Perlukah Membuat Resolusi Tahunan? Pengalaman Menyusun Resolusi yang Sukses

by - December 31, 2017


Apakah teman-teman punya hobi membuat resolusi tahunan? Setiap awal tahun semangat beli agenda baru dan menuliskannya dengan harapan-harapan yang ingin dicapai dalam 1 tahun ke depan? Atau ada nggak yang resolusinya dari tahun ke tahun jalan di tempat?

Kalau ada yang kaya gitu, tos dulu ah. Saya juga seperti itu. Setiap awal tahun biasanya salah satu resolusi abadi saya adalah memiliki pola hidup sehat dengan makan teratur dan berolahraga. Harapannya sih selain badan bugar juga bisa lebih montok. Ada kali kira-kira 20 tahun resolusi ini selalu menghiasi agenda tanpa ada usaha konsisten yang dilakukan.

Bagaimana hasilnya? Sepatu olahraga sudah dibeli, kulkas sudah diisi, tapi tetap saja tak kuasa konsisten lebih dari 1 minggu.

Terus gimana dong? Berhenti pasang resolusi?


Perlukah Membuat Resolusi Tahunan?

Jadi resolusi itu maksudnya apa sih? Sekedar motivasi awal tahun yang menjadi ide tulisan bulan Januari? Atau jangan-jangan menjadi sekedar target-target mimpi yang hanya akan mengurangi kenikmatan kita dalam mensyukuri hidup? Membuat kita merasa dikejar-kejar oleh deadline sampai lupa bernapas?

Saya sendiri terinspirasi untuk selalu membuat resolusi atau perencanaan tahunan dari ayat-ayat Al Quran yang menyebutkan mengenai Lauh Mahfuz atau kitab yang nyata. Segala sesuatu yang terjadi di alam ini telah ditulis Allah dalam Lauh Mahfuz kata-Nya.

Sebagai hamba Allah, buat saya penting untuk menuliskan segala sesuatu sebelum menjalankannya. Tujuannya agar hidup ini menjadi lebih terarah dan lebih termotivasi. Soal hasil, itu kembali diserahkan kepada Allah sebagai Penulis Lauh Mahfuz. Tugas kita sebagai manusia adalah selalu bersyukur dan berusaha menyelesaikan tugas yang Ia bebankan kepada kita.

Saya percaya setiap manusia diberikan tugas spesifik yang hanya khusus untuk dirinya. Berbeda dengan orang lain. Buktinya bahwa perjalanan hidup setiap manusia itu sangat unik. Bisa jadi bakat orang sama. Banyak orang memiliki bakat berdagang, bakat menulis, bakat bernyanyi, bakat olahraga, dan lain sebagainya. Namun perjalanan hidup mereka berbeda-beda. Itu yang menyebabkan setiap orang menjadi unik.

Perjalanan hidup ini yang menuntun kita untuk menyelesaikan tugas yang diamanahi oleh Sang Pencipta. Setiap tantangan yang kita hadapi pasti ada maksud dan tujuannya.

Buat saya resolusi tahunan menjadi salah satu jalan untuk menuntun kita menemukan dan menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Itu sebabnya resolusi perlu dibuat dalam sebuah kerangka besar. Misalnya rencana jangka panjang 10 tahunan, rencana jangka menengah 5 tahunan, yang kemudian dipecah menjadi rencana jangka pendek tahunan.

Dalam menyusun sebuah resolusi, saya merasa perlu memperhatikan pencapaian dalam tahun-tahun sebelumnya. Apa yang kita telah konsisten lakukan dalam beberapa tahun terakhir? Apa sih pekerjaan yang membuat kita merasa bahagia dalam melakukannya? Apa sih sebenarnya keunikan saya yang membuat saya berbeda dari orang lain?


Mengapa Resolusi Sering Gagal?

Kalau saya perhatikan, mengapa resolusi pola hidup sehat saya selalu gagal, bisa jadi karena kurangnya perhatian pada keunikan diri ini. Pola hidup sehat itu sangat umum. Semua orang butuh itu. Wajib hukumnya jika ingin memiliki tubuh yang bugar untuk bisa menjalankan tugas unik mereka dimuka bumi.

