--> Yakin Mau Kuliah di Jurusan Teknik Arsitektur ITB? - Cerita Shanty
lWcg51fin4Fhk7iYMzhi8k0YG8mjAdav5FwgOuRx

Yakin Mau Kuliah di Jurusan Teknik Arsitektur ITB?

kuliah di teknik arsitektur ITB

Arsitektur sulit dipungkiri adalah jurusan yang cukup populer. Apalagi sekarang ya. Sejak Bu Risma dan Pak Ridwan Kamil yang lulusan Teknik Arsitektur jadi pejabat, konon jurusan Arsitek semakin dilirik banyak orang.

Saya sendiri sebenarnya sudah punya ketertarikan pada jurusan ini sejak usia SD. Ketika orang lain lulus SMA masih bingung mau kuliah di jurusan apa, saya sudah yakin mau belajar buat bikin bangunan yang cantik-cantik. Sangat naif.

Dimulai dari suka menggambar layout denah rumah impian. Entah kenapa, kalau memulai mengkhayal sebuah cerita, yang pertama saya kerjakan bukan mengembangkan karakternya dulu. Melainkan memikirkan bagaimana kira-kira rumahnya. Dimana letak kamarnya, letak ruang tamunya, dan lain-lain. Sampai malah lupa sama jalan ceritanya sendiri.


Di masa SMP saya mulai suka lihat buku-buku yang isinya bangunan-bangunan arsitektur yang cantik-cantik. Suka lihatnya saja. Tapi saya nggak pernah mencoba menggambarnya. Daripada menggambar, saya lebih suka berkhayal saja. Atau ditulis dalam kata-kata. 

Dari situ, saya mulai menetapkan jurusan arsitektur sebagai pilihan kalau kuliah. Langsung pakai kacamata kuda. Pokoknya harus arsitek. Tidak punya opsi lain. 

Ketika mempersiapkan untuk ujian masuk PTN tahun 1993 yang saat itu dikenal dengan sebutan UMPTN, saya ikut bimbingan belajar Nurul Fikri di Jakarta. 

Sadar diri karena berasal dari SMA kabupaten yang harus bersaing dengan ratusan ribu pelamar dari seluruh Indonesia, saya dan beberapa teman merasa perlu ikut bimbingan belajar.

Istilah seleksi masuk PTN
Namanya selalu berganti-ganti setiap tahun.

Saat itu saya sekolah di SMAN 1 Karawang. Sekitar 30 menit lah naik bis dari depan sekolah menuju tempat bimbel daerah Cawang Jakarta. Biasanya pergi saat pulang sekolah, dan tiba lagi di rumah menjelang Isya. Seminggu 2 sampai 3 kali selama semester terakhir di SMA. Kemudian dilanjutkan program intensif 1 bulan menjelang UMPTN yang programnya setiap hari.

Selama bimbel, fokus belajarnya hanya di pelajaran-pelajaran yang akan diujiankan saja. Seperti Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika. 

Semasa SMA sebenarnya nilai saya pas-pasan saja. Sekedar aman di 10 besar, tapi bukan anak peringkat 1 atau 2. 

Di masa itu yang bikin saya masih bingung adalah memilih perguruan tinggi mana? 

Sebagai anak Karawang, lokasi terdekat untuk jurusan Arsitektur itu hanya ditawarkan di UI di Jakarta dan ITB di Bandung. Saya masih bingung mau meletakkan mana dari 2 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ini yang akan menjadi pilihan ke satu dan kedua. UI jelas PTN nomor 1. Tapi untuk bidang teknik seperti Arsitektur, ITB adalah yang nomor 1. 

Ketika kebingungan itu saya tanyakan ke pembimbing di bimbel, jawabannya cukup menohok. “Berapa nilai try out mu?” tanyanya. Saya jawab sekitar 600-an. Itu bukan angka yang bagus.

