Don't Judge Dilan ITB 1997 by Ariel

 

review dilan itb 1997

Coba absen  dulu siapa yang males nonton Dilan 1997 karena pemerannya Ariel? Ih… sama dong ya kita. Sempat nggak habis pikir kenapa Ayah Pidi Baiq maksa banget pemeran Dilan harus Ariel yang kelahiran 16 September 1981. 

Padahal kita kan masih sulit move on dengan manisnya Iqbaal Ramadhan & Vanesha Prescilla di film Dilan 1990 (tayang 25 Januari 2018) dan Milea Suara dari Dilan (tayang 13 Februari 2020). Bahkan sulit untuk ditandingi oleh Arbani Yasiz dan Zee JKT 48 di film Ancika: Dia yang bersamaku 1995 (tayang 11 Januari 2024).

Itu sebabnya saya meletakkan Dilan 1997 dalam prioritas bawah film yang perlu ditonton di bioskop saat ini. Sampai lewat di timeline saya potongan Youtube-nya Pandji Pragiwaksono mengomentari film Dilan 1997 dalam sudut pandangnya sebagai mahasiswa FSRD ITB angkatan 1997. Dari video 40 menitan tersebut, mata saya jadi terbuka untuk melihat film Dilan 1997 ini dengan cara yang berbeda.

full book 1 studio nobar dilan 1997

Nobar Dilan 1997 bersama IOM ITB Wilayah Bandung Raya

nobar dilan itb 1997 iom itb bandung raya

Kebetulan sekali IOM (Ikatan Orang Tua Mahasiswa) ITB Wilayah Bandung Raya membuat event Nonton Bareng di CGV BEC Jl. Purnawarman Bandung pada Minggu, 10 Mei 2026. Nggak tanggung-tanggung, 1 studio kapasitas 119 seat ludes diisi oleh para orang tua mahasiswa dan sejumlah mahasiswa penerima beasiswa IOM ITB. 

Jadi bagaimana filmnya? 

Waaa its turn out…. I love the movie! 

Emosinya dapat, pesan moralnya dapat, nostalgia Bandung di masa 1997-nya dapat. Dan yang pasti alasan kenapa ayah Pidi Baiq nggak pake pikir lama untuk memilih Ariel sebagai Dilan, akhirnya terjawab. 

Mungkin pengaruh saya sebagai alumni Arsitektur ITB angkatan 93, yang artinya hanya beda 1 tahun dengan Pidi Baiq yang angkatan 1992, membuat saya merasa dekat dengan scene-scene di film ini. FYI, jurusan Arsitektur dan FSRD itu sebelahan. 

Jadi film ini mengambil setting tahun 1997. Tepat saat Dilan baru pulang dari study exchange 6 bulan ke Kuba. Nih ya, saya kasih timelinenya buat kalian memahami universenya Dilan.

1990 Dilan SMA ketemu dan jadian sama Milea.

1991 Dilan SMA akhirnya putus sama Milea.

1992 Dilan lulus SMA & masuk FSRD ITB sebagai anak TPB.

1993 Dilan semester 3 dan Shanty masuk Arsitektur  ITB sebagai anak TPB. Kamu boleh mengabaikan fakta terakhir karena Shanty tidak ada dalam universe Dilan. 

1994 Dilan semester 5 dan Shanty mulai kuliah di Arsitektur ITB yang tetanggaan tempat kuliahnya Dilan. 

1995 Dilan semester 6 dan jadian sama Ancika yang masih SMA kelas 3. Ancika lulus dan masuk Psikologi Unpad di tahun ini. Kalau Shanty lagi nangis karena IP-nya jelek di tahun ini.

1996 Dilan study exchange ke Kuba pada bulan September selama 6 bulan.

1997 Dilan kembali ke Indonesia dan menyelesaikan Tugas Akhirnya sebagai mahasiswa yang sudah memiliki 11 KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) atau 11 semester! Sekedar info, di masa ini KTM diberikan setiap semester dengan warna yang berbeda-beda setiap semesternya. Lumayan buat koleksi.

adegan reformasi dilan itb 1997

1998 Masa reformasi yang ditandai dengan turunnya Soeharto & menikahnya Dilan-Ancika. Saat ini Dilan masih berstatus mahasiswa yang sudah penghasilan sebagai freelance. 

