Mengapa Bullet Journal Cocok untuk Orang yang Sulit Fokus dan Pelupa?

Selasa, Februari 11, 2020


Mungkin teman-teman banyak yang sudah mengenal Bullet Journaling atau bujo.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan bujo ini. Karena yang saya lihat dari bujo yang ditampilkan teman-teman di timeline, semua memperlihatkan jurnal warna-warni yang penuh ilustrasi sangat indah dengan tulisan tangan yang rapi. Saya sangat suka aja sih lihat bujo orang-orang.

Cantik banget! But no way, I’m gonna do it. 

Pertama, tulisan saya nggak serapi itu. Terutama kalau lagi perlu buru-buru dan pulpennya nggak enak.

Kedua, saya nggak bisa gambar dan kesulitan mengasosiasikan tulisan dalam bentuk gambar. Itu sebabnya saya memilih murtad sebagai Arsitek.

Ketiga, saya nggak akan punya cukup waktu bikin gambar-gambar cantik dengan pulpen warna-warni itu.

Jadi saya ikhlas menikmati bujo sebatas penggemar saja. Saya mah cukup bahagia dengan planner pabrikan yang sudah susah payah saya temukan di toko buku.

Sampai kemarin, Minggu 8 Februari 2020. Teman-teman Kelas Bunda Cekatan Ibu Profesional Bandung berencana ngumpul-ngumpul sambil nodong ilmu bujo-nya Ibu Rektor Institut Ibu Profesional, Dzikra I. Ulya (Teh Chika).

Bertempat di depan Mushola Balai Kota Bandung, kami ber-19 gelar karpet menyimak penjelasan Teh Chika. Untuk memudahkan pemahaman, kami semua dibagikan buku kecil sebagai contoh bujo.


Salah paham tentang Bullet Journaling

Teh Chika menyampaikan kalau memang banyak orang yang salah paham dengan bujo. Karena tahunya itu sekedar agenda dengan ilustrasi yang bikin orang makin keder. Yup itu saya! 

Ternyata salah teman-teman.

Bujo bukan tentang agenda dengan ilustrasi cantik. Tapi sistem yang membantu kita:


melacak masa lalu
mengorganisir masa sekarang 
merencanakan masa depan

Hah, masa sih? Asli baru tahu loh saya soal ini.

Bullet Journaling ini sebenarnya diperkenalkan oleh Ryder Carrol yang sebelumnya bekerja sebagai web designer di sebuah brand fashion di pusat kota New York.

Semua bermula pada tahun 2007 ketika ia  melihat temannya begitu riweuh merencanakan pernikahannya. Segala catatan, post it, dan bermacam informasi benar-benar membuat temannya itu kewalahan.

Ryder sendiri sejak kecil didiagnosa sebagai ADD (Attention Defisit Disorder) alias punya kesulitan untuk fokus pada sesuatu. Susah banget lah jadi orang yang punya kesulitan fokus, sementara informasi datang bertubi-tubi.

Dari situlah Ryder belajar mengembangkan sistem agenda yang membantunya untuk fokus, relaks dan lebih produktif.

Dengan malu-malu, Ryder ngasih lihat sistem penulisan agendanya. Temannya itu langsung ternganga dan bilang: “Kamu harus memperlihatkan ini sama orang lain!”

Ryder kemudian memberanikan membuat website. Dia bahagia banget ketika punya 100 unique visitor pertama di websitenya. FYI, unique visitor itu artinya pengunjung setia yang beberapa kali bertamu ke website kita. 

Keajaiban terjadi ketika websitenya itu diliput oleh media-media besar seperti Lifehack.org, Fast Company, The Wall Street Journal, Los Angeles Times, BBC, dan lain-lain. Langsung viral deh. Dalam hitungan hari, unique visitornya bertambah dari 100 jadi 100 ribu!

Pada Oktober 2018, buku The Bullet Journal Method terbit. Dan langsung bertengger di New York Times Bestseller pada awal November 2018.

Mari kita standing ovation untuk Mas Ryder.

Sumber: Foto dikompilasi dari webnya Mas Ryder bulletjournal.com

Mengapa Bullet Journaling disukai banyak orang?

Jadi kenapa orang tergila-gila dengan bujo? Karena ternyata ini sebuah sistem penulisan agenda yang lebih sederhana dan efektif dibandingkan dengan sistem agenda konvensional.

"Tapi gimana kalau saya emang bukan orang yang suka agenda-agendaan." 
"Saya mah menikmati hidup dan membiarkannya mengalir tanpa beban."
"Saya nggak mau stress sama tekanan harus nulis catatan ini itu."

Eits ntar dulu. Kamu kudu dengar dulu penjelasan mengenai bujo ini.

#9 Prinsip penulisan bujo yang perlu kamu ketahui

Jadi sistem bujo ini memang unik. Saya sampai merasa ini seperti sistem Konmari-nya penulisan catatan. Kalau beberes rumah ada Konmari, kalau merapikan catatan ada Bullet Journal.

Biar nggak salah kaprah lagi, berikut #9 Prinsip Bullet Journal yang perlu kamu ketahui:

#1 Ditulis di buku

Prinsipnya ini adalah sistem analog yang ditulis dengan pena di dalam sebuah buku.

Hari gini masih nulis tangan? 
Apa yang salah dengan calender digital yang biasa pakai di smartphone?

Nggak masalah sih. Cuma ternyata memang ada sesuatu antara menulis tangan dengan cara otak bekerja. Ini sudah dibuktikan oleh banyak pengguna bujo yang mengaku mereka jadi lebih fokus setelah beberapa bulan rutin menulis dengan sistem bujo.

Bujo idealnya menggunakan buku ber-dot atau titik-titik. Kalau buku bujo asli yang dijual Mas Ryder itu ukurannya 14,5 x 21 cm dengan 249 halaman. Tiap halaman ada nomor halamannya. Harganya 25 dollar aja sih.

Tapi pengalaman Teh Chika, kita bisa menggunakan buku apa saja kok. Bahkan Teh Chika sempat menunjukkan bujonya yang menggunakan buku kotak-kotak matematika itu aja loh.

Saya sendiri memilih mempratekkan bujo dengan menggunakan buku tulis ukuran 17,5 x 24,5 cm. Kebetulan ada stok buku anak SMP yang masih belum terpakai. Jumlah halamannya 94.

Teman-teman bisa juga mendapatkan buku sejenis di toko online dengan harga yang terjangkau.

#2 Nomor Halaman

Salah satu kuncinya bujo ini ternyata di penomeran halaman. Setiap halaman di buku, perlu kita beri nomor untuk memudahkan membuat Index atau daftar isi.

Nah kalau kebetulan buku kita nggak ada nomor halamannya seperti punyanya Mas Ryder, ya kita tulis manual aja. Lumayan 25 dollar bisa buat belanja seminggu.

#3 Index atau Daftar Isi

Jadi di halaman pertama bujo, kita dedikasikan untuk halaman Index. Seluruh isi bujo kita, bisa kita lihat dari daftar isi ini.

Dengan mudah, kita bisa menemukan di halaman berapa kita menulis rencana bulan Maret, daftar kegiatan anak-anak, atau rencana acara akhir tahun yang sedang kita rencanakan.

Sumber: bulletjournal.com

#4 Future Log

Setelah halaman Index, buat Future Log sekitar 4 halaman. Disini tempat menuliskan rencana yang akan datang. Untuk 1 halaman bisa kita dedikasikan untuk 3 bulan.

Sumber: bulletjournal.com


#5 Monthly Log 

Sistem monthly log-nya bujo ini agak unik. Bukan sistem kalender bulanan 2 halaman biasa seperti yang banyak menjadi template planner.

Memang sama-sama menghabiskan 2 halaman. Tapi halaman kiri dijadikan halaman kalender dengan tanggal yang ditulis vertikal. Bisa juga ditambahkan habit tracker jika diperlukan. Sementara halaman kanan dijadikan halaman tugas.

Ini sebabnya, kita perlu buku yang jumlah barisnya tidak kurang dari 31 baris. Biar muat untuk dibuat tanggal dalam sebulan secara vertikal. Jadi kayanya buku tulis anak SD yang hanya punya 25 baris, kurang tepat untuk membuat bujo. Kalau buku tulis yang anak SMP, jumlah barisnya pas 31. #BujoVersiIrit

Pada halaman kalender yang ada tanggalnya, kita tuliskan acara-acara penting yang sudah direncanakan.

Setelah mencoba, saya merasa lebih enak menulis acara dengan sistem tanggal yang ditulis vertikal seperti ini daripada sistem kalender yang berbentuk tabel. Menulisnya jadi lebih luas dan lapang dalam 1 baris panjang. Nggak terbatas oleh kotak-kotak hari yang sempit.

Habit tracker bisa ditambahkan pada bagian kanan di halaman kalender ini. Tidak perlu banyak-banyak. Cukup 1-3 kebiasaan yang ingin dilatih saja.

Pada halaman tugas, kita tuliskan tugas apa saja yang rencananya akan kita kerjakan di bulan tersebut.

Sumber: bulletjournal.com

#6 Daily Log 

Sekarang kita masuk kebagian yang paling menyenangkan dari bujo. Namanya daily log atau catatan harian. Daily log ini tidak perlu kita masukkan ke dalam Index. Beri judul halamannya dengan bulan, tanggal, dan hari. Ini untuk memudahkan kita mencari kegiatan kita pada hari tertentu.

Dalam daily log, kita bisa menuliskan apa saja. Bisa nulis tugas yang perlu kita kerjakan, acara yang kita hadiri, catatan penting mengenai apa yang kita pelajari, perasaan kita, gratitude jurnal, atau apa saja. Bebas!

Ini juga salah satu keasyikan bujo. Ia mampu menggabungkan diary, gratitude jurnal, to do list, don’t forget list, dan lain-lain. Makanya kalau nonton YouTubenya bujo, itu adegan pembukanya adalah bujo yang memakan buku dan catatan lainnya. Cukup 1 bujo yang powerful!

Sistem penulisan bujo yang mengalir tanpa batas ini, memungkinkan kita lebih fleksibel dalam menentukan banyaknya halaman.

Misalnya bisa saja pada 1 hari kita memerlukan 1 halaman sendiri untuk 1 hari. Tapi ada saatnya kita bisa menggabungkan 3 hari cukup dalam 1 halaman saja. Atau mungkin ada hari-hari yang kita lagi tidak ingin menulis sama sekali. Tidak ada tugas, tidak ada kegiatan penting yang perlu dicatat. Mau baringan aja seharian nonton drakor. Ya udah, kita skip saja hari itu nggak usah ada daily lognya.

Jadi nggak ada istilahnya planner yang bolong-bolong karena nggak keisi. Semua terisi sesuai kebutuhan. Mulai lihat kecenya bujo kan?

Sumber: bulletjournal.com


#7 Kode khusus

Ini satu lagi kunci lainnya di bujo. Saya angkat topi bener sama sistem yang ditemukan Mas Ryder ini. Kok ya kepikiran bikin kode-kode seperti ini yang beneran bikin menulis jurnal menjadi lebih efektif.

. (titik tebal) digunakan untuk tugas
O (huruf O) digunakan untuk acara
- (strip) digunakan untuk catatan

X (dot yang diberi tanda silang) digunakan untuk tugas yang sudah diselesaikan
> (dot yang diberi tanda lebih besar) digunakan untuk tugas yang perlu dimigrasi karena belum beres dan perlu dilanjutkan pada waktu lain. Tugas yang belum beres ini bisa dimasukkan ke halaman tugas yang terdapat di monthly log. Biar kita nggak lupa. Masih ada PR ini!
< (dot yang diberi tanda lebih kecil) digunakan untuk tugas yang telah memiliki jadwal baru pada waktu tertentu. Karena jadwalnya sudah jelas, bisa dipindahkan ke bagian halaman kalender di monthly log.

*(asterix) digunakan untuk menandai hal yang penting atau prioritas
! (tanda seru) digunakan untuk menandai hal-hal yang jadi inspirasi
+ (tanda tambah) digunakan untuk catatan yang perlu eksplorasi lebih jauh.

Kok ya kepikiran sih bikin tanda seperti ini? Saya baru lihat betapa tidak efektifnya sistem bullet menggunakan kotak yang kemudian diceklist sebagai tanda kalau sudah dikerjakan.

#8 Collection

Collection ini adalah lembar khusus dimana kita bisa menuliskan proyek tertentu, catatan pertumbuhan dan perkembangan anak, sketsa ide, rencana keuangan, daftar tulisan yang kita buat, dan apa saja yang ada di kepala kita.

Beri judul lembar khusus ini, dan jangan lupa dituliskan di daftar isi, agar kita mudah mencarinya.

Jangan khawatir mengenai jumlah lembar saat menulis di bujo. Misalnya pada awalnya kita menyiapkan halaman 71 dan 72 untuk catatan daftar buku yang kita baca. Halaman 73 dan 74 sudah kita untuk catatan daftar film yang kita tonton. Terus kalau daftar buku kita sudah penuh sampai akhir halaman 72, lanjutnya kemana dong? Tenang saja, ya tinggal lanjut di halaman manapun yang masih kosong. Bisa lanjutkan ke halaman 79 dan 80 misalnya.

Nanti di Index tinggal ditulis:
Daftar buku: 71-71, 79-80.

Saya benar-benar menikmati halaman koleksi ini. Semua catatan saya yang bertebaran dimana-mana, bisa disimpan rapi di halaman koleksi.

Ada saran dari Ryder, kalau halaman koleksi bisa diletakkan di sepertiga halaman terakhir. Dia sendiri sih merasa tidak bisa menentukan seberapa banyak halaman yang diperlukan untuk koleksi. Cuma amannya minimal siapkan 2 halaman kanan dan kiri. Selebihnya dibiarkan mengalir sesuai kebutuhan.

Contoh koleksi. Sumber: bulletjournal.com

#9 Hanya perlu 10 menitan sehari

Ini yang sempat menghalangi saya melirik bujo sebelumnya. Saya pikir kita akan menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk menghasilkan bujo yang cantik dan menarik.

Ternyata nggak banget loh.

Menurut Ryder, dengan sistem yang rapi begini, kita hanya memerlukan waktu 5 menit di pagi hari, dan 5 menit di akhir akhir untuk mengevaluasi. Apakah ada tugas yang telah beres atau perlu dipindahkan ke hari lain.

Jadi pada prinsipnya, bullet journaling itu lebih mengalir dan fleksibel.

Saya sendiri sempat memamerkan planner saya ke Teh Chika. Nah, menurut Teh Chika, itu ada bagian yang kosong-kosong karena tidak terisi atau ada bagian yang kelihatan kepenuhan.

Dalam bujo, hal seperti itu tidak akan terjadi.

Karena sistemnya dibuat mengalir. Kamu nggak harus menulis daily log setiap hari jika memang tidak ada yang terlalu penting. Atau kamu bisa menulis daily log yang panjang lebar mulai dari apa yang kamu pelajari hari itu, perenungan yang terjadi, sampai ke gratitude jurnal (jurnal syukur).

Bener juga! Ini sistem yang saya cari. Selama ini saya memang kewalahan dengan punya banyak buku. Ada planner, ada lembar habit tracker yang ditempel di dinding, ada buku keuangan, ada buku jurnal, ada buku pelajaran tertentu, buku ide, dan banyak lagi. Belum lagi post it dan catatan di notes Hp.

Walau rajin mencatat, sebagai orang yang pelupa, saya kesulitan mengingat dimana menyimpan catatan tertentu. Dengan bujo, semua tersimpan dalam 1 buku dengan sistem yang linear. Urusan ilustrasi warna-warni itu adalah bonus.

Yang kesemsem dan pengen kenalan sama Mas Ryder, langsung aja nyimak tutorialnya di YouTube.


Bullet Journaling cocok untuk ibu-ibu 

Kadang saya juga berpikir, agenda itu adalah mainannya orang-orang kantoran yang punya proyek-proyek besar. Tapi ternyata ya nggak juga. Banyak loh ibu-ibu rumah tangga yang kepayahan mengorganisir banyak hal di kepalanya. Dari daftar masakan untuk keluarga, jadwal les anak-anak, daftar arisan, daftar hutang, data kesehatan anak-anak, dan lain-lain.

Dalam bagian awal buku bujo yang dibagikan Mas Ryder secara gratis kepada subcriber blognya, diceritakan pengalaman seorang ibu yang kewalahan dengan kegiatannya sehari-hari bersama anak bayinya. Bagaimana MPASI-nya, imunisasinya, hobi si ibu, dan lain-lain. Dengan bantuan bujo, hidupnya jadi lebih produktif.

Kalau saya lihat postingan di blog bullet journal, itu banyak post tips bujo untuk para ibu dengan anak berbagai usia, bahkan sempat lihat bujo untuk bisa mengelola finansial keluarga. Bujo memang sangat fleksibel untuk bisa disesuaikan dengan gaya dan kebutuhan setiap orang.

Dengan bujo, kita jadi lebih mudah melihat kembali semuanya dalam 1 buku saja. Nggak ada cerita lupa nulisnya dimana. Nggak ada lagi perlu post-it to do list yang seabrek-abrek. Semua bisa rapi dalam daily log, monthly log, future log, dan sejumlah collections.

Yuk ah nge-bujo sambil makan bubur kacang hijau, tunggu apa lagi?

Chika Dzika I Ulya berbagi bujo di kelas BunCek Bandung

Kelas Bunda Cekatan IP Bandung Batch 1
Semoga yang difoto ini pada bisa lulus kelas Bunda Cekatan. Aminkan Saudara-saudara....


You Might Also Like

6 komentar

  1. Teh shan.. Suka banget sama alur penulisannya. 😍 See.. You'll love bujo. 😄

    BalasHapus
  2. Teh, bujo punya Teh Shanty mana? Eh iya aku jadi keinget mau bikin proyek bikin bujo Ramadan. Soalnya sering lupa juga sama kegiatan yg seharusnya dilakukan pas Ramadan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti setelah praktek 3 bulan baru kupamerkan. Biar sah ilmunya.

      Hapus
  3. Toss dulu teh, sesama murtad jadi arsitek 🤣🤣🤣.

    Btw, kayaknya menulis bujo secara manual cukup korelatif dengan talkshow pak Sapta tentang Kematian Tulisan Tangan. Karena ternyata ketika kita menulis, sama aja kita mengajak otak kita bekerja lebih baik. Kurleb begitu lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada sesuatu dibalik kembali menulis dengan tangan ya Mir.

      Hapus

Follow Me on Facebook

Follow Me on Twitter

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *