Hari Biasa yang Tak Biasa
Yeay… hari ini sudah tanggal 20 lagi. Hari deadline-nya Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei 2026. Sudah Tantangan ke-4 dari 10 tantangan untuk tahun 2026 nih, dan saya masih kembali jadi deadliner garis keras.
Bersama Mamah Sari sebagai Mamah Host, tema kali ini adalah tentang Hari Biasa yang Tak Biasa. Ehm… ini tema yang biasa aja atau tidak biasa ya? Mikir ini nih yang bikin niat setor tanggal 5 saat pengumuman tantangan, jadi tertunda sampai hari terakhir di tanggal 20 ini. Hanya beberapa jam sebelum tengah malam.
Bedanya Hari Biasa dan Tidak Biasa
Saya sebenarnya sulit mendefinisikan apakah hari-hari saya itu masuk kategori biasa atau tidak biasa. Sebenarnya hari-hari biasa saya itu adalah hari di mana saya pegang ponsel sepanjang jam kerja. Yup, bisa mencapai 8 jam sehari! Padahal kalau melihat data Digital 2026 Indonesia yang dikeluarkan wearesocial.com, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu bersosmed mencapai 3 jam per hari. Lah saya ini biasanya bisa mencapai 8 jam sehari. Duh… gimana nggak brain rot coba?
Karena kebanyakan bolak-balik pegang ponsel dan nyasar ke informasi-informasi viral hari ini, jam makan saya pun biasa telat. Sarapan pukul 11 siang, makan siang di skip, makan malam di atas pukul 10 malam. Lalu tidur menjelang tengah malam atau bahkan lebih. Beneran kacau sekali lah.
Parahnya lagi, urusan sholat pun jadi sering di penghujung waktu. Benar-benar Hamba Allah yang tidak tahu diri. Sudah dikasih begitu banyak nikmat, lah malah waktunya dihabiskan untuk yang tidak berguna.
Dampak yang paling terasa, tentu saja banyak amanah dan target-target yang jadi tertunda karena pilihan-pilihan yang salah ini. Demikianlah hari-hari biasa saya.
Sementara hari-hari saya yang tidak biasa adalah hari-hari ketika saya lagi sholehah. Hari-hari dimana saya bahkan lupa meletakkan ponsel saya di mana karena sedang asyik beraktifitas. Biasanya ini kalau tengah berkegiatan offline. Saya bisa sholat awal waktu seharian, makan teratur sesuai jamnya, target-target harian tercapai walau hanya sedikit, dan bahkan bisa menutup hari dengan tidur cepat.
Ini benar-benar luar biasa sekali rasanya. Enak!!! Saya merasa menang.
Sayang sekali hari-hari tidak biasa itu jarang terjadi. Andai saja lebih banyak hari-hari tidak biasa dibanding hari-hari biasa. Pasti hidup ini akan lebih berarti. Sayangnya itu tidak mudah ya saudara-saudara.
Hari Luar Biasa
Sebenarnya seperti orang-orang lain, tentu saja saya punya hari-hari yang sangat luar biasa. Namun sering kali hari-hari ini terasa datang begitu saja sebagai sesuatu yang sepertinya memang sudah harus terjadi tanpa banyak usaha yang berarti.
Hari ketika lulus UMPTN tahun 1993, hari ketika diterima kerja pertama kali dengan gaji yang bikin tersenyum lebar, hari ketika diumumkan lulus program IATSS Forum ke Jepang, hari pernikahan, hari anak-anak lahir, hari pindah ke rumah sendiri, hari bisa meninggalkan anak seharian pertama kali untuk ikut kelas menulis Akademi Menulis 5 Menara di Jakarta, hari anak-anak mencapai milestone tertentu, itu semua terasa sebagai hari yang luar biasa. Hari yang hanya mungkin terjadi dengan izin Allah…
Eh, hari-hari luar biasa ini ternyata semua masuk kategori hari bahagia. Saya jujur kesulitan mengingat hari-hari luar biasa yang menyedihkan. Mungkin ada satu. Hari ketika Papa meninggal karena Covid pada 26 Juni 2022.
Papa meninggal tidak lama dari hari luar biasa di mana kami bisa berlibur lengkap sekeluarga dan kelulusan SMP Raka.
Menjadikan Hari Bermakna
Jadi ada hari biasa, hari tidak biasa dan hari luar biasa ya. Lalu ada satu lagi yang mengesalkan. Hari-hari yang hilang. Yup, saya punya hari-hari yang hilang begitu saja. Tahu-tahu sudah di penghujung hari, tahu-tahu sudah akhir pekan, tahu-tahu sudah akhir bulan dan gajian lagi. Nah kalau bagian ini langsung semangat saya sih.
Saya tidak suka dengan hari-hari yang hilang seperti ini. Sebagai orang yang suka menunda membuat catatan harian, lupa dengan apa yang terjadi pada suatu hari itu sangat lah menjengkelkan.
Ini serius ya hari melalui suatu hari tanpa ingat ngapain saja pada hari tersebut? Rasanya kosong dan sia-sia gitu.
Salah satu yang saya suka adalah memiliki jurnal syukur harian. Alhamdulillah hari ini adalah heading yang saya pakai. Kalau lagi rajin, biasanya bisa punya lebih dari setengah lusin hal-hal yang bisa disyukuri pada hari tersebut. Kalau lagi malas saat hari-hari biasa yang sibuk dengan sosmed itu, tentu saja saya tidak sempat menulis apa-apa.
Dari hal-hal sederhana seperti keberhasilan bisa jalan pagi keliling kompleks atau menemukan artikel yang menarik di koran, sampai kepada keberuntungan seperti mampu membeli barang impian atau meraih kemenangan tertentu.
Sebelum membuat tulisan ini, saya menghabiskan waktu melihat lagi catatan-catatan lama yang sudah saya kumpulkan bertahun-tahun. Catatan-catatan yang biasa saya kumpulkan sebagai setoran harian di KLIP.
Membaca lagi catatan-catatan lama, membuat saya kembali teringat pada hari tersebut. Rasanya semua memori dan rasa jadi hadir kembali. Seperti ketika saya membuka folder catatan saat mengikuti IATSS Forum di Jepang tahun 2003. Itu 23 tahun yang lalu! Membaca lagi catatan di hari tersebut, mengingatkan saya betapa hari itu adalah hari yang tidak biasa. Begitu juga hari ini.
Ternyata setiap hari bisa jadi hari yang tidak biasa, ketika kita menyimpannya dengan baik. Alhamdulillah…


Posting Komentar untuk "Hari Biasa yang Tak Biasa"
Posting Komentar