Dalam novelnya, Dilan diceritakan akhirnya bisa lulus dari ITB setelah 8 tahun alias punya 16 KTM!  Itu artinya Dilan lulus di tahun 2000 ya. Jadi kita bisa menebak, kelanjutan Dilan Amsterdam 2000, adalah masa-masa Dilan yang sudah lulus ITB. Kebijakan batas studi di ITB maksimal 7 tahun, baru diberlakukan bagi angkatan 1997. Sementara Shanty lulus ITB 10 semester kalau ada yang kepo.

Dilan = Ariel

Setelah melihat bagaimana Ariel bermain sebagai Dilan dalam film ini, akhirnya saya bisa paham pilihan Ayah Pidi Baiq. Ketika saya melihat Dilan bersama teman-teman FSRD-nya Nunu dan Nawi, saya seperti anak 93 yang melihat mahasiswa swasta  angkatan 87. Yup, memang ada mahasiswa yang terlihat sesepuh itu. 

Duh, semoga tidak ada swasta yang tersinggung baca tulisan ini. Walau ya setua-tuanya mereka ya memang paling juga di umur 25 an lah. Nggak akan setua Ariel yang 40 tahunan. Kondisinya dulu itu berbeda dengan dengan masa sekarang di mana senior hanya berjarak 4 tahun lebih tua saja. 

Kalau kita telusuri lebih dalam, Ayah Pidi Baiq ini kelahiran 8 Agustus 1972. Itu artinya ia berusia 20 tahun saat masuk ITB tahun 1992. Bisa jadi anak gap year. Di tahun 1997 - 1998, berarti usianya sekitar 25 tahunan. Dan karakter Dilan dalam novelnya diceritakan baru lulus setelah menempuh kuliah 8 semester. Yang artinya bisa jadi usianya sudah 28 tahun. Berbeda dengan mahasiswa sekarang yang dipaksa lulus di usia 22 tahun saja.

Memang sih, agak terasa aneh melihat adegan Ariel dengan Bundanya yang kok terasa lebih ke kakak adik daripada anak dengan ibunya. Tapi hey... bukan kah ini sering menjadi kebanggaan orang tua di masa sekarang? Bagaimana banyak orang tua sumringah ketika dibilang seperti kakak si anak, instead of orang tuanya.

Terlebih melihat bagaimana Ariel memerankan Dilan sebagai orang Sunda asli, itu dapat banget sih. Dan yang perlu kita catat, Dilan itu kalau kita lihat lebih dalam, sebenarnya bukan anak cakep seperti Iqbaal atau Arbani. Dilan itu anak geng motor loh! Walau orang Sunda, tapi ya pastinya panas-panasan dan berkulit rada butek mestinya. Bukan setelan cowok artis yang ganteng. Apalagi kalau kita sulit memisahkan citra Ayah Pidi Baiq dalam karakter Dilan. Dilan menggunakan kharisma dan kecerdasannya bermain kata untuk menarik di mata banyak orang. Bukan kegantengannya. 

Dan karakter itu ada di Ariel! 

Two thumbs up lah untuk aktingnya Ariel sebagai Dilan. Atau bisa jadi, memang Ariel yang ada di kepala Ayah Pidi Baiq saat menciptakan karakter Dilan. Seorang musisi populer asal Bandung sekaligus nakal dengan bakat luar biasa. 

Bisa jadi, karakter Dilan akan lebih hidup kalau saja diperankan oleh Ariel saat berusia 25 tahunan. Bukan 40 tahunan seperti sekarang. Tapi mungkin ada pertimbangan, better late than never.

Ok ya, jadi jangan lagi judge Dilan dari Ariel-nya. Kita nikmati saja Ariel sebagai Dilan. Kamu perlu melihatnya sendiri dan memberikan penilaian yang fair. Boleh suka boleh tidak. 

Film untuk Mahasiswa Bandung

Sebenarnya bagian akhir dari film Dilan 1997 ini tidak berbeda jauh dari film Ancika 1995. Ada masa reformasi dan Soeharto turun, masa Dilan melamar & menikah dengan Ancika. 

