Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengikis Mental Pencuri Dalam Diri Kita

say no to piracy

Saya sempat membaca suatu survey lama mengenai siapa orang yang berhak masuk surga. Ternyata mayoritas orang menganggap diri mereka adalah orang yang berhak masuk surga. 

Ini adalah pendapat yang menarik ya. Terlepas dari seabrek-abrek dosa yang kita lakukan setiap hari, pada dasarnya kita cukup percaya diri bahwa Tuhan akan mengampuni kita. 

Tidak heran dalam ajaran agama, anjuran untuk banyak-banyak istighfar mengingat dosa merupakan salah satu ibadah yang penting. Pesannya mungkin, “Lu jangan ke-PD-an dan sok suci kalau merasa tidak banyak melakukan dosa. Padahal sebenarnya banyak dosa yang dilakukan dengan tidak sadar.”

Menurut saya, salah satu dosa besar yang mudah bikin orang terpeleset adalah MENCURI. 

MENCURI = Mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan cara sembunyi-sembunyi. (KBBI)

Kalau kata teman saya, Dearni Irene dalam salah satu artikel di blognya yang berjudul Merasa Cukup, Menahan Diri dan Membayar Harga, mencuri termasuk larangan ke-8 dalam 10 firman Tuhan dalam Taurat. 

Dalam Islam itu jelas-jelas ditulis dalam QS Al Maidah: 38

“Dan orang lelaki yang mencuri dan orang perempuan yang mencuri maka (hukumnya) potonglah tangan mereka sebagai satu balasan dengan sebab apa yang mereka telah usahakan, (juga sebagai) suatu hukuman pencegah dari Allah dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana." 

Masalahnya adalah kita sering menyempitkan arti mencuri atau pura-pura tidak tahu kalau kita sudah melakukan dosa besar yang sudah dilarang Tuhan itu.

larangan mencuri Al maidah 38
Mencuri adalah larangan yang sangat ekplisit dalam Al Quran


Membajak = Mencuri

Entah apa karena pembajakan tidak lakukan secara sembunyi-sembunyi seperti disebutkan di KBBI, banyak orang merasa tidak apa-apa melakukan kegiatan membajak karya orang lain. 

Atau bahkan bisa begitu naifnya tidak tahu kalau itu adalah barang bajakan atau curian.

Saya ingat pernah bertanya sama Risna teman saya mengenai sebuah film yang ditayangkan di sebuah situs tertentu. 

“Na, ini situs film beneran atau bajakan ya?”

Risna begitu lihat alamatnya saja, bisa langsung tahu kalau itu adalah situs film bajakan. Artinya ketika saya menonton dari situs tersebut saya telah menjadi PENCURI atas hak pembuat film tersebut. 

Bagaimana ceritanya saya bisa menemukan situs tersebut? 

Kalau kita browsing di Google dengan kata kunci: menonton film xyz misalnya, itu akan diarahkan ke situs yang paling banyak dicari orang. Dan kesanalah saya dibawa. Begitu mudahnya kita akan terjebak ke dalam sebuah pembajakan. Entah itu buku, film, musik, atau produk tertentu.

Membajak karya orang lain, apalagi yang tidak kita kenal, kadang tidak terasa sebagai mencuri. “Ah...itu Bill Gates kan udah jadi orang terkaya di dunia, nggak apa-apalah kita bajak softwarenya.” Atau “Royaltinya Tere Liye kan udah banyak, nggak apa-apalah beli buku bajakannya saja di market place.”

Masalahnya adalah mencuri ya tetap mencuri. Bukan hanya hak seorang Bill Gates atau Tere Liye yang kita curi, tapi hak banyak orang lain yang terlibat dalam produk atau karya tersebut. Di sana ada bisnis jutaan dollar atau milyaran rupiah yang melibatkan banyak orang. Tidak bisa seenaknya saja kita memotong rezeki orang lain. 

Enak di kita, nggak enak di orang lain. Inga...Inga...Karma itu ada.

karma
Jangan lakukan apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan pada diri kita


Mengapa Beli Bajakan?

Pada masa saya kuliah tahun 1990-an di Bandung, barang bajakan bisa dibilang barang yang sangat mudah didapat dan barang legal hanya bisa didapat secara eksklusif dengan harga tidak terjangkau kantung mahasiswa pada umumnya.

Saya masih ingat ketika berburu ke pasar Kebon Kembang di Alun-alun untuk membeli seri lengkap drama Taiwan Meteor Garden dan film-film Hollywood terbaru. Saat itu saya ingat sempat bertanya, kalau kita mau beli versi aslinya emang dimana? Ternyata nggak ada yang bisa menjawab. 

