Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Reply 1987, Perjalanan Keluarga yang Paling Berkesan bagi Seorang Anak

 

Ketika Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari mengangkat tema Pengalaman Travel yang Berkesan, saya tanpa ragu langsung teringat dengan satu-satunya perjalanan panjang yang pernah kami jalani di Mei - Juni 1987. 

Saat itu saya berusia 11 tahun. Baru selesai Ebtanas SD.

Traveling bukanlah budaya keluarga kami. Saya lupa juga, apa karena nggak punya waktu atau nggak punya duit. Tipis memang bedanya. 

Keluarga kami tinggal di sebuah kota kecil bernama Dompu. Sebuah kabupaten di pulau Sumbawa, NTB. Saat itu papa adalah kepala bagian di Kejaksaan Negri Dompu. Beliau yang dipindahkan dari Mataram sejak tahun 1981. Bisa dibilang kami hampir bulukan lah di sini. 

Dua orang adik saya lahir di kota kecil ini. Saat perjalanan ini, Sandra berusia 6 tahun dan Kartika 3 tahun. 

Jadi ceritanya, Mama saya itu aslinya orang Medan. Kemudian diangkat anak oleh orang Kejaksaan yang ditugaskan ke NTB. Di NTB ini kedua orang tua saya bertemu dan memutuskan menikah di Mataram pada tahun 1974. 

Sejak diangkat anak, menikah, punya 3 anak, Mama saya belum pernah bertemu lagi dengan orang tuanya di Medan. 

Nah, di tahun 1987 akhirnya kami punya rezeki untuk bisa silahturahmi ke Medan. Mama akan bertemu ibunya setelah belasan tahun tidak bertemu!

Walau pada tahun-tahun selanjutnya, saya berkesempatan traveling seru ke Malaysia atau Jepang, namun traveling yang satu ini adalah yang paling berbekas dalam ingatan. 

Berikut sejumlah alasan mengapa pengalaman perjalanan kali ini begitu berkesan di kepala saya hingga sekarang.

#1 Perjalanan yang sangat panjang

Mungkin tidak banyak orang yang tahu ada kota bernama Dompu di pulau Sumbawa. Saking kecilnya kota ini, ketika usia SD saya bisa keliling kota naik sepeda tanpa capek. Bisa sambil bonceng adik lagi. Kalau anak sekarang daya jelajahnya hanya 1 kompleks perumahan, saya dulu mainnya dari ujung ke ujung kota. 

Rute perjalanan kami menuju Medan dimulai dengan perjalanan darat naik bis ke kota Mataram. Lalu naik Kapal PELNI menuju ke Tanjung Perak Surabaya. Dari Surabaya naik kereta api ke Jakarta. Baru kemudian dilanjutkan ke Medan dengan Kapal PELNI.

Jalur pulangnya, kami naik kapal yang sama langsung dari Medan ke Surabaya. Tapi sempat transit dan turun dulu di Tanjung Priok Jakarta selama beberapa jam. Dari Surabaya naik pesawat ke Mataram. Dan ditutup naik bis kembali ke Dompu.

Ini buat kami sekeluarga sangat luar biasa. Karena sebelumnya trayek traveling kami paling hanya perjalanan beberapa tahun sekali ke kampung Papin (nenek dari papa) di Desa Ongko Empang Sumbawa. Jaraknya hanya beberapa jam saja dari Dompu dan cukup menggunakan mobil pribadi saja. 

Lama perjalanan panjang ini seingat saya sekitar 1,5 bulan. Yang pasti saya sudah selesai ujian Ebtanas SD pada pertengahan Mei 1987. Dan kembali saat sudah mulai masuk SMP. Zaman dulu sih, nggak ada cerita anak-anak repot pusing cari sekolah. Apalagi di kota kecil ya.

Istana Boneka Dufan 1987
Berfoto di depan Istana Boneka Dufan bersama keluarga angkat Mama

#2 Pengalaman naik berbagai moda transportasi

Dalam perjalanan ini kami berkesempatan tahu berbagai moda transportasi untuk pertama kalinya.

Untuk perjalanan darat kami sempat naik bis dari Dompu menuju Mataram. Saat menyebrang dari pulau Sumbawa kami naik kapal feri dari pelabuhan Alas (saat itu belum di pindah ke pelabuhan Poto Tano di Taliwang seperti sekarang). 

Kemudian kami pertama kali naik kereta api dari Surabaya menuju Jakarta. 

Kami juga berkesempatan naik kapal besar yang baru diresmikan. Baunya masih baru dan gres. Sebenarnya saya lupa namanya. Apakah KM Kelimutu atau KM Lawit. Saat itu KM Lawit baru dioperasikan pada Desember 1986.

Kami sempat 3 kali menggunakan kapal besar ini. Dari Lombok ke Surabaya, dari Jakarta ke Medan, dan dari Medan ke Surabaya melalui Jakarta. 

Pesawat kami pilih saat pulang dari Surabaya menuju Mataram. Beneran komplit deh dicoba semua.

Monas dan Brastagi 1987
Menikmati Brastagi Medan dan Pengalaman pertama ke puncak Monas

#3 Pertama kali keluar NTB

Ini pertama kali kami menginjakkan kaki ke pulau Jawa dan Sumatra. Buat orang yang biasa tinggal di kota kecil, lihat keramaian seperti Jakarta dan fasilitasnya yang terasa asing bagi kami, benar-benar menakjubkan. “Wow lamena… (ramainya),” komentar adik saya saat pertama kali kami masuk stasiun Gambir. Itu pertama kali kami lihat Monas.

Ketika di Surabaya, kami juga berkesempatan mampir sebentar ke Tunjungan Plaza. Itu pertama kali saya tahu yang namanya eskalator. Lalu saat di Jakarta, saya pertama kali naik lift di Ratu Plaza. Begitu senangnya, sampai sengaja bolak-balik mencobanya beberapa kali. Asli udik banget. 

Selama di Jakarta, kami berwisata ke Monas, Dufan, Taman Mini Indonesia Indah, dan Keong Emas. Ketika di Medan, saya ingatnya kami ke Brastagi. Masih ingat rasanya melalui jalan yang berkelak-kelok menuju Brastagi.

Salah satu yang berkesan adalah ketika kami bisa foto bareng Kak Henny Porwonegoro di Taman Mini. Bangga banget memamerkan foto penyiar Aneka Ria Anak-anak bersama Kak Seto Mulyadi ini ke teman-teman di Dompu.

bersama Kak Henny Purwonegoro
Baiknya Kak Henny Purwonegoro yang bersedia turun dari mobilnya sekedar berfoto bersama kami di TMII

#4 Kesempatan silahturahmi keluarga

Dalam perjalanan ini, selain tujuan utamanya bertemu Hababa (nenek) di Medan,  kami berkesempatan bertemu dengan banyak saudara dan kerabat yang telah lama tidak bertemu. 

Selama di Jakarta, kami bertemu dengan keluarga angkat Mama di Tebet. Bertemu adik bungsu Mama, Tante Dila. Tante Dila lalu memutuskan untuk ikut bersama ke Medan bersama kedua anaknya.

Yang seru juga adalah bertemu dengan atasan-atasan Papa di Kejaksaan Agung. Atasan-atasan Papa ini dulunya sempat seperti orang tua sendiri bagi kedua orang tua saya saat mereka bertugas di Mataram. 

Mereka semua ingatnya sama Shanty yang masih bayi. Dan sekarang sudah 11 tahun.  Sekalian Papa menanyakan kemungkinan untuk bisa pindah tugas. Karena kami sudah 7 tahun terdampar di Dompu.

Puncak perjalanan adalah bertemu dengan Hababa di Medan. Wah itu ya, heboh banget. Masih di ujung jalan, Maminya Mama sudah menyambut 2 anak gadisnya yang lama hilang. Mereka bertangis-tangisan lumayan lama. 

Kebayang ya, berpisah dari anak belasan tahun lalu kini kembali dengan menantu dan cucu-cucu. Sampai sekarang, saya masih ingat rasa keharuan itu. 

bersama hababa di medan
Bersama Hababa di Medan sebelum kami kembali pulang. Alhamdulillah di tahun-tahun berikutnya kami jadi lebih sering bertemu.

#5 Dapat oleh-oleh luar biasa

Dalam perjalanan pulang dari Medan, papa dihubungi untuk mampir ke Kejaksaan Agung Jakarta. Ternyata Papa mendapatkan Surat Keputusan (SK) untuk pindah ke Karawang, Jawa Barat. Wow, kebayang dong senengnya kami. 

Lagian setelah pengalaman perjalanan ini, setelah mata terbuka dengan keramaian ibu kota, rasanya kebayang tersiksanya harus tetap tinggal berlama-lama di kota kecil. Sombong amat ya! 

Tapi ya itu, kami benar-benar terpesona dengan tanah Jawa. Alhamdullillah kesempatan itu datang juga. Ternyata kesempatan itu kadang kala memang perlu dijemput. Bisa jadi kalau Papa nggak melakukan perjalanan ini dan sowan ke atasan-atasannya, kami akan beneran nyangkut di Dompu selama bertahun-tahun lagi.

SK ini yang bikin Papa memutuskan segera melanjutkan pulang dengan pesawat. Karena selain perlu mengabarkan kabar gembira, saya pun harus segera mengurus pindah sekolah ke kota yang baru. 

Jadi sekembali dari perjalanan ini, Mama langsung sibuk-sibuk ngepak barang dan kami meninggalkan Dompu for good. Sampai hari ini, saya belum lagi kembali ke Dompu. Walau pada tahun 1999 sebenarnya saya sempat kerja 1 tahun di Sumbawa. 

kapal pelni
Serunya naik kapal PELNI

Perjalanan yang Mengesankan

Jadi mungkin benar ya, sesuatu yang dilakukan sesekali itu lebih berkesan daripada sesuatu yang rutin dilakukan. Karena jarang traveling, dan sekalinya traveling langsung heboh, kesannya jadi begitu mendalam. 

Ini juga yang membuat saya jadi punya obsesi untuk bisa bawa anak-anak melakukan traveling langsung heboh kaya begini. Jarang-jarang, tapi berkualitas. 

Sabar ya Raka & Sasya, Mama dan Abah menabung dulu biar kita bisa jalan-jalan seru kaya gini ke Sumbawa atau bahkan Dompu! Amin….

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog
Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Februari dengan tema Pengalaman Travel yang Berkesan



Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

57 komentar untuk "Reply 1987, Perjalanan Keluarga yang Paling Berkesan bagi Seorang Anak"

  1. Seru banget Teh Shantyy😍tapi kalau aku sebenarnya baru dengar Kota Dompu pas kuliah tingkat dua, karena ada teman dan dosen yang berasal dari sana, hehe,,, banyak penduduk NTB dari atau pernah tinggal di Dompu sepertinya di ITB ya😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya Met? Aku nggak gitu tahu kalau orang Dompunya. Taunya malah orang Sumbawanya. ITB emang Indonesia mini banget.

      Hapus
  2. Mba Shantyyy, dari judulnya saja sudah 'menggoda', ehehe, bagus Mba, "Reply 1987". :)

    Dan koleksi foto-fotonya, wah benar-benar membawa saya back in time, inget banget dulu pas saya masih kecil, tante-tante (kakak-kakak Papah) suka pakai baju terusan yang manis begitu, atau rok midi dan ikat pinggang, ehehe.

    Wah ternyata Mba Shanty sudah banyak menjelajah Indonesia ya sejak kecil. Dompu, Medan, Karawang, Jakarta, Surabaya, Bandung, .....
    Dan, betul Mba Shanty, saya selama ini belum tahu keberadaan Dompu, makasiiy sudah memberi kisah ini ya Mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lucu ya, gaya pakaian anak-anak zaman dulu. Begitulah kalau anak pegawai negeri. Terbiasa pindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Seru karena jadi nambah pengalaman.

      Hapus
  3. Terpukaun sama kerapihan ingatan teteh akan masa kecil.
    Kayanya aku kalau diminta ceritain masa mudah dulu...emm, banyak yang terserak.

    Alhamdulillah,
    Tujuan akhir selalu tanah Jawa ya..Alhamdulillah~

    Perjalanan kehidupan yang penuh kenangan indah dan terlupakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya ini hasil wawancara lagi juga dengan papa sama mama. Kami bertiga masih banyak detail yang lupa-lupa gitu juga. Makanya nyesel banget dulu bukannya dicatat baik-baik.

      Hapus
  4. Nice title Teh Shanty, pas banget ya, Reply 1987 :)
    Baru tahu kalau Teteh pernah tinggal di Sumbawa, aku suka banget, padang rumputnya cantik-cantik.

    Pastinya perjalanan yang sangat berkesan ya, jaman dulu pesawat masih mahal, telpon juga ga kaya sekarang kan. Pastinya Mamah Teh Shanty kangen banget dengan Hababa.

    Semoga bisa terkabulkan rencana perjalanan Teh Shanty bersama keluarga, dimudahkan rezeki dan dilapangkan masa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin....amin....

      Sumbawa itu kerasa kaya sabana banget kalau pas lagi kering-keringnya.

      Hapus
  5. Seru banget ya jalan jalan zaman dulu, enak banget bisa trip selama 1,5 bulan ya mba. Indahnya zaman masih kecil dulu, bisa trip selama itu tanpa harus mikir kerjaan wkwk btw saya asli Medan mba, horas!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ternyata sama-sama orang Medan to Mbak Feby. Cuma Mamaku meralat, bukan orang asli Medan. Tapi numpang lahir dan lama menetap di Medan.

      Hapus
  6. waw teh, kok bisa masih inget detail gini. dan pas teh shanty melakukan perjalanan ini, saya masih di perut ibu hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini wawancaranya lumayan lama. Makanya setoran menjelang deadline. Kerasa banget pentingnya rajin mencatat. Sayang juga kalau banyak memori penting kita lupa detailnya ya Fin.

      Hapus
  7. Tahun 1987 aku belum lahir mba hehe, luar biasa yah perjalanan kehidupannya. Jadi belajar banyak hal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perjalanan zaman purba. Ha...ha.... Temanku sekarang banyaknya yang lahir di masa aku sudah kuliah loh Ain.

      Hapus
  8. Halo mbak Shanty, salam kenal, cerita kita hampir sama nih sama kehidupanku, haha..

    Aku juga asli Medan, turunan Jawa sih. Dan lalu merantau ke Lombok, ketemu suami (yg juga orang Medan) dan lalu ke Bali.

    Tapi kalo perjalanan darat ke Medan masih belum pernah sih. Rencana tahun lalu, tapi lagi parah pandemi kan, tahun ini pun sepertinta begitu.

    Yah, jadi sekarang mengandalkan video call aja dulu deh. Semoga bisa ngumpul lagi sama keluarga.

    Seru deh cerita perjalanannya mbak. Dan alhamdulillah bisa ketemu semua di tengah-tengah ya. Hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ia betul. Itu enaknya tinggal di Jawa. Lumayan tengah-tengah Indonesia. Mudah kalau mau kemana-mana.

      Hapus
  9. Wah keren banget ceritanya, pasti berkesan banget ya Mbak perjalanannya, dan masih ada fotonya juga, kebayang jadinya sama suasana tahun itu, pasti exited banget, Kalau sekarang kan kalau mau kemana2, sebelum berangkat bisa cek google atau yutub dulu yaak, kebayang kalau dulu langsung surprise banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sederhana banget memang tahun 80-an itu. Tapi itu yang bikin banyak hal jadi lebih manis buat dikenang.

      Hapus
  10. Kalau saya yang dapat tugas nulis cerita traveling, alih-alih menuliskan pengalaman ke Jepang atau Malaysia, saya juga bakal lebih memilih cerita perjalanan mudik ala Mbak Shanty ini deh. Bayangin serunya satu keluarga, naik kendaraan yang nggak cuma 1 jenis tapi berganti-ganti, belum transitnya, belum barang-barang yang mesti dibawa, belum jagain anak-anaknya. Wah.. Pasti berkesan banget.. Apalagi oleh-olehnya pun nggak tanggung-tanggung SK papanya yang paling bikin bahagia.. Sehat selalu untuk keluarga Mbak Shanty ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sudah mampir Mbak Elisa. Kadang-kadang segala sesuatu yang pertama akan lebih berkesan.

