Siapa Blogger Terburuk 2019?

Rabu, Januari 22, 2020

blogger terburuk 2019

Coba ngacung siapa yang masing suka baca blog?

Terus terang saya sendiri saja makin ke sini kok ya makin malas saja baca blog. Kadang cuma lihat judulnya, terus dilewati begitu saja. Kadang ada yang judulnya menarik, lah taunya isinya kopong dan tidak menjawab keingintahuan saya dengan pas.

Atau ada yang beneran bagus banget nih materinya, lah sayanya nggak punya cukup waktu untuk bisa tuntas membaca. Duh saya memang pembaca yang rewel banget dah.

Atau sebenarnya memang malas membaca aja sih.

Siapa bilang jadi blogger itu mudah!

Menjadi blogger itu ternyata memang nggak benar-benar mudah. Dulu saat pertama kali punya blog serius di tahun 2016, saya pikir menjadi blogger itu semudah membuat akun sosial media. Cukup buka akun dan setor tulisan kapan saja saya mau.

Setelah banyak bergaul dengan teman-teman dari berbagai komunitas blogger, barulah mata saya terbuka betapa rumitnya pekerjaan seorang blogger itu. Dan itu benar-benar harus ditekuni dengan sangat serius. Perlu benar-benar kerja penuh waktu kalau ingin dengan bangga menyebut diri punya profesi sebagai blogger.

Lah emang ngapain aja sampai perlu full time job gitu? Bukannya cuma nulis-nulis aja ya?

Ternyata yang namanya nulis-nulis aja itu, nggak sesederhana itu juga. Untuk membuat postingan yang bagus tentunya perlu data pendukung yang cukup, perlu banyak baca, perlu image yang menarik, dan banyak tetek bengek lainnya.

Sampai urusan membagikan tulisan agar bisa terbaca oleh banyak orang itu saja perlu strategi khusus loh.

Makanya, kita itu perlu memberi apresiasi lebih bagi mereka yang bisa menjadi blogger yang konsisten selama bertahun-tahun. Itu sebuah pekerjaan yang memerlukan dedikasi yang tinggi.

Apa sih kategori blog yang nggak asyik itu?

Kalau menurut saya sih, ada beberapa ciri blog yang nggak asyik dan bisa dapat status blog terburuk sepanjang tahun. Kasihan amat ya. Pastikan blog teman-teman nggak punya ciri-ciri berikut:

#1 Posting tidak rutin

Karena sering melihat postingan blog teman-teman di Feedly, saya jadi tahu blog-blog yang rutin posting tiap hari atau 1 minggu sekali. Kelihatan sekali bedanya blog yang penulisnya rajin dengan yang cuma menulis sebulan sekali. Itu pun untuk post bayaran. Latihan rutin itu ternyata memang tidak bisa dipungkiri hasilnya.

#2 Isi post tidak konsisten dan nggak jelas

Bisa jadi efek menulisnya cuma sebulan sekali, jadi wajar sekali isi postnya kelihatan agak berantakan. Pesannya jadi nggak jelas ingin menyampaikan apa.

#3 Post hanya informasi pesanan yang ditulis setengah hati

Dapat kerjaan menulis bayaran ini memang dilema juga sih ya. Kadang saat menerima tawaran kerjaan, kita tuh nggak benar-benar mengetahui informasi apa yang perlu kita sampaikan kepada pembaca di blog. Ketika setelah selesai acara dan mendapat materi lengkap, baru kita tahu kalau kita nggak sreg untuk menulis tentang hal tersebut.

Nah kalau sudah begitu, repot banget tuh menuliskannya. Paling nggak enak, terpaksa menulis dengan setengah hati. Apalagi ditambah dengan dikejar-kejar deadline. Sebuah kombinasi yang mematikan untuk menghasilkan tulisan yang nggak banget.

#4 Fotonya jelek

Kelihatan banget nggak niat nyari foto yang mendukung postingannya. Memang sih, mendapatkan foto event yang bagus memerlukan ilmu khusus. Nggak harus pakai kamera mahal kok untuk menghasilkan foto bagus.

Jadi blogger emang nggak boleh malas buat terus belajar dan menghasilkan foto yang bagus. Foto seadanya itu benar-benar merusak penampilan blog!

#5 Post tidak memberi manfaat kepada pembaca

Ini juga yang sering bikin saya sebel kalau baca blog. Udah ngabisin waktu membaca, lah ujungnya kok nggak ngerasa dapat apa-apa. Kadang pengen laptop atau hpnya dilempar saking jengkelnya. Cuma kan mahal ya, dan saya belum sultan banget untuk bisa beli gantinya dengan mudah.

#6 Niche post nggak jelas

Namanya juga nulisnya jarang-jarang. Wajar kalau idenya jadi nggak lancar keluar. Sepertinya benar ketika para pakar blog ribut banget soal perlunya blog punya niche yang jelas. Setidaknya saat bingung mau menulis apa, niche blog bisa memberikan arah yang lebih fokus.

#7 Pageview rendah

Kalau sudah punya 6 ciri di atas, biasanya sangat wajar kalau pageview blog sangat rendah. Ya...sekitar 1000 an saja per bulan. Atau sekitar 50 hingga 100-an saja sehari. Sedih banget nggak sih.

Kita bicara mengenai pageview di Google Analytics ya. Bukan yang di statistik blog yang sering menipu itu. Terutama kalau pakai blogspot, angka statistik di blog bedanya bisa jauh banget dengan yang Google Analytics.

Jadi siapa nih blogger terburuk tahun 2019? 

Dari semua kategori di atas ternyata ada dong blog yang menyapu bersih semua kategori di atas.

Google Analytics


Tak lain dan tak bukan, dengan rasa malu yang luar biasa, gelar ini saya persembahkan kepada Shanty Dewi Arifin penulis blog www.ceritashanty.com (Saya mendengar huuuuuu……. yang panjang saudara-saudara).

Kok bisa Shan? Kenapa bisa sampai separah itu?

Setelah saya renungkan selama beberapa menit. Alasannya nggak jauh-jauh dari kombinasi terlalu ingin membuat post sempurna, suka menunda, dan kemalasan tingkat tinggi. Entah kenapa setahun kemarin saya jadi begitu mudah terdistraksi dan kehilangan fokus untuk menulis. Lemah banget lah.

Jadi target saya di tahun 2020 tidak terlalu muluk-muluk juga. Setidaknya gelar Blogger terburuk bisa lepas dari tangan saya. Pastikan juga gelar itu nggak jatuh ke blogmu ya.

You Might Also Like

3 komentar

  1. *ikut ngacung sambil nunduk
    Iya banget, Mbak, soal alasan kenapa tidak segera menelurkan postingan blog. Padahal kan "Done is better than perfect"

    BalasHapus
  2. Aku senyum-senyum baca artikel ini Mbk. Menohok dan jleb tapi endingnya biki merenung. Sukses bikin jantung jedari jedor hehe... thansk sharingnya.

    BalasHapus
  3. Paling KZL memang kalau baca awalnya sponsor post dan ternyataaa...rutin nulis kalau ada iklan aja.

    Huuhuu..
    Ini blog atau etalase?!

    BalasHapus

Ikuti di Facebook

Ikuti di Twitter

Kontak

Nama

Email *

Pesan *