Bagaimana cara orang sibuk melakukan hobinya? Belajar dari Salto Band ITB 93

Selasa, April 09, 2019

Salto Band ITB 93


Coba diingat-ingat kapan terakhir kali teman-teman melakukan hobi yang seru? Hobi yang asyik itu biasanya bikin kita lupa waktu. Seru aja saat melakukannya. Bikin kita semangat dalam menjalani hari-hari.

Saya sendiri punya hobi nulis dan baca buku. Bawaannya kalau cium bau buku udah kaya yang lewat depan toko roti Br**d T*lk yang harum semerbak itu. Lapar dan pengen segera dilahap.

Tapi apa daya, nafsu sama tenaga nggak seimbang. Pengennya sih hari-hari baca buku melulu. Cuma apa daya, kadang ada aja kesibukan yang bikin hobi jadi sekedar hobi.

Kok ya kayanya selalu ada saja kerjaan yang sepertinya lebih penting. Jalan-jalan di dunia maya sampai tersasar di portal-portal berita artis yang baru cerai misalnya. Atau malah ikutan meramaikan perang sosmed dalam rangka pemilihan presiden. Duh!

Itu makanya saya suka kagum sama teman-teman yang bisa tetap berkomitmen menekuni hobinya walau apapun yang terjadi. Apalagi ketika hobi itu ternyata bisa dinikmati banyak orang juga. Asyik banget.

Seperti teman-teman saya di ITB angkatan 1993 yang punya hobi main musik.

Personil salto band ITB 93
Personil Salto Band (Foto: Salto band)

Mengenal Salto Band ITB 93

Salto ini adalah bandnya anak-anak ITB angkatan 1993. Salto sendiri adalah singkatan dari Salapan Tilu Oye.

Personilnya memang kebanyakan anak-anak AR (Teknik Arsitektur), seperti Mulya ‘Bonge’ (vocal), Asti (vocal), Rully (drum), Didiet (keyboard), Anneke (keyboard), Aris (gitar), dan Prio (bass).

Tapi juga ada teman-teman jurusan lain seperti Cindee (vocal), Ida (vocal) dari Seni Rupa, Arief (Saxophone) dari Teknik Pertambangan, Viar (vocal) dari Teknik Geodesi, Arfan (vocal) dari Teknik Perminyakan.

Aliran musiknya sih katanya genre baru bernama Happy (bukan Heavy loh) Metal. Pokoknya musik yang jamin penontonnya bergoyang. Cocok nih buat mamah-mamah yang malas gerak. Dijamin kalau dengerin musik Salto, bisa ikutan goyang-goyang. Minimal jempolnya lah.

Ini band dari zaman kuliah ya?

Nggak juga sih. Walau emang beberapa personil memang pernah ngeband dari jaman SMA, tapi Salto sebenarnya baru dibuat jauh setelah mereka lulus dari ITB.

Salto baru dibentuk dalam rangka Festival Band ITB tahun 2017 lalu. Bukan apa-apa sih. Malu aja, masa angkatan 93 nggak setor muka di acara sepenting itu.

Maka beberapa personil awal seperti Bonge, Aris, Didiet, Rully, mulai serius mengajak teman-teman lain untuk membuat band.

Sebagai pemula, prestasi Salto lumayan keren loh. Salto berhasil menyabet penghargaan Aksi Panggung Terbaik di Festival Band ITB 2017. Keprok….keprok saudara-saudara.

Kok sempat sih latihan ngeband? Personilnya pengangguran ya?

Eits jangan salah. Mana ada anak ITB yang pengacara alias pengangguran banyak acara. Ada yang pengangguran nggak ada acara kaya saya. Eh tapi kalau pengacara yang ahli hukum benaran malah ada loh. Ha...ha...

Personil Salto itu #horangsibuk beneran. Ada yang bosnya perusahaan besar, ada yang konsultan lembaga internasional, ada yang sibuk mondar-mandir keliling Indonesia sebagai tenaga ahli menteri, ada yang punya perusahaan sendiri. Juga ada yang mamah-mamah dengan beberapa buntut yang harus diurusin.

Ternyata bisa-bisa aja tuh mereka menyempatkan diri untuk latihan band sekali sebulan atau bahkan 2 minggu sekali kalau menjelang event.

