Pengalaman Sukses Khatam Quran bersama Grup TSSJ KB Cibiru IIP Bandung

Selasa, Januari 02, 2018


Entah kenapa khatam Quran itu sering terasa begitu berat bin sulit. Padahal kan cuma 600 halaman saja. Coba saja kita bandingkan dengan novel sejuta umat seperti Sabtu bersama Bapak-nya Adhitya Mulya 277 halaman, Rindu-nya Tere Liye 544 halaman, Negeri 5 Menara-nya Ahmad Fuadi 5 422 halaman, atau Inteligensi Embun Pagi-nya Dee Lestari 705 halaman. Bagian novel, seminggu juga khatam. Kok bisa? Terlepas dari Al Quran mengandung huruf Arab, tetap saja sama-sama membaca. IQRA.

Mungkin ada yang mau bilang, kalau Quran kan isinya nggak seru. Nggak seasyik film yang membuat kita bisa mati penasaran jika tidak segera menonton kelanjutannya. Tapi masalahnya, bagaimana kita bisa tahu kalau Quran itu nggak seru kalau kita tidak pernah benar-benar membacanya?


Quran bukanlah bacaan biasa


Buat saya Quran itu manual hidup manusia. Dibuat khusus oleh Allah untuk para manusia melalui perantara seorang manusia yang tidak bisa membaca dan menulis bernama Muhammad. Materi yang disampaikan secara lisan ini, kandungannya benar-benar dalam dan menyeluruh. Diikat dalam kunci-kunci tertentu sebagai jaminan bahwa itu asli bukan buatan manusia. Karena tidak ada manusia yang akan mampu membuat yang sejenis dengan itu.

Sebagai pecinta buku pengembangan pribadi yang menginspirasi orang menjadi lebih baik, Quran merupakan buku pengembangan pribadi terbaik. Apalagi kalau hobi nonton ceramahnya Nouman Ali Khan. Masya Allah, ni orang canggih banget lah kemampuannya menjabarkan setiap kata dalam Al Quran. Untung sekarang ceramah Nouman Ali Khan sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya. Jadi nggak perlu lagi repot buka kamus kalau ada bahasa yang tidak dimengerti.

Buat nonton Nouman Ali Khan dengan terjemahan bahasa Indonesia bisa subscribe channel Nouman Ali Khan Indonesia. Buat yang faseh berbahasa Inggris, bisa langsung nyimak channel Bayyinah Institute.

Seperti kata Ollie Salsabela bosnya Zetta Media yang mampu membaca 1 buku 1 hari, yang penting kalau ingin khatam baca buku, kita harus tahu dulu kenapa kita perlu baca buku itu. Biasanya buku yang bisa khatam kita baca, selain karena isinya memang menarik, adalah karena kita memang perlu untuk memahami isi bacaan tersebut.

Ingat kan ketika kita cepat sekali khatam baca novel karena memang perlu tahu akhirnya seperti apa. Saya tu kadang bahkan suka curi-curi baca akhir sebuah buku saking penasarannya. Terus bingung kenapa akhirnya begitu. Akhirnya mundur satu bab demi satu bab. Ujung-ujungnya terpaksa baca lagi dari awal untuk bisa memahami buku dengan utuh. Untuk ini saya menyalahkan penulis buku yang kelewat pintar bikin orang penasaran.

Ada video bagus dari Ollie Salsabela tentang How to read a book a day.

Nah begitu juga dengan Al Quran. Setelah tahu pentingnya Al Quran untuk dibaca, lantas kenapa masih nggak bisa khatam Quran dengan lebih sering?

Emang perlu sering-sering kah khatam Quran?

Ya perlu banget lah. Karena Quran itu isinya dalam banget. Seperti mengupas lapisan bawang. Berlapis-lapis. Baca sekali ketangkapnya seperti ini. Baca kedua kali, mata akan terbuka pada pemahaman yang lain. Baca tiga kali membuat kita bisa mengaitkannya dengan kondisi yang ada.
Jangankan Quran ya, buku yang lain saja - yang memberikan kesan sangat dalam, bisa kita baca berulang-ulang. Kita tulis quotesnya, kita hapalkan, dan tanpa sadar terbawa-bawa dalam cara berpikir dan bertingkah laku.

