lWcg51fin4Fhk7iYMzhi8k0YG8mjAdav5FwgOuRx

Salah Jurusan

fiksi salah memilih jurusan arsitektur itb

Disclaimer: FIKSI ini terinspirasi dari pengalaman 2 orang mahasiswa Teknik Arsitektur ITB pada tahun 1995.

“Semoga bukan aku…

Semoga bukan aku…

Semoga bukan aku…”

Bagaikan wirid, Sinta terus merapalkan kata-kata ini sementara Pak Tata mempresentasikan satu demi satu sketsa anak-anak. 

Hari ini adalah hari sketsa. Hari yang paling menjadi mimpi buruk bagi Sinta dan sahabatnya Ina. Sebagai mahasiswa Teknik Arsitektur semester 4, mereka diberikan waktu seharian untuk membuat sketsa kampus. Cukup sketsa sederhana dengan pensil saja sih. Buat mereka yang jago menggambar, ini sebenarnya tugas ringan yang malah bisa dikerjakan sambil bersantai. 

Namun buat Sinta, hari sketsa adalah penyiksaan yang hakiki. Karena ia tidak bisa menggambar.

Pada siang menjelang sore hari Pak Tata akan mengumpulkan gambar anak-anak dan memilih beberapa yang terbaik untuk dipresentasikan.  Biasanya mereka akan lesehan di depan jurusan. Tidak formal di ruang kelas. 

Tidak berhenti di situ, Pak Tata akan memilih juga beberapa gambar terburuk untuk dibahas kekurangannya. Dalam bahasa yang lebih sederhana: Dipermalukan!

Dari pagi, Sinta dan Ina yang sama begonya dalam hal menggambar sudah terlihat frustasi dengan tugas yang diberikan ini. Bukannya fokus menggambar, mulut mereka malah sibuk mengomel.

“Kenapa tidak ada yang kasih tahu kalau kuliah Arsitektur di ITB itu kita akan disiksa seperti ini?” keluh Ina sambil berusaha menarik garis tidak jelas di atas kertas gambarnya. Ia sebenarnya ingin menggambar menggambar gedung Aula Timur yang anggun. Tapi kalau dilihat malah lebih mirip seperti kotak sabun yang tidak jelas. 

“Mestinya masuk Teknik Arsitektur ITB itu ada tes gambarnya kaya sekolah tetangga yang konon terbaik se Asia Tenggara itu,” timpal Sinta yang bolak-balik menghapus goresan pensil di kertasnya. 

“Ia mestinya begitu, jadi kita tidak perlu terjebak di sini.”

“Kita dulu malah sibuk belajar matematika dan fisika.”

“Yang kita tetap dapat E juga pas TPB!”

Keduanya hanya tertawa sedih merenungi nasib, sambil deg deg an menuju saat pengumpulan gambar.

Riuh ketawa terdengar saat sebuah gambar dipilih untuk dipajang Pak Tata. Itu bukan gambar kotak kubus Ina atau pun coretan tidak jelas Sinta. 

“Doni, coba ceritakan kamu ini sebenarnya ingin menggambar apa?” tanya Pak Tata

Fiuh…mungkin efek wirid, minggu ini bukan gambar Sinta atau Ina yang dipilih sebagai gambar terburuk. Artinya mereka berdua selamat dari momen memalukan ini. Keduanya memandang simpati ke Doni yang tengah dicecar mengenai kekurangan-kekurangan dalam gambarnya. 

…yang penting bukan aku…

ilustrasi sketsa bangunan arsitektur di ITB (sumber: karya mahasiswa di Page Facebook Architecture ITB)

—-----

“Kita tidak bisa begitu terus-terusan, Sin,” keluh Ina sambil mengarsir denah lantai yang dibuatnya untuk asistensi besok pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dinihari. 

“Memang kemungkinannya apa Na,” sahut Sinta sambil mengaduk kopi instan yang dibuatnya sebagai doping untuk menemani lembur. Sinta dan Ina memang  kos bareng di sebuah gang di Cisitu lama. Hal ini membuat keduanya biasa lembur berdua untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang terasa sangat biadab.

“Badanku rasanya remuk kalau diajak lembur terus sepanjang minggu.”

“Mungkin kita kurang berusaha. Kebanyakan main pas siang.”

“Kebanyakan main gimana? Senin kita lembur untuk tugas Pengantar Arsitekur. Selasa lembur untuk tugas Prinsip Arsitektur. Rabu lembur untuk tugas Struktur. Kamis lembur untuk kritik Arsitekur. Jumat ngerjain tugas Tapak. Terus kapan kita menikmati hidup kalau begini. Ada juga kita mati muda!”

“Itu gimana ceritanya mereka yang bisa nikah sambil kuliah ya? Kok ya sempat.”

“Pasti bukan anak Arsitek”

“Tapi enak kali ya ngelonin bayi, daripada ngelonin tabung gambar kaya gini.”

“Ah….aku capek!!!” 

“Pokoknya kita tidak bisa begini terus. Aku mau pindah jurusan saja, daripada mati muda di sini,” ujar Ina sambil meninggalkan gambarnya dan memilih tidur. 

