Baru tanggal 1 gitu loh! 

Yang bener aja, masa di masa orang bersuka cita merayakan bulan muda, lah kok saya dompet saya sudah kosong melompong lagi? Pasti ada yang salah di sini. 

Cuma karena saya mikirnya rada alon-alon asal kelakon, solusi permasalahan itu baru muncul setelah 12 tahun pernikahan. Ketika awal menikah, saya hanya sanggup beberapa bulan mengelola uang rumah tangga utuh. Banyakan pusingnya daripada enaknya. 

Akhirnya tugas itu saya serahkan ke suami, dan saya memilih hanya mengurus uang makan harian dan sekolah anak saja. Kalau habis tinggal minta lagi. Ha….ha…

Biasanya setelah gajian, suami akan memberikan bagian itu untuk saya urus. Lengkap dengan pesan, “Dicukup-cukupkan ya sampai akhir bulan.” 

Saya sih selalu berpikir bahwa itu tidak mungkin cukup untuk 1 bulan. Kenyataannya selama ini memang tidak pernah cukup. Seperti saya bilang di atas, tanggal  1 saja saya sudah merasa jadi sobat misqueen yang paling merana sedunia. 

Memang sih, suami akan ngasih lagi seadanya buat sehari-hari, tapi itu benar-benar nggak enak banget. Masa tiap 2 hari sekali harus minta uang jajan kaya anak SD. Saya kesel, suami saya apalagi.


Ide Amplop Mingguan

Akhirnya dapat lah ide soal amplop mingguan. Idenya sebenarnya datang dari anak-anak. Jadi ternyata bukan saya saja yang bingung dengan uang yang menguap dengan cepat, tapi anak-anak juga. 

Raka 11 tahun & Sasya 8 tahun, selama ini dapat uang saku bulanan yang bisa mereka kelola untuk jajan dan beli mainan. Pokoknya ya segitu dan nggak ada minta-minta Mama lagi kalau ada kebutuhan.

Di minggu-minggu selanjutnya saya perhatikan Raka dan Sasya mulai sama melaratnya dengan si Mama. Terus jadi rewel dan suka minta dibelikan ini itu lagi dengan uang Mama. Beda tipis lah sama si Mama yang rewel ke si Abah. Wah nggak bener ini!

Saya pun berpikir kalau anak-anak ini sepertinya belum bisa mengelola uang bulanan. Mungkin harus dipecah mingguan. Tidak ada uang bulanan lagi, tapi diserahkan menjadi uang mingguan yang diberikan setiap hari Jumat. 

Kami memilih hari Jumat dengan pertimbangan bahwa besoknya bisa membeli sejumlah kebutuhan mingguan saat akhir pekan. 

Anak-anak suka ide ini. Setelah dicoba 1 bulan, hasilnya memang efektif mengurangi keluhan kehabisan uang sebelum waktunya. Paling melarat 1 atau 2 hari, besoknya sudah ketemu Hari Buka Amplop Jumat lagi. Bahkan mereka sering uang sakunya masih belum habis.

Kesuksesan mengelola uang anak-anak ini menginspirasi saya untuk melakukan pola yang sama untuk keuangan rumah tangga. Uang dari suami - yang disuruh cukup-cukupkan 1 bulan itu - langsung saya bagi-bagi dan dimasukkan ke dalam amplop bersegel. Seuprit-seuprit sih, tapi tetap jatah belanja hingga akhir bulan sudah aman tentram.

Dan beneran loh, dalam beberapa bulan terakhir ini saya merasa kaya raya. Padahal uang yang dikasih ya segitu-segitu juga. Tidak ada lagi masalah melarat di tanggal 1. Yang pasti setiap hari Jumat saya kaya raya. 


Kekuatan Amplop Bersegel

Kok dulu nggak bisa, kok sekarang bisa? Jadi apa rahasianya?

Menurut saya sih rahasianya bisa jadi terletak di 2 hal ini:


#1 Pegang uang tunai dan uang virtual di bank itu beda rasanya

Biasanya kalau saya simpen uang di bank, itu fisiknya kan tidak kelihatan. Buat saya gampang banget untuk transfer kiri kanan. Entah itu untuk Gopay lah, belanja online lah, atau lainnya. Saya tidak bisa lihat batasnya sampai tiba-tiba saldo saya habis.

Apalagi kalau yang namanya kartu kredit. Itu bisa jadi sumur tanpa dasar. Berasa jadi #horangkaya padahal ngutang.


Amplop mingguan solusi mengelola keuangan rumah tangga
Kartu kredit tu nggak banget dah. 

Ketika uang bulanan saya ambil semua dan dimasukkan ke dalam amplop yang hanya bisa dibuka mingguan, di situ saya tahu bahwa setiap uang sudah ada posnya dan tidak bisa diambil untuk yang lain. Ada pos belanja mingguan, ada pos bayar koran, ada pos sekolah anak-anak, dan lainnya. 

Mana yang utama dan mana yang tidak utama jadi lebih kelihatan. Kalau uangnya nyampur baur di rekening bank, saya kesulitan melihat mana yang utama dan mana yang tidak. Tiba-tiba transfer untuk beli buku online 100-200 ribu itu adalah prioritas nomor 1. Atau makan-makan di Mall menjadi hal wajib yang harus dilakukan.

Itulah bahayanya uang elektronik bagi mereka yang lemah iman dan kurang cerdas memilih prioritas seperti saya.

Jadi uang cash dalam amplop adalah solusi terbaik untuk saya sementara ini.


