Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Antara Biografi, Autobiografi, dan Memoar

biografi, autobiografi, memoar

Cerita tentang perjalanan hidup seorang manusia selalu menarik bagi saya. Mungkin karena kita itu pada dasarnya gampang kepo sama hidup orang lain ya. Apalagi ketika orang tersebut berhasil meraih kesuksesan dalam bidangnya. Banyak orang yang merasa ingin tahu bagaimana sih ia menjalani hidupnya. Apa sih yang dia lakukan sehingga bisa sesukses itu?

Dari situlah lahir genre non fiksi seperti biografi, autobiografi, hingga memoar. Biografi adalah cerita perjalanan hidup seseorang yang ditulis oleh penulis lain. Kalau buku tersebut menceritakan perjalanan hidup penulis sendiri, disebut sebagai autobiografi. Sementara memoar adalah perjalanan hidup yang ditulis dalam kurun waktu tertentu.

Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas ketiga genre buku ini beserta contoh-contohnya.

Biografi

Biografi adalah buku perjalanan hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain. Penulis perlu melakukan riset yang mendalam mengenai tokoh yang akan ditulisnya. Baik itu dengan wawancara langsung dengan tokohnya langsung, wawancara dengan orang-orang disekitarnya, dan riset dari berbagai sumber.

Salah satu biografi terbaik yang pernah saya baca adalah biografi Steve Jobs karya Walter Isaacsoon (Bentang Pustaka, 2011). Untuk buku yang versi Bahasa Indonesianya setebal 700-an halaman itu, Isaacson melakukan sekitar 40 wawancara bersama Steve Jobs selama 2 tahun penuh. Termasuk juga menginterview lebih dari 100 orang keluarga, teman, bahkan saingan Steve. Hasilnya adalah sebuah biografi yang sangat menakjubkan. 

Pembaca bisa melihat hitam putihnya Steve Jobs sebagai manusia yang utuh. Jadi tahu betapa menyebalkannya Steve pada saat tertentu atau sisi baiknya pada saat yang lain. 

Biografi lain yang menarik perhatian saya adalah Man of Honor Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya yang ditulis oleh Teguh Sri Pambudi dan Harmanto Edy Djatmiko (Gramedia, 2013). Di buku ini, pembaca bisa ikut merasakan kerja keras seorang warga keturunan di Indonesia untuk bisa membangun perusahaannya. Bagaimana ia merintisnya, ia berhasil, ia jatuh, ia gagal. Kita bisa ikut sedih dan bahagia melihat perjuangan seorang William Soeryadjaya.

Autobiografi

Autobiografi adalah buku perjalanan hidup penulisnya sendiri. Sudut pandang yang dipakai adalah aku. Menarik karena pembaca bisa benar-benar merasa berada pada posisi si penulis. Jadi tahu apa yang mereka rasakan atau mengapa mereka mengambil keputusan tertentu. Hanya saja memang kadang autobiografi bisa bias karena hanya melihat dari satu sisi saja.

Autobiografi terbaik yang pernah saya baca adalah Perjalanan Panjang Menuju Kebebasan karya Nelson Mandela (Binarupa Aksara, 1995). Pembaca diajak mengikuti apa yang dilakukan Mandela sehingga mampu bertahan selama 27 tahun di penjara.

Autobiografi sejenis yang mengesankan saya adalah trilogi Untukmu Negeri yang ditulis dengan apik oleh Mohammad Hatta. Kemampuan Hatta mencatat dengan detail, membantu pembaca untuk bisa melihat masa-masa tahun 30-an hingga 40-an dengan cara yang berbeda dari yang banyak kita baca di buku pelajaran. 

Memoar

Kalau biografi atau autobiografi biasanya setebal bantal karena memuat perjalanan panjang hidup seseorang, memoar ini agak berbeda. Memoar adalah penggalan perjalanan hidup dalam kurun waktu tertentu atau menghadapi kondisi tertentu. 

Memoar menjadi menarik karena bisa jadi lebih mudah untuk dibuat. Penulis cukup menceritakan satu penggal perjalanan hidupnya yang paling berkesan.

Saat ini memoar bisa jadi genre yang cukup laris. Bisa jadi karena terasa lebih pendek dan ringan. 

Cukup banyak memoar yang sangat saya sukai. Misalnya Seri Cerita Kenangannya NH Dini. Ada 15 buku memoar sebenarnya yang ditulis NH Dini untuk mewakili setiap masa dalam hidupnya. Dipikir-pikir, kalau gabungan memoar bisa juga disebut sebagai autobiografi. 

Tapi kebayang ya kalau disatukan 15 buku itu. Tebalnya luar biasa dan berat juga bacanya. Alih-alih, NH Dini mengeluarkan 15 memoarnya dalam kurun waktu 40 tahun. 

Memoarnya Matt Logelin, Two Kisses for Maddy (Serambi, 2009) mengenai pengalamannya 1 tahun setelah istrinya meninggal saat melahirkan anak pertama mereka juga sangat berkesan buat saya. 

Awalnya Matt menulis pengalamannya sebagai blog post saja. Ia sebenarnya memang sudah biasa menulis blog sejak masa istrinya dirawat di rumah sakit 3 minggu sebelum masa persalinan. Setelah istrinya melahirkan dan meninggal 27 kemudian, Matt memilih melanjutkan hobi menulisnya dengan tujuan sebagai kenangan untuk Maddy mengenang ibunya. 

Saking mempesonanya memoar itu, Netflix mengangkatnya sebagai film dengan judul Fatherhood.

Apa harus orang yang terkenal yang membuat memoar?  Nggak juga. Contohnya Imperfectnya Meira Anastasia. Istrinya Ernest Prakasa ini membuat memoar mengenai pengalamannya mengatasi rasa tidak nyaman sebagai istri artis yang tidak menarik. Maksudnya Meiranya yang merasa dirinya tidak menarik. Bukan Ernestnya. Walau mahal karena dibuat hardcopy, buku ini berhasil cetak ulang beberapa kali loh. Bahkan dijadikan inspirasi  oleh suaminya untuk membuat sebuah film. 

Memoar anak muda yang juga banyak sekali dibaca anak muda di Indonesia adalah Masih Belajarnya Iman Usman dan Mantappu Jiwanya Jerome Poline. Mereka berduanya menceritakan pengalaman masa sekolah mereka yang diisi dengan kerja keras mengejar prestasi. Benar-benar tipe teladan anak muda Indonesia deh.

Duh kalau ngomongin memoar daftar saya bisa panjang banget nih. Mungkin nanti lain kali kita bahas lagi satu demi satu. 

Membaca perjalanan hidup seseorang membantu saya untuk bisa melihat dunia dengan lebih luas. Saya bukanlah innovator seperti Steve Jobs, atau #horangkaya seperti William Soeryadjaya, atau pernah dipenjara sebagai tahanan politik selama 27 tahun seperti Mandela. Biar mereka saja yang menjalaninya, saya cukup membaca ceritanya saja. 

(800 kata)

Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Posting Komentar untuk " Antara Biografi, Autobiografi, dan Memoar"