—--

Benar saja, Ina tidak menunda waktu lagi untuk melaksanakan niatnya pindah jurusan. Ia menghadap dosen walinya untuk membahas kemungkinan itu. 

“Jadi gimana kata Pak Sugeng?” cecar Sinta yang tidak sabaran saat melihat Ina pulang dengan wajah lunglai.

“Katanya untuk pindah jurusan IP harus 3!” 

What? Yang benar saja. Lah orang mau pindah jurusan karena merasa tidak mampu di sini. Kalau bisa IP 3 ya itu artinya mampu dan nggak perlu pindah. Gimana sih ini yang buat aturan.”

“Tapi tidak ada jurusan yang mau menampung anak yang bego dengan IP rendah. Jadi kita harus menunjukkan dengan IP yang bagus kalau kita itu pantas di jurusan mereka. Baru jurusan lain bisa menerima kita.”

“Aku nggak melihat bagaimana kemungkinannya IP kita bisa 3 dengan kemampuan menggambar yang sepayah itu.”

Kalau orang lain perlu waktu 5 jam untuk menggambar bagus. Sinta dan Ina bisa menghabiskan waktu 4 jam untuk menggambar, dan 4 jam untuk mengeluh dan mengomel. Jadi sebenarnya nggak usah heran kalau hasil kerja anak dua ini nggak pernah terlalu bagus. 

“Tapi aku rasanya tidak punya pilihan lain Sin. Aku merasa Arsitektur bukan bidangku. Aku harus pindah ke bidang yang tidak ada banyak menggambarnya. Ini terlalu menyiksa.”

“Kalau aku sepertinya tidak bisa meninggalkan arsitektur. Bagaimana pun ini jurusan yang kuimpikan sejak SD. Walau tidak tahu harus bisa menggambarnya. Lagian aku tidak terlalu tertarik dengan jurusan lain di ITB. “

Keduanya terdiam dan hanyut dengan kemungkinan pilihan-pilihan masa depan mereka. 

—-----

Sejak memutuskan pindah jurusan, Ina menjadi lebih rajin mengikuti asistensi. Ia seperti mendapat suntikan motivasi baru. IP-nya harus bagus agar bisa pindah jurusan. Ketika orang lain menggambar selama 5 jam, Ina bisa memaksakan dirinya untuk menggambar 8 jam.

Tugas-tugas yang lain pun ia kerjakan semaksimal mungkin. Tidak ada mengeluh lagi. Tidak ada menunda-nunda lagi. Sejujurnya Sinta jadi kehilangan teman mengeluh dan berkeluh-kesah. Ina lebih banyak menghabiskan waktunya untuk asistensi dan belajar dengan lebih giat di perpustakaan. 

Sinta terus terang lumayan terpana dengan usaha yang dilakukan Ina. Asli niat banget. Sinta sendiri masih jalan di tempat. Mengeluh, tapi tidak punya energi untuk mengubah keadaan. Ia tidak merasa perlu IP tinggi untuk pindah jurusan. 

Hari sketsa masih menjadi momok buat Sinta hingga hampir akhir semester 4 ini. Namanya memang masih aman tidak pernah dipanggil sebagai sketsa terburuk. Dan bagaimana dengan Doni? Apakah sketsanya langganan jadi sketsa terburuk? 

Ternyata tidak dong. Sketsa Doni memang dipajang lagi pada hari sketsa. Tapi kini termasuk jajaran sketsa yang bagus. Doni ternyata bisa belajar banyak dari masukan dosen. Sketsanya kini jauh lebih bagus. Garisnya tegas dan gambarnya bisa bicara. 

Sangat berbeda dengan sketsa Sinta yang masih saja asal-asalan dan tidak banyak ada perubahan sejak awal semester. 

“Jangan-jangan aku perlu dipermalukan seperti Doni juga ya, biar ada motivasi untuk bikin sketsa lebih baik seperti Doni,” sebuah pikiran terlintas dalam kepala Sinta. Teguran, ternyata bisa jadi motivasi yang ampuh.

—-----

“Sin, IPku 3 dan aku akan pindah jurasan!” ucap Ina dengan penuh suka cita. Rasanya hampir tidak percaya sahabatnya ini benar-benar bisa mendapatkan impiannya pindah jurusan. Usahanya memang tidak main-main. Sinta harus mengakui itu.

“Selamat Na. Aku beneran ikut senang,” dengan tulus Sinta memeluk sahabat sekosannya ini. Dari kamu aku jadi belajar kalau ternyata memang kita akan bisa kalau benar-benar berusaha. Kita memulai dengan sama-sama berjuang dengan ketidakmampuan kita. Sama-sama nggak bisa gambar. Sama-sama tersiksa menguasai ilmu arsitektur ini. 

Tapi kamu bisa menunjukkan kalau kamu bisa menguasainya jika benar-benar berusaha. Kamu mengatur waktumu dengan lebih baik. Berusaha menemukan strategi dengan belajar lebih tekun dan rajin. 