#2 Belanja mingguan di pasar

Sebelumnya saya suka kesel dengan uang harian yang dikasih suami. Ribet banget saya harus belanja dengan uang terbatas setiap beberapa hari sekali. Kadang apa yang kita inginkan tidak ada di hari itu. Anak-anak minta sayur asem, barangnya nggak ada. Pas adanya daging di tukang sayur, uangnya yang nggak cukup. Duh nyebelin banget!

Ketika punya uang mingguan, itu jumlahnya cukup untuk makan 7 hari. Bukan untuk sekedar masak harian lagi. Kalau beli di warung sayur atau tukang sayur yang lewat, bahannya sering terbatas. Paling juga untuk stok makan 2-3 hari.

Suami menyarankan belanja ke pasar. Saya tu angkat tangan disuruh ke pasar sendirian. Berat bawanya! Maafin ya, Mamah yang satu ini memang rada manjah-manjah nyebelin. Lumayan jadi tambahan pahala buat suami.

Untung suami dan anak-anak bersedia menemani ke pasar untuk bawa-bawa belanjaan. Mama dan Sasya kebagian milih-milih bahan makanan yang dibeli dan bayar saja. Ada 2 #horangganteng yang siap membawakan belanjaan. Yang berat-berat jadi tugas si Abah, yang ringan jadi tugas Raka. Dengan bawa 2 tas kresek biru Ikea yang lebar itu, semua jadi terasa mudah. 


Tas  Frakta Ikea 10 ribuan ini adalah tas belanja pasar terbaik yang pernah ada!

Yang bikin takjub adalah penghematan yang bisa kami lakukan. Dengan perencanaan, belanja kami sudah disesuaikan untuk makanan seminggu. Pokoknya bisa beli daging, ayam, ikan, sayuran dan buah untuk 7 hari. Kalau telur dan tahu tempe ada di dekat rumah. 

Nggak ada cerita lagi saya bingung mau masak apa hari ini? Pokoknya masak aja apa yang ada di kulkas. Semua sudah tersedia untuk stok 7 hari. 

Jadi di dompet ke pasar, saya hanya bawa uang untuk belanja 7 hari itu saja. Begitu uangnya habis, artinya ya habis. Waktu di pasar ditentukan dari habisnya isi dompet Mama. 


"Yak, uang Mama habis, waktunya kita pulang!"

Setelah hampir 1 bulan melakukan belanja ke pasar ini setiap weekend ini, kami mulai mahir dan mampu melakukannya hanya dalam waktu sekitar 30 menit. 

Waktu awal-awal memang masih bingung-bingung dan nggak tahu harus belinya di bagian yang mana. Kini, kami mulai mengenal pasar dan punya langganan. 

Asli seru. Setiap keluarga perlu tuh sesekali belanja ke pasar bareng. Bukan hanya ke mall bareng.

Haruskah menggunakan amplop yang kemudian terbuang? 

Kenapa nggak di dalam dompet uang yang bentuknya kaya akordeon itu? 

Saya punya dompet uang akordeon itu. It FAILED! Sudah rapi tuh saya atur uangnya dalam setiap kategori. Tapi karena terbuka, ada saja dong kebutuhan ‘mendesak’ yang datang untuk ambil-ambil pos keuangan kategori sebelah. Jadinya tetap saja habis semua.


Amplop mingguan solusi mengelola keuangan rumah tangga
Nggak bisa saya pakai yang kaya gini. Karena kelihatan, gampang tergoda untuk ambil pos yang masih tersisa.

Kalau dalam amplop bersegel, kita nggak bisa buka sebelum waktunya. Kaya waktu itu sebenarnya suami saya sempat minta uang dulu karena dia malas ke ATM. Saya bilang nggak bisa, karena sudah masuk amplop. Repot kalau harus robek amplop. Lebih mudah menyuruh suami banyak gerak dan berolahraga ke ATM. Ha….ha….

Saya sendiri juga begitu, kalau ada keinginan yang sedikit-sedikit tapi nggak punya uang extra, ya jadi lebih sabar. Sayang kalau harus robek amplop sebelum waktunya. Toh hanya tinggal nunggu 1 atau 2 hari saja. Itu benar-benar KEKUATAN AMPLOP BERSEGEL!

Nggak sayang tuh tiap minggu buang amplop? 

Tahu nggak harga amplop bersegel itu berapa? Hanya 100 rupiah per amplop. Kemarin saya beli di pasar 2 bungkus seharga 1000 rupiah untuk 10 amplop. Stok untuk 2 bulan. 


Rasanya enak sekali bisa mengelola uang dengan lebih bijak.  Minimal nggak bikin pusing kepala dengan perasaan melarat di awal bulan. Padahal jumlah uang yang diterima tetap sama saja.  

Bagaimana teman-teman? Mau mencoba juga sistem amplop mingguan? Atau ada yang punya rahasia pengelolaan uang yang seru lainnya? 

Ditunggu sharingnya dalam kolom komentar. Mau nanya-nanya kepo juga boleh. 



#ODOPNovemberChallenge
#jumatuang_ceritashanty
1270 kata - 1,5 jam

2 komentar:

  1. Gimana solusinya buat irt spt saya yg dikasih uangnya ga tetap per bulannya ? baru dikasih uang kalo ada hasil penjualan. *serius nanya

    BalasHapus
  2. Seru bacanya bu.Raka belum pernah cerita tentang ini. Tapi rajin mengkampanyekan tentang pentingnya menghemat uang, gak boleh mubadzir dll �� ternyata terlatih dari rumah ya.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.