Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masih Perlukah Membuat Resolusi Tahun Baru?

 

resolusi tahun baru

Sebagai seorang Opener yang suka dengan hal baru, 1 Januari selalu membuat saya bersemangat. Bikin rencana ini, rencana itu dengan detail. Penuh rasa optimis kalau saya akan bisa mencapai semuanya pada 31 Desember.

Lalu… semuanya bubar hanya di 2 minggu pertama. Hiks… siapa yang sama kaya saya?

Percaya nggak, ternyata menurut sebuah jajak pendapat di Amerika tahun 2007, ⅓ niat tahun baru orang Amerika berhenti di akhir Januari. Bahkan ⅘ gagal total mencapai resolusi mereka. Informasi ini saya dapatkan di bukunya Katy Milkman, How to Change (2021).

Tu kan…banyak orang gagal. Apa nggak usah repot-repot bikin resolusi ya? Bikin perasaan diri makin down aja karena merasa jadi orang gagal melulu.

"Jika kamu tidak ikut bermain, kamu tidak bisa mencetak gol." - David Hasselhoff

Kalau saya, selain karena memang planner sejati yang hobi bener bikin resolusi-resolusian, sepakat sama pemeran Baywatch ini.

Andai nggak buat perencanaan dan niat dulu, gimana mau melangkah? Walau ⅘ orang gagal memenuhi target tahun mereka, tapi kan ⅕ nya berhasil loh.

Bayangkan bahwa ada 20% orang yang berhasil memenuhi resolusinya setiap tahun. Bukankah itu angka yang cukup besar. Lebih besar daripada kemungkinan kita dapat undian mobil dari mengisi kupon pusat perbelanjaan.

Tapi kok ya gagal melulu sih? Masa resolusi 10 tahun terakhir masih sama saja. Ini sih pasti ada yang salah.

Di sini saya melihat pentingnya pencatatan dan evaluasi. Tujuannya agar kita bisa melihat kesalahan dan mencoba strategi baru. Bukan Melakukan - Gagal - Lupa - Melakukan, dan terus aja begitu berulang kali.

Mencatat itu berat. Apalagi setelah gagal. Tambah parah kalau sudah keburu lupa. Wah bubar deh semuanya. Itu sebabnya untuk tahun 2023 ini saya mencoba melakukan model pencatatan yang berbeda. Bukan lagi mencatat per minggu atau per bulan. Tapi dengan langsung membuat rekapannya selama 1 tahun dalam 1 halaman. 

Saya belajar ini dari cara saya mencatat kebiasaan menulis blog pada tahun 2016. Pada masa itu, saya membuat catatan post 1 tahun penuh. Banyak bolong-bolongnya memang. Tapi jadi kelihatan kalau catatannya seperti ini. 

catatan blogging tahunan
Catatan blog post saya sepanjang tahun 2016

Jadi untuk tahun 2023 ini, di planner baru yang wangi, sejumlah kebiasaan yang ingin dilatih saya buatkan dalam bentuk catatan 1 tahun sekalian. Biar langsung kelihatan peta perjalanan selama 1 tahun ini.

Semoga resolusi tahun ini termasuk dalam 20% resolusi tahun baru yang berhasil. Amin…

(380 kata)


Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

2 komentar untuk "Masih Perlukah Membuat Resolusi Tahun Baru?"

  1. Aku dulu nggak suka bikin resolusi karena merasa selalu gagal. Setelah ikut KLIP dan menulis rutin aku mulai menulis resolusi (biasanya karena ga tau mau nulis apa). Tapi karena ditulis di blog, aku berusaha bikin resolusi yang realistis dan ga banyak-banyak, sisanya aku simpan di dalam hati. Nah kayaknya karena ada perasaan udah ditulis di blog malu kalau nggak tercapai, sejauh ini lumayan sih melihat kembali pas akhir tahun kalau hasilnya nggak meleset2 amat, walau sebenernya bisa lebih baik.

    Satu resolusi yang nggak berani aku cantumin: diet hahaha, karena ini udah entah berapa kali gagal mulu.

    Mungkin kalau emang punya resolusi setahun, bikin milestone buat evaluasi per sekian bulan, dan adjust rencana biar ada yang bisa diselesaikan mbak.

    BalasHapus