Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa Saya Malas Baca Blog?

mengapa malas baca blog

Jujur ya, saya setahun terakhir ini memang kurang tertarik untuk membaca blog. Dampak langsungnya, saya juga jadi malas menulis di blog sendiri. Walau kepikiran juga bahwa yang terjadi sebenarnya bisa sebaliknya. Saya malas menulis di blog sendiri, yang dampaknya adalah malas berkunjung ke blog orang lain. 

Tapi intinya, entah kenapa blogging menjadi punya saingan lain sebagai media berbagi informasi. Saya bisa cukup puas dengan hanya melihat informasi di Instagram, Facebook, Twitter, Quora, Youtube, atau Podcast (Saya skip Tik Tok, karena nggak pernah bisa menikmati video super pendek sebagai media informasi atau hiburan). Membaca format sosial media lain ini terasa lebih ringkes dan tidak banyak makan waktu.

Nggak sabaran rasanya untuk membaca tulisan yang panjang-panjang. Apalagi kalau tidak menarik dan isinya sebagian besar pesan sponsor. Duh…asli malas banget. 

Blog sekarang ramai dengan iklan dan pesan sponsor

Kalau dulu, saya suka baca blog karena berisi cerita pengalaman pribadi teman-teman yang menarik. Ada cerita perjalanan keluarga dengan segala keriwehannya, ada review, ada curhatan, pokoknya yang seru-seru dan unik gitu deh.

Jadi ingat, dulu sempat bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar membaca satu postingan ke postingan lain di sebuah blog. Sampai akhirnya kita seperti mengenal si penulis ini luar dalam. 

Sekarang, mulai jarang blog yang berisi cerita yang seperti itu. Kalau pun ada cerita pribadi, pasti ujungnya iklan yang sering kali tidak terlalu relevan dengan isi cerita. Terlalu terasa sekali pesan sponsornya. Duh…susah banget sih mau menulis blog aja.

Ketika Artikel Listicle Jadi Favorit

Sempat ada masanya artikel listicle menjadi favorit. Artikel listicle dianggap sederhana dan bisa membuat orang lebih cepat mendapatkan poin-poin informasi. Nggak ngalor ngidul nggak jelas. Kaya tulisan ini. Ha...ha...ha... 

Tapi lama-lama, menurut saya artikel seperti itu terasa begitu berat dan membosankan. Poin-poin yang terasa pointless karena terlalu padat dan sulit untuk bisa dipraktekkan. Apa lagi kalau ditulis oleh para mastah yang mampu menulis blog hingga 2000 kata. Duh, itu tipe post yang langsung di save, tapi tidak pernah dibaca lagi. Lupa pula nge-savenya dimana. 

Menurut saya kekuatan blog itu tetap di sudut pandang yang subjektif si blogger. Ungkapan pikiran paling jujur dari setiap orang. Memang sih besar resikonya akan ada pro dan kontra. Atau bahkan malah memicu perang pendapat yang nggak ada ujungnya. 

Hei, itu bukan perang. Itu namanya diskusi. Saling berbagi pendapat dan pemikiran. Tidak harus ada yang memaksakan harus berubah pendapat. Tidak ada yang menang atau kalah dalam menyampaikan opini. Di situlah kekuatan blog. Dimana opini pribadi bisa tersampaikan dengan terbuka.

Kalau mau yang objektif, mending baca koran nasional, nonton berita, atau bahkan baca brosur aja. 

Eh, tapi buat kamu yang baru mau menulis blog, ya tidak perlu terganggu dengan pernyataan saya soal malas baca blog karena tidak menarik ya.

Kita nggak perlu juga mempersulit diri dengan harus menulis tulisan yang bisa disukai banyak orang. Biarkan saja itu jadi jatahnya media online yang mampu memproduksi ratusan post per hari. Kita sebagai penulis blog cukup mengambil jalan santai yang damai-damai saja ya. Menulis sesuai dengan kata hati. Menulis yang jujur. Menulis untuk mencatat peristiwa. Menulis untuk belajar. 

Blog menjadi rumah kita untuk berproses. Saya rasa disitulah kuncinya untuk menjamin blog kita tetap ada yang mau membacanya. Minimal kita sendiri bisa menikmati tulisan di blog kita. Kalau kita sendiri nggak suka baca tulisan kita, apalagi orang lain. Ha...ha...ha...

Kalau kamu, apa yang membuatmu masih betah baca blog selain karena kewajiban blog walking?

Saya bosan baca blog
Ketika saya bosan baca blog...
(550 kata)




Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

4 komentar untuk "Mengapa Saya Malas Baca Blog?"

  1. Teh Shanty, saya masih suka baca blog tapi samaan deh, rindu dengan blog yang personal seperti jaman dulu. Tapi sepertinya kita harus memulai ya, memulai kembali menulis di blog hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ia May, sebenarnya masih banyak kalau rajin nyarinya blog-blog yang isinya cerita seru-seru. Seperti blog cerita teman-teman MGN. Ceritanya seru-seru. Ha...ha... pesan sponsor lewat.

      Hapus
  2. Aku suka baca blog, tapi aku malas baca blog yang terlalu panjang lebar dan muter-muter. Bahkan kalaupun itu cerita sesungguhnya, rasanya aku nyari heading-headingnya ajalah.

    Kalau dulu aku merasa blogpost ideal itu 800 - 1000 kata, sekarang sepertinya 500 kata deh, biar bisa sebentar baca updatenya hahaha...

    Kalau baca tutorial lain cerita, karena biasanya emang butuh informasinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ia ya, 500 kata bisa terasa cukup. Tapi sebenarnya panjang juga bisa seru kalau pintar story tellingnya. Sekarang tutorial orang bisa suka langsung nyari reels/tiktok yang 1 menitan. Ampun dah orang-orang sekarang. Makin pengen instan aja.

      Hapus