Si Kakak Pembimbing kemudian mengajak saya untuk lebih realistis dengan nilai try out yang pas-pasan itu. “Pilih satu saja PTN papan atas, dan pilih satu lagi yang tingkat persaingannya lebih rendah,” sarannya.

Akhirnya saya ketemu juga pilihan kedua di Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro. 

Ujian yang dinanti-nantikan berlangsung selama 2 hari pada 23-24 Juni 1993. Saya sendiri memilih tempat lokasi ujian di Jakarta. Sehari sebelum ujian, sesuai saran dari tempat bimbel, saya mengecek dulu lokasi ujian. Kira-kira berapa lama waktu yang diperlukan menuju lokasi ujian? Kira-kira di ruangan mana saya akan ujian? Sampai ke lokasi toiletnya dimana? Bener-bener super deh persiapannya. 

Alhamdulillah, ujian 2 hari itu berhasil dilalui dengan lancar. Tapi saya sama sekali nggak bisa menduga bisa berhasil atau tidak dalam ujian ini. Soalnya nggak gampang-gampang banget juga sih. 

Pada Sabtu, 31 Juli 1993 tiba juga hari pengumuman UMPTN. Duh, itu semalaman saya beneran nggak bisa tidur. Gelisah sekali. Hanya mampu bolak-balik di tempat tidur sambil mendengarkan Mama yang sibuk Yasinan sepanjang malam demi mendoakan anaknya ini.

Begitu matahari mulai terlihat, saya pun bersepeda mencari tukang koran yang lewat. Dan….Alhamdulillah ternyata nama saya ada di koran tersebut. Saya tidak terlalu memperhatikan keterima di pilihan pertama atau kedua. Pokoknya nama saya ada di koran tersebut.

pengumuman umptn 1993

Baru setelah di rumah dan buka panduan UMPTN, saya baru sadar kalau keterima di pilihan pertama. Teknik Arsitektur ITB. Yup, saya akan kuliah di Bandung!

Seperti apa kuliah di Teknik Arsitektur ITB?

Sebelumnya perlu saya sampaikan kalau ini pengalaman saya tahun 1993-1998 ya. 23 tahun lalu! Sekarang sudah cukup banyak perubahan dan penyesuaian yang terjadi. Tapi saya rasa tidak ada salahnya merekam pengalaman ini sebagai sejarah.

Dulu Teknik Arsitektur ITB masih menjadi bagian dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Di fakultas ini bernaung juga jurusan Teknik Sipil, Teknik Planologi, Teknik Lingkungan, dan Teknik Geodesi.

Pada tahun 1993, ada 80 kursi yang dibuka untuk para mahasiswa. Saat itu ada 1 yang tidak daftar ulang. Jadi seangkatan kami hanya ber-79 orang saja saat masuk. Tidak semua bisa lulus. Ada yang pindah karena keterima beasiswa di luar negeri, ada yang pindah ke jurusan lain karena tidak cocok, dan berbagai alasan lainnya.

Apakah kuliah di Arsitektur ITB sesuai dengan bayangan saya?

Nah, di sini baru melihat kesalahan besar yang saya lakukan ketika SMA. Saya lupa mencari tahu lebih banyak mengenai seperti apa Teknik Arsitektur itu. Saya terlalu sibuk dengan pelajaran untuk tes masuk UMPTN.  

Memang di tahun pertama kuliah di ITB, kami belum banyak belajar mengenai ilmu-ilmu arsitektur. Tahun pertama di ITB atau yang dikenal dengan istilah Tahap Persiapan Bersama (TPB) berisi pelajaran-pelajaran umum seperti Kalkulus, Fisika Dasar, Kimia Dasar dan sejenisnya. Mungkin ingin menyamakan dasar pengetahuan mahasiswa yang datang dari berbagai macam daerah yang standarnya beda-beda. 

tidak mudah jadi arsitek
Banyaknya Kartu Mahasiswa menunjukkan betapa ngos-ngosannya kuliah di Teknik Arsitektur itu.

Terus terang saya benar-benar merasa terengah-engah di tahap ini. Mungkin karena memang dasarnya pas-pasan, ketika dipacu untuk berlari lebih kencang ya lumayan ngos-ngosan juga. 

Untung saja, di tahun 1993 itu pertama kali diperkenalkan istilah semester pendek untuk mereka yang ketinggalan mengejar pelajaran pada semester regular. Jadi nilai kalkulus yang sempat E, bisa segera terdongkrak jadi A dan C. Alhamdulillah.

Baru di tahun kedua, kami mulai mempelajari ilmu-ilmu arsitektur. Nah di sini saya baru kerasa kagetnya. Ternyata menggambar itu susah banget buat saya. Dan gambar saya asli jelek banget. Tarikan garis saya kelihatan banget nggak ngarsitek banget! 

tugas gambar di jurusan arsitektur
Betapa tersiksanya harus menggambar seperti ini hampir setiap hari. Fyi, ini bukan gambar saya. Tapi diambil dari image di Canva pro.

Dan yang paling parah adalah, saya baru sadar kalau saya sangat tidak suka proses menggambar. Ini kan fatal banget buat seorang arsitek. Kok ya bisa-bisanya saya tidak bisa memprediksi kalau Teknik Arsitektur itu butuh kemampuan menggambar. Minimal punya minat untuk menggambar. 

Di sini saya baru merasa kelebihannya jurusan Teknik Arsitektur yang mensyaratkan adanya tes gambar bagi calon mahasiswanya. Minimal memang perlu ada standar kemampuan dasar menggambar untuk setiap mahasiswa Arsitektur. Jangan sampai separah saya.

Saya ingat ada salah satu mata kuliah yang mengharuskan kami membuat sketsa bangunan. Di akhir sesi, biasanya akan dibahas di muka kelas siapa yang sketsanya paling bagus dan siapa yang paling jelek. Doa saya sederhana saja untuk tugas ini. semoga bukan sketsa saya yang dibahas!

Kebayang nggak repotnya kalau kita tidak suka menggambar, tapi selalu ada tugas menggambar yang memaksa kita begadang nyaris setiap hari! Ini begadang bukan karena siangnya sibuk main sosmed ya. 

Zaman itu belum ada sosmed-sosmedan! 

Malamnya harus begadang karena siangnya ada tugas kuliah dan asistensi seharian. Senin dan Selasa jatahnya untuk tugas Desain Perancangan, Rabu untuk tugas Struktur, Kamis untuk tugas Kritik Arsitektur atau ilmu lainnya, Jumat untuk tugas Tapak. 

Ini belum ditambah lagi kegiatan extra dari unit atau himpunan yang kita ikuti. Saya sendiri waktu kuliah ikut unit Pramuka yang saat itu lumayan menyita waktu. Stress, mata panda, dan kecapaian bener-bener bikin saya rada trauma sama yang namanya kuliah. 

Lapangan kerja sebagai lulusan Teknik Arsitektur

Memang benar jadi arsitek itu tidak selalu harus berhubungan dengan desain dan menggambar. Di ITB, Teknik Arsitektur itu menjadi begitu luas sekali kemungkinannya. 

Ada bidang keilmuan mengenai sejarah arsitektur dan pengembangan kawasan bersejarah, ada bidang perumahan dan pemberdayaan masyarakat, ada bidang komputer arsitektur, ada bidang pengembangan kota, dan masih banyak lagi yang sangat menarik. Lapangan pekerjaannya pun bisa sangat luas. 

Ketika akhirnya saya berhasil lulus dari Teknik Arsitektur, saya sempat memutuskan memilih bekerja sebagai arsitek yang fokus pada pemberdayaan masyarakat. Bagaimana mengembangkan pemukiman yang berdasarkan partisipasi masyarakat. Nggak banyak pakai menggambar, tapi lebih ke banyak ngobrol dengan masyarakat. 

