lWcg51fin4Fhk7iYMzhi8k0YG8mjAdav5FwgOuRx

Masihkah Gen Z Membutuhkan Perpustakaan?

gen z dan perpustakaan

Saya adalah seorang Mamah dari 2 anak generasi Z atau anak-anak kelahiran tahun 1996 - 2010. Raka yang kini duduk di bangku SMP kelas 9 sebenarnya tidak begitu suka membaca. Ia lebih memilih mendapatkan informasi melalui media sosial seperti YouTube atau Instagram. 

Sementara adiknya Sasya yang kini kelas 6 SD punya minat baca yang lumayan lebih baik dibandingkan kakaknya. Kalau pun jarang baca buku fisik, Sasya suka baca webtoon di aplikasi. 

Konon katanya minat baca buku harus dimulai dari orang tuanya. Kalau orang tuanya suka baca buku, maka anak-anaknya akan suka baca juga. Sayangnya ini tidak berlaku dalam keluarga kami. 

Saya sendiri sangat suka baca buku dan punya koleksi buku bacaan populer yang cukup banyak di rumah. Ternyata tidak menjamin anak-anak bisa jadi ketularan kutu buku seperti Mamahnya. 

Kadang saya suka juga situasi itu, karena jatah beli buku saya tidak perlu dibagi-bagi sama anak-anak. Buku kan lumayan mahal ya! Maklum geng #mamahirit.

Sampai satu masa Raka mulai merasakan kebutuhan untuk bisa membaca buku dengan lebih serius. Ia jadi tahu kalau ia memiliki kesulitan untuk bisa memahami isi buku dan menyelesaikan membaca buku hingga selesai. 

Hanya buku-buku yang benar-benar populer dan mudah dicerna yang berhasil ditamatkannya. Seperti Mantappu Jiwa-nya Jerome Polin, Masih Belajar-nya Iman Usman, atau You Do You-nya Fellexandro Ruby. Sepertinya perjuangan sekali untuk bisa membaca tamat sebuah buku dan mengambil intisarinya.

Dari sini, saya jadi penasaran juga. Apakah ini fenomena yang umum melanda umumnya Gen Z atau hanya terjadi pada sebagian kecil saja? Apakah pengaruh distraksi sosial media yang membawa anak-anak kita jadi lebih suka nonton youtube daripada harus membaca buku?

Kalau anak-anak tidak lagi suka membaca, apa kita benar-benar membutuhkan perpustakaan seperti sekarang? Akan kah perpustakaan tutup saja dan diganti dengan fungsi yang lain?

Survei Pandangan Gen-Z terhadap Perpustakaan

Gimana? Penasaran juga nggak dengan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas? Saya pun mencoba menyebarkan survei sederhana mengenai minat baca Gen Z dan perpustakaan. 

Ada 66 responden dari teman-teman dekat kami yang turut dalam survei kecil ini. Terdiri dari 42 orang anak-anak kelahiran 2006 - 2010 (usia 16 - 12 tahun) dan 24 orang anak-anak kelahiran 2000 - 2005 (usia 22-17 tahun).

Saya mulai dengan pertanyaan mengenai apa sih sebenarnya diminati anak-anak ini? 

Walau kita begitu terbiasa melihat anak-anak yang bermain game, ternyata main game bukanlah hal utama yang membuat anak-anak ini bahagia. Yang pertama yang mereka sukai adalah ngumpul bareng teman (37 pilihan). 

Baru setelah itu menonton film (32 pilihan). Mungkin juga ini dampak mudahnya akses menonton film ya. Kalau dulu nonton film umumnya dilakukan di bioskop, sekarang kita bisa mengakses film-film bioskop di aplikasi yang bisa dinikmati sambil baringan di rumah. 

Terus terang saya cukup senang melihat masih banyak anak-anak gen Z yang menyebutkan membaca sebagai kegiatan yang membuat mereka bahagia.

kegiatan yang disukai gen z
Main game online bukan nomor 1 yang membuat Gen Z bahagia kok. 

Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai gaya sosialisasi Gen-Z. Mereka ini sebenarnya senang sendirian atau suka berkumpul? 

Umumnya menjawab bergantung kegiatannya juga (54 responden). Jadi memang ada yang perlu dilakukan bersama dan ada yang lebih nyaman untuk sendirian. Hanya 7 responden yang menjawab tegas bahwa mereka lebih suka sendiri dan 5 responden yang memilih lebih suka bersama teman.

gaya sosialisasi gen z
Gen-Z cukup fleksibel dalam bersosialisasi

Untuk minat baca, hasil survei membuktikan kalau 39 responden menyebutkan kalau mereka sebenarnya suka kok baca buku selain pelajaran. Hanya 5 responden yang dengan tegas menyebutkan tidak suka membaca. Sementara sisanya memilih: “Ya…gitu deh.” 

