Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa yang Berbeda di Matilda the Musical?

review matilda the musical netflix

Cerita bagus memang nggak ada matinya! Siapa sih yang belum tahu karya Roald Dahl tahun 1988 tentang seorang anak perempuan yang nasibnya naas banget bernama Matilda?

Tapi kalau kamu termasuk yang belum tahu, nggak apa-apa juga sih. Nggak usah minder. Biasa aja kok. Nggak semua orang harus tahu sebuah cerita yang masuk dalam 100 buku kategori Young-Adult terbaik versi majalah Time tahun 2019 dan sudah terjual lebih dari 17 juta exemplar di seluruh dunia pada tahun 2018.

Bukunya yang terbit tahun 1988 (2 tahun sebelum Roald Dahl meninggal karena kanker dalam usia 74 tahun) sukses besar. Filmnya tahun 1996 yang diperankan oleh Mara Wilson sebagai Matilda juga sukses. Lalu ada juga versi musikalnya yang ditayangkan di panggung berbagai negara. Ini juga sukses. Entah berapa harga tiket buat bisa nonton acara live performance ini.

Sehingga akhirnya diputuskan dibuat versi filmnya untuk ditayangkan streaming di Netflix. Agar rakyat jelata seperti kita-kita juga bisa menikmati maha karya Roald Dahl ini.

Pada dasarnya plot cerita memang masih sama dengan yang aslinya. Dimana Matilda Wormwood lahir sebagai anak yang tidak diharapkan oleh orang tuanya. Ia harus bersekolah di sebuah sekolah yang kepala sekolahnya nggak banget. Seorang kepala sekolah yang hobinya membully anak-anak. Untungnya Matilda bersahabat dengan librarian Mrs. Phelps yang mendukung hobi membacanya dan gurunya Mrs. Honey. 

Jadi apa yang berbeda di Matilda the Musical?

Menurut saya trio Matthew Warchus (sutradara), Dennis Kelly (penulis skenario), dan Tim Minchin (musik) beneran genius untuk menggarap film ini. 

Walau saya sudah baca novelnya dan sudah nonton film versi tahun 1996, tetap saja versi musikal ini memberikan warna yang berbeda. Serem sarkastiknya masih dapat, tapi kita sekaligus dapat sudut pandang baru. Asli keren abis!!!

Nggak apa-apa lah ya saya spoiler hal yang berbedanya di sini. Kalau kamu tipe nggak suka baca spoiler, ya sudah berhenti saja di sini. Tapi saya mau bilang, kalau karya Roald Dahl nggak akan jadi kurang gregetnya hanya karena tahu spoilernya. Karena saya saja rasanya masih pengen nonton film ini lagi dan lagi.

Begitulah kalau cerita yang benar-benar bagus di tangan orang yang pintar mengadaptasikannya.

#1 Matilda si pencerita

Setting sirkus dalam Matilda the musical
Setting sirkus sebagai bagian dari khayalan Matilda. Sumber: IMDB

Jadi si Matilda (diperankan oleh Alisha Weir) ini menceritakan sebuah kisah khayalan kepada penjaga perpustakaannya Mrs Phelps (diperankan oleh Sindhu Vee).

Awalnya saya juga agak bingung kenapa ada cerita soal percintaan antara seorang eskapoligis (pesulap yang punya keahlian melepaskan diri dari ikatan tertentu) dan seorang akrobat. Ternyata ini nanti nyambung sama kejadian nyatanya. Matilda pintar sekali membangun story telling yang bersambung. Sehingga Mrs. Phelps dan kita juga ikutan penasaran bagaimana akhir ceritanya. 

Kita jadi tahu, bahwa Matilda bukan sekedar pembaca kelas berat, tapi dia juga story teller yang sangat mengagumkan.

#2 Jangan mau jadi korban bully

matilda the musical with mrs trunchbull
Nightmare banget nggak sih punya ibu kepala sekolah suka menyiksa anak-anak. Sumber: IMDB

Hari gini, bullying di sekolah masih tetap jadi isu besar. Dalam cerita Matilda, perundungnya malah si ibu kepala sekolah sendiri. Mrs. Trunchbull yang diperankan oleh Emma Thomson. Ia, si miss Nanny Mc Phee (2005) itu loh. Sempat hampir nggak percaya bagaimana miss Nanny Mc Phee yang langsing itu kok bisa-bisanya dapat peran jadi Bu Kepala Sekolah selebar itu. 

