--> Komunitas Menulis yang Bikin Bahagia - Cerita Shanty
lWcg51fin4Fhk7iYMzhi8k0YG8mjAdav5FwgOuRx

Komunitas Menulis yang Bikin Bahagia

komunitas menulis yang bikin bahagia


Coba ngacung yang WA-nya punya lebih dari 10 grup komunitas? Ini di luar komunitas wajib seperti WAG keluarga yang isinya para sepuh yang hobi share berita hoax dan kesehatan atau WAG orang tua murid sekolah anak-anak ya. 

Hari gini sepertinya wajar kalau setiap orang punya puluhan grup komunitas. Senior saya, Mbak Rochma yang hobi berkebun dan menekuni dunia literasi cerita di blognya kalau beliau punya sampai 35 grup WA. Saya bahkan ingat ada teman lain yang punya WAG sampai 60 grup! 

Saya sendiri setelah saya hitung-hitung dengan teliti, punya sekitar 20-an lingkaran komunitas. Beberapa masih beririsan memang. Walau sebenarnya saya agak berusaha menghindari WAG yang isinya lu lagi lu lagi. Tapi ya gimana lagi ya, mainnya masih kurang jauh. 

Bergabung dengan komunitas itu sebenarnya tidak selalu mengharuskan kita ikut WAG sebenarnya. Kalau tidak sanggup mengikuti chatnya yang super ramai, kita bisa cukup bergabung dengan grup FB atau sekedar memfollow Instagram mereka untuk informasi. 

Duh, kalau saya sih lelah sekali kalau lihat grup dengan ribuan chat setiap hari. Mending penting, lah ini cuma perang stiker atau chat-chat pendek nggak penting yang nggak jelas maksudnya bagaimana. Makin sempurna ketika banyak yang nyampah dengan video-video nggak jelas dan meme-meme aneh. Mungkin sih lucu, tapi suka keburu ku clear chat. 

Nah kalau ada grup yang membuat saya semingguan clear chat melulu, itu artinya saya harus left grup. 

“Maaf ya, saya left grup dulu. Kita bertemu di platform sosmed lain ya teman-teman.” Lengkap dengan emoticon tangan ditangkup. 

Rada takut saya kalau pakai alasan bohong seperti Hp lambat atau lainnya. Gimana coba kalau ada malaikat lewat dan ngira itu doa pengen punya Hp lambat. Jangan dong, saya mah doanya pengen punya smartphone Apple terbaru! (tolong aminkan saudara-saudara)

Keluar dari WAG bukan berarti kita memutuskan hubungan teman-teman yang kita cintai. Kita masih tetap kok bisa berjejaring dengan orang lain di platform sosial media lain. Atau bahkan bisa japrian biar lebih hangat kalau memang ingin tetap terhubung dengan orang-orang tertentu. 

Komunitas Menulis yang Bikin Bahagia

Komunitas kalau buat saya fungsinya adalah untuk belajar dan tetap merasa terhubung dengan orang lain. Payung besar komunitas saya itu sejauh ini adalah Ibu Profesional, sejumlah komunitas menulis, dan komunitas almamater dari SD hingga kuliah. 

Di post kali ini, saya mau berbagi beberapa komunitas menulis yang bikin saya betah dan berbinar-binar. Ada beberapa yang terbatas untuk kalangan tertentu, ada juga yang bisa diikuti untuk siapa saja.  

#1 Akademi Menulis 5 Menara - AM5M

Ini komunitas menulis pertama saya sejak tahun 2014 tapi masih awet sampai sekarang. Isinya hanya 19 orang mantan anak-anak asuhan Bang Ahmad Fuadi. Mungkin karena ada Bang Fuadi-nya di grup ini, kami pada sopan-sopan dan cenderung pencitraan semua. Chat hanya yang penting-penting saja masalah literasi. Tapi tetap saja, tidak ada yang left grup. 

Betah? Atau terpaksa? Entah lah.

#2 Kelas Literasi Ibu Profesional - KLIP

Ini komunitas yang saya inisiasi sejak Januari 2016. Karena saya paling nggak demen WAG yang bikin pesertanya betah mojok lama-lama, paling sering nih kami pindah-pindah bikin WAG baru. Pesertanya disuruh angkat bangku sendiri buat pindah ke ruang baru. Kalau ada yang bobo di kelas, ya udah ditinggal aja. 

KLIP itu buat saya komunitas yang unik dan tidak biasa. Sebenarnya sederhana saja prinsipnya. Mencatat kemajuan menulis harian selama 1 TAHUN! Tapi bikin banyak orang malah menemukan hal-hal menarik yang tidak sangka dari dalam dirinya. Konsisten itu memang luar biasa. Kalau tidak percaya coba deh baca cerita juara kelas KLIP Risna dalam tulisan Gara-gara KLIP Aku Jadi Blogger.

#3 Kumpulan Emak Ngeblog - KEB Bandung

Saya suka bergabung dengan WAG ini karena sering ada info-info job ngeblog yang menarik dan bisa saya ikuti. Sekalian tempat bertemunya teman-teman blogger yang dari Bandung. Ruang chatnya juga relatif bersih dan rapi. Mungkin karena pesertanya sekitar 80-an orang saja. Yang bikin betah di grup ini karena sebagian besar orangnya saya kenal dan kami sering ketemu di event-event blogger yang diadakan di Bandung. Beda rasanya bergabung di WAG yang memang kita kenal langsung orangnya, dibanding dengan grup yang kita bahkan tidak tahu namanya siapa. 