Bagaimana kita bisa mengamalkan isi Al Quran sebagai manual hidup, jika bacanya saja Senin Kamis?


Tilawah Quran bersama

Quran favorit saya. Lengkap dengan terjemahan per kata, pembagian setiap sub pembahasan, dan dilengkapi dengan asbabun nuzul langsung di bawah ayat yang bersangkutan. 

Jadi bagaimana caranya agar semangat membaca Quran-nya nggak Senin Kamis, atau malah hanya Senin saja alias seminggu sekali?

Saya senang sekali ketika teman saya, Sita dari KB (Kelas Berbagi) Cibiru IIP (Institut Ibu Profesional) Bandung mengumumkan untuk membuka grup Tilawah Quran Satu hari Setengah Juz atau TSSJ di grup WA.

Selama ini kemampuan saya memang belum 1 hari 1 juz (20 halaman). Rasanya menarik juga mencoba tantangan 1 hari setengah juz atau 10 halaman. Hitungan saya 10 halaman 1 hari itu sesuai dengan kemampuan saat ini. Pagi (Subuh) 4 halaman, siang (Zuhur atau Ashar) 3 halaman, dan malam (Magrib atau Isya) 3 halaman, sepertinya cincai lah di sela-sela kesibukan bersosmed ria yang tidak bisa ditinggalkan itu.

Saya sendiri suka baca Quran dengan terjemahannya. Kadang saya baca sendiri satu bagian pembahasan, baru baca terjemahannya. Kadang saya juga suka mengaji bareng Misyari Rasyid yang dilengkapi terjemahan setiap ayatnya. Sekalian belajar tartilnya dari Imam Mesjid Agung Kuwait kelahiran 5 September 1976 ini. Sssttt beliau ini lulusan Universitas Islam Madinah dan bisa hapal seluruh Quran hanya dalam waktu 2 tahun saja loh. Untuk mendapatkan rekaman mp3 bacaannya silakan di google, saya tidak akan memberikan linknya di sini, karena ternyata banyak banget.

Kalau mengaji bersama Misrari Rasyid, 1 halaman itu lamanya 5 menit sudah dengan terjemahan bahasa Indonesia setiap ayatnya. Jadi sebenarnya untuk 10 halaman, hanya memakan waktu 50 menit atau 1 jam lah. Subuh 20 menit untuk 4 halaman, Zuhur atau Ashar cukup 15 menit untuk 3 halaman, dan Magrib atau Isya cukup 15 menit juga untuk 3 halaman.

Saya sengaja membaginya menjadi Zuhur atau Ashar, dan Magrib atau Isya. Karena faktanya, saya sering bolong di salah satu dari dua waktu itu. Jadi saya pasang target 3 halaman di waktu Zuhur. Kalau nggak sempat ya dipindah ke Ashar. Kalau sudah terpenuhi pas Zuhur, saat Ashar bisa lebih santai dan baca yang lain.

Setelah dihitung-hitung begitu, sekarang jadi ngerti kenapa banyak orang gampang sekali untuk 1 hari 1 juz. Apalagi yang bacanya lancar tanpa pakai terjemahan. Itu bisa hanya 1-2 menit saja 1 halamannya. Saya juga suka begitu kalau lagi malas. Ups!

Untuk menjamin konsistensi anggotanya, ketua kelompok TSSJ meminta setiap anggota memiliki catatan harian mengajinya. Beri tanda ceklist apabila sukses dengan target 1 hari 10 halaman. Tanda kali jika kurang dari 10 halaman. Catatan ini seminggu sekali wajib di foto dan dilaporkan ke grup.

Buat yang haid bisa dilaporkan juga jika lagi haid. Saya sendiri penganut aliran boleh membaca Quran saat haid, jadi tidak pernah mempergunakan priviledge ini. Selain karena tahu dalil yang mengijinkan boleh membaca Quran saat haid, saya cenderung merasa lebih memerlukan membaca Quran saat hormon dalam tubuh tidak stabil. Rasanya lebih menenangkan. Apalagi kita saat itu tengah nggak sholat. Nggak enak rasanya kalau sudah nggak sholat, nggak ngaji lagi. Dan lagi rutinitas yang terputus itu membuat kita sulit jika ingin meneruskannya lagi. Tapi saya tetap menghormati pendapat teman-teman yang memilih untuk melakukan ibadah yang lain selain sholat dan mengaji saat haid.