Hanya bedanya, di tahun 1997 sudut pandangnya adalah Dilan dan ITB. Saya apresiasi pengambilan sejumlah gambar di sudut-sudut ITB yang harus saya akui memang cantik banget. 

Syutingnya sendiri berlangsung singkat pada 11 Desember 2025 - 6 Januari 2026 saja. Jadi ingat masa-masa saya jalan pagi di Ganesha dan melihat banyak properti film di FSRD. Pastinya mereka tengah syuting film ini. 

Dilan itb 1997

Fakta bahwa Ancika yang anak Unpad dan Dilan yang anak ITB menurut saya manis sekali. Kalimat di trailer “Kalau Unpad & ITB menikah, anaknya apa?” tanya Ancika. “UI,” jawab Dilan cepat. 

Ngecengin anak kampus sebelah itu memang punya cerita tersendiri buat para mahasiswa di Bandung yang memiliki banyak kampus. Di tahun 90-an cowok-cowok ITB biasa petantang-petenteng ngecengin anak Unpad di Dipati Ukur. 

Kalau sekarang mungkin ceritanya agak berbeda sedikit. Melting pot Unpad-ITB pindah ke kantin Fapet (kantin Fakultas Peternakan Unpad Jatinangor) yang bersebelahan dengan ITB Jatinangor. Dengan alasan valid perbaikan gizi dengan sajian protein murah meriah untuk kantong mahasiswa, kita bisa lihat mahasiswa dari kedua kampus ini rela ngumpul dengan semriwing kandang sapi di sini.

Melihat bagaimana Ancika sebagai anak Unpad akrab dengan teman-teman Dilan di FSRD ITB, buat saya ini juga terasa sangat familiar. Kebetulan saya dan suami juga beda kampus. Namun bisa jadi karena kami sama-sama dari Arsitektur, circle pertemanan kami tidak berbeda jauh. Circle pertemanannya beririsan! Ini penting sih menurut saya untuk menjaga hubungan dengan pasangan. 

Dilan ITB 1997 membangkitkan memori kota Bandung sebagai kota mahasiswa. Bagaimana anak-anak muda dari berbagai kota di Indonesia memilih untuk kuliah di Bandung dan beruntung menikmati kecantikan kota ini. Sudut-sudut kota seperti tempat belanja buku Palasari, makan di Hanamasa, suasana kampus ITB dan Unpad, angkot-angkot di kota Bandung, membantu kita bernostalgia masa-masa tersebut.

Pesan Moral dari Film Dilan 1997

Sebenarnya ini film ringan yang memang tidak perlu punya pesan moral dan bikin mikir. Tapi entah kenapa, saya begitu tersentuh dengan beberapa nilai yang ditampilkan dalam film ini.

Kesederhanaan pernikahan Dilan dan Ancika itu manis loh. Apalagi buat sekarang yang tiba-tiba trend cukup nikah di KUA. Nah Dilan dan Ancika sudah melakukannya di tahun 1997. Dan itu bisa begitu sweet dan hangat. Nikah itu jangan dibuat ribet. Keren deh para orang tua mereka bisa nerimo keputusan anak mereka yang nyeleneh.

Kehangatan dan penerimaan kedua orang tua juga menurut saya bagus sekali. Restu orang tua dalam pernikahan itu penting loh. Seneng rasanya melihat keakraban orang tua Ancika dan Dilan. Nggak ada ribut soal hal-hal yang tidak perlu diributkan. Termasuk soal lamaran yang dilakukan oleh Abah alias kakek Ancika (orang tua ibu Ancika) sebagai wakil keluarga Dilan. Aneh? Ya namanya juga Dilan. Kalau nggak aneh bukan Dilan.

dilan itb 1997

Sebagai ibu yang punya anak laki-laki, saya suka deh adegan Bunda Dilan berdialog dengan Ancika. Bagaimana ia ingin memastikan apakah Ancika benar-benar jodoh yang tepat untuk anaknya. Rasanya setiap orang tua ingin memastikan jodoh terbaik untuk anaknya.

“Tidak sulit mencintai kamu Ancika. Kamu cantik, pinter, baik. Tapi mencintai Dilan itu sulit. Mengapa kamu mencintai Dilan?” - Bunda Dilan. 

Kalau kamu kepo jawabannya, nonton aja filmnya sendiri ya.

Menarik juga melihat bagaimana Dilan menjual motor Honda CB100 kesayangannya untuk modal nikah. Motor yang dijual kepada seorang dosen Mesin ITB. Ini asli kocak sih. Karena si dosen adalah Pak Rektor ITB Tatacipta Dirgantara yang memang dosen Mesin ITB di masa tersebut. Ini terasa relete banget deh. Bagaimana di masa saya kuliah dulu, kita biasa melihat dosen muda yang baru pulang sekolah S3 dari luar negeri, masih kere dan hanya mampu beli motor bekas. 

Mengenai gaya pacaran Dilan - Ancika dalam film ini lebih dewasa deh. Nggak kebanyakan gaya ngegombal anak SMA seperti film-film sebelumnya yang mungkin buat penonton laki-laki males banget. Dilan sudah lebih dewasa dan bertanggung-jawab. Selipan masa-masa reformasi mungkin bisa jadi pengingat sejarah untuk membantu film ini punya nilai tambah. 

nobar iom itb bandung raya
Nobar bareng anak-anak penerima Beasiswa IOM ITB

Perlukah menonton Film Dilan di Bioskop?

Jadi ini tipe film yang perlu ditonton di  layar lebar atau sabar tunggu aja di Netflix suatu saat nanti? Kalau buat saya, layar lebar itu memang memberi kesan menonton yang berbeda ya. Memang dalam film ini tidak terasa penggunaan kamera lebar yang mempesona untuk  ditayangkan di layar lebar. Namun buat saya, melihat Bandung dan ITB dalam layar lebar memang terasa lebih membangkitkan emosi. Jadi, ya rasanya nggak rugi sih menonton film ini di layar lebar. 

Sebelum nonton film ini, saya sempat bertanya sama Raka pendapatnya tentang film ini. Penasaran juga sama pandangan mahasiswa gen Z. "Tertarik nonton Dilan ITB nggak Kang?"

"Tertarik Ma, kayanya bagus ada cerita reformasinya. Bukan cinta-cintaan aja," jawabnya. Sayang saat Nobar IOM ITB, anak-anak FTI ITB 2025 tengah makrab (malam keakraban) di Cikole. Ah, mungkin nanti saja kalian nontonnya di Jatos (Jatinangor Town Square) XXI yang tiketnya hanya 25 ribuan saja setiap Senin-Kamis itu. Atau mungkin bisa sekalian booking satu studio untuk acara angkatan seperti kami?

Jadi, kapan kamu mau nonton Dilan di bioskop? Buruan, khawatir layarnya keburu habis. 

nobar iom bandung raya
Foto wajib bersama mamah-mamah FTI


Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

2 komentar untuk "Don't Judge Dilan ITB 1997 by Ariel"

Comment Author Avatar

Masya Allah tulisannya mewakili gen X angkatan 90an spt saya. Sepakat mom Shanty👍. Meskipun dr awal pembuatan film, bbrp kita secara pribadi merasa ada unsur masa lalu actor Ariel yg "dirasa kurang cocok membawa nama ITB", sebab kuliahnya dulu jg bukan ITB, tetapi akhirnya banyak hal positif yg berhasil menutupinya setelah menonton film Dilan ITB 1997 secara keseluruhan. Yang juga mengandung " kritikan" halus thdp keadaan Indonesia skrg. Saya yakin hal utama yg akhirnya kami orangtua mahasiswa ITB (IOM), ikut menonton bersama adalah bentuk dukungan kita thd karya alumni ITB: (sutradara-Pidi Baiq dan aktor pendukungnya, pak Tatacipta-Rektor ITB skrg) 😇 juga setting tempat ITB, serta me-recall ingatan masa kuliah, krn saya jg ikut demo reformasi th 97-98 di Medan, spt yg dilakukan mahasiswa seluruh Indonesia🙏
Dan panitia Nobar Dilan ITB 1997 IOM Bandung Raya sdh membuat acara tsb "Luar biasa" dr segi keakraban dan keseruan acara 👍👍

Comment Author Avatar
Tos dulu kita Mbak Dew sebagai sesama angkatan 90-an. Angkatan penuh kenangan ya.