Mengapa Film Keluarga Cemara Menjadi Film Wajib Tonton Bagi Keluarga Indonesia?

Jumat, Januari 04, 2019

abah-emak-euis-cemara
Sumber: Poster Keluarga Cemara - Visinema Pictures


Harta yang paling berharga adalah KELUARGA
Istana yang paling indah adalah KELUARGA
Puisi yang paling bermakna adalah KELUARGA
Mutiara tiada tara adalah KELUARGA

Alunan hangat suara BCL yang menyertai momen-momen keluarga paling berkesan dari para fansnya benar-benar menyentuh hati. Teman-teman sudah pada nonton video klip itu? Atau jangan-jangan keluarganya menjadi salah satu keluarga yang ada di klip tersebut? Asli, itu video klip yang keren banget.



Video Klip itu yang membuat saya menjadi tertarik untuk menonton Film Keluarga Cemara yang tayang perdana pada 3 Januari 2019 kemarin. Keberuntungan luar biasa teman-teman dari Komunitas Ibu Profesional Bandung dapat kesempatan nonton bareng film ini di TSM XXI Bandung.

Buat teman-teman yang belum bisa ikutan, jangan sedih ya. Ini saya bungkusin sedikit oleh-oleh dari film yang diangkat dari cerita legendaris karya Arswendo Atmowiloto pada tahun 80-an. Mudah-mudahan bisa jadi bekal buat acara keluarga di bioskop minggu ini.

Keluarga Cemara bersama kak Andi
Yeah... squad Mamah-mamah IP ketemu Kak Andi Picu Pacu juga di bioskop.

Jadi cerita Film Keluarga Cemara tentang apa sih?


Nggak pernah baca novelnya yang terbit tahun 80? Nggak pernah nonton sinetronnya di TV tahun 90-an? Nggak dosa kok. Ide cerita film ini tetap abadi dengan kondisi saat ini.

Sebenarnya kisahnya sederhana sih. Tentang Abah (Ringgo Agus Rahman) yang mendadak bankrut karena sebuah kesalahan bisnis. Abah dan Emak (Nirina Zubir) akhirnya memutuskan untuk tinggal di rumah peninggalan orang tua Abah di sebuah desa di Bogor.

Rumah lama sebelum bangkrut. Sumber: Klip Trailer Keluarga Cemara

Rumah baru di kampung. Sumber: Klip Trailer Keluarga Cemara

Oh iya, jangan bingung kenapa anak keluarga ini kok nggak tiga orang seperti di cerita aslinya (Euis, Cemara, dan Agil). Karena ceritanya ini waktu masih 2 anak saja. Agilnya belum lahir.

Dalam film ini kita bisa lihat bagaimana sebuah keluarga menangani masalah keterbatasan keuangan mereka. Its sound familiar, isn’t it? Kalau sebelumnya kita dengar cerita OKB atau Orang Kaya Baru, nah ini adalah OMB atau Orang Miskin Baru.

Ada masalah si Abah yang harus cari kerja lagi di usianya yang sudah berumur. Akhirnya jadilah si Abah menjajal berbagai profesi apa saja yang penting halal. Sempat jadi kuli bangunan sampai tukang beca driver Gojek. Milenial banget kan ya.

Ada juga masalah anak remaja, si cantik Teteh Euis (Zara JKT 48) yang lagi bahagia dengan gengnya di Jakarta jadi terpaksa harus pindah ke sekolah baru. Bagaimana ia harus beradaptasi dengan teman baru, rasa kangen sama geng dance-nya di Jakarta, sampai kekecewaannya kepada Abah.

Selain itu ada juga masalah Emak yang tiba-tiba dapat rejeki hamil lagi padahal keuangan lagi cekak dan tengah merintis usaha menjadi penjual opak.


Belajar Masalah Komunikasi dalam Keluarga Cemara


Ada hal menarik yang terdapat di film ini. Bagaimana banyak hal-hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada Abah yang merasa begitu bertanggung-jawab bagi keluarganya. Ada Emak yang merasa bingung dengan keuangan yang terbatas. Ada Euis yang kangen dengan teman-teman lamanya dan kegalauan masa-masa menstruasi pertamanya.

Tapi semua itu tidak selalu bisa diungkapkan dengan kata-kata. Yang tampak di luar mungkin sekedar ketegasan seorang kepala keluarga, air mata seorang ibu, atau ketidakpatuhan anak-anak. Di situ lah sebuah keluarga perlu untuk selalu bersama. Bahwa yang utama tetap kebersamaan kita sebagai sebuah keluarga.

Saya salut banget dengan para pemain yang bermain sangat bagus. Aktingnya natural banget. Agus Ringgo, Nirina, Zara, Widuri Putri yang memerankan Ara, semua tampil sempurna.

Para pemeran pembantu seperti Asti Welas yang jadi Ceu Salma juga mampu memberi bumbu segar buat film ini. Kocak deh bagaimana Asti memerankan potret rentenir dalam masyarakat.

Adegan di film ini aman kok buat anak-anak dibawah umur. Hanya saja siapkan penjelasan kalau anak-anak ada yang nggak ngerti kenapa si Abah jadi bankrut.

Momen-momen Cakep dalam Film Keluarga Cemara


Ada beberapa momen yang buat saya cukup menyentuh dalam film ini.

#1 Lucunya gaya sun jauh mereka

Mungkin kayanya lebay ya keluarga pakai sun jauh segala. Sun jauh kan biasanya kalau sama anak bayi. Tapi ini mah sun jauh keluarga saat suami dan anak-anak berangkat sekolah meninggalkan si ibu di rumah.