Untuk hari Jumat, peserta diminta membaca Al Kahfi. Selain karena ada hadis yang menyebutkan mengenai keutamaan membaca surat ke-18 dalam Al Quran ini, saya pribadi tidak keberatan membacanya berulang-ulang karena kandungan surat ini yang indah banget. Dulu saya tahunya surat Yasin, Ar Rahman, atau Al Waqiah saja yang sering di ulang-ulang dalam pengajian. Al Kahfi ini berisi tentang kisah Ashabul Kahfi, kisah Nabi Musa yang mencari ilmu dari Nabi Khidhr, dan dasar keimanan kepada Tuhan. Saya sendiri belum beres nonton berseri-seri penjelasan Nouman Ali Khan mengenai pesan Allah dalam surat ini di YouTube.

Jadi targetnya, dalam 1 minggu (7 hari) anggota grup bisa menamatkan 3 juz plus surat Al Kahfi yang panjangnya 11 halaman. Diharapkan dalam 10 - 13 minggu (jika mempertimbangkan masa haid 1 minggu setiap bulannya) peserta bisa khatam 30 juz Quran.


Catatan setoran tilawah

Awalnya saya menulis tabel dengan tulisan tangan. Tapi kemudian dirapikan dalam bentuk print komputer agar bisa tersimpan dengan lebih rapi. Jadi kelihatan banyak bolong-bolongnya.

Dengan adanya catatan yang harus rutin dilaporkan, jadilah kita selalu ingat dan terpacu untuk rutin mengaji. Malu juga lihat catatan banyak bolong-bolongnya seperti saya punya ini.

Saya sengaja mencatat batas ayat yang dibaca, sudah sampai halaman berapa dalam hari tersebut dan jumlah total halaman yang dibaca. Sebenarnya urusan cara membuat form setoran ini bebas. Tergantung kebutuhan masing-masing.

Saya sendiri memilih bentuk form seperti ini agar ketahuan seberapa rajin atau pemalasnya saya hari itu. Kalau sekedar ceklist atau tanda kali, kurang tajam menunjukkan pencapaian hari yang bersangkutan. Setiap tanda ceklist bisa saja berarti 10 halaman, 15 halaman atau 20 halaman. Sebaliknya setiap tanda kali bisa saja menunjukkan 9 halaman, 7 halaman, atau sekedar 1 halaman. Itu kan beda banget hasilnya.

Rekor terburuk saya adalah 3 hari berturut-turut tidak mengaji. Nah kan jadi kelihatan. Coba kalau nggak dicatat. Biasanya juga bablas berminggu-minggu.

Paling rajin tentunya hari terakhir sebanyak 31 halaman atau 1,5 juz. Bukan apa-apa sih, kejar setoran karena terpacu ingin khatam dalam 11 minggu. Yup, bersama grup TSSJ KB Cibiru ini, akhirnya saya memecahkan rekor khatam Quran tercepat dalam hidup saya dengan 11 minggu!!! Mimpinya sih suatu saat bisa khatam Quran sepanjang 1 bulan Ramadhan (29 hari saja). Insya Allah.


Yuk Tilawah Quran bareng

Buat teman-teman yang ingin punya grup sejenis ini juga, bisa cari teman dari komunitas masing-masing. Saya sendiri pada saat TSSJ dibuat jadi terinspirasi untuk membuat grup sejenis dengan komunitas orang tua murid di sekolah anak-anak. Alhamdulillah ada belasan orang yang bergabung dan semangat untuk setor catatan tilawahnya setiap minggu.

Bagi saya, grup seperti ini cukup membantu. Karena kita tidak terikat harus datang ke lokasi pengajian dan bisa dilakukan setiap hari. Baca Quran itu kan perlu dilakukan setiap hari,dan bukan hanya 1 minggu sekali atau sebulan sekali.

