Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Cara Saya Mengukur Kinerja Blog?

 

mengukur kinerja blog

Sejak pertama kali membuat post di blog ini sekitar 5 tahun yang lalu, saya hanya menulis tidak lebih dari 170-an post saja. Sangat tidak produktif! Padahal kan saya harus bayar domain ceritashanty.com Rp 180 ribu per tahun. Worth it nggak sih?

Meninjau Kembali Tujuan Punya Blog

Sebenarnya tujuan saya punya blog itu tidak muluk-muluk ingin mendulang segenggam berlian. Sekedar karena merasa butuh tempat untuk menyimpan tulisan yang mudah dicari saja. Karena kalau saya menulis di sosial media seperti FB dan IG, agak repot jika ingin mencari tulisan tersebut. 

Saya juga suka jika tulisan saya lebih mudah untuk dicari oleh banyak orang. Menurut saya blog adalah tempat yang lebih tepat untuk itu.

Sebenarnya bisa saja sih pakai blog gratisan dengan wordpress.com atau blogspot.com. Sayangnya wordpress.com yang gratisan itu kapasitasnya terbatas di 1 GB. Ketika perlu menambah kapasitas, wah… harganya menjadi tidak terjangkau karena harus beli hosting tahunan segala selain domain. 

Jatuhnya bisa rata-rata Rp 500 ribu per tahun. Untuk sebuah hobi, ehm…. Rasanya masih berat untuk keluar uang segini. #mamairit mode on. Apalagi kalau nulisnya masih belum bisa rutin.

Bisa jadi karena tujuan ngeblog yang memang masih ala-ala ini, yang bikin semangat ngeblog saya nggak menentu. 

Mengukur Kinerja Blog Tahunan

Sebenarnya ada banyak macam cara orang mengukur sejauh mana kinerja sebuah blog. Mungkin ada yang menilainya dari besar penghasilan yang didapat dari blog (bisa dari adsense, postingan berbayar, menang lomba, program afiliasi, dan lainnya). 

Ada juga yang dari jumlah post yang bisa dipublikasikan. Atau bisa jadi dari statistik sejauh mana post yang ditulis bisa menjangkau pembaca. 

Atau mungkin ada yang mudah bahagia jika melihat tampilan blognya sekedar cantik dan rapi saja. 

Yang pasti kalau saya tidak terlalu suka mengukur kinerja blog dari angka DA/PA. Karena menurut saya ini adalah angka yang terlalu mudah untuk direkayasa nilainya. Seringkali tidak menunjukkan apa-apa. Kecuali untuk pihak-pihak tertentu yang memang masih mensyaratkan hal tersebut untuk mendapatkan pekerjaan. 

#1 Jumlah Post

Buat saya yang menjadikan blog sekedar sebagai tempat berlatih menulis, jumlah post menjadi salah satu indikator kinerja blog yang paling penting.

Tahun 2022 jumlah post saya parah sekali. Hanya 19 post saja! Sebuah penurunan dibandingkan jumlah post tahun 2021 yang mencapai 40 post. Ini juga memang bukan angka yang bagus sih ya. Hiks.

Targetnya tahun ini saya bisa lebih rutin menulis di blog setiap minggu. Tidak boleh ada lagi minggu yang bolong. Idealnya tentu saja saya bisa rutin ngeblog setiap hari dan bisa tembus jumlah blog post dalam 1 tahun 3 digit. Amin. 

#2 Data Google Analytic (GA)

Google Analytic itu memang tampilannya rumit. Tapi sebenarnya ada satu dua data yang saya suka untuk mengetahui seberapa banyak orang mampir ke blog saya. 

Memang sih, kita bisa mengandalkan statistik dari dasbboard blog. Tapi saya merasa lebih afdol untuk mengecek langsung di GA.

Oh iya, salah satu yang membuat data statistik blog berbeda jauh dari GA adalah karena kita tidak mencentang tanda untuk tidak menghitung kunjungan sendiri ke blog. Kita perlu data murni kunjungan orang lain ke blog kita. Itulah yang kita dapatkan dari GA. 

data statistik blog di blogspot
Pastikan 'Don't track my views for this blog' tercentang jika ingin data statistik blog yang lebih akurat.

Bagian favorit saya di GA adalah melihat jumlah user, page views, waktu rata-rata berkunjung, dan bounce rate. Semua data ini bisa dilihat di bagian Audience Overview.

Yang GA menarik, adalah karena kita bisa melihat data dalam rentang waktu tertentu dan membandingkannya. Kita jadi bisa lihat data bulan ini dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Dengan 19 post di tahun kemarin, kelihatan sekali jebloknya kinerja blog saya dibandingkan tahun 2021. Hampir semuanya mengalami penurunan. Jumlah usernya hanya 16.400 dalam setahun, dan hampir semua new user. Artinya saya kurang bisa membuat orang-orang mau berkunjung kembali ke blog saya. Hanya orang-orang baru yang nyasar aja yang kemari.

Pageviewsnya pun mengalami penurunan dengan hanya 23.400 saja dalam setahun.

Sementara waktu kunjungan rata-rata per sesi hanya 45 detik saja. Sehingga bounce ratenya cukup tinggi di angka 86%. Nanti saja lah ya saya cerita khusus soal bounce rate ini. Intinya ini buruk.

Data Google Analytic
Membanding data GA tahun 2021 vs 2022 ceritashanty.com

#3 Data Google Search Console (GSC)

Sepupunya GA itu ada yang namanya Google Search Console atau GSC. Saya suka karena GSC dapat memberikan data seberapa sering artikel di blog kita tampil dalam pencarian orang-orang dan seberapa banyak yang akhirnya mau beneran nge-klik.

Sepanjang tahun 2021, google mau menayangkan 472.000 kali post di blog saya. Entah sih munculnya di halaman berapa pencarian orang-orang. Yang pasti dari ratusan ribu impression tersebut, yang beneran jadi nge-klik blog ini hanya 12.400 kali saja (2.6%). 

Data Goolge Search Console 2022
Membandingkan antara jumlah impression dan klik tahun 2022.

Selain itu saya juga bisa mendapatkan data kata kunci (query) apa yang membuat orang mau mampir ke blog saya. Dari data ini, saya bisa tahu apa sebenarnya yang membuat orang tertarik dan bagaimana Google mengenal saya sehingga mau merekomendasikan post tersebut ke orang lain. 

Query dari Google Search Console
Jadi tahu 15 kata kunci terbanyak yang membawa orang mampir ke blog ini.

Biar nggak tambah down, buat saya 3 hal ini yang akan membantu untuk mengukur kinerja blog. Sedih sih. Tapi setidaknya saya jadi tahu di mana posisi blog saya saat ini. 

Targetnya tahun 2023, kinerja blog bisa lebih baik dan membanggakan. Jangan bikin nangis seperti ini lagi. Malu!

Kamu sendiri bagaimana kinerja blognya? 

(875 kata)
Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Posting Komentar untuk "Bagaimana Cara Saya Mengukur Kinerja Blog?"