Saya suka bagaimana anak-anak dalam kondisi terbully, tetap berani untuk memperjuangkan hak mereka. Nggak takut dan menyerah walau dibully oleh orang-orang yang lebih kuat dari mereka. 

#3 Jadi librarian yang asyik buat anak-anak

Matilda the musical with mrs. phelps
Matilda lagi asyi bercerita dengan Mrs. Phelps di atas mobil perpustakaan. Sumber: IMDB

Kalau di buku saya hanya ngiler membaca cerita bagaimana Matilda yang usianya 4 tahun bisa jalan kaki sekitar 10 menit ke perpustakaan di desanya untuk membaca buku-buku bagus. Dalam adaptasi di Matilda the Musical, Mrs. Phelps adalah librarian yang punya punya mobil perpustakaan keliling. Lebih seru lagi nih.

Apalagi Mrs. Phelps tidak hanya melakukan tugasnya sebagai penjaga administrasi perpustakaan saja. Ia mau mendengarkan cerita Matilda. Anak-anak punya imajinasi yang luar biasa. Siapa yang mau menyediakan waktu mendengarkan khayalan mereka adalah orang-orang yang luar biasa. 

#4 Sekolah itu nggak menyenangkan, tapi…

Sekolah Matilda
Ketika sekolah digambarkan sebagai tempat yang tidak menyenangkan. Sumber: IMDB

Dalam Matilda digambarkan sekolah sebagai sebuah institusi penjara yang akan membentuk anak-anak menjadi lebih teratur dan terdidik sesuai keinginan orang dewasa. Mereka perlu disiksa dan dibuat terzolimi lahir batin. Dih…serem amat. Tapi entah kenapa, saya kok jadi bisa melihat itu seperti ada benarnya. 

Sekolah menjadi tempat pertama yang merusak kebahagiaan dan mimpi anak-anak. 

Walau itu terjadi, tapi sebenarnya kita bisa kok melawan hal yang semena-mena tersebut dan menjadikan sekolah menjadi tempat yang indah untuk bisa berkembang. Itu yang saya tangkap dari film ini. Jangan pasrah dengan apa pun yang tidak membuatmu tidak bahagia di sekolah. Jangan cengeng dan hanya mau jadi korban saja tanpa berusaha merubah keadaan. 

#5 Musik dan koreografinya bagus

Namanya juga musikal ya. Sudah kaya film-film India gitu lah. Pasti bagian menari-menarinya seru dan indah. Musik-musiknya juga bagus. Ada 14 lagu sepanjang film ini.

Walau ada adegan sadis seperti anak yang dilempar ke udara, menurut saya film ini masih cukup aman untuk ditonton untuk anak-anak sebagai bagian dari hiburan dan bahan obrolan seru dalam keluarga. 

Buat yang sudah nonton film ini, boleh loh kalau mau berbagi komentar di bawah. Mestinya ada yang suka dan ada yang tidak suka ya dengan film ini. Kamu termasuk yang mana?


(850 kata)
Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

3 komentar untuk "Apa yang Berbeda di Matilda the Musical?"

  1. Aku belum nonton filmnya sama sekali, padahal udah baca bukunya 2 kali. Aku selalu merasa sedih dengan kisah Mathilda ini. Waktu itu sempat kepikir ini Roald Dahl agak gila ya bikin cerita anak kok ya sedih-sedih amat, tapi ya ini bukan cerita buat anak kecil banget sih ya, tapi tentunya bukunya bisa buat bahan diskusi (dan instropeksi sebagai orang tua). Ntar mau coba nonton ah versi musikalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin lebih pas disebut parental guidence ya. Tapi anak-anak nganggap cerita ini seru buat mereka.

      Hapus
  2. Jadi penasaran mau ikutan nonton. Makasih teh reviewnya

    BalasHapus