Di kompleks saya sebenarnya ada grup pengajian 1 minggu 1 kali. Tapi sayangnya sering kali waktunya tidak memungkinkan untuk saya hadir karena kebetulan ada acara di akhir pekan. Kalau kita tidak rutin datang mengaji, mengajinya jadi terputus-putus.

Pengajian rutin mingguan mungkin lebih ke sekedar acara silahturahmi dengan tetangga daripada esensi tilawah Qurannya. Belum lagi kalau dilengkapi dengan berita-berita terbaru yang mungkin tidak terlalu kita perlukan.

Selain dengan tujuan silahturahmi, pengajian rutin berkelompok bisa juga diselenggarakan dalam bentuk kelas dengan tujuan untuk memperbaiki bacaan. Seperti saya juga pernah bergabung dengan kelas untuk belajar tajwid Quran 2x per minggu dengan metoda Tilawati. Sayang nggak bisa saya teruskan karena kendala waktu.

Jadi buat yang banyak alasan waktu, jarak, biaya, grup seperti TSSJ ini bisa membantu teman-teman mewujudkan resolusi membaca Quran dengan teratur.


Acara khataman Quran bersama Ummu Syauqi

Alhamdulillah setelah 3 bulan bersama, pada Rabu, 27 Desember 2017 lalu, kami anggota grup TSSJ KB Cibiru akhirnya bertemu untuk acara khataman bersama. Acaranya diadakan di rumah Teh Azizah di ujung dunia Cinunuk Bandung. Ada sekitar 15-an orang yang hadir. Sebagian besar saya kenal sebagai teman-teman sesama pengurus IIP Bandung. Tapi banyak juga yang baru bertemu untuk pertama kali. Selalu suka deh saat nambah-nambah koleksi teman kaya gini.

Acara dimulai dengan membaca juz 1 bersama. 1 orang 1 halaman. Senang dengar mengajinya teman-teman yang begitu faseh dan halus. Mungkin begitulah kalau kita mengaji dengan tajwid yang benar. Benar makhroj hurufnya, benar panjang-pendeknya. Enak di dengarnya juga.

Saat ini mengaji saya masih masuk jajaran paling payah, mudah-mudahan seiring waktu bisa sebagus teman-teman yang lain. Ini juga gunanya kita hadir di acara seperti ini, biar ada perbandingan dengan orang lain. Kalau sendirian kan rasanya sudah bagus-bagus aja.

Selain membaca Quran bersama, kami juga mendapat tausiah dari Ummu Syauqi dengan tema Al Quran sebagai solusi permasalahan keluarga. Menarik banget kan ya temanya.

Jadi bagaimana caranya menjadikan Quran sebagai solusi masalah? Beneran bisa nih?

Ummu Syauqi memberikan tausiah yang menyejukkan di rumah teh Azizah.


Dalam kesempatan ini Ummu Syauqi menceritakan pengalamannya sebagai ibu 6 anak. Anak-anak itu waktu masih kecil memang manis-manis. Masih nggak protes ketika disetelkan alunan Al Quran di rumah. Seiring waktu mulai deh pakai headset agar tidak terganggu mendengarkan yang lain. Pintarnya, kalau dicek, tangannya bisa lincah mengganti apa yang didengarnya dengan yang disukai ibunya. Begitulah anak-anak.

“Hidup yang sakinah, mawaddah, warahmah bukan selalu berarti hidup yang adem ayem tanpa tantangan. Saya sudah tilawah tiap hari, tapi kok suami kaya gitu ya. Anak-anak kok kaya gini ya,” kata ibu yang ke-6 anaknya sudah sold out ini.

Ada kalanya kita heran lihat ada orang yang rajin ibadahnya tapi kok ya pikasebeuleun (semoga yang bukan orang Sunda lidahnya nggak belibet ya bacanya. Artinya nyebelin dalam bahasa Sunda). Sebaliknya ada tetangga yang sholatnya jarang, tapi disukai banyak orang karena sikapnya yang menyenangkan. Kenapa bisa begitu?

Sebenarnya jawabannya sederhana. Itu yang rajin ibadah sebenarnya sudah lumayan kalau sekedar pikasebeuleun. Kalau dia tidak rajin ibadah, kebayang bakal lebih rusak daripada itu. Alhamdulillah dia rajin ibadah. Sementara yang jarang sholat bisa begitu menyenangkan, apalagi kalau dia rajin sholat. Wah pasti makin cemerlang.

Suka sekali saya dengan penjelasan Ummu Syauqi soal ini. Saya sendiri sering sedih kalau lihat orang rajin ibadah yang kelakuannya jauh banget dari nilai-nilai islami. Percaya nggak, terselip rasa takut kalau saya pun nantinya begitu kalau rajin ibadah. Misalnya kalau saya mengajinya bagus, apa jaminannya saya nggak menghina atau merendahkan orang lain yang mengajinya tidak sebagus saya. Bukan apa-apa, banyak loh yang seperti ini. Di saat kita merasa alim, dengan mudah kita akan memandang rendah orang yang nggak sealim kita. Ini sangat menyedihkan loh.

Tapi Ummu Syauqi mengingatkan, bahwa tidak ada yang sia-sia dari perilaku yang baik dan beribadah sesuai dengan perintah Allah.

“Coba kalau ibu-ibu menutupi kekotoran dengan apa? Umumnya dengan gelap. Pakai baju warna gelap supaya tidak kelihatan kotornya.” Al Quran itu memberikan cahaya dan menerangi keluarga. Dengan tuntunan Al Quran kita akan selalu diingatkan untuk membersihkan noda-noda hitam yang mungkin muncul dalam keluarga.

Quran bahkan tidak sekedar menerangi, namun juga memberikan solusi untuk membersihkannya.

Bacalah Al Quran sering-sering. Ummu Syauqi menceritakan bagaimana Buya Hamka saat istrinya meninggal, ia membaca Quran hingga bisa 5 juz sehari untuk mengatasi masalah kegalauan hatinya. Ia khawatir menjadi syirik karena tidak bisa melupakan istrinya. Dengan mendekatkan diri kepada Allah sambil membaca Al Quran ia menemukan kedamaian.

Ummu Syauqi juga menceritakan pengalamannya bagaimana Al Quran membantunya mengatasi kegalauan hati. Ketika usia kehamilan 7 bulan saat mengandung anak ke-3, beliau harus operasi usus buntu. Sebuah kehamilan yang berat, demikian juga saat melahirkan. Menjelang melahirkan, ia tidak henti-hentinya membaca Al Quran. Sampai sudah menjelang masuk ruang persalinan pun, ia masih terus mengaji. Ia hanya ingin jika nyawanya diambil saat itu, maka Al Quran lah yang menemaninya. Alhamdulillah akhirnya persalinan berjalan lancar.

Persoalan selesai? Belum saudara-saudara.

Setelah persalinan yang sangat berat itu, ternyata ketika si bayi berusia 3 bulan, Ummu mendapat informasi dari suaminya bahwa ia hamil lagi. 2 bulan! Sebenarnya saya mau ikut simpati mendengar Ummu Syauqi yang menerima kabar itu sambil menangis karena merasa belum siap. Tapi senyum juga mendengar cara suaminya menyampaikan hasi tes laboratorium mengenai kehamilan itu dengan takut-takut.

Dalam kegalauannya, Ummu Syauqi banyak-banyak mengaji dan mendekatkan diri kepada Allah. Masa kehamilan anak ke-4 ini adalah masa-masa terbanyak beliau mengkhatamkan Al Quran. Jadilah Ummu Syauqi memiliki 2 anak yang usianya hanya terpaut 10 bulan. Anak ke-4 ini memang tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Begitu superaktif hingga orang tuanya harus berkonsultasi dengan psikolog anak. Ia tumbuh menjadi anak yang unik dan begitu mencintai Al Quran. Sejak usia TK sudah suka sekali menyendiri dan membaca Al Quran. Bahkan tiap 10 hari hapal 1 juz.

Ada saran dari Ummu Syauqi yang saya nilai sangat bagus. “Kita jangan baca Quran saat anak-anak sudah tidur. Biarkan saja anak-anak mendengarkan kita membaca Quran.” Sampaikan saja kepada anak-anak, “Umi mau membaca Quran dulu ya, biar hati Umi diterangi.”

