APAKAH NILAI UN HANYA UNTUK PERSAINGAN SEKOLAH NEGERI?

Kamis, November 29, 2018


Kebetulan anak paling besar saya tahun ini menginjak kelas 6 SD. Saatnya untuk menghadapi Ujian Nasional untuk menguji kompetensi mereka selama 6 di sekolah dasar. Akan dilihat apakah mereka siap untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 

Tapi ada satu pendapat yang agak mengganggu saya soal UN ini. Yaitu nilai UN yang bagus hanya diperlukan oleh mereka yang ingin melanjutkan sekolah negeri saja. Sementara mereka yang akan ke sekolah swasta tidak perlu nilai UN yang tinggi. 

Benarkah begitu?

Saya jadi teringat pada suatu hari saya membongkar ijazah SD saya tahun 1987. Ceritanya dalam rangka mau memotivasi anak agar bisa semangat menghadapai UN. Biar tahu, mamanya yang rajin belajar dan tidak sombong ini NEM-nya berapa sih waktu SD?

Ternyata nilai NEM SD saya untuk pelajaran Matematik 6,6, pelajaran IPS 7,45, dan pelajaran 8,25. Kalau di total hanya 22 saja. Wah hari gini, nilai segitu mungkin sudah nggak bisa masuk negeri mana-mana di Bandung ini. 

Agak bikin kaget memang memantau nilai UN anak-anak yang masuk SMP sekarang. Untuk sekolah-sekolah negeri papan atas, baru aman jika nilai mereka di angka 28,5 untuk 3 pelajaran. Itu artinya rata-rata 9,5 per pelajaran. NYARIS SEMPURNA. 

Kebayang nggak sih, anak-anak kelas 6 SD itu dituntut untuk berkonsentrasi penuh selama 2 jam dan .menjawab soal dengan tanpa kesalahan jika mereka berminat masuk ke 2 sekolah negeri terbaik di kota ini. Rata-rata 8 atau 9, boleh cukup puas dengan sekolah yang lain. 

Pada tahun 2017 lalu saya sempat lihat data Disdik Bandung tentang hasil nilai UN anak SD di Bandung. Ada 3 anak yang mendapat nilai 10 untuk pelajaran Bahasa Indonesia, 1 anak mendapat nilai 10 pada pelajaran IPA, dan 678 anak dapat nilai 10 untuk pelajaran Matematika. 

Sumber: Disdik Bandung 2017

Sementara yang dapat nilai 9,01 - 9,99, ada 443 anak untuk pelajaran Bahasa Indonesia, 687 anak untuk pelajaran IPA, dan 3415 anak untuk pelajaran Matematika. Benar-benar anak-anak yang sakti. 

Sementara kuota tiap sekolah hanya untuk sekitar 300 anak saja. Itupun tidak porsi jalur akademik dengan melihat nilai UN lebih kecil lagi. Kebayang kan persaingannya. 

Melihat kemungkinan yang bikin nelangsa ini, banyak orang tua dan anak didik yang sudah malas duluan untuk bersaing di celah yang begitu sempit itu. Bagi yang mampu, langsung mencari pilihan lain ke sekolah swasta yang lebih masuk akal persaingannya. Nggak perlu terlalu pusing ingin mengejar target nilai sempurna.

Cuma apa iya anak-anak jadi bisa santai menghadapi UN ketika melabuhkan pilihan ke sekolah swasta? Rasanya ya tidak benar juga.

Kenapa?

Karena nilai UN bukan semata-mata syarat masuk SMP Negeri. Melainkan juga sebuah ukuran kemampuan belajar selama 6 tahun yang diakui oleh negara. Memang sih, nilai UN mungkin tidak akan menjamin apa-apa bagi masa depan. Tapi setidaknya nilai itu akan melekat selamanya sebagai prestasi seseorang. 

Mungkin sekilas pelajaran sekolah itu seperti tidak ada manfaatnya dan bisa kita lupakan dalam waktu satu atau 2 tahun. Kalau kita bukan bekerja di bidang kimia, mana ada yang ingat rumus Kimia di masa SMA. Atau kalau kita tidak jadi dokter, kayanya berat untuk ingat segala nama tulang belulang yang sempat kita hapalkan. 

Menurut saya pelajaran yang paling universal terpakainya adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Hampir semua orang memakai Bahasa Indonesia dalam keseharian untuk berkomunikasi dalam bentuk tulisan atau percakapan. Tapi sebenarnya pelajaran lain juga punya andil besar sebagai pondasi cara berpikir dan mengembangkan logika berpikir kita.

Soal UN itu bukan hapalan, tapi merupakan cerminan bagaimana kita belajar, ketekunan, dan kesabaran, bahkan kejujuran kita. Jangan menganggap enteng sebuah ujian kompetensi hanya karena kita tidak sanggup bersaing. Tetap lakukan yang terbaik untuk meraih nilai maksimal dengan cara yang jujur. Maka tidak ada usaha yang akan sia-sia.



#ODOPNovemberChallenge
600 kata, 2 jam

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.