Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mungkinkah Menulis Dilakukan sebagai Pekerjaan Sekaligus Hobi yang Menyenangkan?

menulis sebagai pekerjaan vs hobi

Pekerjaan yang menuntut profesionalitas dan hobi untuk relaksasi menurut saya adalah dua hal yang berbeda dan tidak bisa dicampuradukkan. Adalah sangat umum ketika melihat seseorang punya hobi tertentu, orang-orang di sekitarnya akan menyarankan untuk mencoba mencari uang dari hobi tersebut.

"Coba dijualin deh."

"Kamu bisa menawarkannya di toko online nih."

Padahal ya, begitu hobi tersebut berubah menjadi pekerjaan, di sana akan ada tuntutan yang lebih besar. Seperti deadline, kualitas barang/jasa yang harus dijaga, strategi pemasaran, persaingan dagang, bahkan sampai ke aspek legal segala. Jujur ya, ini tidak akan selalu fun.

Begitu juga dengan hobi menulis. 

Saya sendiri suka menulis. Buat orang-orang yang mengenal saya, mereka umumnya eneg melihat saya yang selalu terlihat menulis. Tapi saya melakukan kegiatan menulis hanya sebagai hobi saja. Sekedar mengeluarkan kata-kata random dari kepala. Bukan sesuatu yang selalu bisa untuk dijual.

Begitu saya ingin menjadikannya sebagai sebuah kegiatan professional seperti mencari uang melalui blog misalnya, saya perlu melakukannya dengan lebih serius dan berstrategi. Saya perlu menulis dengan outline yang baik, perlu tahu apa yang dibutuhkan orang, perlu menepati deadline yang sudah ditetapkan pemberi tugas, perlu lebih banyak membaca, dan banyak lagi. Tidak bisa lagi menulis santai sekedar mengikuti kata hati.

Kalau saya baca mengenai penulis-penulis profesional yang bukunya langganan bestseller, proses menghasilkan sebuah buku itu tidak lah semulus yang dibayangkan. Mereka perlu puluhan kali menulis ulang naskah sesuai hasil diskusi dengan editor. 

Sebuah proses yang sangat membosankan kalau katanya JK. Rowling. 

Sebenarnya tidak semua orang perlu jadi penulis. Apalagi kalau kita menyempitkan arti penulis hanya sebatas menjadi penulis buku yang bukunya sekedar teronggok di toko buku tanpa ada yang mau membaca apalagi membelinya. Sedih nggak sih.

Menjadi seorang penulis di masa sekarang ini tidaklah sesempit itu. Ada banyak sekali profesi yang berhubungan dengan dunia kepenulisan. Seperti menjadi konten kreator, copy writer (menulis tulisan untuk menjual produk/jasa tertentu), penulis di aplikasi, ghost writer, penulis skenario, penerjemah, dan masih  panjang lagi daftarnya. Bahkan menulis di blog sendiri saja bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit. 

Apakah tidak mungkin kerja sebagai penulis profesional sekaligus menjadikannya tetap sebagai hobi yang menyenangkan?

Bisa saja sih menurut saya. Asal bisa mengatur strateginya. Apa-apa kalau diatur pasti bisa lah. Misalnya dengan:

#1 Don't be Deadliners

dont be deadliners
Deadline itu beneran bikin stress yang padahal sebenarnya bisa dihindari.

Tidak membiasakan menulis mendekati tenggat waktu. Ini tuh penyakit sejuta umat ya. Termasuk saya. Rasanya sulit sekali menemukan ide yang tepat jika waktunya masih panjang. Saat waktunya sudah mepet, tiba-tiba baru ide brilian itu muncul. 

Sayangnya, hal tersebut membuat rasa sangat tidak nyaman dan kelelahan sesudahnya. Belum lagi hasil yang tidak optimal. Padahal kan kalau dikerjakan dengan lebih terencana, hasilnya pasti akan lebih baik.

#2 Menulis Terjadwal

Penulis profesional itu punya jadwal menulis yang tetap. Bisa sampai 5-8 jam per hari. Sudah kaya kantor beneran ya. 

Tapi nggak berarti semua penulis profesional harus meluangkan waktu sebanyak itu juga sih. Ada juga yang tetap bisa menghasilkan novel bestseller hanya dengan meluangkan waktu 1 jam menulis di pagi hari sebelum ke kantor, dan 1 jam di malam hari sepulang kantor. Dialah Bang Ahmad Fuadi saat menulis novel bestseller Negeri 5 Menara. 

Yang pasti jika memang ingin profesional, kita memang perlu membuat prioritas dan rela menyediakan waktu lebih untuk melakukan kegiatan tersebut secara rutin. Bukan meletakkan kegiatan tersebut sekedar kalau sempat saja. Dengan banyaknya distraksi seperti sekarang, pastinya sulit untuk bisa disiplin.

Jadwal menulis rutin
Banyak aplikasi untuk membantu membuat jadwal menulis yang terencana.

#3 Memiliki Tabungan Tulisan. 

Saya mendapat saran ini dari 2 orang. Yang pertama adalah Mbak Dian Kristiani, penulis ratusan buku anak bestseller. Penulis yang berdomisili di Sidoarjo ini mengaku bukan orang yang bisa bekerja dibawah tenggat waktu. Saat awal karirnya, ia punya 2 anak laki-laki yang masih kecil. Mereka juga hidup tanpa pembantu. 

Strategi Mbak Dian adalah menyediakan waktu sekitar 1 jam di malam hari saat anak-anaknya sudah tidur untuk menabung cerita anak. Cerita anak itu hanya sekitar 300-an kata saja. Ini cukup realistis untuk kondisi Mbak Dian saat itu. Dengan banyaknya tabungan tulisan, ia jadi punya banyak stok saat butuh tulisan untuk diterbitkan. 

Kedua adalah Mbak Ceceromed Kitchen yang punya channel Youtube memasak dengan hampir 1,4 juta subscriber. Sekitar tahun lalu, si Mbak sempat berbagi bagaimana caranya ia bisa menayangkan video memasak setiap hari. Dan ini masih ia lakukan sampai sekarang. 

Lah, kita disuruh rutin buat reels aja ribet, ini dia buat video masak 3-5 menitan setiap hari! Kok sempat? Emangnya nggak ada hari-hari lagi ada urusan lain atau sakit misalnya? Ternyata rahasianya juga di memiliki tabungan video. 

Buat si Mbak, buat video 3-5 menitan itu tidak terlalu sulit karena dia sudah terbiasa melakukannya. Ia bisa membuat beberapa video dalam satu hari. Lalu semua video disiapkan dalam posisi siap untuk dipublish kapan saja dibutuhkan. Stok videonya bisa sampai puluhan. Luar biasa ya!

Belajar dari pengalaman orang-orang ini, membuat saya percaya bahwa menulis sebenarnya bisa dilakukan sebagai pekerjaan sekaligus hobi yang menyenangkan. Asal kita tahu strateginya. Yuk ah...kita buktikan sama-sama. 

(800 kata)


Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Posting Komentar untuk "Mungkinkah Menulis Dilakukan sebagai Pekerjaan Sekaligus Hobi yang Menyenangkan? "