“Bukan mengeluh,” Ina tersenyum tipis.

“Ya bukan sekedar mengeluh. Mengeluh tidak akan membawa kita kemana-mana,” aku Sinta.

“Aku percaya kamu akan sukses di jurusan yang baru. Kamu sudah menunjukkan bisa mengatasi tantangan di jurusan lama. Insya Allah akan jadi pengalaman berharga buatmu. Makasih ya Na, sudah menginspirasiku.”

“Kamu juga semangat ya. Pasti bisa kok. Asal kamu berusaha dengan lebih giat. Sedikit lebih giat lagi.”

—----

Di semester 5, motivasi Sinta juga membaik. Kebetulan juga, mulai banyak pelajaran yang tidak terlalu mengandalkan gambar tangan atau freehand. Mulai bisa mengandalkan komputer juga. Mata kuliah juga mulai lebih beragam dan menarik. Tidak hanya mengandalkan kekuatan gambar, namun juga hal-hal menarik dalam bidang arsitektur yang lebih luas, seperti pengetahuan akan bahan, kritik arsitektur, sejarah arsitektur, masalah perkotaan, dan lain sebagainya. Arsitek itu bukan hanya menggambar, dan itu seru! 

Tulisan ini dibuat dalam rangka Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Maret 2022 dengan tema Cerita Fiksi (dengan Unsur ITB)


Related Posts
Shanty Dewi Arifin
Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Related Posts

9 komentar

  1. Saya sempat tergoda untuk pindah jurusan ke Kriya Tekstil saja dari DKV. Tapi mengingat waktu yang sudah terbuang sekian lama, lalu bayangan nanti harus mengulang beberapa mata kuliah baru yang berujung masa studi jadi mulur lebih lama, ah... akhirnya bertahan saja sampai lulus. Alhamdulillah, lulus juga akhirnya, walaupun akhirnya tidak berkarya di bidang itu juga siih. Ini mah asli salah jurusan nih, saya. :D

    BalasHapus
  2. Wowww, salut dengan Ina dan Doni. Mereka adalah a very determined person, patut dicontoh nih ehehe.
    Mungkin memang betul begitu ya, Mba, seperti kata Sinta, "teguran bisa menjadi motivasi yang ampuh.." :)

    Ikut seneeeng karena akhirnya Sinta sudah mampu 'bangkit' lagi.

    Dulu sempat tertarik lihat jurusan Arsitektur, tapi untungnya endak apply di situ, Mba. Kalau jadi apply dan diterima, mungkin ku kepikiran untuk pindah jurusan, karena kemampuan menggambar sangaaaat minim wkwkwkwk.

    Tulisan yang bagus untuk penyemangat mahasiswa/i niy Mba Shanty. :)

    BalasHapus
  3. Keren teh fiksinya, jadi ingat teman saya ada yang berniat pindah jurusan ke TK, tapi akhirnya tidak lolos, karena hanya ada 1 kuota yg tersedia dan ada beberapa mahasiswa yang mendaftar.

    BalasHapus
  4. Teh Shanty, I feel them, Ina dan Shinta. Aku juga ga bisa gambar, Geologi juga lumayan perlu bisa gambar, dan aku selalu sedih karena ga bisa. Bisa sih tapi gambarnya kaku banget.

    Tapi pelajaran dari Ina, bakat itu 1 % sisanya kerja keras kan, nice story Teh

    BalasHapus
  5. Baru tau kl pindah jurusan IP nya hrs 3. Hufft.. tp ini berasa jeritan hati sy mba, pengen pindah jurusan. dan kebalikannya sy justru pgn pindah jurusannya ke AR. Krn di PL tnyt gambar2ya cuma 1%...

    Trmksh fiksinya, suka :)

    BalasHapus
  6. Jaman sekarang sepertinya ga ga populer lagi pindah jurusan
    tapi jaman dulu pas masuk memang ada sosialisasi pindah jurusan itu, sy mikir itu kaya lingkaran setan,biasanya yg pengen pindah jurusan itu suka ga perform di jurusan awal, tp syaratnya IP kudu gede, lah ya kalau IP gede mungkin udh seneng sm jurusannya hihihiih

    BalasHapus
  7. Selalu suka dengan tulisan mbak Shan, walaupun fiksi, berasa banget banyak nasihat dan pengalaman yang bisa dipelajari di dalamnya. Walaupun aku mungkin akan memilih jadi yang berkata semoga bukan aku berkali2 daripada dipermalukan di depan semua orang.

    BalasHapus
  8. Wah teh Shan.. saya adalah Sintaa.. wkwkwk beruntung masuk Arsitektur lewat spmb jadi ga harus jago gambar. Beruntung juga sekarang ini kerja ga harus jago sketsa. Hihihi.. Alhamdulillah

    BalasHapus
  9. Sepertinya kalau gak punya skill gambar dan daya imajinasi, lebih baik masuk ilmu eksakta aja apa yaa...
    Hihi~

    Juara banget ya...
    Masa kuliah bener-bener masa menempa hidup.

    BalasHapus