Tapi anehnya, walau bisa dibilang sebagian besar masyarakat Indonesia menonton F4 melalui DVD bajakan, tapi konser F4 yang harga karcisnya 2 juta rupiah itu ternyata laris manis di Indonesia. 

Meteor garden
Coba siapa yang masih ingat soundtrack film ini? (Sumber: wikipedia - Sony music)


Kalau untuk software, saya tahunya bisa beli di Ketapang atau toko-toko software di mall besar. Nggak ada istilah sembunyi-sembunyi.

Buku-buku apalagi. Produsen buku bajakan tahu orang hanya mencari harga murah dan tidak mempertimbangkan kualitas. Pokoknya banting-bantingan harga untuk menjual barang-barang bajakan. Bisa jadi loh pembeli nggak sadar kalau mereka beli bajakan. 

Saya ingat pernah beli buku di Palasari. Saat itu Palasari adalah surganya buku diskon untuk para mahasiswa. Sampai di rumah, saya baru perhatikan kalau cetakan bukunya nggak bagus. Setelah dibandingkan dengan buku asli di toko buku resmi, baru kelihatan kalau itu ternyata buku bajakan. Duh, sebel banget.

Sejak itu saya mulai nggak berminat lagi belanja buku di Palasari. Apalagi ada kabar Palasari yang terbakar tahun 2007 dan munculnya jaringan Toko Buku Diskon Togamas. 

Pasar palasari
Pasar buku Palasari Bandung (sumber: lokadata.id)


Kalau direnungkan, ada 2 alasan kenapa saya membeli bajakan pada masa itu. 

Pertama adalah mental KERE. Merasa nggak punya cukup uang tapi ingin memiliki. Jadi deh, segala dihalalkan.

Kedua adalah mental NGGAK MAU SUSAH. Pengen segalanya mudah dan cepat. Dengan bertebarannya barang bajakan yang mudah diakses, makin subur lah mental seperti ini terpelihara. 

Dua mental ini yang menjadi akar masalah banyak hal sebenarnya. Jadi wajar ya, kenapa Tuhan mengharamkan banget soal mencuri ini. 

Mereka yang Karyanya Dibajak

Kalau sudah mental yang rusak, bisa jadi sulit buat kita untuk bisa keluar dari kebiasaan menikmati barang bajakan ini. Ketika mencuri menjadi kebiasaan masyarakat, hanya tinggal tunggu waktu kita atau teman terdekat pun akan menjadi korbannya. 

Sebagai blogger yang juga punya banyak teman penulis, mendengar cerita tulisan dijiplak orang lain sering kali terjadi. Tanpa rasa bersalah, ada saja orang-orang yang dengan ringannya mengaku karya seseorang sebagai karyanya sendiri. 

Ini terjadi pada blog post yang kemudian dicopas dan ditayangkan di website mereka, pada tulisan cerita bersambung di aplikasi, atau pada buku fisik yang dibajak dan dijual murah di market place. 

Kita bukan bicara mengenai karya yang mirip dan terinspirasi ya. Tapi yang bener-bener plek ketiplek dijiplak gitu loh. 

Tidak hanya dalam bentuk tulisan, tapi ada juga yang menjiplak desain seperti yang diceritakan teman saya Andina. Kesalnya Andina bisa dibaca dalam artikel: Tentang Pembajakan Karya Desain di Internet dan Cara Menyikapinya.

Atau kisah teman saya Yuli yang foto-foto produknya dicuri orang. Padahal perjuangannya membangun brand cukup panjang dan menguras tenaga. Ia menuliskan ceritanya dalam artikel: Mencari keberkahan berbisnis tanpa bajakan

Duh orang kok ya bisa tega begitu ya.


Say No To Piracy

Ada 3 hal mendasar yang sebenarnya bisa dilakukan untuk mengikis mental mencuri dalam diri masyarakat.

#1 Hukum yang tegas

Yang utama menurut saya adalah hukum yang harus ditegakkan. Barang bajakan harusnya diperlakukan benar-benar sebagai barang terlarang. Kaya narkoba gitu loh.

Bukan barang yang bisa diakses dengan mudah oleh banyak orang di market place atau di pinggir-pinggir jalan. 

Masih ingat kan betapa marahnya Tere Liye kepada pemilik Market Place yang menjual buku-buku bajakan karyanya seharga 20 ribuan. Kok ya bisa! Apa sulitnya buat market place menutup toko-toko yang seperti itu. Atau bahkan kalau menurut saya yang perlu dihukum itu adalah market place atau mall-nya karena menyediakan tempat untuk menjual barang yang jelas-jelas dilarang.

Dibuat saja larangan yang tegas dan jelas bahwa memang itu hal yang diharamkan untuk dilakukan. Jangan hanya karena laku dan menghasilkan banyak uang, semua bisa diatur. Ini tidak semestinya jadi budaya negara yang masyarakatnya mayoritas adalah penganut agama yang kuat.

#2 Mudahnya mendapatkan barang original

Nah ini juga sangat penting. Ketika barang bajakan sulit didapat, produk-produk original bisa diakses dengan mudah. Mudah ini termasuk juga murah atau terjangkau ya bagi sebagian besar masyarakat. 

Selanjutnya saya pengen cerita soal ini dibawah ya.

#3 Kesadaran dalam diri

Terakhir adalah punya mental malu beli bajakan. Bukan bangga bisa beli barang asal murah. Tapi perlu bangga ketika membeli barang berkualitas sebagai produk resmi. Paling celahnya adalah pinter-pinter cari diskonan ya. Ha..ha...


Era Mudah Mendapat Produk Original

Alhamdulillahnya, sekarang ini lebih mudah untuk kita bisa hidup tanpa bajakan dibandingkan 20 tahun lalu. Thanks to technology dan tentu saja orang-orang kreatif dibelakangnya yang tidak pernah lelah berkomitmen untuk memberantas mental mencuri ini. 

#1 Buku

Saya cukup salut dengan perkembangan inovasi penerbitan buku. Harga buku fisik saat ini mungkin masih terasa mahal bagi sebagian orang kelas menengah bawah. Namun ada banyak solusi alternatif yang ditawarkan.

Seperti iPusnas yang menyediakan begitu banyak buku yang bisa dibaca secara gratis. Saya mendoakan para penulis dan penerbit yang bukunya ada di iPusnas banyak rezekinya melalui buku lain atau pintu-pintu rezeki lain yang tidak terduga.

Ada juga Gramedia Digital dengan biaya Rp 45 ribu - 89 ribu rupiah per bulan untuk 2 gadget. Ini pun sebenarnya bisa dapat diskon 30% jika membelinya dalam bentuk e-voucher Gramedia Digital di Shoppee. Atau bahkan ada diskon flash sale 55% loh pada waktu-waktu tertentu. Eh…. malah iklan ya.

Untuk pecinta buku fisik, ada yang namanya toko buku diskon seperti Togamas yang akan memberikan diskon 15-20% dari harga resmi. Kita juga bisa membeli buku-buku original dari toko buku resmi di market place dengan diskon yang cukup menggiurkan dan free ongkos kirim. 

Kalau mau sekedar ngintip-ngintip isi buku 2-3 bab pertama, kita juga bisa buka Google Play Books. Hampir semua buku ada di Google Books. Ini sangat membantu sekali untuk kita menemukan buku yang kita butuhkan. Nggak usah repot-repot ke toko buku dan mengganggu petugasnya untuk sekedar minta tolong dibukakan sampul plastik karena ingin skimming isi buku. Cukup ke Google books saja. Kalau mau beli versi e-booknya yang sering lebih murah dari buku fisiknya, tinggal one click away saja. 

Ada juga acara cuci gudang dari penerbit. Seperti acara cuci gudang Mizan, Gramedia, hingga BBW yang biasa diburu orang sejuta umat. Saat itu buku-buku original bisa dijual hanya dengan harga 10-20 ribuan saja. 

Begitu mudahnya.

#2 Film 

Dengan menjamurnya aplikasi TV berlangganan seperti Netflix, Disney Hotstar, Prime Video, Viu, Mola yang harganya cukup terjangkau, bikin lebih mudah untuk berpaling dari film-film bajakan. 

Sebagai pelanggan Telkomsel, Paket Disney Hotstar itu dibundling dengan paket pulsa. Saya sendiri beli paket pulsa yang 20 ribuan sudah termasuk langganan Disney Hotstar. Kalau anak saya dapat yang paket pulsa 9 ribu saja sudah dengan Disney Hotstar 30 hari. Kami berhak menikmati film-film bermutu dari Disney tidak hanya di HP tapi juga bisa dicasting ke TV. Ini kan asyik sekali.

Netflix juga bisa sangat terjangkau dengan membeli paket minimal yang 50 ribu-an per bulan. Pertama kali kali sekeluarga berlangganan Netflix adalah membeli paket yang untuk 5 anggota keluarga. Setiap orang punya akunnya masing-masing agar rekaman film yang ditonton tidak saling tertukar. Termasuk untuk anak-anak, kami atur hanya bisa menonton film untuk anak-anak saja. 

Tidak setiap bulan kami berlangganan Netflix. Cukup beberapa bulan sekali saja saat merasa perlu menonton beberapa film tertentu. Cukup dengan paket 54 ribu rupiah per bulan, kami ber-4 bisa menikmati film-film favorit masing-masing secara bergantian di HP sendiri. Rp 13 ribuan per orang selama 1 bulan. Jauh lebih murah daripada harus ke bioskop atau beli DVD bajakan. Eh emang masih ada ya sekarang?

#3 Software 

Software bajakan yang mungkin paling banyak dibajak orang zaman dulu saya rasa windows dan microsoft office ya sepertinya. Alhamdulillah banget, sekarang kalau kita beli laptop, sudah termasuk software original. 

Sebagai pengganti microsoft office saya sangat berterima kasih sekali sama yang namanya Google Drive. Dari Google Dokumen, Google Sheet, Google Slide, bisa digunakan dengan mudah dan nyaman. Ini inovasi yang sangat keren. Paling pake doa jangan sampai akun google kena masalah. 

Software-software pendukung yang lain, kini banyak dijual dalam bentuk bulanan yang harganya lebih terjangkau. 

#4 Aplikasi

Aplikasi yang sangat membantu juga banyak versi gratisannya. Ada juga yang berbayar dengan harga yang terjangkau karena bisa dibeli patungan bersama beberapa teman. 

#5 Barang bajakan

Emang harus ya beli iPhone terbaru? Atau sepatu Yeezy? Atau tas YSL? Sekarang ada alternatif lain untuk barang-barang berkualitas dengan harga yang sesuai budget. Pilihannya banyak dan bagus-bagus lagi. 

Banyak brand tetap mengeluarkan edisi-edisi lama produk mereka dengan harga cuci gudang atau yang jauh lebih murah. Jadi nggak usah maksa harus beli yang terbaru, tapi tetap bisa mendapatkan barang yang berkualitas.

#6 Musik

Suka dengerin musik, podcast atau audio book? Nggak usah repot beli bajakan. Kita cukup mendengarkan di spotify atau membelinya dengan harga terjangkau di aplikasi. 


Kalau Niat Insya Allah Bisa

say no to piracy


Semua itu diawali niat. Yang penting pasang niat untuk tidak mau mencuri lagi. Insya Allah akan ada jalannya agar kita dimudahkan mendapatkan jalan yang lebih halal dan lebih berkah.

Mungkin memang ada yang terasa lebih mahal dibanding kalau kita mendapatkan melalui jalur ilegal. Tapi percayalah walau punya sedikit, bisa jadi keberkahannya lebih banyak dibandingkan dengan punya banyak tapi malah bikin kita pusing karena menjadi sekedar tumpukan barang yang tidak bisa kita manfaatkan secara optimal. 

Jadi Bismillah ya, mulai hari ini kita kuatkan niat untuk tidak MENCURI lagi. Semoga semua yang kita dapatkan menjadi lebih berkah. Amin…

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog

Tulisan ini dibuat dalam rangka Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus dengan tema Budaya 

Hidup Tanpa Bajakan

(2100 kata saja)

=======================================

Update September 2021

Alhamdulillah tulisan ini dapat peringkat ke-4

Juara 4 Tantangan Mamah Gajah Ngeblog Agustus 2021
Ini sekaligus jadi sertifikat ke-4 yang pernah saya terima dari MGN


Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

4 komentar untuk " Mengikis Mental Pencuri Dalam Diri Kita"

  1. Thanks teh disebut dalam artikel :) Betul ya mental kere dan ga mau ribet itu kenapa orang ngincar bajakan. Maka itu harusnya dipermudah dan dimurahkan juga akses barang ori

    BalasHapus
  2. udah paling lengkap ini tulisan nya. memang harus mulai dari kesadaran kita sih ya. godaan. akan selalu ada karena akses ke barang bajakan pun sebenarnya semakin mudah

    BalasHapus
  3. Wah, saya jadi bangga sendiri dulu punya VCD Meteor Garden yang asli yg harganya ratusan ribu, mahal banget pada jamannya (tentu bukan saya yg beli tp kakak saya hihi)

    BalasHapus