Mengapa Imbalan dan Garis Akhir Merupakan Hal buruk untuk Melatih Kebiasaan?

Selasa, Juli 21, 2020

Apakah teman-teman termasuk orang yang menetapkan imbalan atau garis akhir untuk melatih sebuah kebiasaan baru? Misalnya boleh dapat hadiah coklat setelah lari 3 putaran, mengikuti tantangan menulis 30 hari, target membaca 100 buku, atau target memiliki berat badan tertentu sebelum acara reuni.



Ternyata ya, menurut Rubin Gretchen dalam bukunya Better than Before, menetapkan imbalan dan garis akhir itu bukan hal bagus untuk melatih kebiasaan baik. Eh kok ya beda banget dengan teorinya Charles Duhigg dalam The Power of Habit yang menyebutkan kalau kunci kebiasaan adalah ada pemicu, ada rutinitas, dan ada imbalan.

Penjelasan Gretchen dalam bukunya membantu saya memahami kenapa saya jarang bisa mempertahankan kebiasaan dalam waktu yang lama. Sebulan aja sih bisa rajin menulis atau olahraga. Tapi abis itu berhentinya 3 bulan. Atau bahkan 1 tahun. Berat banget mau mulai lagi.

Kok bisa gitu ya?


#3 Alasan Mengapa Imbalan Perlu Dihindari

Jadi menurut Gretchen Rubin, ada 3 alasan mengapa imbalan itu tidak bagus untuk melatih kebiasaan:

#1 Menghilangkan kesenangan alami dari kegiatan tersebut

Ketika kita melakukan sesuatu karena iming-iming imbalan, secara tidak sadar kita mengakui bahwa pekerjaan ini memang berat, sulit, dan tidak menyenangkan. Kita perlu pengendalian diri lebih untuk bisa menaklukkannya.

Bawaannya, kita jadi sulit untuk mau melakukan hal tersebut tanpa imbalan. Dan biasanya hasilnya pun tidak akan sebaik saat kita melakukannya benar-benar dengan tulus dan senang hati. Bukan karena imbalan atau sekedar mencapai garis finis.

#2 Imbalan membuat kegiatan tidak berlangsung otomatis

Padahal sebenarnya yang namanya kebiasaan itu seharusnya sesuatu yang tidak perlu dilakukan dengan berpikir. Sesuatu yang terjadi secara otomatis tanpa perlu memutuskan imbalan apa yang akan saya dapatkan dengan melakukan hal ini.

Rubin Gretchen yang punya kebiasaan menulis blog setiap hari selama bertahun-tahun, tidak pernah memberikan hadiah untuk kebiasaannya menulis. Menulis adalah sesuatu yang otomatis saja dilakukan. Sama seperti gosok gigi di sebelum tidur atau pakai seatbealt. Nggak pake mikir. Duh...kapan ya saya bisa kaya gitu.

#3 Menemukan bahayanya garis akhir

Adanya garis akhir bisa jadi bagus untuk satu tujuan yang spesifik. Tapi tidak bagus untuk kebiasaan yang kita harap dilakukan SELAMANYA seperti olahraga, tidak merokok, atau menekuni bidang tertentu.

Karena biasanya, setelah tiba di batas akhir, energi habis dan akan sulit banget untuk memulai lagi. Fakta yang familiar nggak sih.

Ini terjadi dalam kasus kenalan Gretchen yang mengikuti kegiatan Bulan Menulis Novel Nasional NaNoWriMo. Setiap penulis ditantang untuk menulis 1.667 kata per hari untuk menyelesaikan novel sebanyak 50 ribu kata dalam 1 bulan. Temannya berhasil memenuhi tantangan itu. Tapi setelah itu rutinitas menulisnya pun berhenti.

Ini sama seperti kasus ingin memiliki berat badan tertentu saat menikah atau menghadiri reuni misalnya. Kita mungkin berhasil mencapai target itu. Tapi mempertahankannya susahhhhh banget.

Memulai lagi sesuatu yang sempat berhenti karena merasa berhak untuk menikmati imbalan dan beristirahat itu berat sekali ya teman-teman.

Seperti saya yang gaya menulisnya Senin-Kamis. Senin minggu ini, dan Kamis 2 minggu lagi. Terasa sekali habis waktu dan energi untuk manasin mesin dulu. Ha...ha...

Imbalan apa yang baik untuk mendukung kebiasaan?

Sebenarnya ada sih imbalan-imbalan yang bagus kalau menurut Gretchen. Imbalan yang bagus itu adalah imbalan yang membuat kita bisa bekerja lebih giat dari sebelumnya. Contohnya nih ya, ada perusahaan yang memberikan keanggotaan gym gratis bagi karyawannya yang telah minimal berolahraga 75 kali dalam 1 tahun. Imbalan yang sangat cerdas untuk bikin karyawan makin rajin menjaga kesehatan mereka ya.

Atau misalnya teman-teman yang berhasil rutin menulis, bisa menghadiahi diri sendiri dengan laptop baru yang bikin lebih semangat untuk menulis.

Contoh lain buat teman-teman yang suka memasak bisa menghadiahi diri dengan membeli peralatan memasak cantik dari tabungan karena bisa berhemat pengeluaran membeli makanan jadi.

Untuk melatih kebiasaan yang mendarah daging bagaimanapun juga tidak bisa mengandalkan motivasi ekstrinsik seperti imbalan atau pun hukuman. Namun memang perlu timbul motivasi intrinsik yang benar-benar muncul dari dalam diri. Kalau menurut Thomas Malone dan Mark Lepper, motivasi intrinsik ini bisa bersumber dari:

Tantangan: merasa tertantang untuk mengejar suatu tujuan tertentu.
Rasa ingin tahu: ada rasa penasaran ingin tahu mengenai sesuatu hal.
Kontrol: terdorong oleh rasa ingin menguasai sesuatu.
Fantasi: adanya khayalan seperti semangat saat memainkan game.
Kerjasama: menikmati proses bekerja dengan orang lain
Kompetisi: merasa senang memiliki pembanding dengan orang lain.
Pengakuan: penghargaan dari orang lain atas pencapaian kita.

Setelah tahu darimana datangnya motivasi intrinsik ini, kita bisa menyesuaikan dengan karakter kita. Mana sumber motivasi yang paling cocok untuk diri sendiri.

Kesimpulannya, yang kita butuhkan untuk membentuk kebiasaan baru adalah cukup kemajuan terus-menerus dan menikmati prosesnya. Bukan imbalan di garis akhir. Selamat melatih kebiasaan baru teman-teman…


(740 kata)

You Might Also Like

0 komentar

Ikuti di Facebook

Ikuti di Twitter

Kontak

Nama

Email *

Pesan *