Menguak Rahasia Pendidikan Finlandia dari Timothy D. Walker dalam buku Teach Like Finland

Teach Like Finland oleh Timothy D. Walker cover dan back cover.
Teach Like Finland oleh Timothy D. Walker cover dan back cover.

Sepertinya ini buku sejuta umatnya para guru di Indonesia ya. Rasanya kurang afdol kalau guru belum membacanya. Sebenarnya sebagai orang tua, awalnya saya tidak terlalu tertarik membaca buku ini. Biarlah itu menjadi tugas para guru saja. Kupercayakan urusan yang satu ini pada para profesional. Mamah mau baca yang lain dulu.

Tapi melihat buku ini wara-wiri di sosial media, kok ya jadi bikin penasaran juga. Makanya saat melihat buku ini menganggur di ruang Bu Rahmi - kepala sekolah anak-anak, kok ya jadi tergoda juga buat meminjamnya. Jadi apa sih yang guru Finlandia lakukan, sampai anak-anaknya bisa jadi nomor 1 dalam peringkat PISA (Program Penilaian Siswa Internasional) itu?

Finlandia gitu loh! Bukan Amerika, bukan Singapura, bukan Inggris, bukan Cina. Kenapa negeri di dekat kutub utara dengan hanya 5,5 juta penduduk bisa pada pintar-pintar begitu? Kok bisa nggak meringkel malas-malasan kedinginan kaya saya apa ya?


Buku Teach like Finland bercerita tentang apa?

Buku 190 halaman ini berisi tentang pengalaman seorang guru Amerika yang berkesempatan mengajar selama 2 tahun di Finlandia. Pak  guru Timothy D. Walker menceritakan sejumlah strategi yang dilakukan di sekolah-sekolah Finlandia sehingga tidak heran mengapa peringkat kecerdasan anak-anak Finlandia ini bisa selalu nomor 1 di dunia. Padahal mereka itu sekolahnya nyantai banget loh dibandingkan sekolah-sekolah di negara lain. Kok bisa? Nah semuanya ada dalam buku ini. 


Paragrap pertama dan isi buku Teach Like Finland
Paragrap pertama dan isi buku Teach Like Finland

Apa yang saya pelajari dari buku Teach Like Finland?

Hampir semua strategi dalam buku ini menurut saya sangat berbeda dengan yang umum kita pahami mengenai pendidikan yang baik. Belajar di Finlandia itu berfokus pada kebahagiaan anak didik, bukan pencapaian prestasinya. Ini adalah dasar penting yang sering dilupakan orang. 

Ada bagian menarik yang dikutip oleh Pak Timothy dari bukunya Emma Seppala berjudul The Happines Track (2016): Kebahagiaan bukanlah hasil dari kesuksesan, namun kunci dari kesuksesan. (hal 6)

Ya, hanya dengan anak didik yang bahagia, kesuksesan itu baru dapat diraih. Ini telah dibuktikan dengan tingginya nilai PISA anak-anak Finlandia. Eh kita juga bisa loh kalau mau ikutan ngecek kemampuan anak-anak dengan tes ini. Silakan langsung bertamu ke website PISA.

Dengan misi utama meraih kebahagiaan untuk anak-anak, Pak Timothy membagi strategi ke dalam 5 bagian utama: Kesejahteraan, Rasa Memiliki, Kemandirian, Penguasaan ilmu, dan Pola pikir. Masing-masing bagian dijelaskan dalam setiap bab.

Dalam bab 1 mengenai Kesejahteraan dijelaskan bagaimana pentingnya otak anak untuk beristirahat. Ternyata di Finlandia anak-anak belajar maksimal 45 menit dan beristirahat 15 menit. Termasuk gurunya juga loh. Pernah tuh, si pak guru ini dengan kreatifnya mengubah sistem belajar menjadi 2x45 menit dengan 30 menit istirahat. Ternyata anak-anaknya menunjukkan mata zombie karena kelelahan. Mereka tidak suka sistem yang seperti itu. Percaya nggak, ini ternyata memang ada penelitian ilmiahnya. 

Sepertinya hal itu menjelaskan kenapa saya sering sanggup kerja keras 8 jam nonstop, namun kemudian tepar selama 24 jam. Kalau belajar dari anak-anak Finlandia, kerja itu harus ada jedanya setiap 45 menit untuk istirahat 15 menit. Baru lanjut lagi. 

