lWcg51fin4Fhk7iYMzhi8k0YG8mjAdav5FwgOuRx

Ketika Menulis Merampas Waktu Bersama Keluarga

ketika menulis merampas waktu bersama keluarga

Pada 5 Maret 2022 lalu, Mbak Rina Rinz pemilik Penerbit Buku Love Rinz membagikan status mengenai curhatan seorang suami penulis di Facebooknya. Si suami menyebut kalau istrinya sedang gila literasi menulis sehingga menjadi pemarah, mengabaikan keluarga, bahkan sampai membuat kedua anak balitanya mengalami trauma psikis karena perlakuan ibunya. 

Wadaw…. Ini tuduhan yang sangat serius ya. 

Buat teman-teman yang punya hobi tertentu, apa pernah melakukan hobi sampai lupa waktu dan kebablasan hingga mengabaikan tugas utama kita sebagai seorang ibu?

Saya sendiri kalau sedang asyik menulis memang kadang suka lupa waktu sih. Cuma mungkin tidak terlalu parah alias hanya sesekali saja. Maklum belum di level penulis profesional yang bisa benar-benar hidup dari penghasilan sebagai penulis. 

Mungkin akan beda ceritanya kalau sampai jadi penulis platform atau penulis yang memang punya tuntutan deadline yang tinggi. Jam kerjanya bisa jadi sampai 10 jam sehari. Nggak kalah lah sama orang kantoran gitu. 

Curhatan si suami penulis ini mengingatkan saya pada cerita almarhumah Mbah Ifa Avianti. Mbak Ifa yang meninggal karena sakit pada 4 Mei 2021 lalu adalah seorang penulis senior yang punya 47 buku. Ceritanya sempat saya tulis di artikel Mengenang Penulis Produktif Ifa Avianty.

Kalau di cerita pertama si suami yang mengeluh karena istrinya lupa keluarga, dalam kasus Mbak Ifa, beliaunya yang begitu menyesali diri karena sempat lupa keluarga karena sibuk menulis. Mbak Ifa benar-benar menyesali masa-masa ia begitu larut mengejar deadline sehingga melupakan buah hatinya. 

Setelah menyadari kesalahannya, Mbak Ifa merasa trauma untuk kembali ke dunia penulisan. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Mbak Ifa memilih untuk menulis status-status pendek di Facebook mengenai kegiatan homeschooling kedua anaknya. Dan ia terlihat begitu menikmati proses tersebut.

Menulis sampai lupa keluarga

Menulis sampai lupa keluarga bisa terjadi pada siapa saja. Melakukan apa yang kita sukai, dibayar dengan fee yang memuaskan, diakui dan disukai karyanya oleh banyak orang, tentu saja sangat menggairahkan dan sangat wajar membuat kita melupakan prioritas hidup kita. 

Jujur…saya takut. Takut hal yang sama terjadi pada saya. 

Bagaimana caranya agar kegiatan menulis bisa menjadi produktif yang sehat? Tidak perlu ada yang terzalimi dengan kemampuan yang Tuhan berikan ini. Bisa dimanfaatkan untuk kepuasan dan kebahagiaan diri sendiri, membuat keluarga bahagia, sekaligus bermanfaat bagi banyak orang. Jangan sampai orang lain yang dapat untungnya, eh ke keluarga sendiri malah tekor. Kan sedih kalau seperti itu.

Saya sendiri memulai dengan mencoba mengalokasikan waktu sesuai kondisi kehidupan kami. Dalam hidup, saya memiliki beberapa hal yang perlu dilakukan secara seimbang. 

  1. Spiritual
  2. Kesehatan
  3. Quality time dengan anggota keluarga
  4. Urusan rumah tangga (mengurus dapur, rumah, dan pakaian)
  5. Karir Menulis
  6. Belajar Ilmu baru
  7. Bersantai untuk melakukan hobi
  8. Pelayanan dalam komunitas

Berhubung waktu kan semua orang sama ya. Sama-sama jatahnya cuma 24 jam saja. Jadi ya perlu dibagi-bagi secara adil dan sesuai porsinya. Karena kalau ada salah satu yang jomplang, bisa kacau semuanya. 

Dari sini, saya ketemu kalau jatah waktu saya untuk urusan menulis hanya bisa di 4 jam sehari saja. Jadi kalau saya maksa mau mengejar target 10 jam sehari, ya pasti ada jatah kegiatan lain yang harus dikorbankan. Dan itu tentunya bukan pilihan yang baik jika dilakukan sering-sering. 

