Beberes Awal Tahun
Konmari alias bebersih rumah besar-besaran biasanya rutin saya lakukan menjelang tahun baru. Hanya saja menjelang akhir tahun ini, ada-ada saja kegiatan yang membuat saya menunda-nunda untuk melakukannya.
Padahal sebenarnya banyak banget tumpukan barang yang perlu disortir. Ya pakaian di lemari lah, alat memasak rompel di dapur, bahan-bahan makanan di rak makanan, tumpukan buku dan kertas di rak buku, sampai ke gudang yang jadi tempat penampungan favorit.
Bisa jadi efek banyak barang ini, bikin saya jadi malas sendiri. Bingung mulainya mau dari mana juga. Lelah duluan rasanya melihat tumpukan barang di mana-mana kaya gitu.
Sampai suatu saat ketika jalan pagi di ITB, saya melihat setumpuk sampah di dekat jurusan FSRD ITB. Sebagai orang yang rutin jalan pagi saat weekend di Ganesha, FSRD itu beneran jurusan paling banyak pernak-perniknya dibandingkan jurusan lain. Jujur, sumpek sih lihatnya.
Tapi di awal tahun ini, sepertinya pihak jurusan ingin bebersih. Banyak sekali barang yang dibuangin! Segala macam barang, dari kain, kertas, kayu, sampai segala koper bertumpuk di selasar. Sudah nggak nampung lagi untuk dibuang ke dalam bak sampah yang tersedia di setiap jurusan. Waduh, ini sepertinya satu mobil sendiri deh.
Sesampai di rumah, saya pun jadi mendapatkan semangat & energi untuk mulai bebersih. Sebenarnya pusing sih melihat tumpukan barang yang sama sekali tidak ‘spark joy’ kalau pakai istilahnya Tante Marie Kondo.
Awalnya barang-barang ini punya tempat terhormat di lemari atau rak. Seiring waktu, barang-barang ini mulai lusuh atau membosankan. Lalu mulai ada penggantinya. Satu, dua, eh lama-lama makin banyak saja. Akhirnya lemari dan rak pun jadi kepenuhan. Sampai susah deh kalau mau nyari barang tertentu.
Akhirnya mulai beberapa barang dipisahkan. Mulai digeser ke gudang. Lama-lama, gudangnya penuh juga.
Mau dibuang, ada kekhawatiran siapa tahu suatu saat nanti butuh. Faktanya, barang-barang itu tidak pernah dilirik lagi selama berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun. Penuh debu dan menjijikkan.
Dipikir-pikir, membuang barang itu memang perlu kesiapan mental. Ini tu lebih ke terapi mental daripada sekedar ritual rutin membersihkan rumah. Bagaimana kita bisa mengikhlaskan barang-barang berdebu ini demi ruang yang lebih bersih dan lapang.
Terkadang proses membuang ini kalau tidak cepat, sangat mungkin barang yang sudah siap untuk dibuang malah kembali disimpan. Saya pernah punya setumpuk pakaian yang sudah siap untuk didonasikan. Saya letakkan dalam tas terpisah di dekat pintu. Rencananya akan saya berikan ke tukang loak. Kebetulan tukang loaknya lama tidak muncul-muncul. Dari hari ke hari, ada saja rasanya barang yang kepikiran untuk dikurangi dari tas yang siap dibuang itu. Padahal bener deh, tetap saja nggak benar-benar akan dipakai juga.
Kali ini hal yang sama hampir kejadian lagi. Hanya dalam 2 hari menunda membuang, saya kembali memasukkan tas yang awalnya ingin dibuang. Untungnya, di hari ke-3 akhirnya tukang loak lewat dan seperti menarik cepat plester dari kulit, saya pun cepat-cepat memberikannya kepada tukang loak tanpa banyak bicara.
Lepaskan… segera… ikhlaskan. Semoga bisa dimanfaatkan oleh pihak lain. Daripada hanya menjadi tempat sarang debu dan hancur di rumah ini.
Dan benar saja, setelah barang-barang tersebut tidak ada lagi, ruang terasa lebih lapang dan enak lihatnya. Rasanya seperti beban yang terangkat dan siap untuk menerima hal-hal indah yang akan datang.
Kamu sendiri sudah merelakan barang apa saja awal tahun ini?

Posting Komentar untuk "Beberes Awal Tahun"
Posting Komentar