Salah Paham Normalisasi

 

salah paham normalisasi

Di Sosial Media saya lihat ringan banget orang mengeluarkan pendapatnya dengan kata nor.ma.li.sa.si. Serunya, utas tentang hal ini seringnya memancing perdebatan yang seru. Biasanya sampai tuh di ribuan like dan ratusan komen. Sepertinya ini bisa jadi cara cepat meningkatkan engagement nih. 

Ada ajakan normalisasi nikah di KUA saja, normalisasi nikah 19 tahun, normalisasi pakai baju itu-itu saja, normalisasi ibu rumah tangga makan gaji buta suaminya, normalisasi tidak ada seragam keluarga di nikahan, atau ajakan stop normalisasi minta oleh-oleh ke orang yang liburan, stop normalisasi outfit seragaman, sampai ke normalisasi untuk tidak mengajak normalisasi melulu. 

Dan selalu komennya ramai dengan orang perang pendapat. Ya… kenapa sih sampai segitunya.

Coba deh lihat dulu arti kata normalisasi menurut KBBI:

nor.ma.li.sa.si

tindakan menjadikan normal (biasa) kembali; tindakan mengembalikan pada keadaan, hubungan, dan sebagainya yang biasa atau yang normal.

Dalam definisi itu tidak ada kata yang menunjukkan bahwa ajakan normalisasi itu sebagai sesuatu yang satu-satunya benar dan pendapat lain salah. Bukan itu!!! Melainkan sekedar menganggap hal tersebut sebagai biasa. Biasa aja!!! Nggak usah ngegas juga.

Tentunya ini dalam konteks pendapat yang masih sejalan dengan aturan & norma yang berlaku umum ya. Bukan berarti juga hal-hal yang berhubungan dengan kejahatan bisa dinormalisasi loh. 

Ketika ada yang bilang normalisasi nikah di KUA misalnya. Itu tidak perlu diartikan bahwa yang tidak menikah di KUA sebagai pemborosan atau kegiatan yang salah. 

Pahami saja bahwa itu maksudnya kita jangan julid sama mereka yang maunya nikah di KUA. Terima saja hal itu sebagai sesuatu yang biasa dan kita menyikapinya sama saja dengan orang yang menikah mewah di hotel. 

Tanpa perlu menuduh mereka yang menikah di KUA itu pelit atau kere. Sebaliknya juga tidak ngatain mereka yang menikah di hotel sebagai pemborosan yang tak berguna. 

Sudah waktunya kita belajar menghormati perbedaan. Karena setiap keputusan yang diambil tentunya ada dasar pertimbangan tertentu yang tidak bisa disamakan dengan orang lain. Ada yang memilih menghabiskan dana lebih untuk dinikmati berdua bersama pasangan saja, ada yang merasa lebih perlu untuk bersilaturahmi dengan banyak keluarga dan teman, atau memang ada yang beneran keuangannya terbatas. 

Kalau semua orang cenderung dominan ke satu pemikiran saja, malah aneh deh kayanya. Kurang ada variasinya gitu hidup ini.

Semua kawinan template di gedung dengan gaya yang sama. Bosen banget nggak sih. Lalu tiba-tiba ada yang kawinan sederhana di KUA atau memilih nikah tamasya di luar negeri, bisa terasa lebih berkesan kan. 

Satu juga yang perlu diingat bahwa pendapat manusia itu sangat bisa berubah seiring waktu loh. Mungkin sekarang ada yang masih kekeuh bilang normalisasi menikah di usia 19 tahun. Bukan tidak mungkin 5 atau 10 tahun lagi, pendapat itu akan berubah atas kesadarannya sendiri. 

Atau sekarang bilang normalisasi pakai baju itu-itu saja karena konteksnya ingin tidak memberatkan bumi dengan beban sampah. Padahal sebenarnya kondisinya lagi tidak punya uang untuk beli banyak baju juga. Lalu dalam beberapa tahun ke depan punya rezeki banyak untuk bisa pakai baju, dengan mudah pendapatnya berubah. Nggak perlu tuh repot-repot didebat dari awal. 

Jadi nikmati saja perbedaan-perbedaan dalam setiap ajakan normalisasi atau stop normalisasi. Kamu tidak perlu sependapat dengan mereka kalau memang mau berbeda. Kamu juga boleh senang jika ada yang menyuarakan suara minoritasmu. Tidak perlu takut menyampaikan apapun yang ingin kamu sampaikan. Seaneh apapun itu. Tinggal nikmati saja perbedaan pendapat dengan orang lain sebagai bentuk keberagaman. Sekalian menambah wawasaan kita. Ternyata ada loh orang yang pemikirannya seperti itu. 

Pernah mendapat ajakan normalisasi apa yang paling membuatmu terkesan atau malah naik darah?


Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Posting Komentar untuk "Salah Paham Normalisasi"