#4 BloggerHub

Entah bagaimana ceritanya saya bisa nyasar ke grup blogger yang umurnya baru 1 tahun ini dan langsung jatuh cinta. Ini adalah grup yang rapi sekali pengelolaannya. Dari WAG-nya yang terjadwal,  IG-nya yang rapi, sampai acara bloggertalks untuk berbagi ilmu-ilmu bagus mengenai blogging yang rutin diadakan. Mungkin karena background penyelenggaranya adalah agency professional, jadi semuanya lebih rapi dan terencana. 

#5 Mamah Gajah Ngeblog - MGN

Nah ini komunitas kesayangan karena saya bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa saya lakukan di KLIP. Seperti berbagi informasi menarik seputar dunia perbloggingan. Ada info lomba blog, info event literasi, sampai ke ngobrol soal apa pun. Komunitas bersama dengan teman sealmamater itu juga seru karena walau pernah sama-sama main di Ganesha, tapi rentang masanya panjang. Mulai dari angkatan 77 hingga angkatan 2000 belasan saja ada di grup. Ini menjadi daya tarik tersendiri.

#6 Rumah Belajar (rumbel) Literasi IP Bandung 

Kalau ini sebenarnya komunitas lama. Ini bahkan sebenarnya komunitas cikal bakal lahirnya KLIP. Cuma karena prosedur di komunitas Ibu Profesional (IP), WAG kami jadi terobrak-abrik. Kalau mau masuk Rumbel Literasi Bandung, kami harus melalui pintu khusus yang namanya Kampung Komunitas. Itu sebabnya saya sempat keluar selama beberapa tahun, dan baru masuk belum lama ini. Sayangnya sekarang kegiatan di grup ini masih belum kembali aktif. Tapi tidak apa-apa, saya selalu suka grup-grup yang sepi dan damai. 

#7 Koordinator Rumbel Literasi se-IP Raya

Ini sebenarnya grup informal yang sempat saya buat untuk mengumpulkan belasan teman-teman Ketua Rumbel Literasi dari berbagai kota dan negara dalam komunitas Ibu Profesional. Sekedar untuk tempat berbagi informasi mengenai kegiatan Rumbel Literasi di kota masing-masing. Tapi karena banyak Rumbel yang masih mati suri karena perubahan pola struktur organisasi di IP pusat, grup ini seringnya sepi-sepi saja. 


Tidak semua komunitas menulis saya ikuti WAGnya. Komunitas seperti Blogger Crony Community (BCC), Blogger Perempuan, Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), KBM Apps, saya ikut di FB group dan Telegram saja. 


Tips Memilih Komunitas

Dari pengalaman berkomunitas selama ini, akhirnya saya dapat juga kuncinya untuk menemukan komunitas yang akan membuatmu bahagia. Komunitas dimana porsi apa yang kamu beri imbang sama yang kamu dapatkan. 

Duh kamu pamrih ya?

Ehm, bukan begitu juga sih. Tapi saya pernah masuk komunitas dimana saya hanya mendapatkan saja materi. Ini lama-lama malah terasa membosankan. Ada juga komunitas dimana saya dituntut harus melayani terus. Ini juga bikin capek.

Yang paling pas adalah ketika ada keseimbangan antara memberi dan menerima. Ini sangat relatif sekali pada setiap orang. 

Selalu enak rasanya ketika kita menerima banyak ilmu dari sebuah komunitas. Tapi siapa sangka, saat memberikan pelayanan sesuai kemampuan kita (bukan dipaksa atau dimanfaatkan ya) ini bisa lebih menyenangkan. Dalam memberi, ada rasa dibutuhkan yang sehat. Perasaan ini membuat kita merasa lebih berarti. Kita “kepake”!

Mungkin itu yang namanya prinsip sedekah ya. Antara memberi dan menerima itu bisa tipis batasnya. Entah siapa yang sebenarnya memberi, dan siapa yang menerima. 

Kesimpulannya, jika teman-teman ingin berkomunitas dengan bahagia, temukanlah komunitas yang bisa membuatmu memberi dan menerima secara seimbang. 

Have fun with your community!

tantangan mamah gajah ngeblog


Tulisan ini dibuat dalam rangka ‘Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog’ bulan Oktober, dengan tema ‘KOMUNITAS YANG AKU CINTAI’.


Related Posts
Shanty Dewi Arifin
Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Related Posts

2 komentar

  1. Eh ada namaku disebut, hehehe. Kalau mau punya HP yang bisa nampung banyak grup, jangan pake keluaran Apple mbak, biasanya yg storagenya gede harganya lumayan mahal, mending beli Xiaomi aja, bisa ganti beberapa kali Xiaomi tuh harga apple keluaran terbaru, hehehe... haish jadi ngiklan, padahal aku bukan dibayar Xiaomi loh, hehehe..

    Tapi aku setuju, komunitas yang membahagiakan itu ketika kita bisa memberi dan menerima secara seimbang. Jadi makin cinta makin betah tapi juga kita merasa makin merasakan manfaatnya secara pribadi, kayak KLIP dan MGN ini juga lah.

    BalasHapus
  2. Mantap, mbak Shanty. Straight and clear pesannya!

    BalasHapus