Latihannya pukul 19.00 - 22.00 sepulang kerja. Nyari studio musik sekitar PIM Jakarta. Sewa studio sekitar 150-175 ribuan per jam yang bisa dibagi patungan ber-6 atau 7 orang.

Kemudian latihannya direkam dan di share di grup WA biar bisa dilihat oleh yang nggak sempat datang latihan. Ada Didiet sebagai music director yang membuatkan partitur untuk dilatih sendiri di rumah.

Hebatnya lagi, personil Salto nggak dari satu kota saja loh. Ada Asti di Bandung, ada Bonge yang sempat tinggal di Singapura saat awal-awal band terbentuk, ada Arief yang pas dapat tugas penugasan di Palembang.

Saya sempat penasaran nanya Asti, bagaimana caranya dia atur-atur waktu ke Jakarta buat latihan.

“Biasanya aku jam 9 atau 10 pagi dari bandung. Sebelumnya aku bisa antar sekolah anak-anak dulu. 

Sampai di Jakarta, aku mampir ke kakakku dulu di Lebak Bulus. Ngobrol-ngobrol & makan siang di sana. Abis maghrib, baru menuju studio.


Selesai latihan, biasanya aku nebeng nginep rumah Didiet, karena serem kalo malam-malam pulang ke Bandung atau ke kakakku. Besok paginya aku ikut Didiet berangkat kantor, trus turun di pool travel. Jam jemput anak sekolah sudah di Bandung.”


Tu kan ya, kalau niat, apa sih nggak bisa.

Jadi apa yang bikin niat banget latihan kaya gitu?

Kalau kata Asti sih, bisa jadi karena semangat kompetisi yang membawa nama angkatan. Ini yang bikin semangat dan nggak mau ketinggalan dari angkatan lain.

Di ITB kebetulan banyak acara-acara yang isinya “reuni” atau “silahturahmi” atau “sekedar kumpul-kumpul.” Cuma biar lebih semangat dibungkus lah dengan judul kompetisi ini lah, kompetisi itu lah.

Yang ini geng papa-papa futsal ITB 93 (Foto: Didik Fotunadi)

Bener saja, acaranya jadi selalu ramai.

Yang hobi olahraga seperti lari, futsal atau renang, ada gengnya sendiri. Yang hobi main musik ada banyak event juga. Begitu juga yang suka bisnis, fotografi, atau hobi-hobi lainnya.

Beberapa teman geng mama-mama runner cantik ITB 93 (Foto: Asti)

Aura kompetisi itu membuat kita cenderung lebih termotivasi untuk bisa memberikan yang terbaik yang kita punya. Ehm....mungkin ini bisa jadi ide buat acara reuni di sekolah lain.

Apalagi kalau melihat banyak yang mendukung, pasti makin semangat deh latihannya.

Seperti kaya Salto ini. Sebagai band yang penampilannya selalu ditunggu-tunggu penggemarnya (Band dengan Aksi Panggung terbaik gitu loh!), kini untuk ajang Festival Band ITB 2019 bikin gebrakan baru.

Berbeda dengan band-band angkatan lain, Salto Band kini membawa lagu karya sendiri. Jadi nggak hanya latihan membawakan lagu orang lain saja, mereka pun mencoba bikin lagu sendiri. Weits udah kaya band-band kondang itu ya.

Judul lagu yang liriknya dibuat Bonge ini, berjudul Omaigat!



Silakan sambil disimak lagunya. Cuma perlu saya kasih peringatan, hati-hati kalau lagu ini jadi terngiang-ngiang seharian di telinga dan bikin teman-teman jadi bersenandung.

Di balik lagu Omaigat!!

Jadi bagaimana ceritanya bisa bikin lagu kaya begitu?

Untuk pertanyaan ini, saya langsung nanya ke Bonge yang membuat lirik lagu ini.

“Awalnya Aris yang berbagi struktur lagu tersebut ke teman-teman Salto di akhir Desember 2018. Saat itu ada baru ada suara gitar, bass, dan drums - persis seperti lagu versi karaoke. Ada musiknya tapi nggak ada lagunya. Musiknya enak, bikin mengangguk-angguk kepala. Aris mengajak dibikin jadi lagu.

Terus Aris & saya ketemu di awal Januari 2019. Kita dengarkan lagi musiknya bareng-bareng dan mengeksplorasi lagu seperti apa yang ingin kita buat. Kira-kira tema apa yang pas untuk lagu tersebut. 


Dari pertemuan itu, kita pengen lagunya seperti "bercerita", gaya nyanyinya seperti Melly Goeslaw, pilihan nadanya pendek-pendek seperti orang ngobrol, bukan nada-nada panjang melolong ala lagu Whitney Houston atau Celine Dion. 


Lalu harus ada bagian yang dinyanyikan oleh cowok, dan ada bagian yang dinyanyikan oleh cewek. Kita eksplorasi beberapa susunan nada (dengan cara bergumam) untuk bagian bait lagu, untuk bagian reff lagu, dan lain-lain. Semua gumaman itu direkam pakai HP. 


Kita juga mengeksplorasi tema lagu tersebut dan sepakat lagunya bercerita tentang upaya seorang cowok untuk "mengejar" cewek idamannya. Rasanya tema ini pas untuk style lagu yang "bercerita". 


Jadi penyanyinya akan bercerita tentang usaha/prosesnya mengejar atau menarik hati pasangannya tersebut. Tapi kita juga ingin lagu ini bukan hanya menjadi cerita yang biasa-biasa saja. Mesti ada "twist" atau "surprise ending"-nya. 


Karena kalau ceritanya biasa saja, lagunya tidak akan diingat orang. Kalau bisa malah kita pengen lagunya bikin orang ketawa. Cerita tentang seorang cowok yang ngejar-ngejar cewek, upayanya udah pol, jungkir balik, eh ujung-ujungnya apa gitu yang surprising.


Seminggu sesudah saya ketemu Aris & eksplorasi di atas, personil-personil SALTO ketemuan di rumah saya. Ceritanya syukuran kami pindah ke Jakarta. Saat itu Aris dan saya memperdengarkan struktur lagu itu ke teman-teman Salto, termasuk beberapa nada yang di humming, dan minta masukan tentang tema lagu. 


Waktu dengar bahwa kita ingin "surprise ending", otomatis Cindee bilang "OMAIGAT!" Itu adalah ekspresi spontan untuk orang yang surprised. "Kamu calon mamiku!" 


Kejutan seperti apa lagi yang akan bikin si cowok terhenyak/kecewa berat setelah capek-capek ngejar si cewek? Ternyata cewek itu off-limits! Ternyata cewek itu akan dinikahi oleh ayahnya! 


Kontan teman-teman Salto ketawa dan kita sepakat tema ini akan bikin ketawa.


Sesudah dapat tema itu, proses menulis lirik dan lagunya lebih lancar. Karena saat itu lagi populer film "Bohemian Rhapsody" yang bercerita tentang perjalanan hidup Queen, saya memakai cara Queen untuk menulis lirik, yaitu penuh dengan metafor. 


Misalnya bagaimana menunjukkan bahwa si cowok ini sebenarnya/sebelumnya adalah tough guy, bahkan cenderung playboy? Pakai metafor "aku serigala melolong panjang". Bagaimana bilang bahwa ceweknya ini cantik sekali? Pakai metafor klasik Melayu "dia rembulan dipagar bintang". Banyak metafor-metafor lain di lagu ini. 


Menulis liriknya bisa di mana saja. Kadang saat mandi, kepikiran satu metafor, saat lari pagi, dapat metafor baru.”




Wow… jadi gitu ya ceritanya bikin lagu itu?

Asli baru tahu loh saya. Coba ngacung yang baru tahu juga. Ternyata prosesnya beda-beda tipis sama bikin cerita ya. Untuk proses bikin lagu Omaigat ini kata Bonge memakan waktu sekitar 1 bulan.


Teman-teman yang mau mendukung band Salto bisa ikutan pesan merchandise seperti kaos bisa langsung klik link Merchandise Salto.


Buat yang  ingin ikutan goyang dengan Salto, bisa ikut hadir di Festival Band Alumni ITB 2019 Telkom Hub 26-28 April 2019. Jangan lupa untuk like video mereka di atas ya.



Gimana teman-teman? Udah siap mau kembali menekuni hobi yang lama terbengkalai? Atau malah mungkin jadi penyelenggara ‘reuni’ yang memungkinkan teman-teman lama kembali menemukan semangat baru?


You Might Also Like

0 komentar

Follow Me on Facebook

Follow Me on Twitter

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *