Belajar Relasi Menantu - Mertua dari serial Oshin

Senin, Mei 13, 2019

Sumber: IMdB


Suka deh episode-episode Oshin yang sekarang. Kini memasuki setting tahun 1955, dimana Oshin tengah membangun toko swalayan pertamanya dan sudah jadi mertua.

Cerita jadi terasa utuh jika mengingat masa-masa Oshin sebagai menantu yang terzalimi. Dulu ada ibu mertua yang mengharuskan Oshin bekerja keras sebagai petani di ladang walau sedang hamil, diberi makan seadanya. Hingga puncaknya Oshin harus kehilangan bayinya karena kurang gizi.

Kini Oshin punya menantu. Ia sebenarnya sudah berjanji nggak akan jadi mertua yang jahat seperti ibu mertuanya dulu. Tapi kenyataannya hal itu menjadi sulit. Ada satu titik, akhirnya Oshin menyadari bahwa ia dulu juga menantu yang tidak begitu baik.

Berada pada posisi yang sama, memang akan membantu seseorang untuk bisa memahami sebuah kejadian dengan lebih baik. 

Sebagai mertua, sejak awal Oshin sudah dikejutkan oleh pilihan anaknya, Hitoshi. Nggak beda jauh dengan ketika Ryozo menolak gadis pilihan ibunya dan lebih memilih Oshin.

Oshin pikir Hitoshi akan memilih Yuri. Gadis sederhana yang manis dan sudah mengabdi 3 tahun di keluarga Oshin. Ternyata Hitoshi lebih memilih Michiko yang merupakan anak tunggal seorang kaya raya yang menjanjikan akan berinvestasi di toko keluarga mereka. Sebuah pilihan yang materialis!

Terus ada lagi masalah Michiko maunya punya rumah sendiri dan tinggal terpisah dari rumah mertua. Sama Oshin itu nggak boleh banget. Istri seorang pedagang harus tinggal di tokonya dan membantu di rumah suaminya.

Ehm jadi ingat kan bagaimana mertua Oshin yang mewajibkan Oshin bekerja di ladang karena mereka adalah keluarga tuan tanah.

Oshin sangat blak-blakan ngomong soal ini dengan Michiko sebelum terjadi pernikahan. Menurut Oshin, sebaiknya Michiko nggak perlu menikah dengan Hitoshi jika tidak mau tinggal di rumah mereka. Wow, bisa jadi mertua tegas begini Oshin.

Negosiasi antara Oshin dan keluarga calon besannya. Semuanya harus jelas sebelum pernikahan.


Tapi dari sudut pandang mertua, kita jadi bisa melihat cara berpikir mereka. Nggak salah-salah amat juga sih. Buktinya akhirnya Michiko yang menyerah dan mengikuti maunya Oshin, setelah Bapaknya sendiri juga setuju dengan cara berpikir Oshin. Karena si besannya ini juga mengalami pengalaman yang sama dengan Oshin. Kalau si besan memilih hidup terpisah dengan istrinya daripada hidup bersama orang tuanya.

Cuma yang uniknya, anak perempuan Oshin - Tei, terang-terangan bilang ke ibunya kalau ia tidak akan mau menikah dengan laki-laki yang mengharuskannya tinggal di rumah orang tuanya. Ha….ha…. Ternyata di tahun 1955-an, berubahan budaya tinggal di rumah mertua vs tinggal sendiri sudah terjadi.

Akhirnya orang tua Michiko ikhlas anaknya menjadi keluarga Oshin. Restu orang tua memang yang utama.


Konflik terbaru adalah ketika Oshin meminta Michiko menjadi nyonya rumah dengan melakukan semua urusan rumah tangga seperti memasak dan mencuci. Anak angkat Oshin, Hatsuko yang biasa mengurus rumah tangga diminta untuk mengurus toko baru secara penuh waktu.

Wah kebayang dong Michiko si anak manja langsung kelimpungan. Bener dong, baru 2 hari sudah memilih kabur dari rumah pulang ke rumah orang tuanya. Oleh Oshin, Hitoshi dilarang menelpon atau menjemput Michiko. “Kalau dia mau pulang, biar dia pulang atas kehendak sendiri,” kata Oshin.

Tapi dasar Hitoshi suami sayang istri. Nggak tahan dia buat jemput istrinya. Eh pas Hitoshi berangkat, ternyata malah Michiko yang pulang ke rumah Oshin sama Bapaknya.

So sweet banget ya.

Bapaknya Michiko minta maaf atas kemanjaan anaknya. Tapi di situ Michiko bilang kalau dia nggak sanggup jadi menantu Oshin. Dia nggak sanggup kalau harus kerja seberat Oshin dan anggota keluarga lain di toko.
Di sini sweet-nya Oshin keluar lagi.

“Bagaimana perasaanmu terhadap Hitoshi?” tanya Oshin
“Saya sangat mencintainya,” jawab Michiko

“Berarti kalau begitu tidak ada masalah. Itu sudah cukup,” jawab Oshin tidak terduga-duga.

Oshin memutuskan untuk tidak lagi memaksa menantunya melakukan apa pun. Tapi tanggung-jawab sebagai nyonya rumah tetap di tangan Michiko sebagai istri anak tertua. Michiko boleh mengatur rumah tangga sesuai kemampuannya.

Wah, langsung happy dong Michiko. Bapaknya langsung ia suruh pulang. Hadeuh….repotnya punya menantu anak mami kaya gini.

Tapi bener ya, agak beresiko memiliki menantu yang tidak punya gaya hidup yang sama. Seperti si Michiko ini, dia kesulitan sekali harus mengikuti cara kerja keluarga Oshin yang pekerja keras dan tidak bermanja-manja. Diam-diam dia dapat uang saku dari orang tuanya untuk bisa makan enak. Karena merasa jarang bisa makan daging dan hanya sisa ikan di toko yang bisa di makan. Tentu saja ini menyedihkan hati Oshin dan membuatnya merasa sangat terhina. Oshin memang memjatah keuangan Michiko karena mereka memang masih dalam kondisi harus berhemat untuk membiayai renovasi toko baru.

Oshin pun berjanji akan jadi kaya raya dan tidak lagi dipermalukan oleh menantunya. Puk...puk...Oshin.

Bagian ini mengingatkan pada waktu Oshin ingin bekerja sebagai penata rambut di kampungnya Ryuzo untuk menambah uang saku karena ia kurang uang dan tidak bisa minta tambahan ke ibunya Ryuzo sebagai pemegang uang.

Saat itu ibunya Ryozo juga sangat marah dan nggak mengizinkan Oshin kerja. Itu memalukan keluarga karena dianggap tidak bisa ngasih makan menantu dengan layak. Ehm. beda tipis sama kondisi Michiko saat ini yang harus menurunkan kebutuhan hidupnya dibanding saat masih gadis.

Makanya dia bahagia sekali ketika akhirnya bisa pulang ke rumah orang tuanya dengan alasan hamil dan tidak bisa optimal membantu Oshin yang tengah sibuk dengan toko baru.

Ketika kita lihat gaya Hitoshi sekarang yang terjepit antara ibunya - Oshin dan istrinya - Michiko, kita jadi ngerti posisi Ryuzo dulu yang juga harus menghadapi ibunya dan Oshin.

Dulu saya suka gemes kalau lihat Ryuzo seperti tidak membela Oshin dan mendukung ibunya saja. Sekarang saya kepingin Hitoshi juga membela Oshin dan bukannya Michiko. Tapi cinta terhadap istri dan kebiasaan yang sudah mendarah daging bersama seorang ibu, pasti merupakan pertentangan yang berat bagi seorang suami.

Jadi ya gitu deh ya…. Hubungan antara menantu dan mertua itu memang bisa sangat ajaib karena berbedaan kebiasaan dan generasi. Kuncinya ada di komunikasi. Ada saatnya pertimbangan ibu benar, ada saatnya pertimbangan istri benar. Setiap masalah sebaiknya dibahas dan dibicarakan dengan tenang dan terbuka. Berusaha menempatkan diri pada posisi orang lain. Jadi sejumlah konflik bisa diminimalisir.

Saksikan Oshin di TVRI setiap hari Senin - Jumat pukul 10 pagi

You Might Also Like

2 komentar

  1. Huwaa
    Padahal kalau oshin tau digituin rasany g enak harusny g nggituin n g terlalu ikut campur
    Wah ternyata siklus emng susah diputus y mb
    Kalau punya anak cew harus milih ibu mertua yg bahagia nih biar g dijadiin pelampiasan mertuany
    Moga2 aku bisa jadi mertua yg sayang sm mantu (anakku cow) 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, orang baru paham pas di posisi itu. Ada pertimbangan-pertimbangan yang mendasarinya. Kaya untuk kasus Oshin ini kan anak dan menantunya mesti tinggal bareng karena harus membantu mengurus toko.

      Tapi kayanya menurutku emang penting lah buat mertua - menantu jangan tinggal serumah biar ada kesempatan untuk sama-sama mandiri. Setidaknya di 1 sampai 2 tahun pertama pernikahan.

      Bisa lah kayanya Miyosi jadi Mama Mertua tercinta.

      Hapus

Follow Me on Facebook

Follow Me on Twitter

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *