lWcg51fin4Fhk7iYMzhi8k0YG8mjAdav5FwgOuRx

Review Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran

review insiden anjing di tengah malam yang bikin penasaran

Ada yang sudah pernah baca buku yang masuk The Guardian's List of the 100 best books of 21st century ini? 

Judul aslinya adalah The Curious Incident of the Dog in the Night-time yang diterbitkan tahun 2003. Buku lawas sih emang.

Percaya nggak, saya sudah punya buku ini sejak Maret 2005. Tepat 2 tahun setelah buku diterbitkan. Namun saya baru membacanya sampai tamat pada Januari 2021. 

Masya Allah, perlu waktu 15 tahun untuk tergerak menamatkan sebuah buku.

Semua bermula dari Raka yang selama beberapa hari asyik baca buku ini. Versi Bahasa Indonesianya sih. Di rak buku saya kebetulan memang ada 2 versi. Waktu itu ceritanya pengen belajar bahasa Inggris, jadi sampai nyimpen 2 bahasa.

Raka tu jarang-jarang bisa asyik baca buku. Apalagi sampai tamat. Makanya saya jadi penasaran. Kata Raka bagus banget dan bikin penasaran.

Ah...Mama pun jadi penasaran juga baca novelnya Mark Haddon yang diterjemahkan jadi Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran.

Buku ini bercerita tentang apa?

Ceritanya sebenarnya sederhana. 

Christopher Boone sebagai tokoh cerita adalah seorang anak berumur 15 tahun yang sangat suka matematika. Ia menderita syndrome aspergee yang memiliki perilaku yang begitu unik. Seperti tidak suka disentuh, tidak memahami emosi, tidak suka keramaian, terobsesi pada jadwal, banyak banget hal-hal ajaib lainnya.

Masalah dimulai dengan Christopher yang sempat dituduh membunuh anjing tetangga. Padahal ia hanya menemukan anjing itu sudah mati tertusuk garpu taman. Sadis emang.

Secara umum ini, memang buku dewasa. Bukan buku anak. Tapi ternyata banyak anak-anak yang suka juga.

Christopher pun bertekad mencari siapa yang membunuh anjing itu. Walau ayahnya yang saat itu single parent menentangnya.

Banyak kejutan tak terduga yang bikin buku ini begitu menarik. Itu sebabnya saya sangat nggak berminat menceritakan plot cerita dengan lengkap. Karena aslinya seru banget.

Mengapa buku ini menarik buat saya? 

Dan beneran, saya dibuat benar-benar terpesona dengan bagaimana Mark Haddon menciptakan karakter Christopher Bonne yang begitu hidup.

Untuk pertama kalinya rasa penasaran akan akhir cerita nggak bikin saya suka ngintip membaca halaman terakhir. Plot cerita dibuat begitu menarik oleh penulis banyak buku cerita anak ini, sehingga membuat pembaca penuh rasa ingin tahu mengenai setiap cara berpikir Christopher yang unik.

Salut banget sama kemampuan "Show not Tell"-nya Mark Haddon. Maklum lah ya, beliau ini orang Inggris yang dapat degree MA in English Literature dari University of Edinburg. 

Saya suka sekali bagaimana Christopher menggambarkan suasana hatinya saat sedang galau atau takut. Kita seperti diajak masuk ke kepala seseorang yang begitu unik. 

Juga mengenai konflik-konflik orang dewasa yang diangkat dalam novel ini. Apa yang dirasakan ayah Christopher. Mengapa ibu Christopher mengambil keputusan tertentu. Kita jadi bisa ikut merasakan apa yang mereka rasakan. 

Siapa yang perlu baca buku ini?

Buku yang versi Bahasa Indonesianya setebal 311 halaman ini memang sejatinya bukan diperuntukkan bagi anak-anak. Saya rasa buku ini lebih mudah dicerna untuk anak-anak 12 tahun ke atas lah. 

Cara berpikir Christopher yang polos, unik, sekaligus rumit bisa jadi terasa membosankan kalau untuk anak-anak. Tapi bagi orang dewasa, terutama yang suka dengan cara pandang unik seseorang, buku ini pasti akan dilahap habis. 

Kutipan menarik

Tentang Christopher yang merasa tidak jelas dengan larangan yang sering diberikan orang dewasa.

Dalam Injil tertulis Jangan membunuh tapi ada Perang Salib, Perang Dunia, dan Perang Teluk dan dalam semua perang itu ada orang Kristen yang membunuh orang lain.
-hal 43

Perbandingan dengan cerita sejenis

Cerita ini agak mengingatkan saya pada Raymond Babbit dalam film Rain Man yang dibintangi oleh Tom Cruise dan Dustin Hoffman. Dalam film keluaran tahun 1988 ini, Raymond adalah seorang kakak yang autis. Tingkah lakunya tidak seperti orang umum dan menyusahkan Charlie adiknya yang diperankan si ganteng Tom Cruise. 

Kisah lain yang mengangkat penderita sydrom Asperger adalah fim India My Name is Khan (2010). Nah ini lebih mirip nih dengan kisahnya Christopher. Kalau Christopher terobsesi mencari pembunuh anjing tetangganya, kalau Rizwan Khan yang diperankan Shah Rukh Khan terobsesi ingin bertemu Presiden Amerika Serikat untuk bilang bahwa ia bukan teroris. 

Penutup

Saat membaca lembar terakhir, yang paling terasa buat saya adalah mengapresiasi para orang tua yang diberi amanah mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus seperti Christopher. Mereka benar-benar orang-orang pilihan Tuhan untuk anak-anak yang luar biasa.

(685 kata)
Related Posts
Shanty Dewi Arifin
Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Related Posts

Posting Komentar