Jadi Resolusi tahunan mestinya bisa lebih fokus kepada keunikan diri ini. Biarlah hal-hal umum seperti pola hidup sehat, kemampuan membagi waktu, peningkatan finansial menjadi pendukung resolusi tahunan kita.

Ketika sesuatu itu bukan keunikan kita, kita cenderung kurang termotivasi untuk melakukannya hal tersebut secara konsisten. So, nggak usah terlalu sedih juga kalau kita selalu gagal memotivasi diri. Siapa tahu memang bukan keunikanmu di situ. Yuk tetap semangat menggali apa yang kita sukai.

Selain karena resolusi bukan keunikan diri, hal lain yang saya nilai selalu bikin gagal resolusi adalah ketika resolusi itu kebanyakan. Bagaimana kita bisa fokus kalau resolusi kita selusin. Ketika saya lihat teman saya mengajinya bagus, saya memasukkan resolusi bisa mengaji bagus tahun ini. Ketika dengar teman menang lomba menulis, saya tertantang untuk buat resolusi menang lomba di tahun yang sama. Teman baca 50 buku, saya juga panas ingin baca buku sebanyak itu.

Apakah itu salah?

Kalau saya bisa menjalankan dengan penuh semangat tentunya sangat bagus. Masalahnya adalah nafsu gede tenaga kurang. Akhirnya malah stress sendiri. Saya harus sadar diri kalau resolusi saya itu kebanyakan dan tidak fokus. Jadi wajar saja kalau hasilnya berantakan.

Makanya tahun 2018 ini saya putuskan untuk tidak mudah ikut-ikutan dan menyusun resolusi yang lebih spesifik berdasarkan pencapaian tahun sebelumnya.

Go Shanty, Go!!! (Karena tidak ada yang menyemangati, saya perlu menyemangati diri sendiri)


Pengalaman Menyusun Resolusi yang sukses

Walau sering merasa gagal dalam menyusun resolusi, kalau saya buka lagi catatan jurnal tahunan, ternyata selalu ada saja pencapaian yang saya buat dalam bidang menulis. Mungkin itu gunanya punya catatan harian untuk merekam perjalanan sepanjang tahun.



Alhamdulillah sampai hari ini saya tahu kegiatan yang selalu membuat saya bahagia. Ada 2 hal yang benar-benar membuat hati saya bisa menari tanpa mendengarkan musik. Yang pertama adalah membaca buku dengan tenang dan menulis tangan tanpa diganggu oleh apa pun.

Walau menyadari bahwa kemajuan menulis saya jalan di tempat, tapi ternyata ini satu-satunya kegiatan yang berhasil saya lakukan secara relatif konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Dan sampai sekarang masih belum bosan dan selalu menemukan hal baru yang bisa saya pelajari dalam bidang ini.


Resolusi Menulis Shanty 2018

Berdasarkan pencapaian sebelumnya, saya coba untuk menyusun resolusi tahun 2018 yang lebih realistis. Harapannya bisa tercapai sempurna dan dilakukan dengan senang hati tanpa rasa dikejar-kejar. Alhamdulillah kalau pencapaiannya bisa lebih baik dan lebih cepat.


Antisipasi Agar Resolusi Tidak Gagal

Untuk mendukung resolusi di atas agar bisa terwujud di akhir tahun 2018 saya perlu beberapa strategi untuk bisa mewujudkannya.

#1 Hidup yang seimbang

Jangan sampai alasan tidak ada waktu mengganggu urusan mewujudkan resolusi. Prioritas haruslah ditetapkan berdasarkan kondisi saya yang diberi amanah sebagai seorang istri dan ibu 2 anak usia 7 dan 10 tahun. Saya tetap perlu beribadah, mengurus badan, tidur, mengurus rumah dan keluarga.

Sebenarnya masih ada nggak sih waktu tersisa untuk sekedar menulis 1-2 jam sehari? Atau benar-benar habis untuk mengurus rumah tangga?

Ternyata setelah saya hitung-hitung, dari 24 jam yang saya miliki, saya masih bisa tuh menyediakan waktu 2-5 jam untuk menekuni hal yang saya minati. Jadi kalau saya masih mengeluh juga nggak ada waktu pasti ada yang salah!


#2 Kudu punya teman dan berkomunitas

Jangan sendirian. Kalau kalau sendirian kita cenderung mudah lupa. Saya senang sekali punya teman-teman di grup #ODOPfor99days dan teman-teman blogger yang semangat menulisnya cukup militan. Mereka ini yang membuat saya selalu bersemangat untuk terus menulis.

Mungkin itu bedanya antara hal yang benar-benar kita sukai dengan hal yang kita pikir kita suka. Kalau kita gampang putus asa ketika melihat teman-teman yang sudah lari duluan, bisa jadi itu bukan benar-benar passion kita. Untuk hal-hal yang kita sukai, setiap tantangan akan memacu semangat menjadi lebih baik.

“Kalau suka, hal yang berat akan terasa ringan. Sebaliknya kalau tidak suka, yang sederhana pun terasa begitu sulit.”

Contohnya urusan saya sama masak. Itu jelas-jelas bukan passion saya. Bawaannya langsung panik lihat komposisi bumbu dan bahan masakan. Rasanya kok ya susah aja.


#3 Mengurangi Sosial Media secara signifikan

Masya Allah, ini sosial media benar-benar merusak kemampuan konsentrasi kita. Awalnya saya tidak terlalu mau mengakui hal ini. Wong saya merasa hanya sesekali saja kok buka sosmed diantara waktu menulis atau mengurus rumah tangga.

Sejak mencoba memakai aplikasi Quality Time di HP Android saya, jadi ketahuan berapa jam total dari kegiatan ‘sesekali’ itu. Keluarlah angka yang mengerikan. Ternyata jam saya bersosial media bisa mencapai 5-7 jam sehari! Jadi ketahuan ya, dimana salahnya kalau saya bilang saya tidak punya waktu. Ok, saya resmi dapat cap pecandu sosial media yang harus segera masuk Rumah Rehabilitasi.

Sejak akhir tahun 2017 ini, saya mulai memangkas secara signifikan jumlah grup WA yang saya ikuti. IG dan Twitter juga pasrah dilepas saja. Untungnya HP mulai mendukung dengan protes kekurangan memori. Tinggal FB yang perlu dipantengin sesekali. Bagaimanapun Sosial Media diperlukan dalam porsi secukupnya untuk mendukung kesuksesan resolusi saya.

Di sini letak persamaan antara garam dan sosial media. Kita hanya memerlukannya sejumput, karena kalau kebanyakan akan menjadi penyakit.


#4 Keep on record

Pastikan setiap hari ada catatannya. Saya senang sekali tahun ini saya kembali menemukan jurnal ideal yang pernah saya miliki di tahun 2016. Di jurnal ini ada Yearly plan tempat saya bisa memasukkan postingan harian selama 1 tahun, ada Monthly plan untuk event-event penting yang saya hadiri, dan Weekly plan yang cukup ideal untuk mencatat kegiatan harian saya dalam setiap minggu. Dengan jurnal ini, saya bisa mengevaluasi resolusi yang telah dibuat.

Ukurannya yang kecil dan ringan juga membuat jurnal ini mudah dibawa kemana-mana. Kalau ada yang perlu, agenda seperti ini bisa di dapatkan di toko Togamas. Pengalaman kehabisan agenda seperti ini di tahun 2017 membuat saya kepikiran buat beli lebih dari 1 buat stok tahun depan. Tapi harganya lumayan juga sih, Rp 57.000,-. Padahal waktu saya beli tahun 2016 harganya cuma Rp 53.000,- saja.


#5 Fisik yang bugar

Salah satu faktor besar kegagalan resolusi saya di tahun sebelumnya adalah badan yang tidak bugar. Jadi ingat lagi kan resolusi soal pola hidup sehat yang gagal melulu itu. Mau olahraga, bawaannya pusing. Mau makan sehat, bawaannya malas masak dan pengennya beli yang instan aja. Mau membaca, bawaannya mengantuk. Ini kenapa sih?

Ada masanya ketidakseimbangan pola hidup ini menyebabkan saya mudah terserang sakit tenggorokan atau flu. Kalau ke dokter dengan keluhan sejenis lunglai, lemes, lesu, biasanya tidak jauh-jauh kita akan disodorin multivitamin. Saya sendiri sih sudah pernah mencoba beberapa multivitamin. Sempat bingung juga kalau disodorin banyak multivitamin. Kira-kira yang mana yang cocok buat kita?

Untung saja, komposisi obat sekarang bisa mudah dibaca. Jadi kita bisa melihat mana kira-kira sesuai dengan kebutuhan kita. Tentunya jika ada saran dokter itu lebih baik.

Saya sendiri minggu ini mencoba multivitamin Teragran-M. Kenapa? Karena ini vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Kelebihannya dibanding vitamin lain adalah karena memiliki tambahan kandungan vitamin A (10.000 SI) dan E (15 SI). Terasa sih efeknya, sakit jadi lebih cepat pulih dan nafsu makan bertambah.



Dengan 5 langkah antisipasi di atas, saya kira saya menjadi lebih optimis untuk bisa mewujudkan resolusi tahun ini. Bagaimana dengan pengalaman teman-teman menyusun resolusi? Banyak gagalnya atau berhasilnya? Jangan ragu buat berbagi di kolom komen ya.

Ini adalah tulisan terakhir saya di tahun 2017. Selamat tahun baru 2018 teman-teman. Semoga keberkahan menyertai perjalanan kita di tahun yang baru. Amin ya Rabbil alamin.



Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Teragran-M.

You May Also Like

15 comments

  1. menurutku Resolusi itu tergantung pada masing-masing individu sih, ada yang tipe terlalu beban jika harus dikejar target ada pula yang harus dikasih target biar semangat. anyway, kesehatan emang paling penting, gak salah kalau minum teragran. salam kenal www.sinizam.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Nizam. Terima kasih sudah mampir.

      Delete
  2. Suka sama resolusinya...

    Pilih yg membuat bahagia ya teh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren teh shanty semoga reSolusi tahun 2018 tercapai semua ya aamiin.

      Delete
  3. Resolusi tahun ini in silence mak, soalnya takut mangkrak kayak tahun-tahun sebelumnya hahaha. Tapi postingan ini benar-benar menginspirasi. Goodluck yaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank You Dzul. Emang lebih nyiksa lihat resolusi mangkrar daripada lihat proyek hambalang. Ha...ha..

      Delete
  4. Tahun ini aku belum menuliskan di blog kayaknya teh.. mungkin aku masih fokus ke anak2 nih dan ke kesehatan, mulai sering kutinggal soalnya..Keren resolusinya teh, semoga terwujud ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. First thing First Cig. Take your time and enjoy the moment with the kiddos.

      Delete
  5. Kesehatan nomor satu mbk. Baru setelah itu mari semangat untuk mewujudkan satu2 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Suga. Siapa yang bisa ngejalanin Resolusinya kalau wadahnya soak.

      Delete
  6. Kata-kata "Sekedar motivasi awal tahun yang menjadi ide tulisan bulan Januari?"
    kok makjleb bingit ya...
    Sayapun menulis resolusi yang tertunda kemaren dan Bismillah ingin mewujudkannya...


    Selamat mencapai resolusinya mba...
    Salam kenal....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Yul. Semoga resolusi bisa tetap jadi ide tulisan dan penyemangat di 11 bulan lainnya.

      Delete
  7. Untuk saat ini reaolusi buat aku penting mbak.. untuk mentarget diri sendiri.. biar lebih semangat menjalani hidup. Apalagi kalo sudah mencapai target. Ada rasa kepuasan tersendiri. Resolusi yang paling utama tetep sehat.
    Semangat ya buat resolusinya.. semoga segera tercapai.. aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya Mit. Terasa lebih semangat kalau ada targetan. Selama targetnya nggak kebanyakan dan bikin pusing sendiri.

      Delete