Stigma Jalur SNBP

 

Banyak orang yang melihat jalur SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi) sebagai jalur yang paling tidak fair. Ada saja yang berharap jalur ini dihapus dan semua anak masuk PTN melalui satu jalur yang fair & square aja seperti dahulu kala.

Konon dipercaya kalau nilai di sekolah itu bisa mudah dimanipulasi. Nilai tinggi bisa diraih dengan banyak cara tidak jujur. Ya nyontek lah, nyari bocoran soal lah, ngejilat guru lah, atau mungkin sogokan ‘kue’ dari orang tua untuk guru. 

Apalagi sekarang dengan terpampangnya fakta hasil TKA yang angka-angkanya sangat menyedihkan dan jomplang dengan nilai rapor. Jadi makin diragukan deh penilaian dari sekolah.

Tapi apa memang serapuh itu jalur SNBP ini?

Untuk ITB, jalur undangan spesial atau SNBP ini mulai dilakukan sejak tahun 2010. Di tahun 2025, ITB menyediakan kuota SNBP ini cukup besar. Dari total sekitar 5300 mahasiswa baru 2025, jalur SNBP 35% (sekitar 1900 kursi), SNBT 32% (sekitar 1700 kursi), Mandiri 18% (sekitar 1000 kursi), dan IUP 15% (sekitar 700 kursi).

Kuota yang besar ini tentu saja jadi incaran banyak anak SMA. Lumayan sekali kan kalau bisa lolos PTN impian cukup dengan mengandalkan nilai rapor dan persaingan dengan teman-teman satu sekolah saja. Tidak perlu pusing-pusing bersaing dengan ratusan ribu mahasiswa se-Indonesia Raya untuk menjawab soal-soal UTBK yang konon sulit itu. 

Persaingan di tingkat sekolah ini yang bisa jadi memunculkan isu-isu tidak sedap seputar pemberian nilai di sekolah. Saya sendiri sempat ada rasa takut juga kalau sampai anak mengalami ketidakadilan di sekolahnya. 

Berdasarkan pengalaman lolos SNBP dari beberapa orang, saya bisa melihat kalau stigma terhadap anak-anak SNBP itu tidak mendasar. 

Mengapa?

Karena di sini ada reputasi sekolah yang dipertaruhkan. Adalah sebuah kekonyolan kalau sekolah berani main-main dengan nilai anak-anak. Di level SMA, bukan lagi tempatnya membagikan nilai-nilai dewa 9,9 atau bahkan 10 di rapor setiap anak didik, seperti yang terjadi di tingkat SD atau SMP. Atau memberikan nilai tinggi pada siswa yang sebenarnya tidak terlalu pintar. 

PTN sekarang punya sistem untuk memantau nilai akademis dari para alumni di PTN tersebut. Yang kemarin sama sekolahnya dikasih nilai 9,9 itu, saat kuliah IP-nya berapa? Apakah selaras, atau jomplang. Angka-angka ini yang nantinya akan mempengaruhi reputasi sekolah dalam menentukan kuota jalur SNBP untuk sekolah tersebut. 

Disinilah pada akhirnya akan terbayar integritas dan kejujuran peserta didik. Buat yang biasa nyontek atau menggunakan jalur tidak jujur lain, apa nggak repot coba di PTN-nya. Pengalaman belajar dan memahami materi selama bertahun-tahun akan sangat terpakai selama menempuh perkuliahan. Percayalah, belajar dengan jujur dan tekun itu worth it! Dan segera tinggalkan cara-cara curang untuk sekedar mendapatkan nilai bagus. 

Jadi jangan heran kalau lihat mengapa ada sekolah yang jumlah kuota SNBP-nya bertambah atau bahkan berkurang dari tahun ke tahun. Ini yang menyebabkan sekolah jadi lebih termotivasi untuk benar-benar memberikan siswa-siswa terbaik mereka. Bukan sekedar dengan ringan membagikan nilai 95 ke atas ya. 

FYI, nilai rata-rata rapor peringkat eligible tertinggi sejumlah SMA Negeri favorit di Bandung masih di kisaran 90-92 saja kok. 

Jadi kurang-kurangin ya julid dengan jalur SNBP ini. Tidak mudah loh mempertahankan konsistensi prestasi selama 5 semester. Ada banyak mata pelajaran, ada banyak guru yang perlu dihadapi, ada waktu yang panjang untuk menjaga semangat belajar. Dan tentu saja doa dan strategi terbaik untuk menentukan pilihan terbaik. 

Saya sih bahkan berharap ada jalur SNBP untuk bisa masuk ke jenjang SMP atau SMA. Bahkan bila perlu, ada jalur Mandiri juga untuk memfasilitasi jalur-jalur ghoib penerimaan siswa baru di SMP dan SMA. Bagaimana, setuju?


Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Posting Komentar untuk "Stigma Jalur SNBP"