#5 Alasan Saya Kembali Menulis Blog

18 komentar
alasan-kembali-menulis-blog

Entah sudah berapa purnama saya kehilangan semangat ngeblog rutin. Rasanya untuk ngeblog itu kok ya butuh energi yang sangat besar. 

Ini terasa sekali terutama sejak saya banyak menulis artikel-artikel pesanan dan belajar mengenai SEO. Kok ya kegiatan menulis yang sebelumnya mengalir lancar, jadi terasa begitu berat dan membebani. 

Begitu banyak printilan yang harus dipikirkan hanya demi sebuah tulisan terpampang di blog. Mulai dari riset konten yang mendalam, mencari keyword yang dicari banyak orang, membuat tulisan yang terstruktur rapi, menyiapkan gambar pendukung, menyiapkan link internal dan eksternal, dan masih banyak lagi.

Rasanya kalau diikuti, saya perlu kerja hingga 8 jam sehari hanya demi rutin bisa update blog. Maklumlah, Mamah-mamah usia pertengahan 40-an kaya gini loadingnya mulai rada lemot. 

Padahal faktanya saya hanya punya waktu sekitar 2-3 jam sehari saja untuk kegiatan menulis ini. Ini pun kalau tidak ada kegiatan di luar rencana yang perlu dilakukan seharian. 

Belum kalau lagi pengen nonton drakor yang lagi seru. Belum kalau ada tetangga yang asyik ngajak ngobrol. Belum kalau mau baringan aja sambil cuci mata di mall online. Duh... Mama ini bisa sangat sibuk sekali sebenarnya. 

Intinya, waktu menulis cuma minimalis. Tapi mau hasil maksimalis. Duh gimana sih ini!

Itu sebabnya saya akhirnya memilih menyalurkan hobi cukup dengan free writing saja daripada pusing ngurusin blog. 

free-writing-peter-elbow
Yuk nyobain Free writing

Mengenal Free writing

Free writing atau menulis bebas adalah kegiatan menulis yang dilakukan dengan cepat dan tanpa beban. Kita hanya perlu menulis, menulis, dan menulis tanpa berhenti hingga waktu tertentu. Misalnya sekitar 15 menit hingga 30 menitan.

Kita tidak perlu memikirkan tanda baca, ejaan, atau bahkan bingung mau menulis apa. Berhubung free writing umumnya bukan tulisan yang perlu untuk dipublikasikan, menulis jadi terasa lebih ringan dan menyenangkan. 

Kita jadi bebas mencurahkan ide di kepala atau perasaan di dalam hati. Tidak perlu saling terkait, bahkan tidak perlu memikirkan struktur kalimat segala. Cukup menulis dan menulis saja.

Free writing ini sebenarnya sejarahnya sudah sangat lama. Dorothe Brande dalam bukunya di tahun 1934, Becoming a Writer telah menyebutkan mengenai free writing. Di tahun 70-an gaya menulis ini kembali diangkat oleh Peter Elbow dalam bukunya Writing Without Teacher (1973). Semakin populer ketika penulis Julia Cameron menulis buku The Artist’s way (1992).

Sejak awal tahun 2020, saya begitu menikmati kegiatan free writing. Baik itu dilakukan dalam buku tulis maupun diketik di HP atau laptop.

Tapi mau sampai kapan menulis disimpan sendiri seperti ini terus?

koleksi-buku-free-writing
Koleksi buku free writing dengan tulisan tangan sejak awal tahun 2020.

Alasan Kembali Ngeblog di Tahun 2021

Dengan seabrek-abrek hasil tulisan free writing yang acak-acakan selama ini, tiba-tiba saya merasakan kembali semangat untuk ngeblog dan berbagi tulisan untuk dibaca orang lain. 

Udah cukup ah menulis ngumpet-ngumpetnya. 

Berikut 5 alasan yang membuat saya berpikir untuk kembali menulis blogpost dengan rutin:

#1 Saya butuh menulis

Menumpahkan isi pikiran ke dalam kata-kata buat saya sudah jadi kebutuhan. Rasanya kok ya stress banget kalau sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk menulis setidaknya sebentar saja.

Selama setahun terakhir, kebutuhan untuk menulis tanpa beban memang bisa terpenuhi dengan kegiatan free writing rutin. Tapi kini, saya mulai merasakan perlunya menyampaikan sesuatu kepada orang lain secara terbuka. 

Rasanya mulai banyak yang perlu saya ceritakan kepada dunia dalam bentuk tulisan.

#2 Saya butuh perasaan berguna

Menulis untuk orang lain itu beneran deh rasanya tidak bisa dipungkiri sangat menyenangkan sekali. Ucapan seperti, “Makasih ya Teh, tulisannya membantu sekali” saja, terasa bisa bikin senyum seharian. 

Bahagia rasanya kalau saya bisa berguna untuk orang lain selain dari keluarga. Ada banyak orang yang bisa dibantu melalui tulisan yang kita buat. 

Mungkin saat ini kita belum bisa bantu uang untuk orang lain, tapi dari berbagi informasi yang bermanfaat ternyata bisa memberikan efek yang sama. Bukan tidak mungkin, tulisan kita menjadi jalan orang lain terbuka rejekinya. 