Bisa jadi niatnya sudah ada, cuma ya tergantung meenmukan buku yang tepatnya saja ya. 

apakah gen z suka baca buku
Minat baca Gen-Z cukup potensial untuk tumbuh

Pertanyaan selanjutnya adalah pembuktian apakah Gen-Z benar-benar suka membaca buku? Berapa banyak buku yang berhasil mereka selesaikan dalam 3 bulan terakhir?

Ternyata hanya 17 responden yang mengaku bisa menamatkan lebih dari 3 buku dalam 3 bulan terakhir. 22 responden menyebutkan kalau hanya bisa menamatkan 1-3 buku. Lumayan lah ya ini.

Dan yang belum berhasil menamatkan 1 buku pun dalam 3 bulan terakhir ada 17 responden. 

jumlah buku yang tamat dibaca gen z
Seberapa banyak jumlah buku yang dibaca Gen-Z?

Pertanyaan terakhir saya tutup dengan menanyakan sebenarnya apa sih yang kegiatan yang mereka harapkan dari sebuah perpustakaan? 

Gen-Z mengharapkan perpustakaan bisa menjadi tempat belajar yang tenang (45 responden). Bisa jadi kalau di rumah, bawaannya mau main game atau rebahan sambil main sosmed saja. Perpustakaan bisa dijadikan tempat yang tepat untuk bisa fokus melakukan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Belajar 2 jam di perpustakaan, bisa jadi lebih efektif dibandingkan dengan di rumah.

kegiatan perpustakaan ala gen-Z
Kegiatan seru di perpustakaan bagi Gen-Z

Kesimpulan Hasil Survei

Dari survei kecil ini, saya jadi lebih optimis kalau anak-anak sekarang masih sangat besar potensinya untuk mencintai perpustakaan dan memiliki minat baca yang sehat. Kebutuhan untuk suka membaca sebenarnya tetap ada. Tinggal bagaimana memberikan dukungan yang sesuai dengan minat dan gaya berpikir mereka. 

Saya sangat suka dengan gaya perpustakaan yang nyaman sekarang di kota-kota besar. Mungkin mulai mencontoh perpustakaan-perpustakaan yang banyak di luar negeri. Tapi menurut saya, untuk bisa menjangkau Gen-Z, yang dibutuhkan adalah perpustakaan-perpustakaan yang nyaman di skala sekolah. Tidak perlu yang besar-besar, yang penting sesuai dengan kebutuhan anak-anak. 


Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba blog USK Library Fiesta 2022 dengan tema Pandangan Gen Z Terhadap Perpustakaan Menuju Literasi Informasi Yang Lebih Baik, yang diadakan oleh UPT Perpustakaan USK 

Related Posts
Shanty Dewi Arifin
Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Related Posts

21 komentar

  1. GenZy masih butuh perpustakaan kok, Mbak. Di Yogyakarta perpustakaan sekolah-sekolah malah tiap tahun bersaingcdlm lomba. Sekarang ruang bacanya pun dibikin ceria warna warni, enak buat nongkrong gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren banget Yogya. Pantas terkenal anak-anak Yogya pintar kemana-mana. Bisa jadi pengaruh perpustakaannya asyik buat ngumpul ya.

      Hapus
  2. Kalau perpustakaannya nyaman, selain itu koleksi bukunya lengkap tapi suasananya nggak bikin spooky alias enak dipandang mata (bukan susunan buku berderet semua tapi ada nilai estetikanya) biasanya orang akan betah. Kalau aku sendiri (monmaap ya Mba, aku milenial kelahiran 90-an, bukan gen Z cuma mepet dikit tapi boleh kan ya curhat ✌🏻) lebih senang ngumpul sama teman di cafe baca. Dekat kampusku sempat ada, dulu. Hanya saja sejak pandemi, perpustakaan daring lebih jadi pilihan dan kebiasaan membaca serasa lebih privat nggak seperti dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih bener banget Acha, sekarang cafe baca keren-keren banget ya. Mungkin perpustakaan perlu dipoles biar lebih kaya nuansa cafe yang homy gitu.

      Hapus
  3. Wahahahah menarik, ternyata banyak yang suka menghayal alias haluuuuu. Diriku ngga mewakili generasi Z sih, cuman sampe sekarang, aroma buku baru masih menyenangkan dan membaca fisik jauh lebih bermakna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengkhayal bisa bagus juga loh. Banyak master piece lahir dari khayalan yang aneh-aneh. Setuju banget kalau buku fisik lebih bermakna. Sayang harganya kadang terasa mahal bagi sebagian kalangan. Buku digital bisa jadi alternatif yang lebih murah kalau sekedar untuk skimming dulu.

      Hapus
  4. Misalnya baca buku dari mendengarkan podcast ini termasuk baca buku gak sih teh?
    Sesungguhnya, anakku juga termasuk yang gak suka baca buku, teh...
    Minatnya menurun drastis dari pas kecil dulu. Kini mereka pun jadi introvert (karena merasa sudah cukup berteman dengan saudaranya aja di rumah), jarang ngobrol sama temennya di zoom, jarang ghibah.

    Tapi, aku rutin ngajakin anak kongkow di toko buku.
    Hanya memang suami gak mau ikutan kalo aku ngendon di toko buku. Huhu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurutku termasuk ya. Kan ada juga istilahnya audio book. Kita tunggu saja banyak audio book dalam bahasa Indonesia. Sepertinya bakal banyak peminatnya.

      Hapus
  5. Sebagai gen z pastinya aku masih butuh pergi ke perpustakaan, apalagi disaat harus menyelesaikan tugas kuliah tentang penelitian. Karena kata dosenku gak semua informasi di google itu valid, sehingga kita lebih ditekankan untuk selalu mencari informasi lewat buku. Tetapi kalo untuk hobi, seperti membaca komik atau novel, aku lebih suka mampir ke toko buku karena suasanya lebih asyik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku memang informasinya lebih lengkap dan utuh kalau untuk jadi bahan riset. Makasih ya sudah mampir.

      Hapus
  6. Tempat belajar yang tenang ternyata ada di urutan teratas. Memang deh membaca buku itu harus dan penting. Alhamdulillaah anak2ku masih antusias baca buku, main dan belanja buku di Gramedia misalnya. Ketimbang baca online kayaknya pusing, mendingan di perpustakaan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pilihan lain bisa cafe buku yang keren sebenarnya. Sesuatu banget tu punya anak-anak yang antusias baca buku Mbak Nurul.

      Hapus
  7. Perpustakaan sekarang sudah jadi tempat yang enak untuk ngumpul bersama. Tapi memang paling banyak di sini jadi tempat kumpul para emak. Anak-anak agak jarang.
    Yah, begitulah, minat mereka sudah cukup rendah, masih pula ga selesai kalau baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurutku baca buku nggak selesai itu karena kelewat banyak buku cakep yang ada ya. Belum beres satu, eh sudah muncul buku lain yang lebih seru. Gitu aja terus. Jadi deh bacanya nggak rampung-rampung. #pengalamanpribadi.

      Hapus
  8. Setuju, disesuaikan dengan kebutuhan mereka, perpustakaan yang praktis mungkin akan lebih menarik bagi Gen Z.
    Tapi dilihat dari survey ini, kedua anak juga berbeda tipenya, si kakak suka menyendiri si adik lebih senang ngumpul berkegiatan sama teman. Tapi soal minat baca beneran enggak sebanding sama Ibunya yang hobi baca huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kesimpulan: minat baca itu bukan genetik ya Mbak Dian. Ha...ha....

      Hapus
  9. Masih dong, karena beda juga kesannya kalau baca ebook dan bukan apalagi perpustakaan bisa jadi wajah bertemunya gen Z

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ia nih bener, Gen Z tetap senang ngumpul bareng. Mudah-mudahan perpustakaan yang nyaman kaya cafe bisa banyak tersedia di tiap pengkolan. Kan asyik tuh.

      Hapus
  10. Anak saya termasuk Gen Z. Dia betah banget belajar di perpustakaan. Alasannya lebih tenang dan fokus. Tetapi, memang sebaiknya perpustakaan dibikin nyaman. Paling gak terasa bersih, lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget. Mudah-mudahan bisa kaya perpustakaan-perpustakaan di luar negeri yang nyaman buat pengunjung.

      Hapus
  11. kadang miris jugak. Kalau gak salah indonesia adalah negara dengan perpustakaan terbanyak no 2. Tapi tingkat literasinya sangat rendah. Jadi mungkin gak gen z doang yang Bisa dipertanyakan.Generasi atasnya juga kali ya:)

    BalasHapus