4 Bacaan Teman Mengkhayal di Masa Kecil

bacaan masa kecil

Punya masa kecil yang penuh kenangan memang sangat berharga. Makanya saya senang sekali ketika tema yang diusung Mamah Sistha dan Mamah Dea mengenai Hal Berkesan di Masa Kecil diangkat menjadi tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni ini. 

Kalau mau cerita tentang masa kecil, rasanya banyak banget yang bisa diceritakan. Dari kegiatan traveling keluarga, pengalaman mengasuh adik-adik yang selisih umurnya cukup jauh, serunya perayaan hari ulang tahun, atau momen-momen bagi rapor yang selalu bikin deg deg an karena ingin tahu dapat peringkat berapa.

Tapi untuk tulisan kali ini, saya akhirnya memilih menulis mengenai bacaan seru yang bikin masa kecil saya penuh khayalan dan warna-warni.

Masa Kecil Shanty

Sebagai anak kelahiran 1975, masa-masa SD saya di tahun 1981-1987 saya lalui dengan aman damai sentosa seperti umumnya anak-anak lain. Kami saat itu tinggal di sebuah kota kecil di pulau Sumbawa bernama Dompu. 

Saking kecilnya kota itu, ruang bermain saya rasanya dari ujung sampai ke ujung kota. Semua pelosok bisa kami jangkau dengan naik sepeda. 

Saat itu hiburan untuk anak-anak SD nggak jauh-jauh dari naik sepeda keliling kota, masak-masakan, dan tentu saja baca buku. Saya agak lupa bagaimana ceritanya bisa mendapatkan bacaan bagus kota kecil ini. 

Zaman dulu, kecintaan pada baca rasanya jamak dimiliki anak-anak. Siapa sih yang nggak baca buku-bukunya Enid Blyton pada masa itu seperti Lima Sekawan dan sejenisnya? 

Saya sempat ingat, bagaimana pendapat Papa saya mengenai buku-buku keluaran Gramedia yang menurut beliau terlalu sekuler dan menanamkan cara berpikir barat. Tapi kalau menurut saya saat itu, buku-buku karya Gramedia bagus karena menanamkan nilai-nilai kebaikan yang universal. 

Bacaan yang paling berkesan

Sebenarnya koleksi bacaan saya cukup beragam. Dari komik nggak bermutu seperti Petruk-Gareng, komik cantik seperti Nina, Majalah Bobo, sampai buku cerita detektifnya Alfred Hitchcook. Semua saya lalap dengan semangat. 

Namun, yang paling berkesan hingga sekarang, saya rasa hanya 4 seri buku ini. Sayang sekali, koleksi buku saya ini sudah tidak ada di rumah karena sudah disumbangkan ke perpustakaan keluarga di Sumbawa. 

#1 Pippi si Kaus Kaki Panjang

pippi si kaus kaki panjang
Jadi ingat ngajak adik buat main cari harta karun keliling rumah setelah habis baca Pippi. (sumber image buku: Gerai Mazaya)

Novel anak Swedia karya Astrid Lindgreen yang aslinya terbit tahun 1945 ini benar-benar saya sukai dan baca berulang-ulang. Lebih dari dibaca, bahkan sampai dipraktekkan beberapa kelakuan absurb Pippi yang sepertinya seru banget.

Salah satunya adalah permainan mencari harta karun. Bagaimana kami keliling rumah atau keliling sebuah lingkungan untuk menemukan barang-barang aneh yang kami anggap harta karun. Beneran deh, saat itu rasanya kok ya seru banget.

Ada juga sih bagian yang sebenarnya berbahaya untuk ditiru. Seperti adegan Pippi menggunakan payung untuk lompat dari tempat yang tinggi. Rasanya saya ingat juga turut melakukannya, tapi hanya dari kursi yang rendah saja. 

#2 Rumah Beratap Merah

Rumah Beratap Merah
Jadi makin sayang sama keluarga setelah habis baca buku Rumah Beratap Merah.
Dari 762 buku Enid Blyton sepanjang karir menulisnya 1922-1968, menurut saya Rumah Beratap Merah (1945) adalah yang paling berkesan.  Karena mengangkat tema kehilangan orang tua yang sebenarnya cukup berat untuk anak-anak.

Bercerita tentang keluarga bahag Jackson dengan 4 anak: Molly 16 tahun, Peter 14 tahun, Michael 11 tahun, dan Shirley 9 tahun. Mereka punya rumah beratap merah yang cantik. Punya anjing yang lucu. Punya pembantu yang ideal banget. Karena merasa tidak perlu digaji dan sangat berterima kasih karena diizinkan tinggal dan membantu keluarga Jackson ini. 

Sampai tiba-tiba malapetaka menimpa keluarga ini. Si Ayahnya hilang di lautan, dan ibu mereka jatuh sakit. Cerita bagaimana anak-anak ini berusaha bertahan dengan kondisi kesulitan itu sangat inspiratif buat saya sebagai anak-anak yang selama ini merasa selalu ada orang dewasa yang bisa diandalkan di sekitar kita.

#3 Seri si Badung

seri si Badung Enid Blyton
Shanty kecil yang jelas tidak sebadung Elizabeth (sumber image buku: Melvikstore)
Kalau seri Si Badung, saya sukai karena perkembangan karakternya yang sangat menarik. Dari seorang Elizabeth si anak tunggal manja yang bertekad menjadi murid ternakal di sekolahnya karena ingin segera dikeluarkan dan dikembalikan ke rumah dari sekolah berasrama, menjadi seorang Elizabeth yang sangat suka sekolah.

Menurut saya Enid Blyton mulus sekali menanamkan ke kepala anak-anak bahwa tidak ada gunanya berlaku nakal untuk menuntut sesuatu. Hanya dengan menjanjikan apa yang diinginkan anak tersebut, si anak ternyata bisa berubah dan menemukan hal-hal yang baik. 

Pesan moral yang tertanam kuat dari trilogi buku ini adalah bahwa lebih menyenangkan menjadi anak baik daripada menjadi anak nakal. 

#4 Seri Malory Towers

seri Malory Towers

Seri Malory Towers yang terdiri dari 6 buku ini, bikin khayalan saya tentang sekolah berasrama di Inggris itu keren banget. Sangat berbeda dengan gaya sekolah anak-anak di Indonesia saat itu yang biasa sekolah pagi hingga siang dan setiap tahunnya masih terbagi dalam 3 caturwulan per tahunnya. 

Sementara sekolah di Inggris menggunakan sistem 2 semester per tahun. Dimana 1 buku biasanya bercerita mengenai keseruan kegiatan 1 semester. Mulai dari keriuhan saat keberangkatan ke sekolah dari stasiun kereta, masa pengenalan anak baru, masa-masa belajar dan ujian, sampai tradisi mereka mengganggu guru atau diam-diam melakukan pesta tengah malam. Rasanya mind blowing banget buat 'anak kota kecil' dapat cerita-cerita seru seperti itu. 


Demikian 4 cerita yang begitu berkesan di masa saya kecil. Cerita yang menemani saya mengkhayal sebelum tidur. Membayangkan sekolah mereka dan makan-makanan yang lezat-lezat. Atau menjadi salah satu karakter dalam novel tersebut yang mungkin akan mengambil keputusan yang berbeda. Seru banget!

Kamu sendiri punya bacaan favorit apa di masa kecil?



Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

10 komentar untuk "4 Bacaan Teman Mengkhayal di Masa Kecil"

Comment Author Avatar
Si Badung dan seri sekolah berasrama seperti Mallory Towers juga menemani masa kecil saya yang seru, tapi saya tidak sempat membaca serial Pippi si Kaus Panjang juga Rumah Beratap Merah. Saya baca juga seri petualangan karya Enyd Bliton lainnya dan bercita-cita punya rumah yang ada pintu rahasianya. Hahaa...
Comment Author Avatar
Enid Blyton emang paling bisa bikin anak-anak berimajinasi ya.
Comment Author Avatar
Cerita Pippa menarik banget Teh Shanty. Jadi pengen hunting buku klasik. :). Ditambah koleksi foto lama Teh Shanty banyak, paling seneng melihat foto-foto jadul begini. :)
Buku favorit jaman kecil saya, kebanyakan komik-komik elex media ahahaha, sama cerita horornya R.L Stine :D
Comment Author Avatar
Komik Elex memang komik sejuta umat ya. Kalau RL Stine aku belum pernah baca. Penakut sih baca horor.
Comment Author Avatar
Gara-gara koleksi kakakku, aku jd baca Enid Blyton juga. Aku paling suka Malory Towers. Nah aku belum baca novel yang Rumah Beratap Merah, kayanya bagus ya. Masih ada yg terbitkan gak ya?
Comment Author Avatar
Rumah Beratap Merah sempat lihat sih di market place. Mungkin orang jual koleksi lamanya.
Comment Author Avatar
Kereeennnn ... duh bukunya legend semua teh Shanty.
Plus itu foto peluk tiangnpakai dress yang modelnya favorit jaman itu. Eh ... kita sejaman ya he3 ...
Comment Author Avatar
Udah serasa paling cantik pakai baju model itu.
Comment Author Avatar
Makasih teh Shanty sudah ikut tantangan bulan ini.
Membaca buku itu hobi yang asik banget yaa,. Sekarang masih punya gak teh buku2 masa kecil ini?
Comment Author Avatar
Nggak euy. Udah dihibahkan. Sekarang Gramedia kayanya punya versi cetak ulangnya. Cuma sayang anak-anakku kurang tertarik.