Saya sempat menekuni pekerjaan ini selama beberapa bulan saat menunggu wisuda di bulan Juni 1999. Sebenarnya saya sudah lulus Tugas Akhir sejak akhir 1998. Tapi jadwal wisudanya baru ada pada bulan Juni. 

Saat wisuda ini, saya mendapat informasi mengenai lowongan pekerjaan sebagai arsitek yang bersedia ditempatkan di Sumbawa. Kebetulan sekali Papa saya berasal dari sana, dan saya cukup tertarik untuk bisa bekerja di sana. Apalagi katanya kerjanya berhubungan dengan masyarakat. Wah pas banget lah.

Akhirnya jadi juga saya arsitek beneran. Setahun di Sumbawa hingga tahun 2000. Berlanjut dipindah ke kantor di Bandung selama 3 tahun berikutnya. 

Kemudian pindah untuk bekerja part time pada sebuah konsultan lain di Bandung sebagai 3D Artist hingga pertengahan tahun 2007. Di sini lah saya bertemu suami yang berprofesi sama. 

Jadi perjalanan sejauh ini bisa dibilang untuk mendapatkan status istri arsitek. Hadeuh...

Kenali dulu jurusanmu sebaik mungkin

Setelah bergelut dengan dunia arsitektur sejak 1993 hingga 2007, saya merasa masih tidak bisa membangun chemistry yang baik dengan arsitektur. Hubungan yang tidak bisa dipaksakan memang. Walau saya sempat begitu kekeh, kalau ini adalah satu-satunya jurusan buat saya. 

Harapan saya sih anak-anak jangan sampai salah pilih jurusan seperti saya. Itu sebabnya mereka perlu mengeksplorasi lebih jauh minat mereka. Jangan sekedar bungkusnya saja. Seperti saya yang sekedar buat denah atau suka lihat buku arsitektur saja. 

Tapi perlu mengetahui lebih banyak mengenai ilmu tersebut. Belajar apa saja sih di sekolahnya? Nanti kerjanya kemungkinannya seperti apa sih? Kualifikasi seperti apa yang dibutuhkan untuk bidang tersebut? Dan yang terpenting, sejauh mana saya mau berkorban untuk menekuninya?

Bahkan kalau memungkinkan, milikilah prestasi yang mendukung kemampuan dibidang tersebut. 

Saat ini saya lebih menikmati proses menulis daripada menggambar. Mengeluarkan kata-kata terasa lebih mudah dan lebih gue banget daripada menarik garis untuk mendesain. 

Ah….andai saya tahu ini lebih dini… Tapi tidak ada kata terlambat kan ya? Setuju kan teman-teman?

Tantangan Mamah Gajah Ngeblog Maret 2021

Tulisan ini dibuat dalam rangka Tantangan Mamah Gajah Ngeblog kedua bulan Maret 2021 dengan tema Mengapa memilih kuliah di jurusan masing-masing. 



Related Posts
Shanty Dewi Arifin
Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Related Posts

27 komentar

  1. Akupun tak cucok gambar teknik. Kalau dulu di FSRD ada gambar konstruksi, Itu males banget ngerjain tugasnya. Alhamdulillah cuma 1 tahun pas TPB aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu minat ya kalau urusannya sama gambar. Kirain anak FSRD pasti selalu suka gambar karena ada tes gambarnya. Ternyata nggak berlaku untuk gambar konstruksi ya Din.

      Hapus
  2. Teteeep, penasaran sama arsitektur. Dan lagi bujuk2 si Butet utk menyukai perspektif (kelemahan dia, nih) trus ntarnya diarahin buat kuliah arsitektur. Mau ga ya, anaknya?... 🤔😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu dicoba emang sih. Kalau di Bandung ada kegiatan yang namanya Bandung Sketchwalk. Komunitas orang-orang yang suka buat sketsa kota. ini bisa jadi teropong buat ketertarikan pada dunia arsitektur. Mungkin di Prancis ada komunitas seperti ini Fi.

      Hapus
  3. Setuju banget teh...
    Saya juga tertarik sama arsitektur, tapi enggak bisa ngegambar, hihihi...

    BalasHapus
  4. Beruntung ya.. sudah ada semester pendek, jadi bisa lulus sesuai waktunya. Gak ada ngulang ke tahun depan berarti ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat membantu sekali buat yang pas-pasan. Jadi hemat waktu Mbak.

      Hapus
  5. Wah berat juga ya kalau ga suka gambar tp masuk jurusan yang seringnya gambar... salut banget sama teteh yang bisa bertahan sampai lulus di Arsi... benar kata teteh, cari info sebanyak-banyak tentang jurusan yg mau diambil supaya ngga kaget2 banget ya.. salam kenal yaa, saya ichy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya kalau anak-anak sekarang bisa lebih banyak dapat pencerahan mengenai jurusan yang mereka minati sebelum benar-benar masuk.

      Hapus
  6. Oke abis ini kalau ada yg lagi mempertimbangkan arsitek sbg jurusan kuliah, kurekomendasiin tulisan teh Shanty ini aja kali yaaa hihihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu dipertimbangkan dengan masak biar bisa menikmati proses kuliahnya. Kalau kuliah tapi tersiksa yang sayang waktu juga nggak sih Dy.

      Hapus
  7. selalu suka tulisaan tetehhh, ah idolakuuuu

    BalasHapus
  8. Iyaa teh shanty, dulu juga kasusnya anak-anak SMA terlalu sibuk belajar buat ujian masuknya daripada mengeksplor minat-bakat mau masuk jurusan apa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan sekarang nggak gitu lagi ya Ges.

      Hapus
  9. teh shanty ... duh ini artikel keren bangeeett :
    berasa punya teman nih, gambar studio struktur ku parah abis

    salam semangat

    BalasHapus
  10. Teteh, luar biasa masih menyimpan perintilan terkait UMPTN & kuliah. Tanggal-tanggal bersejarahnya juga masih ingat 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena masih ada potongan koran dan catatannya Meita, jadi ingat.

      Hapus
  11. Masya Allah kereeen ibu tulisannya. Harus belajar banyak hehe. Hmm kalau tidak ada chemistry memang tidak bisa dipaksakan ya Bu, walaupun udah berkutat di dunia arsitektur belasan tahun. Sekarang masih ada rasa kangen ga sih Bu dgn arsitek? Hehe penasaran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak kangen Yul. Masih terasa dekat karena suamiku kebetulan arsitek juga.

      Hapus
  12. Toss dulu sesama anak arsi yang ga jago gambar. Tapi aku suka belajarnya 😂😂

    BalasHapus
  13. Bahkan Teh Shanty yang awalnya sesuka itu dengan jurusannya pun masih merasa salah jurusan ya. Riset tentang jurusan kuliah ini memang perlu sedetail intip-intip SKS kuliahnya nampaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ternyata kita perlu tahu sampai mata kuliahnya deh. Kapan itu aku juga sempat kepikiran mau kuliah jurnalistik, pas lihat mata kuliahnya baru nyadar kalau itu ternyata bukan yang aku cari. Sama mungkin banyak-banyak ngobrol dengan yang bekerja di bidang yang kita minati. Biar tahu sela-selanya.

      Hapus
  14. aku mau ketawa ngakak baca tulisan perjuangan selama ini buat jadi istei Arsitek saja. Tapi... sebenernya emang ya jalan hidup ya begitu. kalau ga kuliah jadi arsitek bisa jadi ga ketemu suami arsitek mbak hahahha... kayaknya seru ini dijadikan cerita fiksi apalagi drakor hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi jangan diketawain kalau ada yang milih jurusan dalam rangka nyari pasangan hidup. Karena bener bisa kejadian juga sih. ha..ha...

      Hapus