Bener juga sih ya. Ada juga kita ikutan tidur kalau anak-anak tidur. Saat anak-anak bangun kita FB-an. Hadeuh!!! (jangan tersinggung, itu mah saya)

Tidak masalah kita bacanya terbata-bata atau lancar. Bahkan bisa jadi pahala yang terbata-bata itu lebih banyak, karena tentunya lebih sulit daripada yang sudah lancar. Yang sudah lancar, tentunya tantangannya lebih sedikit.

Ah suka deh dengarnya. 

Nah buat yang masih terbata-bata baca Al Qurannya, jangan jadi malas baca Quran. Insya Allah penilaiannya adil kok. Dan percayalah bahwa Allah akan memberikan solusi dalam setiap permasalahan hidup kita.

Standar acara ibu-ibu IIP yang bertaburan penganan dan anak-anak. Emak Belajar, Anak Senang.

Tips khatam Quran

Sebagai kesimpulan, saya rangkumkan beberapa tips untuk teman-teman yang memang masih kesulitan untuk bisa khatam Quran secara konsisten. Semoga impian bisa khatam Quran tidak hanya jadi resolusi yang berulang dari tahun-tahun tanpa kemajuan berarti.

Silakan baca juga tentang Perlunya Membuat Resolusi Tahunan? Pengalaman Menyusun Resolusi yang Sukses.

#1 Temukan alasan kenapa ingin rutin membaca Al Quran. 

Tanpa alasan yang kuat, sulit untuk kita bisa menentukan prioritas dalam menyediakan waktu yang cukup untuk mengaji.


#2 Pasang target yang realistis.

Cek dulu sebelumnya kemampuan kita seperti apa. Jangan besar nafsu tenaga kurang. Kalau biasanya mengajinya Senin-Kamis, jangan dulu pasang target 1 hari 1 juz. Coba mulai dengan mengaji Senin-Rabu-Kamis dulu. Baru seiring waktu meningkat sedikit demi sedikit. Khawatirnya, kalau pasang target ketinggian, malah membuat frustasi dan cape duluan melihat targetnya.


#3 Buat catatan tertulis

Simpan catatannya di dekat Quran. Kalau saya suka menyimpannya dalam buku tulis yang saya selipkan dalam Quran. Lengkap dengan pinsil, penghapus dan polpen untuk menandai. Bisa juga catatannya di tempel di tempat yang mudah terlihat. Usahakan jangan ada alasan buku atau kertas hilang, nggak apa polpen lah, dan lain-lain. Oh iya, bisa juga ditandai di Qurannya dengan pinsil.


#4 Cari teman dan gabung dengan grup Tilawah bersama

Dengan ada teman, kita akan lebih bersemangat dan tertantang untuk lebih baik. Lagian malu kali kalau kebanyakan bolongnya.


#5 Terus belajar dan mencari kandungan Al Quran dari berbagai sumber

Hari gini kajian Quran bisa banyak di dapat. Nggak ada lagi tu alasan nggak punya waktu, nggak punya uang, nggak bisa meninggalkan anak-anak. Mari kita berterima kasih kepada semua orang yang telah mengunduh materi-materi menarik yang membantu kita untuk bisa lebih memahami dan mencintai Quran.

Selamat bertilawah dan menjadikan Al Quran sebagai penerang dan solusi permasalahan hidup kita.

Teman-teman grup TSSJ KB Cibiru IIP Bandung. Semangat kita lanjut lagi khataman Quran di tahun 2018 ya teman-teman!!!

(2880 kata - seharian)

6 komentar:

  1. Alhamsulillah keren Teh Shan, langkah maju menuju Allah.

    BalasHapus
  2. seneng bgt mba, punya komunitas manfaat kyk gitu :)

    BalasHapus
  3. sepakat kak. sebaik-baiknya prestasi kita sebagai muslim adalah khatam quran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan tentunya memahami dan mengamalkan isinya ya.

      Hapus
  4. Aku dulu juga cenderung susah khatam Quran. Tapi sejaj maksain diri ikut grup keluarga sehari satu juz lumayan. Jadi otomatis sebulan khatam sekali dan tiap hari khatam rame rame

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah keren banget keluarganya bisa punya grup ODOJ. Kepingin buat juga ah buat keluarga. Thanks idenya Nung.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.