Mengapa Kita Perlu Membuat Laporan Kehilangan Barang ke Polisi?

Minggu, Juli 26, 2020



Dokter dan Polisi mungkin adalah 2 profesi yang rasanya tidak ingin kita temui kalau tidak benar-benar terpaksa ya. Pengennya sih kita selalu sehat agar tidak perlu ke dokter dan tidak punya urusan yang mengharuskan kita ke kantor polisi.

Nah bagaimana kalau kita kehilangan barang berharga seperti laptop atau kendaraan bermotor? Perlukah kita melaporkannya ke polisi atau tidak?

Saya tidak menyangka, ternyata banyak dari orang-orang di sekitar saya menganggap hal itu TIDAK PERLU. “Tidak ada gunanya dan hanya menghabiskan waktu kita saja,” adalah alasan yang banyak dipakai. Belum lagi ada yang menyampaikan kalau kita malah dimintai uang jika ingin kasus kita diselidiki. Waduh, ini parah juga sih ya.

Kebetulan sekali, di akhir Juni kemarin kami kehilangan sebuah sepeda di teras rumah. Kasus klasik yang menimpa sejuta umat sepertinya. Memang sebelumnya di perumahan kami sempat kejadian beberapa kali kehilangan sepeda. Setelah satpam mengetatkan pengamanan, kasus kehilangan tidak lagi terdengar. Sampai kejadian kembali berulang di rumah kami.

Untuk kasus seperti ini perlu lapor polisi nggak ya? 

Tentu saja kami sadar tidak bisa berharap sepeda seharga 4 jutaan itu kembali. Tapi terpikir juga apakah polisi memerlukan laporan kami setidaknya sebagai data sekaligus berharap polisi lebih waspada untuk mengantisipasi kasus-kasus sejenis.

Anak saya Raka, menyarankan untuk lapor. Menurut dia itu adalah bentuk ikhtiar. Saya juga yang awalnya ragu ikut mendukungnya dengan pertimbangan melaporkan untuk pendataan. Kalau suami saya, lebih memilih tidak menghabiskan waktu untuk membuat laporan yang tidak ada gunanya.

Akhirnya, karena toh saat itu lagi sering rebahan juga di rumah, kami putuskan untuk mencoba membuat laporan polisi di kantor polisi terdekat. Sekalian ingin tahu juga bagaimana sih urusannya membuat laporan polisi itu. Bener nggak sih urusan perlu bayar-bayar itu?

Dengan berbekal data rekaman CCTV dari kamera kompleks, saya pun mencoba melaporkan. Ternyata urusan kehilangan yang seperti ini agak berbeda penanganannya dengan sekedar kehilangan surat-surat penting.

Ada informasi baru yang menurut saya cukup menarik dari polisi. Pelapor harus memiliki bukti kepemilikan yang jelas atas barang yang hilang. Bentuknya bisa BPKB untuk kendaraan bermotor, bon pembelian, atau data nomor seri dari barang-barang yang ada nomor serinya.

Masuk akal sih sebenarnya. Bagaimana mungkin kita bisa melaporkan barang yang tidak ada bukti bahwa barang itu benar-benar milik kita. Ntar repot kan kalau ada yang ngaku-ngaku kehilangan barang, taunya barangnya milik orang lain. Jadi pastikan menyimpan rapi bon-bon pembelian barang-barang berharga seperti laptop, kamera, hp, atau lainnya.

Sekarang saya jadi mengerti mengapa sering mendengar cerita mengapa ada orang-orang yang katanya dimintai polisi untuk menebus sejumlah uang jika ingin barang mereka kembali.

Walau barang sudah ditemukan, tapi pemilik barang tetap harus bayar biaya tertentu. Saya curiga ini jadi akal-akalan oknum polisi memanfaatkan celah tidak ada bukti kepemilikan barang ini. Barang yang tidak ada buktinya mungkin akan jadi milik negara. Tapi kalau kita mau bayar, bukti jadi bisa dibuat-buat. Ini mah buruk sangkanya ya.

Saya sendiri kebetulan nggak menyimpan bon pembelian sepeda yang hilang itu. Lah wong itu sepeda yang dibeli sekitar 3-4 tahun lalu. Sudah lupa nyimpennya dimana juga. Jadi ya sudahlah, diikhlaskan saja. Semoga ada rejekinya bisa beli sepeda baru yang lebih baik.

Lantas kalau begitu bagaimana? Pulang aja?

Kebetulan saat saya laporan itu pagi-pagi. Saya sempat nongkrong dulu di luar halaman menunggu Polisi yang lagi apel pagi. Saat saya laporan, ada Bapak Wakapolsek yang ikut dimintai pendapat oleh anak buahnya mengenai kasus saya. Eh si Bapak tampak begitu antusias. Saya diminta untuk mengirimkan rekaman CCTV ke WA Pak Waka.

Setelah itu saya pindah ke bagian untuk membuat berita acara lengkap mengenai kasus tersebut. Mereka bahkan langsung ikut ke rumah saya untuk melihat TKP dan mewawancarai satpam kompleks kami mengenai kejadian pencurian tersebut.

Sempat ada tetangga yang ikut menemani polisi untuk melihat TKP berbisik ke saya. “Siap-siap dimintai uang Bu, kalau dikunjungi seperti ini,” katanya. Tapi ternyata, hingga akhir pemeriksaan tidak ada cerita minta-minta uang. Semua dilakukan hanya beberapa jam dari saat saya pertama kali melaporkan ke kantor polisi. Bahkan saya dapat tumpangan gratis untuk pulang ke rumah.

Untuk hal ini, saya benar-benar merasa puas dengan pelayanan polisi. Seperti yang saya sampaikan di awal, saya tidak terlalu berharap untuk sepeda kami ditemukan. Tapi setidaknya semoga kasus ini bisa menjadikan data di kepolisian untuk mengantisipasi kasus serupa yang mungkin akan menimpa lebih banyak orang.

Dan yang bikin saya lebih senang adalah ketika suami saya pulang Jumatan pada minggu tersebut, di mesjid lingkungan kami ada tambahan ceramah dari Polisi. Belum pernah sih kejadian di lingkungan sini kalau Pak Polisi sampai perlu memberi ceramah khusus begini di acara Jumatan.

Polisi menyampaikan mengenai perlunya meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus-kasus pencurian di wilayah kami ini. Bisa jadi bukan hanya saya saja yang melaporkan kasus pencurian di lingkungan sekitar sini, mungkin ada beberapa orang lain juga yang mengalami kasus serupa sehingga polisi merasa perlu untuk mengingatkan warga di daerahnya.  Saya jadi merasa laporan saya ada gunanya untuk kepentingan orang lain.

Sepeda merek United kami yang hilang. 

Pelaporan Kehilangan dengan Sistem Online

Menurut saya, pelaporan kehilangan barang berharga ke polisi itu perlu. Khususnya untuk kasus-kasus yang sangat mungkin menimpa banyak orang. Kita tidak bisa membiarkan para pencuri dengan mudah berulang kali melakukan aksinya tanpa takut dilaporkan ke polisi. Karena semua orang hanya bisa pasrah dan tidak mau repot saat kehilangan.

Tapi memang melaporkan kehilangan itu butuh waktu. Tidak semua orang memiliki itu. Lah kita kan harus kerja, harus jaga anak, harus nonton drakor dan sosmed-an. Sayang ah, kalau setengah hari harus terbuang untuk membuat pelaporan ke kantor polisi.

Saya berharap nantinya sistem pelaporan ini bisa dibuat mudah bagi masyarakat. Menurut saya yang lebih membutuhkan laporan kehilangan itu semestinya adalah polisi yang tugasnya memberikan rasa aman kepada masyarakat. Laporan itu tidak terlalu bermanfaat buat kita-kita yang sudah mengikhlaskan kehilangan harta benda dan menggantinya dengan yang baru (walau dengan nangis guling-guling).

Saya tahu laporan masyarakat berarti kerjaan buat polisi. Bagaimana pun mereka kan jadi harus mengurangi waktu ngupi-ngupi santai sama teman di kantor untuk mengunjungi TKP dan berusaha memecahkan kasus tersebut. Apalagi katanya jumlah polisi itu tidak sebanding untuk melayani jumlah populasi masyarakat di satu wilayah.

Saya kepikiran kalau bentuk laporan kehilangan dari masyarakat itu bentuknya cukup online saja. Ada form yang bisa diisi mengenai data-data kehilangan dan bukti-bukti untuk melengkapi berita acara. Minimal laporan itu terdata di kepolisian.

Dari data online yang masuk kepolisian bisa melihat mana yang perlu dan mendesak untuk ditindaklanjuti dengan mengunjungi TKP atau sekedar mengkonfirmasi via telepon kepada pelapor.

Pelapor jadi tidak perlu kehilangan waktu setengah hari sendiri untuk ke kantor polisi seperti sekarang. Kepolisian juga bisa memiliki data kehilangan yang lebih akurat mengenai keamanan di daerah mereka.

Begitulah pengalaman saya “Terpaksa” berhubungan dengan polisi karena urusan kehilangan barang. Apa teman-teman pernah punya kasus serupa? Masuk tim lapor polisi atau tidak perlu lapor?

(1100 kata)

You Might Also Like

4 komentar

  1. Wah, jadi tulisan yang menarik nih Teh. Kalau dulu elin pernah kehilangan sepeda engga laporan sih teh. Tapi waktu itu pernah juga ke kantor polisi buat bikin surat kehilangan buku tabungan soalnya perlu banget buat cairin beasiswa sekolah adik. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dokumen penting emang kudu pakai surat polisi kan ya kalau mau ngurus penggantinya. Mudah-mudahan ngurus surat polisinya bisa free ya. Kadang kalau di Bandung, masih suka ada pungutan "seikhlasnya".

      Hapus
  2. Waduh teh, semoga sepeda'y masih jadi rejeki ya. Kalau nggak insha Allah diganti sama yg lebih baik, motor Harley misal'y 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...amin.... Minimal harapannya pencurinya nggak ngulang lagi perbuatannya di lingkungan kami. Karena sebelumnya sempat terjadi beberapa kali kasus serupa dalam kompleks. Alhamdulillah pas setelah kasusku, nggak ada laporan tetangga lain kehilangan. Semoga pencurinya takut.

      Hapus

Ikuti di Facebook

Ikuti di Twitter

Kontak

Nama

Email *

Pesan *