Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hadiah Terbaik di Usia 46 Tahun

hadiah terbaik

1 September 2021 hari ini saya tepat berusia 46 tahun. Ah...saya suka usia 40-an. Menurut saya ini adalah usia yang matang dan memungkinkan punya waktu lebih untuk diri sendiri. Anak-anak sudah mulai mandiri dan kita pun sudah lebih punya banyak bekal pengalaman hidup.

Perayaan ulang tahun itu sebenarnya sifatnya sangat pribadi. Sebuah momen perenungan mengenai hidup yang sudah diberikan Tuhan selama ini. 

Sebenarnya setiap ulang tahun saya inginnya bisa diam sendirian seharian. Bukan untuk nonton film, baca buku, atau malah main game tanpa diganggu urusan tetek bengek rumah ya. Tapi ya untuk bisa benar-benar melakukan kontemplasi ke dalam diri. Sebuah harapan yang terasa terlalu mewah buat seorang ibu. 

Hadiah dari Papa

Alih-alih sendirian, hari ini saya menghabiskan diri jalan-jalan ke Rumah Sakit mengantarkan Papa kontrol rutin bulanan. Ah kangen sekali saya sama rumah sakit ini. Sudah sekitar 2 bulan saya tidak lagi mengantar Papa hemodialisa rutin setiap Senin dan Kamis. 

Karena sejak mendapatkan vaksin pertama pada 26 Juni lalu, saya minta izin Papa untuk nggak ke rumah sakit dulu. Apalagi saat itu lagi wabah Covid lagi tinggi. Alhamdulillah Papa mengerti dan memutuskan tidak perlu ditunggui lagi saat Hemodialisa. Cukup diantar setelah sholat zuhur dan dijemput sekitar pukul 5 sore. Yeay...Papa sudah bisa sekolah sendiri. Ha….ha….

Nah hari ini, Papa sama saya kembali untuk kontrol bulanan rutin ke dokter penyakit dalam. Biasanya untuk kontrol ini cukup saya saja sendiri yang datang untuk minta obat rutin, menyampaikan keluhan pasien jika ada, mengambil  rujukan selanjutnya dan surat kontrol. Papanya nggak usah ikut. Tapi kali ini, Papa harus ikut karena perlu cek laboratorium.

Jadilah kami menikmati kebersamaan di rumah sakit kembali. Kami menyempatkan beli kue yang biasa kami beli di kantin rumah sakit. Alhamdulillah, masih bisa jalan-jalan sama Papa tanpa perlu kursi roda. Walau itu sekedar keliling seputaran rumah sakit saja. 

Papa traktir kue basah kesukaan kami seharga total 20 ribuan. Padahal Papa sebenarnya jarang-jarang loh pegang uang dan dompet sendiri sekarang ini. Bagi saya, ini adalah hadiah terbaik di usia 46 tahun. Masih bisa jalan sama Papa dan ditraktir. Ha...ha…

Papa juga sempat cerita mengenai apa yang dilakukannya saat berusia 46 tahun. Saat itu tahun 1991. Kami masih di Karawang, dan saya sebagai anak pertama baru SMA kelas 1. Karir Papa di Kejaksaan baru mau mulai menanjak di usia itu. Moncernya baru sekitar 2 tahun kemudian. Saat Papa kemudian bertugas ke berbagai tempat. Mulai dari ke Jakarta Utara, Singkawang, Bandung, Makasar, Ternate Maluku Utara, Mataram, hingga terakhir di Kejaksaan Agung hingga pensiun di usia 62 tahun. 

Ehm... jadi kepikiran, apa saya juga bakal moncer di usia menjelang 50 seperti Papa? Tidak ada kata terlambat kan ya. Semangat Shan!!!

Semoga Papa masih bisa menemani saya di ulang tahun-ulang tahun selanjutnya. Dan saya juga bisa nraktir Papa di ulang tahun Papa selanjutnya. Amin….

Bareng papa
Bareng Papa dan Sandra sambil menunggu hasil laboratorium. Di masa pandemi, tempat tunggu sambil berjemur cukup diminati.

Hadiah dari Mama

Mamanya kemana ini? Nggak ikut juga? Nah kalau sama Mama perayaannya kemarin. Kok ya kebetulan, kemarin saya bisa menemani Mama ke Rumah Sakit Khusus Kesehatan Gigi dan Mulut (RSKGM) di jalan Riau Bandung. 

Berbeda dengan Papa yang perlu diantar-antar, kalau Mama sih kemana-mana bisa berobat sendiri. Entah itu ke dokter kaki, dokter penyakit dalam, atau ke dokter gigi. Semua bisa dilakukan sendiri. Hanya saja, kemarin karena mau operasi gigi, disarankan oleh dokternya untuk ditemani orang lain. 

Jadilah dipilih anak yang tampaknya paling tidak punya kesibukan berarti ini untuk menemani Mama ke rumah sakit. Mengingat repotnya parkir di rumah sakit dan resiko Mama tidak bisa menyetir setelah habis operasi, kami memilih naik taksi online saja. 

Yang namanya rumah sakit untuk pelayanan BPJS, kalau menyiksa pasien dengan antrian yang super panjang dan lama, kayanya kurang afdol ya. Kami tiba sekitar pukul 9 pagi, baru masuk ruang dokter sekitar zuhur. Ya Allah, mbok ya bilang aja ke pasiennya untuk datang menjelang zuhur gitu loh. Kan kita jadi tidak perlu berlama-lama berkumpul dengan banyak orang di rumah sakit.

Padahal ya, di rumah-rumah sakit ini saya lihat lebih banyak polisi yang sibuk memaksa orang untuk menjaga jarak. Yang bener saja, orang disuruh antri sebanyak ini dalam ruang yang terbatas bagaimana cara jaga jaraknya coba. Coba mereka cerdas sedikit dengan menjadwalkan jam kehadiran yang lebih masuk akal. Nggak perlu antri berjam-jam. Jadi kan ya nggak numpuk dan terlalu ramai orangnya. 

Duh….saya gemezzz banget dengan antrian rumah sakit ini. Masalah sesederhana ini kok ya bisa nggak ada solusinya. Sampai berpikir, apa mereka sengaja bikin susah orang sakit supaya lebih menghargai kesehatan ya. Pokoknya sakit itu harus dibuat pahit, sulit, dan mahal.

Tapi ya, ada yang namanya blessing in disguise. Waktu menunggu yang super lama itu, memungkinkan saya sama Mama buat ngobrol-ngobrol. Kami sebenarnya cukup jarang bertemu. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang. Karena pendengaran Mama kurang bagus, untuk ngobrol di telepon pun kami jarang.

Jadi ya pas ketemu gini bisa ngobrol-ngobrol. Ngobrol sama Mama itu suka ada saja hal-hal menarik yang menggugah rasa ingin tahu saya.

Kemarin Mama ngasih tahu saya soal kepengen beli sapu robot. “What? Apaan Ma?” saya kira si Mama salah ngomong. Kalau ngomong soal sapu, saya ingatnya sama sapu saya yang helaiannya mulai menipis dan harus beli bulan ini. Tapi kalau robot, saya ingatnya R2D2 dan 3PO robotnya Anakin di Starwars. Ini yang dimaksud si Mama sebenarnya yang mana?

“Iya sapu robot. Kemarin Mama ke Ace Hardware dan lihat harganya 2 jutaan,” kata Mama. Mama cerita kalau sempat dipraktekkan di Ace Hardware. Sapu robot yang keren katanya. Karena si sapu ini bisa tahu loh kalau di bagian tangga tidak akan jatuh. Fungsinya juga bukan hanya sapu, tapi bisa ngepel segala.

