Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Puya ke Puya Faisal Oddang

 

puya ke puya faisal oddang

Saya senang sekali setelah dua hari yang lalu menemukan novel Puya ke Puya-nya Faisal Odang di Gramedia Digital. Sebenarnya ini buku terbitan tahun 2015. Sebuah novel yang memenangkan penghargaan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. 

Terus terang saya agak kesal mencari novel bagus sejak awal tahun ini untuk dibaca. Saya sempat skimming beberapa novel, dan tidak sanggup melanjutkannya karena merasa bosan. Sulit sekali rasanya menemukan novel yang sesuai dengan selera saya. 

Saya sedang bosan membaca novel yang isinya terlalu banyak hal-hal rumit, dosa-dosa yang menjijikkan, atau hal-hal yang membosankan. Juga jelas bukan cinta-cintaan yang bikin manusia jadi bodoh. Ribet amat emang seleranya. 

Mengangkat Setting Kematian dan Rambu Solo

Puya ke Puya benar-benar novel yang unik dan berbeda. Saya suka karena mengangkat tema kematian. Kematian selalu menjadi misteri kehidupan yang menarik. Ketika penulis mengangkat sudut pandang dari seseorang yang sudah mati, cerita menjadi seru.

Jadi Puya ke Puya ini mengangkat setting sebuah kampung di Tana Toraja. Tentang seorang Tetua Adat bernama Rante Ralla yang meninggal. Di Tana Toraja, peristiwa wafatnya seseorang, apalagi dengan status sosial yang tinggi tidaklah pernah sederhana. Keluarganya perlu mengadakan upacara pemakaman yang dikenal dengan nama Rambu Solo. Sebuah upacara pemakaman yang melibatkan penyembelihan puluhan kerbau, ratusan babi dan memakan biaya sampai milyaran rupiah. 

Satu-satunya anak Rante Ralla yang bernama Allu Rante memutuskan untuk memakamkan ayahnya di kota Makasar dengan cara Kristen biasa saja. Standar pemikiran anak mahasiswa yang pengennya serba sederhana. Menurutnya tidak perlu lah memaksakan diri hingga berhutang untuk sebuah pemakaman.

Apa boleh begitu saja tidak melaksanakan adat?

Tentu saja tidak. Inilah yang menjadi bahan cerita bergulir. 

Peralihan Sudut Pandang yang Tidak Biasa

Yang membuat menarik, Faisal Oddang mengangkat beberapa sudut pandang dalam bercerita. Awalnya, hal ini terasa sangat membingungkan. Terutama bagi saya yang suka lambat dalam mencerna sesuatu. 

"Ini tuh siapa sih yang ngomong? Maksudnya 'aku' di sini memangnya siapa?" 

Baru setelah beberapa sudut pandang berlalu, saya mengerti cara penulis mengganti sudut pandangnya. 

Pada kalimat terakhir ada nama tokoh dan tanda bintang * diikuti oleh kurung tutup ). Di kalimat selanjutnya dibuka dengan tanda bintang dan kurung tutup sebagai pertanda bahwa sudut pandang beralih ke si tokoh tersebut.

Dalam novel setebal 211 halaman ini, kita bisa mengikuti sudut pandang Rante Ralla yang galau dengan keputusan anaknya yang sempat memutuskan untuk tidak mengadakan upacara Rambu Solo untuk dirinya. Ia khawatir tidak bisa menuju Puya untuk bertemu leluhur dan anaknya yang telah meninggal di masa kecil. 

Sudut pandang lain yang diceritakan adalah dari Allu Rante si anak Rante Ralla. Kita bisa melihat bagaimana perkembangan karakter Allu yang awalnya idealis, akhirnya menyerah dengan keadaan karena tergoda untuk menikah dengan anak kepala desa. 

Kemudian ada juga sudut pandang si istri Tina Ralla yang mengetahui bagaimana suaminya meninggal demi mempertahankan tanah leluhur yang ingin dibeli oleh perusahaan pertambangan, tapi tidak bisa berkata apa-apa. 

Dan terakhir yang menurut saya sangat menarik adalah sudut pandang Maria Ralla, anak Rante Ralla yang telah meninggal sejak berusia 5 bulan. Dalam kepercayaan Toraja, anak-anak yang meninggal sebelum tumbuh gigi, mereka akan disimpan di rumah pohon untuk diasuh oleh ibu pohon hingga berusia 17 tahun. Saat itu mereka dianggap cukup kuat untuk bisa berangkat ke Puya. Maria Ralla sangat berharap bisa berharap bertemu dengan Ambenya (panggilan untuk ayah) di Puya. 

Suka banget deh cara Faisal Odang meramu konflik keluarga Toraja dengan masalah Rambu Solo dan  tuntutan dari pihak pertambangan yang ingin mengambil tanah warisan leluhur. Jadi kelihatan lah betapa lemahnya manusia ketika uang sudah bicara. Juga cinta. 

Saking serunya, novel ini bisa saya tamatkan dalam 5 jam saja. Dilanjutkan dengan nonton YouTube uparaca adat Rambu Solo yang disebut sebagai pemakaman termahal di dunia. Kenapa sih perlu mengadakan pemakaman super mahal seperti itu? Sedikit yang saya dapatkan adalah bahwa karena orang Toraja itu hidup untuk mempersiapkan kematiannya. Lalu hartanya itulah yang akan mengantarkannya mati dengan paripurna. Memang tidak perlu repot-repot meninggalkan warisan kepada yang hidup. Semakin banyak harta yang dikorbankan untuk kematian, akan semakin mulus perjalanan ke alam Puya. Dan keluarga yang ditinggalkan akan mendapatkan kebanggaan.

Benar-benar sebuah kekayaan budaya Indonesia.... Yang mungkin bisa jadi akan meninggalkan banyak masalah bagi keluarga yang ditinggalkan. 

Tapi yang pasti, setelah membaca novel ini, saya jadi lebih banyak berdoa untuk keluarga yang telah berpulang. Saya merasa mereka seperti kembali hadir sebagaimana Rante Ralla dan Maria Ralla. Alfatihah buat mereka yang telah mendahului kita. Semoga amal ibadah mereka diterima di sisi-Nya. 

(700 kata)

Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

2 komentar untuk "Review Puya ke Puya Faisal Oddang"