Kunci Melatih Kebiasaan Baru Melalui Pengenalan Diri Sendiri

1 komentar

 Melatih Kebiasaan Baru


Kerasa nggak sih susahnya melatih kebiasaan baru? Sekarang masuk bulan Februari nih. Ada yang kebiasaan yang dimulai di awal Januari dengan tekad sepenuh hati, hanya mampu bertahan selama 2 minggu saja?


Apakah itu tekad untuk berolahraga, makan sehat, sholat awal waktu, atau mungkin kebiasaan yang menyangkut hobi yang kita sukai.


Tuh ya aneh banget deh, bahkan untuk hobi yang kita sukai saja, kita bisa kesulitan untuk membentuk kebiasaan baru.


Saya tu termasuk orang yang paling penasaran soal rahasia dibalik pembentukan kebiasaan baru ini.


Kebetulan di rumah, saya yang paling payah dalam hal melatih konsistensi. Suami dan anak-anak saya yang berumur 13 dan 10 tahun, terlihat lebih mudah untuk punya kebiasaan baru. Terutama hal-hal yang benar-benar mereka inginkan.


Kok mereka bisa, kok saya nggak?


Salahnya dimana?


Mengenal 4 Tendensi Diri dari Gretchen Rubin

4 Tendensi Gretchen Rubin

Dalam buku Better than Before (2015) yang ditulis penulis buku bestseller New York Times sekaligus blogger Gretchen Rubin, saya menemukan jawabannya.


Gretchen menyampaikan kalau setiap orang itu punya kecenderungan tertentu dalam membentuk kebiasaan. 


Ada yang bisa sukses dengan cara begini, ada juga yang akan gagal total kalau mempraktekkan cara yang sama. 


Bahkan dalam pengamatan saya, untuk tiap kebiasaan juga punya ciri khas.


Intinya memang tidak ada 1 solusi untuk semua. Kita perlu mengenali diri kita dan kebiasaan yang ingin kita bangun.


Secara umum, seseorang bisa dikelompokkan ke dalam 4 kecenderungan atau tendensi.


#1 Upholder

Orang-orang dengan tendensi Upholder adalah mereka yang relatif mudah membentuk kebiasaan baru. 


Karena mereka ini mudah termotivasi dari 2 arah. Baik dari dalam diri sendiri seperti target pribadi. Maupun dari luar diri seperti tantangan dari orang lain.


#2 Questioner

Kalau orang-orang dengan tendensi Questioner rada ribet karena mereka kebanyakan nanya. Nggak suka dengan tuntutan orang lain terhadap mereka.


Mereka hanya bisa membentuk kebiasaan yang benar-benar mereka inginkan.


#3 Obliger

Sementara Obliger adalah mereka yang lebih mudah membentuk kebiasaan jika ada tuntutan dari orang lain. Jika hanya sekedar untuk kesenangan sendiri tanpa ada keterlibatan orang lain, mereka akan cenderung bosan.


#4 Rebel

Nah yang paling berat ini adalah mereka yang bertendensi Rebel. Mereka nggak suka banget dengan tuntutan orang lain maupun dari diri sendiri.


Begitu ada tuntutan untuk melatih kebiasaan baru, bawaannya udah males duluan.


Curiga banyak yang kaya gini ya. 


Jika ingin mengetahui tendensi kita yang mana, kamu bisa mampir ke blognya Tante Gretchen buat mengisi kuisioner singkat.


Setelah mengisi beberapa pertanyaan di sana, saya jadi tahu kalau saya tu bertendensi Upholder. 


Akhirnya terjawab juga kenapa saya sulit membentuk kebiasaan. Selama strong why-nya belum benar-benar saya dapat, saya sulit untuk bisa berkomitmen melakukan sebuah kebiasaan.


Dari sini, saya jadi belajar untuk lebih serius mencari tahu kenapa saya harus melakukan sesuatu.


Emang sih, seringnya saya nggak bisa ngelihat kenapa saya perlu melakukan sesuatu. Sepertinya semua berjalan baik-baik saja. Tidak ada konsekuensi berarti yang saya terima.


Ah ini juga mungkin dipengaruhi karakter saya sebagai orang yang phlegmatis. Easy going banget. Dapet syukur. Nggak dapet ya nggak apa-apa. Ngoyo is not my middle name.


Mengenali Kebiasaan yang cocok dengan kita


Selain 4 Tendensi utama di atas, kita juga perlu tahu kita itu tipe orang yang seperti apa? Ada beberapa tipe yang cukup mempengaruhi mengapa sebuah kebiasaan bisa terasa begitu sulit bagi orang-orang tertentu.