Saking penasarannya, kami pun segera browsing di market place mengenai sapu robot ini. Pengen ngakak, ternyata harga sapu robot terentang dari 150 ribuan hingga 10 jutaan. Luar biasa kan. Si Mama bahkan sangat tergoda untuk beli yang harganya 150 ribu karena ternyata sudah terjual sebanyak 2000 buah. Ha….ha…

“Dari mana Mama tahu soal sapu robot ini?”

“Dari Youtube-nya Titi tilah,” kata Mama.

Hah, siapa pula ini? Kenapa saya tahunya hanya sebatas Atta Halilintar, Deddy Corbuzier, dan Edho Zell. Perasaan yang blogger itu saya, bukan Mama. Tapi kok ya Mama yang lebih banyak tahu channel-channel menarik dibanding saya. 

Tapi beneran deh, saya kagum sama cara Mama menggunakan sosial media. Menurut saya Mama adalah salah seorang yang menggunakan sosial media dengan tepat. Sosial Media seperti Youtube, Instagram, Pinterest digunakan untuk mencari ilmu untuk kemudian dipraktekkan. Beneran dipraktekkan!

Dari sosial media, Mama mencari model baju-baju cantik, cara buat kue, mempercantik taman, berkebun sayuran yang akhirnya panen dan bisa dinikmati sekeluarga, membuat eco enzym, dan banyak lagi lah. 

Mama saya pernah bilang, “Mama heran kalau masih ada orang yang bodoh, karena semuanya ada di internet.” 

Dan saya pun melipir dipojokan, karena walau sudah baca banyak buku, follow banyak akun sosial media orang-orang hebat, kok ya tetap nggak pintar-pintar. Salahnya adalah kalau saya lihat sosial media hanya sebatas lihat saja. Sekedar untuk tahu. Mana banjir informasi lagi. Nggak fokus. 

Sementara Mama, melihat sosial medianya cukup selektif dan cerdas. Ketika Mama sedang suka berkebun, maka Mama hanya follow akun berkebun. Ditonton atau dibaca, lalu langsung dipraktekkan. DIPRAKTEKKAN ya kuncinya. Jadi ilmunya nyerap dan terasa bermanfaatnya.

hasil kebun mama
Hasil praktek berkebun Mama. Sayur yang cantik-cantik ini ternyata enak sekali. Mungkin karena efek tidak pakai pestisida ya.

Baiklah, kita kembali ke soal sapu robot yang Mama kenal dari channel Titi Tilah. Siapakah Titi Tilah ini? Mama menghabiskan waktu 1 jam sendiri untuk membahas si Titi Tilah ini. 

Jadi ya Mbak Titi Tilah ini adalah TKW di Taiwan yang mengurus Mas Bos-nya yang mengalami kelumpuhan dari leher kebawah. Perjuangannya menarik banget deh. Nggak heran kalau subscribernya per hari ini mencapai 165 ribu. 

Bukan sekali ini saja, Mama mengenalkan sama channel-channel dari orang yang unik-unik. Dulu juga pernah ada keluarga penyanyi dari negeri timur tengah yang luar biasa. Mama biasanya kalau cerita suka detail. Karena si Mama sudah nonton hampir semua video mereka sebelum cerita. Ha...ha...  gimana saya nggak tergoda coba. 

Tidak terasa, akhirnya Mama pun dipanggil untuk operasi gigi. Katanya ada tulang tumbuh di gusinya yang harus dikikir. Duh, saya ngeri ngedengarnya. 

Kata Mama, kalau kita tua, tulang-tulang kita akan tumbuh dan itu sangat menyakitkan. Sebelumnya di bagian tumit Mama juga ada tulang tumbuh yang kemudian di operasi. Saya paling ngeri kalau si Mama sudah cerita soal penyakit-penyakit. Dan si Mama sangat pintar kalau sudah berbagi informasi-informasi seperti ini. 

Harus saya akui, kalau ada yang nanya siapa orang tidak sekolahan yang paling pintar yang pernah saya temui, ia adalah Mama. 

Percaya nggak, si Mama itu beneran bukan orang sekolahan. Tapi, Masya Allah Mama sangat suka belajar dan cepat dapat mencerna informasi. 

Dari buat baju, buat kue, masak, dandan, buat baju pengantin dengan payet-payet heboh, potong rambut, menenun kain, kerajinan tali, berkebun, dan masih panjang lah daftarnya, semua bisa Mama lakukan dan praktekkan.  

Beda jauh lah dengan saya yang lulusan ITB, tapi mikirnya bisa lemot banget dan muter-muter nggak keruan-keruan.  Ha...ha...

Jadi begitulah, jam-jam menemani Mama di rumah sakit jadi sangat berarti. Tidak terasa waktu sudah sekitar pukul 1 siang. Waktunya pulang. Saya pun akan memesan taksi online untuk pulang. 

Tahu apa yang terjadi? Hp saya mati. Mungkin habis batrei karena tadi asyik buka youtube dan market place sama Mama. Lah, bagaimana kami bisa pulang kalau seperti ini? Bagaimana cara saya bisa pesan taksi online?

Saya coba ke petugas untuk mencoba meminjam charger. Sekedar agar nyala untuk bisa memesan saja. Nanti setelah mobilnya datang, nggak masalah kalau HPnya mati. 

Eh, ternyata Hpnya tetap mati dong, walau sudah coba dicharge selama beberapa waktu. Duh saya bener-benar bingung, bagaimana caranya pulang kalau begini. 

Mama ngusulin naik angkot saja. Masalahnya adalah tidak ada angkot langsung dari Riau ke rumah kami. Perlu 2 kali naik angkot. Itu pun perlu disambung jalan sekitar 700 meteran lah ke rumah. Kasihan juga si Mama yang pakai tongkat jalannya. 

Tapi kata Mama nggak apa-apa. Ya sudah, kami pun naik angkot. Ya Allah, entah sudah berapa purnama saya nggak pernah naik angkot lagi di Bandung raya ini. Hari gini, ojol adalah pilihan yang lebih bijak.

Sedih juga sih lihat angkot Bandung sekarang ini. Asli sepi. Saat naik angkot Margahayu-Ledeng yang seingat saya zaman dahulu selalu ramai penumpangnya, kini hanya kami berdua yang naik. Rasanya seumur-umur, belum pernah saya naik angkot ini hanya dengan 2 orang penumpang saja. 

Dipikir-pikir, wajar sih orang beralih ke ojol. Dengan taksi online biaya ke rumah sakit saat pergi hanya sebesar Rp 19 ribu saja (kebetulan ada diskon juga). Pas pulangnya kami naik angkot 2 kali, pakai ngetem, dan masih harus jalan 700 meter bayarnya 16 ribu. Ya mending naik ojol dong ya. Angkot hanya jadi pilihan mereka yang nggak punya Hp atau Hpnya mati seperti saya. 

Benar-benar pengalaman yang indah bersama Mama hari ini. Satu lagi hadiah ulang tahun terindah buat saya. 

Terima kasih Papa - Mama…. Kebersamaan 2 hari ini benar-benar hadiah ulang tahun terbaik untuk seorang anak. Semoga Allah melimpahkan kesehatan dan kebahagiaan kepada Papa dan Mama. Dan semoga anakmu ini bisa membahagiakan dan memberikan yang terbaik kepada Papa & Mama.

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai 40 tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” - QS Al-Ahqaf ayat 15


(1800 kata diluar ayat di paragraf penutup) 

Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

1 komentar untuk " Hadiah Terbaik di Usia 46 Tahun"

  1. Teh Shanty sayang... met ultah yaa... semoga barokah usianya... seneng banget bacanya... Teh Shan beruntung di usia ini masih lengkap orang tuanya, ada papa, ada mama...masyaallah tabarakallah... btw tanggal lahirnya mudah diingat ya, 1 September. Barakallah fi umrik ya Teh

    BalasHapus