Semua Bermula dari Kelas Menulis
I’m back!
Setelah 3 bulan melewatkan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang sebenarnya sangat seru-seru. Sebuah KEPUTUSAN sepele untuk MENUNDA menulis dari hari ke hari, mengantarkan saya untuk melewatkan kesempatan berbagi cerita mengenai perbedaan di Tantangan MGN bulan Juni, cerita tentang momen salah di Tantangan MGN bulan Juli, sampai cerita tentang Aplikasi Situs Daring Favorit di Tantangan MGN bulan Agustus.
Padahal saya sudah memikirkannya selama 20 hari penuh loh! Betapa sia-sianya dan begitu mengesalkannya. Sebenarnya kalau memang nggak NIAT menulis, ya mestinya saya nggak perlu repot-repot memikirkannya. Mending memikirkan yang lain yang memang benar-benar NIAT untuk dituntaskan dengan sebaik-baiknya.
Di bulan September ini, saya dapat amanah jadi mamah host Tantangan MGN yang mengangkat tema Keputusan Kecil/Sepele yang Mengubah Hidup. Pola yang sama nyaris berulang lagi. Perlu waktu nyaris 19 hari 20++ jam untuk mengambil sebuah KEPUTUSAN KECIL untuk segera menuliskan cerita itu!
Semua Bermula dari Kelas Menulis
Sejak berhenti bekerja sebagai arsitek di tahun 2007 hingga akhir tahun 2013, saya sempat berada dalam kondisi benar-benar tidak punya teman. Sahabat saya saat itu hanya suami, anak pertama yang berusia 6 tahun, dan anak kedua yang berusia 3 tahun. Punya 2 anak kecil yang sangat aktif sudah cukup menyita waktu.
Di masa itu, sosmed belum seramai sekarang. Paling kita buka FB sesekali saja sekedar untuk menyampaikan kata-kata konyol yang sama sekali tidak penting.
Hiburannya ya sebatas melihat lucunya kelakuan anak-anak. Masa-masa anak-anak masih nempel kaya perangko sama kita. Masa-masa kita ke kamar mandi saja, anak-anak bisa ribut nyariin. Sepertinya dunia bisa berakhir kalau mereka tidak melihat ibunya di depan mata mereka.
Capek. Tentu saja.
Stress. Pastinya.
Nggak ada itu yang namanya life balance antara diri sendiri, kesehatan, keluarga, hobi, karir, komunitas. Isi kepala hanya satu saja: ANAK-ANAK.
Eh bukannya bagus ya dengan fokus begitu? Kalau buat saya, itu tidak sehat juga. Jadinya malah stress dan marah-marah sama anak. Seperti ada yang salah dan saya merasa perlu menyeimbangkan hidup saya.
Saat itu saya benar-benar nggak tahu caranya kembali ke peradaban.
Mau kerja? Masih tidak mungkin karena ada anak-anak.
Mau sekolah lagi? Jelas tidak berminat mengingat hasil IPK terakhir yang masih bikin traumatik.
Mau melakukan hobi? Sepertinya nggak ada waktu.
Mau berkomunitas? Nggak tahu informasinya.
Mau healing? Nggak punya uang. Ah... mentok sudah!
Sampai lewat di beranda saya informasi Akademi Menulis 5 Menara (AM5M) di akun penulisnya Bang Ahmad Fuadi. Beliau membuka kelas menulis dengan syarat menuliskan essay tentang Kenapa ingin belajar menulis di AM5M dan opini tentang trilogi novel Negeri 5 Menara.
Alhamdulillah, saya lolos seleksi AM5M bersama 20-an anak muda lain. Menjadi the one and only ibu-ibu yang rela meninggalkan anak-anak yang masih nempel kaya perangko itu, demi mengikuti kelas menulis di Bintaro Jakarta. Kelasnya sendiri berlangsung antara 2 minggu - 1 bulan sekali selama hampir 1 tahun.
Kelas menulis itu membuka mata saya tentang dunia menulis.
Ternyata seru ya. Ternyata saya bisa ya. Ternyata saya suka!
![]() |
| Kelas AM5M bersama Agustinus Wibowo, Desember 2014 |
Dampak Keputusan untuk Orang Lain
Dan keputusan kecil itu bukan hanya saya yang merasakannya. Tapi juga suami yang turut mendukung dengan ikhlas menjaga anak-anak selama saya ke Jakarta. Suami juga jadi bisa belajar untuk lebih dekat dengan anak-anak. Menambah rasa PD-nya bahwa ia bisa loh menjaga anak-anak.
Menurut saya, semua ayah perlu punya pengalaman berharga ini. Tentunya dengan tidak perlu tambahan omelan para ibu yang punya standar berbeda dalam menemani anak-anak.
Anak-anak yang juga jadi bisa lebih mandiri dan PD kalau dunia mereka nggak akan runtuh hanya karena nggak lihat mamanya seharian.
Dari menulis, mengantarkan saya untuk punya blog sendiri, mulai baca blog orang lain, dan pelan-pelan terhubung dengan orang lain.
Saya ingat sekali menemukan sebuah blog yang menulis tentang kegiatan untuk anak-anak homeschooling di Bandung. Dari blog itu saya mengenal Komunitas Ibu Profesional yang akhirnya menjadi komunitas tempat saya bertumbuh seperti sekarang.
Bersama Bu Septi Peni Wulandani dan teman-teman dari Ibu Profesional Bandung kami bersama-sama belajar caranya menjadi orang tua yang bisa menemani anak-anak dengan cara yang ‘profesional’, mengenali potensi diri, dan pastinya berusaha memberi contoh terbaik untuk anak-anak kami.
Mendampingi anak-anak menjalani masa-masa sekolah mereka sambil memiliki kesibukan di komunitas membantu saya untuk bisa lebih seimbang dalam menjalani hari dan berbagai peran yang saya emban.
Dari nggak punya teman, nggak bisa apa-apa, hingga akhirnya bisa punya kegiatan yang membuat saya merasa berarti.
Keberanian Mengambil Keputusan
Kalau saya renungkan, hidup kita itu sebenarnya dipenuhi oleh begitu banyak keputusan yang perlu diambil. Keberanian dalam mengambil keputusan untuk mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman.
Dalam dunia yang penuh dengan distraksi seperti sekarang ini, pengambilan keputusan menjadi hal yang menantang. Rasanya semua penting. Semua prioritas. Lalu ujungnya-ujungnya kita malah tidak mengambil keputusan apa-apa dan hanya menghabiskan waktu scrolling sosmed dari satu berita viral ke berita viral yang lain.
Tidak ada yang berubah dengan seperti itu.
Malam ini saya kembali diingatkan untuk berani mengambil keputusan melakukan sesuatu yang berbeda. Segera menuliskan pengalamanmu dan jangan biarkan blogmu dipenuhi sarang laba-laba karena jarang ditulisi.
Kalau kamu, apa keputusan terbaikmu hari ini?



3 komentar untuk "Semua Bermula dari Kelas Menulis"
Ternyata butuh sosialisasi dan perasaan berdaya. Aaa itu saya banget. Makasih sudah menuliskan teh.