#1 Apakah kamu orang malam atau orang pagi?

Percaya nggak, bahwa orang produktif malam atau produktif di siang hari itu dipengaruhi oleh gen. Ini memang ada risetnya loh. Jadi kamu perlu mengenali kapan kamu lebih produktif. Apakah di siang hari atau kah di malam hari. 


Tidak perlu dipaksakan menjadi orang pagi, jika memang nyamannya bekerja di waktu malam.


#2 Apakah kamu pelari maraton atau sprinter?

Ada orang yang memang jagonya untuk bekerja stabil dalam waktu yang lama. Tapi ada juga yang lebih nyaman untuk bekerja cepat dalam proyek-proyek jangka pendek. 


#3 Apakah kamu suka menyelesaikan proyek atau memulai proyek?

Ini keunikan yang jarang kita perhatikan. Ada orang yang bawaannya gatal pengen membereskan segala sesuatu. Tapi ada juga orang yang senangnya memulai sesuatu. 


#4 Apakah kamu orang yang suka sama hal-hal yang sudah familiar atau hal-hal baru?

Banyak loh orang yang lebih nyaman sama hal-hal yang ia telah terbiasa melakukannya. Tapi ada juga orang-orang yang lebih termotivasi dan bersemangat dengan hal-hal yang baru.


#5 Apakah kamu menyukai langkah besar atau serangkaian langkah-langkah kecil?

Banyak yang bilang kita perlu memulai dari langkah kecil. Tapi jangan salah, ada juga loh gaya orang yang sukanya dengan perubahan yang sekaligus besar. Hijrah besar-besaran terasa lebih mudah bagi mereka.


Semakin kita mengenal diri kita sendiri dengan lebih baik, akan makin mudah bagi kita memulai sebuah kebiasaan baru. Jadi coba deh untuk mulai mengamati diri sendiri. 


Saya ini orangnya seperti apa ya? 

Kutipan 4 tendensi gretchen rubin


Pengalaman Melatih Kebiasaan Baru


Saya sendiri di bulan Januari kemarin bangga sekali karena akhirnya berhasil melaksanakan sebuah kebiasaan baru. Saya sukses menulis rata-rata hampir 500 kata setiap hari selama 30 hari. 


Sudah lama sekali rasanya saya tidak berhasil berkomitmen pada apa pun juga. Makanya saya senang sekali ketika akhirnya mampu mengalahkan sebuah target pribadi.


Sebagai orang Questioner, untuk berkomitmen menekuni kebiasaan menulis ini saya mulai dari menemukan strong why kenapa saya begitu ingin memenuhi target yang satu ini. 


Salah satu alasan utama adalah karena banyaknya orang-orang di sekitar saya yang meninggal secara mendadak dalam 1 tahun terakhir ini. Yup, kematian adalah salah satu motivasi terbesar untuk lebih menghargai hidup.


Kita tidak ada yang tahu kapan napas ini akan berakhir. Bisa hari ini, bisa esok. Namun selama Allah masih memberi kita umur, itu adalah kesempatan yang tidak bisa disia-siakan untuk melakukan hal-hal yang benar-benar kita inginkan. Tidak ada istilah tidak sempat. 


Tapi saya juga realistis dengan fakta kalau kesempatan untuk bisa menulis masih terbatas. Saya tidak punya cukup waktu untuk bisa menulis berjam-jam saat ini. Anak-anak yang bersekolah di rumah, membuat waktu saya lebih terbatas untuk bisa mengerjakan hobi yang benar-benar saya sukai. 


Kalau waktu anak-anak sekolah, saya punya cukup waktu untuk sendiri, tapi sekarang setiap waktu rasanya selalu ada suara anak-anak yang mengajak ngobrol ini itu. 


Jadi saya putuskan untuk membuat target yang mudah dulu. Cukup 30 menit sehari saja untuk menulis. Saya juga bisa menulisnya di hp saja. Tidak harus buka laptop yang terkadang perlu rebutan dengan suami dan anak. 


Saya juga memilih topik-topik menulis yang sederhana dan tidak perlu riset. Sekedar tulisan-tulisan ringan yang saya simpan dalam format Google Dokumen saja. Jadi saya tidak punya beban untuk melengkapi dengan pernak-pernik blog yang membutuhkan waktu extra. 


Alhamdulilah target itu bisa tercapai untuk bulan Januari. 


(1000 kata - 1/2/2021)

Shanty Dewi Arifin
Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Related Posts

1 komentar

  1. Waah ternyata saya termasuk tendensi Rebel nih.
    Mantap, ulasannya keren :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter