Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kuantitas atau Kualitas?

menulis kuantitas vs kualitas

Pagi ini saya berdebat dengan Raka, anak saya mengenai kualitas vs kuantitas. Kami berdua tu sama-sama punya tekad untuk konsisten berbagi konten. Kalau Raka suka berbagi konten video pendek di Instagram. Sementara saya suka menulis di blog. 

Kuantitas Konten

Menurut saya penting untuk konsisten berbagi tulisan setiap hari dalam rangka belajar menulis. Kalau tidak dipaksakan setiap hari, kapan mau pintarnya? Saya ketemu ilmu ini dari beberapa blogger senior seperti Gretchen Rubin yang menulis blognya rutin 6 post per minggu selama bertahun-tahun. 

Kalau menurut Gretchen, lebih mudah untuk melakukan sesuatu setiap hari daripada selang seling. Sehari nulis, sehari nggak. Untuk mulai lagi setelah berhenti walau sehari (apalagi beberapa hari sampai seminggu), akan lebih berat. Kita akan selalu memerlukan energi lebih untuk mulai dari awal. Tapi kalau sudah rutin, otak kita tidak perlu lagi repot mengambil keputusan. 

Mau menulis atau tidak hari ini? Pilihannya hanya satu. Menulis!

Saat membaca Di Balik Aroma Karsa-nya Dee Lestari, ia menyebutkan mengenai perbedaan menulis sebagai olahraga harian untuk menyegarkan tubuh dengan menulis sebagai olahraga untuk pertandingan. 

Kalau olahraga untuk pertandingan yang membutuhkan konsentrasi dan latihan terukur yang berat, memang perlu ada jeda dari satu pertandingan dengan pertandingan lain. Namun kalau olahraga harian, itu perlu dilakukan dengan rutin sebagai kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi tinggi. Bisa lari pagi sambil ngobrol sama pasangan misalnya. Atau sekedar senam ringan 15 menitan di rumah. 

Buat saya menulis blog itu sekedar latihan ringan untuk menjaga kebugaran otot menulis. Ini mungkin berbeda-beda ya pada tiap orang. Tergantung tujuan ngeblognya mau untuk apa. 

Kalau memang blognya mau jadi tempat mendulang segenggam berlian, tidak bisa menulis artikel yang kelasnya sekedar latihan ringan ya. Kecuali kalau sudah super mahir mungkin ya? 

Itu sebabnya ada beberapa blogger memilih untuk menulis 2 kali seminggu atau bahkan 2-3 kali sebulan saja. Namun blognya tetap sangat ramai. Kok bisa? Karena mereka menulisnya dengan sangat niat. Artikelnya sangat berkualitas, super lengkap, dan dicari banyak orang. Untuk bisa menulis seperti ini pastinya butuh waktu lebih banyak dibandingkan menulis ringan. Mungkin itu yang membuat mereka hanya bisa menghasilkan sedikit tulisan.

Konten Berkualitas

Raka lebih memilih seperti yang terakhir ini. Buatnya lebih penting kualitas daripada kuantitas. Apa gunanya bikin konten terlalu sering. Apalagi kalau kualitasnya tidak bagus. Itu bahkan hanya bikin orang bosan saja. Wajar sih teman kita akan bosan kalau circle pertemanan kita memang kecil.

Ia mencontohkan beberapa Youtuber seperti Milyhya atau Agung Hapsah yang jarang-jarang upload konten. Bahkan bisa beberapa bulan sekali loh mereka ini upload kontennya. Tapi tiap upload konten, pasti langsung masuk trend Youtube.  Kontennya selalu super bagus dan ditunggu-tunggu jutaan follower mereka. Milyhya saat ini memiliki 4,5 juta follower dan Agung Hapsah 2 juta follower. Ehm… ok deh. 

Mama pun jadi ragu. Apa memang lebih baik tidak perlu memaksakan menulis blog setiap hari kalau hasilnya memang sekedar nyampah saja? Tidak ada gunanya. Bikin lelah saja. Mending bobo. Eh salah itu! 

Percaya nggak, saya selama bertahun-tahun sempat berpikir seperti itu loh. Tidak mau menulis kalau memang hasilnya tidak akan bagus. Apa yang terjadi? Saya tidak menulis selama berminggu-minggu. Menunggu hasil terbaik yang ternyata malah tidak pernah terkejar karena jarangnya berlatih. 

Penelitian kelompok kuantitas vs kualitas

Saya pernah membaca di sebuah buku mengenai penelitian terhadap sekelompok mahasiswa yang mengikuti kelas fotorafi. Kelompok pertama adalah kelompok kuantitas. Mereka diberi tugas untuk mengumpulkan foto setiap hari. Nilainya ditentukan dari banyaknya foto yang dikumpulkan. Sementara kelompok kedua adalah kelompok kualitas. Kelompok kedua ini diminta hanya mengumpulkan 1 saja foto terbaik pada akhir masa belajar. 

Pada saat akhir ternyata foto-foto terbaik dihasilkan oleh mahasiswa dari kelompok kuantitas. Itu menunjukkan bahwa kuantitas akan mempengaruhi kualitas. Tidak akan sampai pada kualitas tanpa adanya kuantitas yang cukup. 

Setelah bertahun-tahun tersangkut soal kuantitas dan kualitas ini, pada tahun 2021 ini saya memutuskan untuk mengutamakan kuantitas saja dulu. Apapun yang terjadi saya perlu menyediakan waktu setidaknya 1 jam sehari atau menulis 1000 kata sehari. 

Apakah itu berat? Tidak, itu tidak berat. Saya memastikan untuk melakukan itu dengan ringan. Saya nggak suka yang berat-berat. Yang berat-berat biar jadi urusannya Dilan saja. Saya memilih menulis 1000 kata sehari yang tanpa beban. Hanya menulis santai mengenai apapun. Bukan tulisan yang perlu dibaca orang lain. Tulisan ngalor ngidul tentang apa saja yang terlintas di kepala saat itu. Ini sangat menyenangkan.

shanty 750words journey
Selain setoran rutin di KLIP, pada Juni 2021 saya juga mengikuti tantangan 750words. Menulis minimal 750 kata sehari.

Selama 7 bulan pertama di tahun 2021 saya isi dengan menulis setiap hari. Benar-benar hampir setiap hari. Walau itu hanya 15 menitan. Memang ada juga sih beberapa hari yang sempat lupa. Baru pada bulan ke-8, saya memberanikan diri melompat ke IG untuk memamerkan tulisan di publik secara rutin setiap hari. Sedikit sih, hanya sekitar 300-an kata saja sesuai batas caption IG yang 2000 karakter. 

Menulis di IG itu nggak asyik banget. Keterbatasan kata itu sangat menjengkelkan. Bener ya, kalau mau menulis kayanya jangan di IG. Kecuali untuk membuat microblog dalam bentuk ilustrasi image menarik yang berisi poin-poin. Caption itu hanya seperlunya saja untuk pasang hastag agar mudah ditemukan orang.

Kalau memang fokus mau menulis, mending langsung sekalian di blog. Itu sebabnya saya kembali menggunakan blog tercinta ini tempat berlatih menulis. Menulis di blog itu lebih nyaman. Lebih bebas untuk berbagi. Tidak hanya tulisan, tapi juga gambar, link podcast, bahkan video. Dan yang paling saya suka adalah kita bisa menyimpan setiap tulisan dalam label atau kategori tertentu yang mudah dicari.

daily words in 750words
Detail pencapaian penulis di 750words sepanjang Juni 2021

Blog sebagai media menyimpan proses belajar

Kembali ke soal kuantitas vs kualitas, blog saya rasa media yang cukup baik untuk bisa melatih kuantitas. Tanpa perlu pusing dibilang nyampah. Karena orang yang mampir ke tulisan di blog umumnya secara organik. Mereka mencari kata kunci tertentu, dan voila! Sampai lah ke sini. Coba kamu-kamu yang nyasar ke blog post ini, apalagi yang baca sampai di titik ini (sekitar 900-an kata), boleh say hello di kolom komen. 

Menyimpan proses belajar menulis di blog itu bagusnya bisa terukur. Kita bisa mendapatkan feedback hasil tulisan kita dengan membaca data dari Google Analytic (berapa banyak yang berkunjung ke tulisan kita, tulisan mana yang menarik, demografi pengunjung, berapa lama mereka baca tulisan kita, dan lain-lain) dan Google Search Console (jadi tahu kata kunci apa yang membawa pembaca ke blog kita). 

Nah untuk bisa mendapatkan data feedback yang valid itu lah, saya merasa perlu berlatih menulis lebih sering di blog. Kalau dibuat seminggu sekali atau dua kali, tentunya datanya lebih sedikit yang masuk. Apalagi karena saya masih pemula. Mungkin nanti kalau sudah di atas 1000 hari dan punya ribuan pengunjung per hari, baru lah dengan sendirinya kualitas itu akan terbentuk. 

Tidak ada kualitas tanpa kuantitas.

Bagaimana? Setuju dengan pendapat itu teman-teman?


(1100 kata)
Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

1 komentar untuk " Kuantitas atau Kualitas?"

  1. Setuju dengan kesimpulannya. Kita tidak bisa tiba-tiba jago, perlu latihan rutin. Setelah itu menambahkan tantangan yang ada. Teorinya, kayak latihan otot juga, harus ada penambahan dosis latihan.

    Tapi ada juga yang tipe hasil latihan ga dipublish, di keep sendiri aja, jadi yang keluar itu keliatan berkualitas aja.

    Soal nulis di IG dan Blog, itu aku juga setuju, kalau mau nulis yang leluasa mending di Blog deh,

    BalasHapus