Tentang Mengingat Kematian

tentang mengingat kematian

Menurut saya mengingat kematian bukanlah hal yang enak untuk dibicarakan. Kenapa? Karena menyangkut hal yang tidak kita kenali. 

Kita takut akan kematian. Karena kita tidak tahu. Karena kita belum siap meninggalkan apa-apa yang kita cintai di dunia ini. 

Beberapa waktu yang lalu saya sempat merasakan nggak enak di payudara. Sepertinya mungkin bisul di dalam atau sejenisnya karena perubahan hormon. Tapi rasanya saya takut juga kalau itu kanker ganas. Semoga bukan. Tapi kalau benar juga bagaimana?

Kondisi ini yang membuat saya jadi berpikir mengenai kematian. Bagaimana kalau saya akan mati dalam waktu dekat? Dalam waktu 3 bulan misalnya? Sedih? Entahlah? Takut? Nggak tahu juga. 


Saya jadi teringat cerita teman-teman yang ditinggal secara mendadak oleh orang tercintanya. Apalagi di masa penyebaran Covid seperti sekarang ini. Hanya dalam 3 hari nyawa seseorang bisa hilang tanpa diduga. Seperti yang terjadi dengan teman seangkatan yang tinggal di Lampung beberapa waktu lalu. 

Tanggal 1 mulai terasa sesak napas. Tanggal 2 ke dokter dan dites covid. Hasilnya keluar tanggal 3 dan ternyata positif. Sayangnya beliau sudah keburu meninggal di UGD. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.

Satpam di kompleks kami juga meninggalnya begitu tiba-tiba. Sedang duduk diam dan dijemput malaikat maut. Tidak ada tanda-tanda sakit sebelumnya.

Ada lagi kecelakaan pesawat seperti Sriwijaya Air beberapa waktu lalu kemarin yang menewaskan seluruh penumpangnya hanya dalam waktu 4 menit setelah take off.  Tadinya sehat, dan dalam sekejap ia hilang. Berjalan pulang kembali ke sisi-Nya.

Kematian adalah sesuatu yang pasti menimpa semua makhluk hidup. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang bisa ditunda. Tidak ada yang bisa dihindari. 

qs al munafiqun ayat 11
Kematian bukan sesuatu yang bisa ditunda

Sebuah proses alami dari kehidupan. Ada yang lahir dan ada yang mati. Kita hanya numpang lewat di alam yang fana ini. Itu sebabnya kita tidak bisa juga terlalu ngoyo dengan pikiran-pikiran kita. 

Menikmati perjalanan kehidupan dengan penuh rasa syukur. Bahwa kita diizinkan Allah untuk hidup dan punya arti untuk orang-orang di sekeliling kita. Meninggalkan warisan-warisan dan jejak-jejak perjalanan.

Bagaimana dengan hidup saya? Bagaimana jika esok saya menyelesaikan tugas saya di dunia ini? Apa ada yang perlu saya lakukan?

Sejujurnya saya merasa cukup bahagia dengan hidup saya. Saya meninggalkan 2 anak yang saya banggakan dan penuh potensi. Mereka memang masih anak-anak yang belum sepenuhnya matang. 

Saya sebenarnya masih perlu mendampingi mereka hingga mereka lebih dewasa atau menikah. Tapi kan ya, keputusan itu sayangnya bukan di tangan saya. Saya menjalani apa yang Allah tetapkan untuk saya. Apakah saya hidup hanya untuk besok, tahun depan atau puluhan tahun lagi.

Itu semua adalah rahasia kehidupan yang sangat indah sebenarnya. Alhamdulillah. Semua yang dari Allah memang selalu terpuji.

Saya sebenarnya tidak suka membicarakan kematian dengan orang lain karena kita tidak tahu siapa yang akan mati duluan. Ini bisa terjadi pada siapa saja.

Nah mungkin ini juga sikap yang bisa diambil ketika kita divonis berumur pendek. Tidak perlu terlalu berlebihan menyikapinya. Saya akan mati dengan divonis atau pun tidak. Dan orang lain, sangat mungkin dipanggil lebih dulu. Nggak perlu merasa istimewa dengan mengetahui kapan kita akan mati. Itu sesuatu yang biasa saja. 

Masalahnya adalah bukan di situ. Kita semua harus menyiapkan diri menghadapi kematian dengan mengisi kehidupan dan kesempatan hidup dengan sebaik-baiknya. Tidak perlu repot-repot membicarakan kematian, namun mengingatnya setidaknya 5x sehari dalam sholat fardhu. 

Sholat adalah bentuk kita kembali kepada Allah. Namun kita masih kembali lagi ke dunia. Meninggal, adalah kondisi final. Kita tidak akan bisa kembali lagi. Kita akan terbaring di alam kubur hingga waktunya berbangkit. Waktunya kita beristirahat dengan tenang dan menikmati royalti amalan kita di dunia.

Jadi amalan apa yang sudah kita persiapkan di dunia ini?

qs al a'raf 34
Tugas kita adalah mengisi kehidupan dengan sebaik-baiknya sebagai bekal saat kita kembali berpulang

(600 kata)

Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

1 komentar untuk "Tentang Mengingat Kematian"

Comment Author Avatar
Kalau sudah berbicara kematian, memang langsung "berasa" yaa, teh..
Aku langsung ingat kalau tidak boleh menunda berbuat kebaikan (sekecil apapun), termasuk yang kerap masih aku lalaikan yakni sholat tepat waktu.

Haturnuhun teteh.
Jadi pengingat hari ini dan seterusnya.