Masih dalam bab kesejahteraan, hal penting lain adalah mengenai perlunya banyak bergerak bagi anak-anak, istirahat dan bersosialisasi yang cukup, ruangan yang sederhana untuk mengurangi distraksi perhatian anak, kegiatan di alam segar dan menjaga keheningan (kedamaian) kelas.

Pada bab 2 mengenai rasa memiliki, disebutkan mengenai pentingnya mengenal setiap anak, bermain dengan para murid, merayakan keberhasilan mereka, mengejar impian bersama (dan bukannya mimpi bapak guru atau orang tua), menghapus bullying (ada program bernama Ki-va khusus untuk menangani kasus bullying) dan berkawan dengan anak yang berbeda tingkat.

Di bab ini saya jadi belajar mengenai betapa santainya guru-guru Finlandia. Mereka tidak datang pada tahun ajaran baru dengan segala konsep yang telah dipersiapkan. Namun memulainya dengan diskusi bersama anak-anak. Jadi nggak perlu tuh guru lembur lama-lama sebelum anak-anak masuk atau perlu pulang lebih larut karena mempersiapkan segala sesuatu. 

Dalam bab 3 mengenai kemandirian dibahas mengenai bagaimana kemandirian itu terbentuk dari pemberian kebebasan untuk memilih. Anak-anak Finlandia ini umumnya memang mandiri dalam banyak hal.




Pada bab 4 khusus dibahas bagaimana sekolah Finlandia menjamin penguasaan ilmu siswanya. 
Guru-guru Finlandia ini setia dengan buku paket standar yang memandu mereka mengajar sepanjang tahun. Buku panduan itu membantu mereka menyesuaikan jam belajar yang sangat singkat setiap tahunnya. Mereka hanya mengajarkan hal-hal yang mendasar saja. 

Anak-anak Finlandia tetap menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Tapi tidak yang terbaru. Cukup seadanya sekedar untuk membantu pengajaran dan tidak malah menambah distraksi. Musik juga memberi peran penting dalam pengajaran di Finlandia.

Salah satu yang keren adalah bagaimana guru benar-benar berfungsi sebagai guru yang akan memberikan masukan membangun kepada murid-muridnya. Bukan sekedar tepuk tangan saat berhasil atau penuh madu pujian saja. Namun guru benar-benar harus bermata jeli untuk bisa memberikan masukan berharga bagi keberhasilan para siswanya. 

Bab terakhir dibahas mengenai bagaimana pola pikir orang Finlandia bahwa setiap orang bisa maju. Bukan berpikir kemenangan dengan mengalahkan orang lain. 

Ini prinsip dasar yang keren di zaman kompetitif seperti sekarang. Caranya bisa dengan menemukan kegiatan yang benar-benar membawa kesenangan, berkulit tebal untuk tidak terlalu mudah mendengar masukan orang tua yang tidak konstruktif, berkolaborasi dengan guru lain, dan menikmati hidup dengan berlibur.

Saya terus terang suka nih bagian guru harus berkulit tebal saat menghadapi orang tua yang terkadang sok tahu. Mentang-mentang sudah merasa bayar sekolah mahal, orang tua mudah sekali mendikte guru. Pak Timothy yang awalnya mudah menuruti maunya orang tua, diajarkan oleh guru yang lain untuk bertindak profesional sebagai guru yang tegas. Guru mesti punya wibawa untuk bisa menunjukkan walau orang tua adalah ahli di rumah, tapi di sekolah, guru adalah ahlinya (hal 174).

Buku Teach Like Finland adalah tipe buku yang bisa jadi sulit untuk ditelan dalam sekali baca. Setiap kisah yang disampaikan perlu dikunyah pelan-pelan satu demi satu. Jadi kalau saya menyarankan untuk baca buku ini dengan lahap dalam 2-3 jam. Setelah itu kembali lah untuk mengunyah dengan penuh perasaan ketika menemui kasus tertentu. Itu sebabnya ini buku yang perlu dimiliki sendiri untuk ditandai kasus-kasus yang memang menarik untuk kita pratekkan sehari-hari.


Daftar isi Teach Like Finland
Daftar isi Teach Like Finland

Mengapa saya suka buku Teach Like Finland?

Saya sangat suka buku ini karena merupakan pengalaman nyata seorang guru negara lain yang memang benar-benar mengajar di Finlandia selama 2 tahun. Pasti beda cara penyampaiannya jika informasi seperti ini keluar dari guru asli Finlandia yang tidak punya perbandingan dengan cara mengajar di negara lain. Saya juga melihat gaya belajar di Amerika yang sebelumnya membuat Pak Timothy stress karena beban yang terlalu banyak, rasanya tidak jauh berbeda dengan gaya belajar sekolah-sekolah masa kini di Indonesia. Jadi sudut pandang Pak Timothy ini terasa gue banget dan familiar. Enak bacanya.

Menurut saya, Pak Timothy ini guru yang punya dedikasi tinggi terhadap profesinya. Niat banget lah jadi guru. Tidak hanya saat di Finlandia yang merupakan hal baru baginya, tapi juga saat di Amerika yang memiliki ritme kerja yang tinggi. Kayanya seneng banget deh kalau bisa diajarkan pak guru kaya gini. Nah buat para guru yang ingin ketularan semangat mengajar ala Pak Timothy, penting untuk melahap buku ini.

Terus mungkin karena Pak Timothy ini orang sekolahan, tulisannya tidak asal menceritakan pengalaman saja. Tapi juga dilengkapi dengan data-data riset pendukung kebiasaan yang dilakukan orang Finlandia. 

Seperti ketika bercerita tentang kebiasaan anak-anak Finlandia yang suka membuka jendela dan membiarkan aliran udara masuk ke kelas, Pak Timothy dengan rajinnya mengumpulkan penelitian ilmiah tentang hal ini. Jadi pembaca bisa tahu bahwa kebiasaan orang Finlandia memang ada dasar keilmuannya yang sudah teruji. Bukan sekedar mitos nenek moyang yang sudah turun temurun.


Siapa yang perlu membaca buku Teach Like Finland?

Guru pastinya. Ini bacaan fardhu ain buat para guru kalau menurut saya sih. Tapi saya juga sangat merekomendasikan buku ini untuk semua orang yang tertarik dengan pendidikan. Terutama para orang tua yang anaknya belajar di sekolah umum. Karena banyak strategi yang sebenarnya bisa kita lakukan di rumah sebagai orang tua. Pasti semua orang tua ingin anaknya bisa belajar dengan bahagia kan?

Seperti konsep memberi jeda waktu agar anak beristirahat dan menikmati hidupnya. Jangan anak pulang sekolah malah dipaksa suruh les ini itu yang membuat otak mereka kelelahan dan tidak bisa bernapas. 


Quotes dari Teach Like Finland
Quotes dari Teach Like Finland


Pendapat saya tentang Buku Teach Like Finland

Serius ya, habis baca buku ini, saya merasa orang Finlandia itu manusia paling nyantai di muka bumi. Rasanya bagai bumi dan langit kalau kita mau bandingkan dengan Cina atau Singapura yang sifat kompetitifnya tingkat dewa. Tapi mungkin juga gaya hidup orang itu ya disesuaikan dengan kondisi tempatnya tinggal juga. 

Gaya hidup santai orang Finlandia mungkin memang cocok buat daerah berpenduduk 5,5 juta jiwa di wilayah hanya 1/5 luas Indonesia dengan PDB per kapita 2015 US$ 40. Untuk kita di Indonesia dengan 250 juta penduduk di atas tanah seluas 1,9 juta km2 dan PDB nominal per kapita 2017 US$ 12, perlu gaya pendidikan yang mungkin perlu disesuaikan. 

Anak-anak Finlandia itu ke sekolah umumnya sudah dengan kebutuhan pokok seperti makan, pakaian dan tempat tinggal yang layak. Sementara kita di Indonesia masih banyak anak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Di Indonesia juga ada ratusan juta orang yang bersaing cari makan. Bakal ketinggalan kalau mau santai-santai ala Finlandia. Di Finlandia sana, mereka nyantai juga kondisi negaranya sudah aman damai sentosa menyediakan segalanya untuk kebutuhan warganya.

Tapi bagaimana pun, wawasan mengenai pendidikan di Finlandia ini sangat menarik untuk bisa kita modifikasi sesuai kebutuhan anak-anak Indonesia. 

Seperti disampaikan oleh Pasi Sahlberg dalam pengantar buku ini, bahwa mustahil memindahkan sistem pendidikan dari satu tempat ke tempat lain. Sistem pendidikan seperti tanaman atau pepohonan yang tumbuh baik hanya di tanah dan iklimnya sendiri. 

Data buku Teach Like Finland
Data buku Teach Like Finland

1 comment:

  1. Iya Bun. Saya juga sering lihat buku ini berseliweran di media sosial. Jadi penasaran pengen baca. Ini jadi list buku untuk selanjutnya harus dibeli

    ReplyDelete

Powered by Blogger.