Nah tinggal bagaimana saya bisa mengoptimalkan waktu 4 jam sehari agar bisa lebih produktif dari waktu ke waktu. Tidak bisa berharap langsung bisa melesat seperti orang lain. Apalagi saya sudah cukup berumur. Ni otak rasanya tidak terlalu bisa diajak lari kencang-kencang. 

worklife balance menulis vs keluarga

Strategi agar menulis tidak mengganggu waktu dengan keluarga

Saya sendiri mencoba menerapkan beberapa strategi berikut untuk menjaga agar waktu menulis bisa mendapatkan dukungan penuh dari suami dan anak-anak. 

#1 Menetapkan waktu untuk kegiatan menulis

Karena kami tidak memiliki ART dan merasa masih nyaman dengan mengurus rumah sendiri, ditambah masih kepengen leyeh-leyeh sambil nonton drakor, waktu untuk menulis saya tetapkan hanya bisa dalam kurun waktu 4 jam sehari saja. Ini adalah waktu untuk saya meriset ide tulisan, membuat draft, mengedit konten blog post, hingga ke sharing media sosial. 

#2 Memiliki jam kerja dan kegiatan rutin

Setelah mengetahui durasi waktu yang tersedia, saya mencoba membuat jadwal jam kerja yang berusaha diikuti secara disiplin. Jadi keluarga tahu, kapan Mamanya perlu ngantor.

Saya biasanya memulai dengan memulai kegiatan menulis dengan free writing. Minimal 15 menitan lah. Ini seperti manasin motor. Pokoknya menulis saja dulu. keluarkan saja semua ide yang ada di kepala. Baru setelah dari ide-ide ini, dipoles lagi untuk bisa dikembangkan menjadi tulisan jadi yang layak tayang di blog. 

#3 Memprioritaskan melakukan kegiatan menulis di awal waktu

Agar efektif, kegiatan menulis saya coba dilakukan di awal hari sebelum pk 12 siang. Memang rada utopis sih ini. Karena seringnya saya malah lagi asyik beberes rutinitas rumah jam segini. Kenapa pagi hari? Ini karena waktu yang sebenarnya paling produktif buat saya. Urusan beberes rutin malah  yang bisa ditunda untuk dikerjakan sore hari saja. 

#4 Melibatkan keluarga dalam kegiatan menulis

Ini adalah kegiatan yang paling saya suka. Berdiskusi dengan anak-anak dan suami mengenai topik yang akan ditulis. Ini seru karena jadi bisa mendapat wawasan yang berbeda. Kadang pikiran saya sendiri terlalu sempit. Setelah diobrolkan, jadi kepikiran untuk ide-ide baru. Kalau diajak diskusi, keluarga juga jadi merasa ikut memiliki tulisan, dan mereka juga bisa diajak untuk membaca dan mereview tulisan yang kita buat. Feed back dari anggota keluarga biasanya cukup jujur dan lebih berbobot daripada berharap komen hasil blogwalking. 

#5 Membagi hasil kegiatan menulis untuk keluarga

Nah ini juga penting. Saat dapat rezeki dari kegiatan menulis, apakah itu sekedar hadiah souvenir dari sebuah acara atau berupa fee yang lumayan, tidak lupa selipkan untuk 'uang senang-senang' keluarga. Jadi mereka ikut merasakan senangnya punya Mama yang bisa cari uang dari menulis. Wah dijamin mereka akan semangat bantuin Mama yang lagi dikejar deadline. 

Keluarga adalah harta yang paling berharga

Kesimpulan

Apakah strategi ini mudah untuk dijalankan? Ya tentu saja tidak. Ada saja hari-hari saat kesibukan di awal hari begitu mendistraksi. Lantas kegiatan menulis jadi bergeser ke waktu yang lain. Bahkan sampai dilakukan di penghujung malam. Maklum, kebiasaan deadliners garis keras.

Tapi ini adalah proses yang terus akan saya evaluasi dari waktu ke waktu. Nah prosesnya ini yang bikin seru dan bersemangat. Karena saya tahu, besok saya akan mencoba lebih baik lagi. 


(1000 kata)

Related Posts
Shanty Dewi Arifin
Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Related Posts

Posting Komentar