Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa Orang Mengeluh Tidak Suka Mendengar Solusi?

 

mengeluh tanpa solusi

Apakah kamu termasuk orang yang suka mengeluh? Atau termasuk orang yang nggak tahan mendengar orang mengeluh?

Kadang memang urusan mengeluh itu nggak bisa dihindari ya. Ada saatnya kita begitu lelah dan dunia terasa begitu sempit. Rasanya kok begitu banyak keterbatasan yang tercipta. Mau begini nggak bisa, mau begitu mentok.

Dalam kondisi tersebut yang paling mudah adalah mengeluarkan perasaan itu dari diri kita. Ada yang cerita ke teman atau pasangan, ada yang jadi mudah naik darah sama anak-anak, atau mungkin ada yang membagikan di sosial media demi mendapatkan sedikit simpati dan pelukan virtual.

Katanya mengeluarkan emosi yang dirasakan oleh jiwa itu menyehatkan. Ada yang kuat tidak mengeluh, tapi dengan cara dipendam sebegitu rupa. Konon itu bisa sangat berbahaya bagi kesehatan kita. Baik fisik maupun jiwa. 

Let it go….let it go…. Kalau kata Elsa.

Keluarkan…. Sampaikanlah… Ceritakanlah….

Mengeluh dengan Cerdas

mengeluh dengan cerdas

Sayangnya, tidak semua orang punya kemampuan mengeluh dengan cerdas. Mengeluh yang cerdas itu maksudnya adalah sadar dengan tujuan yang ia harapkan dari mengeluh itu.

Apakah memang untuk mencari solusi agar bisa berhenti mengeluh? 

Atau mengharapkan pembenaran mengenai apa yang ia keluhkan? 

Atau bahkan mungkin berharap dipandang sebagai orang yang sudah berhasil menjalani hidup seberat yang ia keluhkan?

Repotnya lagi kalau orang yang tidak punya kemampuan mengeluh dengan cerdas ini, ketemu dengan orang yang tidak cerdas dalam menerima keluhan. Perlu keahlian khusus loh mampu menjadi pendengar keluhan orang yang baik itu. 

Hari gini ya, banyak orang sudah cukup pusing dengan hidupnya sendiri, yang mungkin jauh lebih berat dari kebanyakan keluhan sejuta umat. Lalu begitu melihat keluhan remeh temeh orang lain, tentu saja mereka bisa lebih mudah membantu memberikan solusi. Seperti orang yang ilmunya sudah sampai Z, ngasih tahu orang yang masih kebingungan di B.

Seperti ketika saya mengeluh betapa susahnya mempersiapkan masakan setiap hari. Betapa saya merasa itu beban yang luar biasa berat. Nggak jelas juga saya ini mengeluh apa karena memang niat ingin berubah jadi bisa lebih rajin memasak, atau memang mencari pembenaran bahwa memang nggak perlu memasak. 

Salah seorang teman yang sangat pintar memasak akan dengan ringan menyarankan saya A-Z tips untuk menjadikan memasak jadi kegiatan yang menyenangkan. Seperti yang dia lakukan. Buatnya memasak itu bukan masalah besar yang perlu dibesar-besarkan. 

Mestinya kan problem solved ya. Saya mendapatkan solusi dari masalah yang saya keluhkan.

Realitanya tidak pernah begitu. Yang ada adalah saya tersinggung. Harga diri saya terluka karena dianggap terlalu bodoh untuk menyelesaikan masalah remeh temeh yang padahal kesannya buat saya itu beneran susah. Munculnya sifat defensif. Penyangkalan kalau saya memang tidak akan mungkin bisa mengikuti sarannya. 

Ini kan konyol sekali. 

Kalau saya pikir-pikir, kenapa sikap seperti ini muncul? Kenapa orang segitunya tidak suka mendengarkan solusi dari masalah yang ia keluhkan?

Bukankah itu menunjukkan perhatian dari orang lain untuk membantunya? Kok malah ngambek dan tersinggung saat orang berusaha memperlihatkan bahwa bisa ada kondisi yang berbeda kalau kamu mau melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Dunia tidak seburam itu. Mungkin kamu memang ada salahnya dan perlu putar balik memilih jalan yang berbeda.

Mungkin Memang Bukan untuk Mencari Solusi

Dalam posisi lelah dan rapuh, orang ternyata memang bukan mencari solusi. Mereka hanya ingin mencari pembenaran dengan apa yang menjadi pilihannya. Walau kesalahan yang dibuat bisa dilihat orang lain dengan terang benderang sebagai sebuah kebodohan yang tidak ada gunanya. 

Setiap orang berada di jalannya sendiri. Sulit untuk memahami jalan yang dipilih orang lain.

Jadi menurut saya, amannya tidak perlu mudah memberi solusi kepada orang yang mengeluh. Memeluknya erat juga, saya tidak yakin sebagai sebuah solusi. Karena itu seperti membiarkannya larut dalam kebodohan dan kesalahan yang sama sebagai pembenaran terhadap pilihannya. 

Seperti kalau saya mengeluh tidak bisa masak. Lantas orang-orang di sekitar saya membenarkan pilihan saya untuk santai saja, alih-alih mulai belajar memasak yang sederhana. Tentunya saya tidak akan pernah menemukan solusi dari masalah saya. Saya akan terus berkutat dalam masalah tidak bisa memasak seumur-umur. 

Jadi tidak bisa juga kita sekedar puk puk puk orang yang mengeluh sesuai permintaan mereka. Orang lain yang lebih berjarak, biasanya akan mudah melihat solusi dari sebuah masalah. Sebenarnya itu mestinya yang menjadi tujuan dari meluapkan keluhan. 

Agar berhenti mengeluhkan hal yang sama! 

Agar mencoba solusi yang bisa dilihat orang lain yang mungkin tidak kelihatan. Bukan malah marah dengan solusi yang coba ditawarkan orang lain dengan alasan sekedar ingin mengeluh saja dan bukan mencari solusi. 

Mengeluhlah di Kertas

Menulis di kertas

Saran saya untuk orang yang tidak suka dengan mendengar masukan orang lain dan hanya mengharapkan dibenarkan keluhannya oleh orang lain adalah mencoba untuk mulai menulis di atas kertas saja.

Kertas tidak akan memberikan solusi apa-apa sebagai jawaban terhadap keluhanmu. Kertas hanya akan menjadi wadah yang baik untuk membantumu melihat persoalan dengan lebih jernih. Mereka tidak bermulut, tapi bertelinga. Akan lebih nyaman untukmu berkeluh kesah di atas kertas.

Semoga kamu menemukan solusi dari semua keluhan hidupmu tanpa membuat masalah baru dengan mengeluh kepada orang lain.  

(800 kata)


Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Posting Komentar untuk "Mengapa Orang Mengeluh Tidak Suka Mendengar Solusi?"