      Hapus
  11. Wahhh keren banget, ternyata perjalanan yang udah lama banget ya dikala itu. Saya kalau ditahun itu belum lahir sih, tapi inspirasi banget sekeluarga bisa pergi liburan dan menjelajahi berbagai tempat dan lokasi di Indonesia.Ditambah lagi foto-fotonya masih tersimpan rapi, dan bagus.. Huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau zaman sekarang fotonya pasti digital semua dan pasti kita simpan di media sosial ya. Kalau dulu, ada waktu untuk dicetak, dialbumkan untuk disimpan bertahun-tahun.

      Hapus
    2. Aku juga ada sih, tapi karena kebawa kemana mana jadi nempel ke plastiknya dan jadi terkelupas.. Tipsnya dong kak biar awet gitu hha, sayang banget sih padahal moment itu gak bisa diulang lagi. Walaupun agak burem tp masih bisa untuk dikenang :D

      Hapus
  12. Wah, berasa nonton film zaman dulu nih melihat foto2 mbak dan keluarga :D Memori keluarga dengan cerita jalan2nya sungguh luar biasa. By the way, keluarga suamiku banyak yang di Lombok, tapi orang Sumbawa sih. Itu ada foto lagi di Monas, seru banget ya mbak Shanty.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekali-kalinya naik Monas pas jadi turis. Begitu tinggal di Karawang & Jakarta, malah nggak pernah naik lagi.

      Hapus
  13. Masya Allah, seru banget lihat foto-fotonya. Jadi kangen masa-masa dulu. Kalau jaman kecil, keluarga kami jarang travelling karena tidak ada biaya dan pastinya waktu. Dewasa ini, setelah jadi ibu, saya sempatkan jalan-jalan meski hanya di sekitaran rumah. Semoga memberikan kesan yang baik untuk anak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biaya traveling itu memang lumayan ya. Apalagi dengan anak-anak yang masih kecil.

      Hapus
  14. terpukau dengan foto jadulnya teh Shanty ...
    salam jalan-jalan

    BalasHapus
    Balasan

    1. Ternyata memang ada gunanya juga cetak foto itu ya Mbak Dew. Nggak hanya mengandalkan foto digital seperti zaman sekarang.

      Hapus
  15. Kita beda setahun sepertinya. Saya lulus SD 1988:)
    Cerita ini banyak saya tahu tempatnya, saya pernah tinggal 8 tahun di Bali untuk kuliah dan kerja dan punya sahabat dari Bima, Dompu, Kupang, Lombok...dan daerah Indonesia Timur lainnya. Setelahnya ikut suami yang bekerja di Langkat, Sumut, jadi mainnya ke Berastagi..
    Meski sudah lama perjalanannya kalau mengesankan sungguh jaid kenangan ya Mbak
    Dan kerennya dirimu masih menyimpan dengan baik foto-fotonya! Salut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya dulu sempat main ke Bali beberapa kali karena Tante kuliah di Udayana. Dulu, orang sana sekolahnya biasanya nggak jauh-jauh sampai ke Jakarta. Paling Bali, Jogja, atau Malang.

      Hapus
  16. Luar biasa banget catatan perjalanannya, walaupun sudah lampau mampu mengumpulkan segala kenangan dan memory baik buat selalu dikenang. Pasti perjalanan yang menyenangkan banget dong. Kebayang serunya banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih perlu belajar cara buat catatan perjalanan dari Tukang Jalan-jalan nih. Makasih ya sudah mampir.

      Hapus
  17. Bacanya aja udah seru, Teh! Gimana Teh Shanty yang mengalami, pantas jadi pengalaman travel paling berkesan 👍🏻.
    Btw, aku juga kagum dengan koleksi foto jadul berwarna cokelat yang tersimpan rapiiii. Benar-benar kayak membuka memori lawas yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang punya foto tercetak itu memang ada perlunya ya Mut. Foto-foto di masa digital sekarang malah jarang banget yang kecetak. Hilang di dalam folder atau di album sosmed.

      Hapus
  18. Perjalanan yang sangat berkesan sekali ya mba. Kalo lihat foto² jadul seperti ini berasa nostalgia kembali. Terlebih masih bisa menyimpan foto-foto lama bisa menjadi cerita untuk anak cucu nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi kepikiran juga nih buat cetak foto-foto yang sekarang. Zaman digital bikin kita nggak kepikiran buat cetak foto lagi seperti dulu. Makasih sudah mampir.

      Hapus
  19. Kalau liat foto" lama kayak gini, vibesnya jadi inget keluarga dan masa-masa kecil hehe. Btw, ngomong" soal NTB, jujur penasaran banget pengen kesana, kayaknya indah banget ya tempatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terakhir kesana, kering banget sih. Tapi memang pantainya keren abis.

      Hapus
  20. Reply 1987, aku pikir tulisan ttg review drama korea eh ga taunya review alias nostalgia masa lalu. Aku ikut terbawa nih seolah beneran ada di Dompu & medan. Seru perjalanan kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menyesatkan ya? Padahal aku belum nonton juga filmnya. Cuma emang keingat untuk mengenang kembali perjalanan tahun itu.

      Hapus
  21. aku pernah beberapa kali naik kapal laut dari Jakarta ke Medan dan itu aja 3 hari 2 malam, kalau medan ke surabaya berapa lama mbak?

    aku bayangkan kalau kami mudik pasca pandemi, kali juga bakal perjalanan panjang medan jakarta bandung solo dan mungkin kota kota lain di Indonesia.

    cerita oerjalanan masa kecil pasti ada banyak, tapi dulu belum ngeblog jadilah hilang begitu saja ya kalau ga dengan sengaja ditulis begini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu data yang kubutuhkan, kami lupa berapa lama durasi perjalanan di kapal laut itu. Yang pasti cukup lama. Karena ingat aku tu sambil membawa sulaman kristik yang besar dan rasanya sampai jadi selama perjalanan.

      Hapus
  22. Ga kerasa bacanya udah smpe akhir aja mbak ceritanya heheh
    Beneran seru sih ini cerita pas masa kecilnya mbak
    Bisa mencoba banyak hal juga dalam sekali perjalanan
    Bakalan berkesan dan yang pasti bisa jadi cerita untuk anak2 nih ya nbak

    BalasHapus
  23. Cerita perjalanan apalagi sama keluarga itu membuat berkesan memang ya, catatannya jadi cerita nostalgik sekali yang bakalan terus dikenang meski bertahun-tahun setelahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Andai dulu sudah ada blog ya. Makasih sudah mampir.

      Hapus
  24. Tahun 1987 aku baru berusia 3 tahun
    Aku tidak ingat apa saja yang sudah terjadi
    Hanya ada foto foto dari almarhum bapak yang tampaknya sayang banget sama aku sebagai anak pertama
    Beruntung kalai 1987 sangat berkesan ya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah... Amma, rasa sayang itu yang pasti sangat membekas. Apa sih yang paling dibutuhkan anak-anak dari orang tuanya. Al Fatihah buat Bapak.

      Hapus
  25. Wah nostalgia banget ya, seru banget bisa perjalanan begitu panjang. Btw, aku belum pernah merasakan mudik pakai kapal, karena rumah kakek dan nenek masih di pulau yang sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin memang perlu khusus untuk jalan-jalan dan mau tahu aja ya nyoba naik kapal itu.

      Hapus
  26. luar biasa sekali pengalaman masa lalu masih tergambar jelas. bacanya ikut terharu, pengalaman keluarga yang sangat berkesan. salam kenal teteh :)

    BalasHapus
  27. Wih, seru bgt ya mbak. Seneng rasanya bisa melakukan perjalanan jauh. Apa lagi tujuannya akan bertemu keluarga yg sudah lama gak ketemu.

    BalasHapus
  28. Warbiyasak ceritanya. Memang kalau pas kita anak-anak tu, diajak pergi apalagi sejauh itu pasti berkesan banget yaaa..

    Dan anak saya tu belum pernah looo bepergian pake kapal laut.

    Makasih sudah berbagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pun penasaran sekarang kapal laut itu seperti apa. Banyak nama kapal-kapal baru beroperasi.

      Hapus