Kalau kita kan paling umumnya salaman biasa. Atau kalau suami saya paling cuma sekedar teriak “MA, PERGI YA!!!” Terus dijawab sambil menjemur di lantai atas, “Ya hati-hati. JANGAN LUPA TUTUP PINTUNYA.”

#2 Saat adegan-adegan di ayunan pohon

Duh suka banget deh ayunan pohon ini. Banyak adegan-adegan menyentuh di sini. Tempat dimana satu-satunya sinyal HP bisa diterima di sekitar rumah.


#3 Ketika Abah dan Euis naik motor bersama

Walau sering berbeda pendapat tetap saja seorang ayah akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya.

#4 Menu makanan sederhana yang menggugah selera

Entah kenapa saya suka lihat pengambilan gambar saat makan dalam film ini. Ceritanya kan keluarga ini melarat jadi terpaksa makan dengan menu seadanya. Tapi entah kenapa itu tampilan menu tahu, tempe bisa cakep di atas meja.

Kok beda sama yang di rumah saya? O...mungkin karena dalam film ini ditaruhnya di atas meja dengan rapi. Dan dimakan bersama keluarga. Bukan di saringan penggorengan di atas kuali yang dimakan sambil nonton TV sendiri-sendiri. Ha...ha…

PR: Agenda makan bersama keluarga di rumah! No TV. No Gadget.

#5 Adegan Ara corat-coret dinding

Mungkin banyak keluarga yang nggak suka anak yang corat-coret dinding. Ini tidak berlaku di Keluarga Cemara. Lucu aja melihat corat-coret Ara di dinding kamar atau ruang tengah. Coretan penuh makna yang jadi rekaman kisah keluarga.

Ayo ngacung yang anaknya masih suka corat-coret dinding!



Kekurangan Film Keluarga Cemara

Ada rasa gemes ketika keluar dari bioskop saat menonton film ini. Seperti ada rasa kurang garam. Jalinan ceritanya terasa seperti ada yang patah-patah dan kurang mulus. Ini beneran lebih pas kalau jadi sinetron daripada sebuah film dengan durasi 2 jam.

Tapi kalau saya pikir lagi, kesan patah-patah itu bisa jadi muncul karena memang tidak ada kata-kata dalam mengungkapkan perasaan mereka. Bukankah begitu umumnya keluarga?

Abah tidak bisa bilang bahwa ia tidak bisa punya uang untuk Euis ke Jakarta menemui temannya dan menginap di hotel atau seorang Emak tidak bisa mengungkapkan bahwa ia takut kehadiran seorang bayi tanpa persiapan biaya lebih. Yang ada adalah dugaan-dugaan yang bisa jadi salah.

Hal lain yang agak bikin bingung adalah setting waktu. Saya sempat mikir ini settingnya jaman dulu apa jaman sekarang? Apakah ini mengambil setting asli keluarga Cemara saat si bungsu Agil belum lahir (tahun 80-an) atau setting tahun sekarang dengan adanya profesi Gojek?

Kalau ini kondisi tahun sekarang, kenapa ada lagu jadul (Sepanjang Jalan Kenangan) yang dinyanyikan teman-teman Euis?

Jadilah saya penonton yang cerewet kok begini dan kok begitu. Saran saya, kalau nonton film ini, jangan cerewet. Nikmati saja fimnya dan refleksikan dengan kondisi keluarga kita masing-masing.



Bagaimanapun saya tetap angkat 2 jempol untuk Visinema Picture yang mau mengangkat film dengan tema keluarga. Karya pertama Yandy Laurens sebagai sutradara film layar lebar menurut saya sudah cukup bagus. Padahal usianya baru 28 tahun loh! Jadi kekurangan-kekurangan kecil kita maafkan lah. Saya kasih rating 8 dari 10 lah di IMDb buat Film Keluarga Cemara.

Yuk ah… langsung nonton ke bioskop Keluarga Cemara. Kita dukung film-film Indonesia yang bisa menginspirasi keluarga kita menjadi lebih dekat dan hangat. Karena keluarga adalah harta yang paling berharga.

Yuk ah #KembalikeKeluarga ...


Waktunya Mamah-mamah IP Bandung Me Time bareng: Tyras, Citra, Intan, Ami, Shanty.

You Might Also Like

8 komentar

  1. Aku lupa jalan cerita keluarga Cemara versi sinetronnya. Tapi sepertinya film ini rekomen nih buat ditonton 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah penasaran pengen baca bukunya. Kepingin tahu cerita aslinya ketika abahnya jadi tukang beca.

      Hapus
  2. Baca ini jadi pengen nonton. TFS ya Mbak, tinggal cari waktu yang pas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film tema kaya gini memang perlu didukung. Masih PR banget buat film anak dan keluarga yang bisa menarik banyak penonton.

      Hapus
  3. film kenangan masa kecil sih. tapi pas lihat si ringgo jd abah jd ragu buat nonton. soalnya si ringgo ini uda keseringan main film komedi. tapi penasaran si dia aktingnya gmn.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener Nez. Mungkin efek sekarang Ringgo udah jadi bapak beneran, jadi bisa lebih menjiwai film serius.

      Hapus
  4. Jadi pingin nonton Teh, tapi di Kudus nggak ada biosbio lagiπŸ˜…

    BalasHapus
  5. Aku dulu ikutin cerita sinetronnya :) Aku bilang sih film ini perfecto :D Keren banget, wajib ditontn segala usia. Sebagai film edukasi yang bikin hati terenyuh mengharu-biru. Pokoknya two thumbs up! Aku dooong di tgl 3 langsung nonton di XXi bareng anak2ku.

    BalasHapus

Follow Me on Facebook

Follow Me on Twitter

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *