Kerandoman di WAG IOM-ITB

 wag iom itb

Sejak pengumuman SNBP 31 Maret 2026 lalu, saya punya kesibukan baru yang benar-benar menyita perhatian. Menjadi Admin WAG IOM (Ikatan Orang Tua Mahasiswa)-ITB sebagai bagian dari pengurus IOM Pusat. 

Yup, ini tu WA Grup untuk orang tua mahasiswa yang sempat jadi perdebatan di sosial media dan dipandang sinis oleh banyak kalangan. “Ih, aneh banget sih mahasiswa kok orang tuanya masih perlu WAG segala kaya anak SD aja.” 

Aih, tapi saya bukan mau bahas ini kok di sini. Karena pertanyaan seperti itu juga sudah ada di kepala saya sejak tahun lalu saat anak saya baru masuk ITB. Buat yang kepo, ceritanya bisa dibaca di post Masih Perlukah WA Grup Orang Tua Mahasiswa.

Singkat cerita, saat ini saya membantu menjadi Admin di sejumlah grup WA IOM-ITB. Hingga hari ini, para orang tua mahasiswa baru ITB dikumpulkan di WAG berdasarkan jalur masuk (SNBP, IUP, SNBT, dan SSU) dan WAG berdasarkan Fakultas (FTTM, FTI, FTMD, FITB, FTSL, FMIPA, dan FSRD) / Sekolah (STEI, SF, SITH, SAPPK, dan SBM). 

WAG IOM-ITB

Menurut data resmi dari ITB, ada 1225 mahasiswa yang diterima melalui jalur SNBP. Sementara untuk jalur IUP belum ada angka resminya karena baru batch 1. Masih ada batch 2 dan batch 3. 

Anggota WAG memang tidak harus diikuti oleh semua orang tua ya. Hanya yang mau-mau saja kok. Namun tidak jarang orang tua yang masuk bukan hanya 1 orang, melainkan kedua orang tuanya. Dan ini memang diperbolehkan. Uniknya juga, berbeda dengan WAG masa sekolah dasar dan sekolah menengah yang didominasi para mamah, WAG IOM-ITB cukup banyak para ayah yang aktif terlibat dalam pendidikan putra-putrinya. Siapa sih yang tidak bangga & bahagia putra-putrinya lolos PTN.

Informasi mengenai link WAG IOM-ITB, biasanya dibagikan di WAG anak-anak calon mahasiswa baru di tiap fakultas/sekolah oleh para kakak tingkatnya yang disebut punakawan. Nanti anak-anak itu yang akan meneruskan ke orang tua mereka. Namun bisa juga link WAG tersebar ke orang tua melalui jaringan alumni sekolah atau sekedar pertemanan. Nanti sebelum masuk ke grup, akan ada verifikasi data. Apakah orang tua ini memang benar-benar orang tua mahasiswa baru ITB atau bukan. 

Kadang bisa saja terjadi si anak tidak mau memberikan link WAG IOM-ITB kepada orang tuanya. Atau sebaliknya, orang tua duluan yang masuk WAG IOM, baru di situ menanyakan WAG untuk anak mereka. Orang tua sekarang bisa lebih gercep memang nih.

itb jatinangor
ITB Jatinangor dari apartemen Louvin & Peta ITB Jatinangor

Beragam Cerita Orang Tua Mahasiswa

Masa-masa awal seperti saat ini, biasanya memang WAG begitu riuh ramai, bahkan bisa bikin frustasi buat orang-orang yang berada di dalamnya. Bisa bayangkan ratusan orang tua dari berbagai pelosok negeri yang penuh euforia kebahagiaan sekaligus kebingungan. 

Banyak di antara mereka, ini adalah anak pertama mereka yang kuliah. Orang pertama di sekolahnya yang lulus di ITB. Atau bahkan orang yang pertama kali perlu melepas anak mereka keluar pulau. 

Waktu tahun lalu, saya beneran tidak sanggup berada di WAG berdasarkan jalur masuk yang ramai, dan untungnya bisa segera menyepi di WAG Fakultas tempat anak saya saja. Namun sebagai admin kali ini, tentu saja saya perlu bertahan untuk berada di WAG. Membaca setiap komen yang bergerak dengan cepat. 

Pertanyaan-pertanyaan yang berulang, benar-benar menguras energi dan menguji kesabaran. Untung para admin cukup banyak untuk bisa saling back up. Asli salut sih sama teman-teman admin dari setiap Fakultas dan Sekolah yang penuh kesabaran berusaha membantu para orang tua calon mahasiswa baru ini. 

Pertanyaan seputar daftar ulang, pembayaran, kos-kosan, asrama, kondisi kampus Jatinangor, adalah pertanyaan yang banyak ditanyakan para orang tua.

ITB Jatinangor
Cantiknya ITB Jatinangor

Salah satu hobi saya di WAG ini adalah menjawab pertanyaan para orang tua dengan cara japri. Ini saya lakukan untuk tidak mengganggu alur diskusi di grup dan bisa memberi penjelasan lebih kepada para orang tua yang masih kebingungan ini.

Nah dari japrian ini, biasanya saya menemukan sejumlah cerita-cerita menarik dibalik keberhasilan putra-putri mereka tembus ITB. 

Beberapa dari mereka berasal dari sekolah kecil yang bahkan saya tidak kenal kotanya. Atau sekolah swasta kecil yang baru pertama kali lolos masuk ITB. 

Dari perkenalan dengan sejumlah orang tua ini, saya jadi melihat betapa randomnya latar belakang mahasiswa ITB ini. Ada sejumlah cerita tentang anak-anak yang bisa lolos ke ITB hanya dengan belajar mandiri dan tanpa bimbel. Ada yang peringkat eligible 60 tapi bisa lolos karena nilai TKA Matematikanya tertinggi. Ada yang ibunya semangat mencari beasiswa untuk anaknya. 

Kalau di Instagram Mas Imam Santoso kita bisa melihat cerita mengharukan dari sejumlah mahasiswa ITB, nah di WAG IOM-ITB ini kita bisa menemukan versi bagaimana orang tua mereka mendampingi anak-anak ini. 

Saling berbagi cerita random pengalaman anak di WAG IOM-ITB ini, kalau buat saya terasa sangat bermakna. Karena membantu membuka wawasan para orang tua. Bahwa memang banyak jalan menuju Roma ITB. 

tantangan mamah gajah ngeblog

Tulisan ini dibuat dalam rangka Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April 2026 dengan tema Cerita Random bersama Mamah host Lenny.


Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Posting Komentar untuk "Kerandoman di WAG IOM-ITB"