#3 Saya ingin cari uang

Terasa sekali di masa pandemi seperti sekarang, tiba-tiba arus keuangan keluarga kami tidak selancar sebelum pandemi. Ditambah lagi anak-anak sudah mulai besar dan membutuhkan biaya lebih. 

Mulai deh terasa adanya kebutuhan untuk mencari segenggam berlian.

Dengan menulis rutin di blog, saya percaya bisa membuka banyak jalan untuk ikhtiar mendapatkan penghasilan. Mulai dari sponsor post, ikut lomba, memasang iklan, memberikan pelatihan, berjualan buku, dan lain-lain. 

Tapi ya syaratnya tentu saja ngeblognya harus rutin dulu.

#4 Saya ingin meninggalkan warisan untuk anak-anak

Maksud hati sih memberikan warisan harta yang tidak habis 7 turunan buat anak. Tapi realitanya untuk membayar zakat saja, saya masih mengandalkan uang suami. 

Jadi saya pikir yang bisa saya wariskan kepada anak-anak sementara ini adalah tulisan buah pikiran sang Mama. Kalau kenangan tentang seseorang mungkin bisa hilang, tapi sesuatu yang tertulis, Insya Allah bentuknya lebih abadi. 

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. - Pramodya Ananta Toer

 

#5 Saya malu

Serius ya, saya malu banget sama teman-teman di Kelas Literasi Profesional (KLIP) yang begitu rajin untuk setoran harian. Lah masa saya sebagai penggagas komunitas ini nggak bisa ngasih contoh yang baik. 

Pasti ada yang salah kalau saya sampai nggak bisa menyempatkan menulis setiap hari. Mumpung masih ada kesempatan, saya beruntung punya teman-teman penulis yang suka berbagi dan tidak sombong dalam membagi ilmu menulis mereka. 

Saya bisa belajar dari mereka.

Mamah Gajah Ngeblog

Selain bergabung dengan sejumlah komunitas blogger seperti Blogger Hub, Blogger Crony Community, Kumpulan Emak Blogger, Blogger Perempuan, Ibu-ibu Doyan Nulis, sekarang saya punya grup blogger baru yang sangat spesial. 

Namanya Mamah Gajah Ngeblog atau MGN

MGN diprakarsai oleh Andina Rezki DKV 2002. Awal tahun 2021 di FBG ITBMotherhood, ia mengundang para perempuan alumni kampus gajah Institut Teknologi Bandung yang tertarik pada dunia blogging untuk bergabung di whatsapp grup. 

Namanya juga ibu-ibu ya, kalau ada info biasanya saling tag begitu ingat temannya. Saya juga dapat colekan dari teman-teman blogger untuk ikut gabung di WAG tersebut. 

Hingga saat ini WAG MGN sudah terdiri dari 70-an orang. Akhirnya para Mamah Gajah yang hobi ngeblog bisa ada wadahnya. Selama ini kami terpisah-pisah dalam berbagai macam komunitas blogger dan tidak saling tahu bahwa kami itu sebenarnya sealmamater. 

Di sini kami bisa menemukan circle baru yang lintas jurusan dan lintas angkatan. Asli seru.

Dan yang lebih seru lagi adalah adanya tantangan menulis bulanan. Setiap bulan ada 1 tema menarik yang diberikan. Ada bertaburan hadiah-hadiah dari sumbangan para peserta juga. 

Blogpost kali ini adalah Tantangan Mamah Gajah Ngeblog pertama dengan tema Alasan Kembali Ngeblog. 

Sayangnya, saya tidak mungkin menang untuk tantangan pertama ini. Karena kebetulan bulan Februari ini bertugas jadi juri bersama 4 teman yang lain. Kami akan memilih 10 tulisan terbaik yang selanjutnya akan di voting oleh peserta lain. 

Kebayang serunya kan?

Buat almamater ITB yang ingin bergabung dengan MGN, bisa mendapatkan link join WAG-nya di FBG ITBMotherhood. Seperti biasa, password masuk grupnya adalah dengan memberi tahu NIM kepada admin. 

Kalau punya komunitas menulis seseru ini, rasanya kok ya nggak ketemu alasan buat nggak kembali rutin ngeblog. Ya kan...ya kan…. Yuk ngeblog yuk...

tantangan-mamah-gajah-ngeblog-februari
Tantangan Mamah Gajah Ngeblog (MGN) Februari dengan tema Alasan Kembali Ngeblog.



Shanty Dewi Arifin
Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Related Posts

18 komentar

  1. Iya euy Teh Santi, saya sering ngerasa tercabik antara 2 kubu, nulis bebas (saya tuang dalam jurnal) dengan nulis untuk dipublikasikan ..padahal dua2nya perlu ya. Semangat berbagi ilmu terus ya Teh, saya siap nampunglah .. hehe.

    BalasHapus
  2. Teteh, poin-poinnya pas banget!
    Menyuarakan isi hati yang terpendam, ehehe.

    BalasHapus
  3. Salam kenal Teh Shanty... saya Rini.. FA05... Rasanya saya udah lamaa banget familiar dengan nama teteh.. hehe... Bener ya teh.. perasaan merasa berguba, meski "hanya" dari informasi yang kita tuliskan, itu precious sekali... :)

    BalasHapus
  4. Salam kenal teh, saya Restu TI 04. Dua alasan pertama kembali ngeblog, sama banget sama saya teh. Dulu lama lama saya males ngeblog karena terlalu memikirkan pencitraan. Padahal ya blog kan bebas ya. Kebanyakan buat diri sendiri juga. Ngapain pusing pusing terlalu banyak mikir. Semoga pikiran ini bisa bertahan dan buka euforia sesaat saja yaaa...hehe.

    BalasHapus
  5. Thanks juga teh Shanty 😍 senang juga memulai komunitas sama teh Shanty.

    Yes, yes, yes. Aku setuju dengan alasan2 ngeblognya.

    Aku udah belajar SEO sedikit malah kalau ngeblog lebih lega ga mikirin itu 🤭 kecuali kalau ada yang minta tulis artikel 😁 mungkin lagi break SEO dulu untuk yang organik

    BalasHapus
  6. kalau jadi juri berarti ga harus di komen ya ini, atau mending komen biar dimenangin? hahahaha... sebenernya emang ga harus blog ya, tapi kalau bisa blog kenapa ga ngeblog, bener mbak, tulisan jangan disimpan tapi harus dibagikan biar ketemu dengan pembacanya.

    sereceh apapun cerita kita, ada aja loh yang baca walau ga ninggalin jejak, hehehe.. 2021 udah dapat badge emas di KLIP kan mbak :)

    BalasHapus
  7. salim sama suhu. inspiring pisan teteh, semangat belajar nulis biar bisa bayar zakat sendiri,dalem pisan..seru deh gabung di MGN ini, bisa saling nyemangatin buat rajin nulis, apalagi tipe tulisannya macem2, ada yg free writing dan serius rapi ada tujuannya,hehe..nuhun inspirasinya, teh..tetep semangat!

    BalasHapus
  8. Aduh, alasan Teh Shanty nulisnya sangat mulia. Balance semuanya. Aku, selama ini terlalu fokus di cari uang. Jadinya tujuan awal ngeblog, terdistorsi. Semoga deh, dengan ikut MGN, aku jadi semangat buat mengembalikan fitrah tujuan blogku semua (hehe). Biair banyak tulisan organiknya :D

    BalasHapus
  9. Gak bisa untuk umum ya teh? Pengen padahal, hehe ... tapi bukan alumni

    BalasHapus
  10. Ibu hemat, walaupun sudah punya buah hati masih sempat ngeblog dengan baik. Saya saja yang masih bujangan, masih kesulitan ngatur waktu antara menulis dengan kegiatan lainnya

    BalasHapus
  11. Wiii, khususon mamah2 alumnus ITB aja yak?
    Kalo alumnus mantannya anak ITB boleh ikutan join apa kagak? *eaaakk

    Wkwkwk, semangaaatt mba.
    Sukaaa bgt baca artikel ini.
    Energi mba Shanty nulaarrr buanget!

    BalasHapus
  12. Sama bu, saya juga akhir-akhir ini jadi agak jarang menulis di blog. Tapi entah kenapa sejak membaca tulisan ini entah kenapa saya jadi ingin bangkit untuk konsisten menulis lagi ;)

    BalasHapus
  13. Masih, Kak xD. Untuk konten atau postingan tertentu masih suka "nongkrong" di blog gitu. Jadi Pen gabung, biar makin semangat ngeblognya ^^

    BalasHapus
  14. Jadi semangat bgt nih buat ngeblog gara2 baca tulisan ini. Emang ribet kalo mau tulisan kita nangkring di page one google hehe.. free writing jg kadang aku lakuin, nulis ya nulis aja tanpa perhatiin kaidah2 haha

    BalasHapus
  15. freewriting memang bagus untuk meningkatkan kemampuan kita dalam menulis dan mengasah pikiran kita, namun rasanya sayang banget jika freewriter tersebut tidak dipublikasikan

    BalasHapus
  16. Ngeblog sembari memikirkan keyword, DA, PA dan traffic memang bikin pusing mba. Dari dulu aku selalu nulis tinggal nulis aja. Belajar SEO dan sebagainya memang penting, tapi jangan jadikan itu semata-mata tujuan kita ngeblog kalau misal nggak kuat. Ntar nulisnya jadi ga nikmat soalnya kalau apa2 ditakar menggunakan angka.

    BalasHapus
  17. Teeh, banyak banget journal freewritingnya, setaun bisa ampe 4 gitu. Bener juga aku mesti coba Free Writing ini, kebanyakan suka overthinking sama apa yang mau ditulis, eh akhirnya malah mandeg di draft gara-gara idenya udah gak ngalir T_T.

    BalasHapus
  18. Halo teh :D
    Wah saya jadi penasaran nih sama free writing... Tapi kalau bukan untuk ditulis di blog rasanya sayang waktunya, hihihi... Tapi cobain dulu aja ah...

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter