Oleh-oleh Workshop Membaca Nyaring bersama Roosie Setiawan

Minggu, Februari 11, 2018
Mau dibacakan cerita? (sumber: pexels)

Ada yang suka membacakan cerita pada anak? Ternyata istilahnya itu Read Aloud atau Membaca Nyaring dalam bahasa Indonesia. Pada awalnya saya tidak terlalu tertarik ketika teman-teman RB Literasi Ibu Profesional Bandung (IP Bandung) menyebarkan flyer acara ini di grup WhatsApp kami.

"Anak-anak saya kan sudah berumur 10 dan 7 tahun. Keduanya sudah lancar membaca. Jadi rasanya saya tidak perlu lagi membacakan mereka cerita seperti anak kecil,” pikir saya. Terus terang, saya malah sibuk baca buku sendiri saat menjelang tidur.

Sampai suatu saat, saya sangat asyik membaca sebuah novel berjudul Leafie. Sebuah novel Korea sepanjang 224 halaman yang sangat mengesankan. Sasya, anak saya yang berusia 7 tahun sepertinya ikut penasaran dengan bacaan saya. Ia pun ikut membolak-balik novel itu karena agak penasaran.
Sebelum tidur, saya menyempatkan membaca lagi beberapa bagian penting dari kisah fabel ayam yang memelihara anak bebek ini.

“Ceritain dong Ma. Sepertinya seru sekali. Ceritanya tentang apa?” pinta Sasya sebelum memejamkan matanya.

“Jadi ceritanya tentang Leafie, seorang ayam petelur yang…,” ehm saya tidak hapal. Saya harus membuka buku dan membacanya. Mulai lah saya membaca halaman-halaman awal. Baru bab pertama saja, mata Sasya sudah berkaca-kaca saat mendengar cerita Leafie yang sedih karena dikurung di kandang dan tidak bisa mengerami telurnya sendiri.

Malam itu berlalu beberapa bab.

Malam kedua, Sasya meminta ceritanya diteruskan. Dan dia pun kembali berkaca-kaca saat Leafie diusir oleh keluarga halaman dan dikejar-kejar Musang.

Waduh, saya mulai bingung. Ini saya salah memilih cerita, atau harus bagaimana ini caranya membacakan sebuah cerita pada anak.

Di situ baru lah saya merasa perlu nyimak ilmunya Bu Roosie Setiawan mengenai Membaca Nyaring atau Read Aloud. Makanya saya ikhlas saja mengeluarkan Rp 50.000,- sebagai member IP Bandung untuk mengikuti workshop. Kebetulan acaranya Sabtu, 10 Februari 2018, bisa sekalian mau nengok gedung cantik Bandung Creative Hub yang baru di Jl. Laswi Bandung.

Alhamdulillah saya merasa sangat beruntung menghadiri workshop ini. Ada banyak ilmu baru yang saya dapat dari Bu Roosie Setiawan. Senangnya si Ibu sangat bermurah hati membagi ilmunya.

Flyer acara Workshop Membaca Nyaring yang diadakan RB Literasi IP Bandung. Sumber: RB Literasi IP Bandung

Siapa Bu Roosie Setiawan?

Buat yang belum pernah dengar nama Bu Roosie, mari kita kenalan dulu. Nenek 4 cucu yang juga lulusan Hukum Unpar ini adalah pendiri komunitas Reading Bugs sejak tahun 2007. Sebuah komunitas yang mengkampanyekan agar orang tua punya kesadaran untuk membacakan cerita pada  anak anak. Cukup 10 menit saja! IG Reading Bugs.

Bu Roosie juga yang berjasa menerjemahkan buku kondang yang sudah beken sejak tahun 1982 berjudul The Read Aloud Handbook-nya Jim Trelease (Noura books, Juli 2017). Di sambung dengan menuliskan buku beliau sendiri berjudul Membacakan Nyaring (September 2017).


Mengapa perlu Membaca Nyaring?

Bu Roosie menyampaikan mengapa sebagai orang tua kita MAHA PERLU membacakan buku untuk anak sejak dini. Sebenarnya manfaat membaca nyaring itu, bisa sama juga dengan manfaat kita mendongeng atau bahkan sekedar banyak-banyak berbicara pada anak.

#1 Menstimulasi otak anak
Anak yang rutin dibacakan buku, neuron di otaknya akan terangsang saling terhubung. Ini penting untuk perkembangan bahasa dan imajinasinya.

#2 Melatih pendengaran
Anak akan belajar mendengarkan cerita untuk mengenal yang namanya intonasi, volume suara, dan jeda.

#3 Merangsang imajinasi anak 

#4 Mendekatkan orang tua dengan anak 
Dengan membacakan cerita, anak akan merasa dekat dengan orang tuanya. Hal ini akan memberikan perasaan nyaman kepada anak. Jadi di kepala anak akan mengasosiasikan kegiatan membaca dengan rasa nyaman. Ini lah modal dasar untuk membuat anak suka membaca.

#5 Melatih rentang perhatian dan mengingat
Pada saat orang tua membacakan cerita, anak akan berlatih untuk mendengarkan dan menyimak dengan lebih baik. Ini sangat baik untuk melatih kemampuan konsentrasi anak.

Bu Roosie Setiawan tengah menerangkan posisi yang asyik untuk membaca nyaring. Sumber: www.ceritashanty.com


Nah selain 5 manfaat di atas, ini ada tambahan manfaat yang membuat Membaca Nyaring memiliki nilai lebih, daripada sekedar mengajak anak mengobrol secara lisan atau mendongeng.

#6 Mengenalkan anak pada konsep buku dan belajar
Anak jadi tahu kalau buku adalah sumber ilmu yang menyenangkan untuk memenuhi rasa ingin tahu. Bagaimana anak belajar mengenai bahwa buku itu dibaca dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, dan bisa di bolak-balik halamannya.

Bisa saja kita mengenalkan e-book yang interaktif pada anak sesekali, tapi tetap utamakan buku fisik sebagai yang utama.

Tapi kan harganya mahal Bu? #Mamabanyakalasan

Kan bisa jadi anggota perpustakaan, meminjam di tetangga atau perpustakaan sekolah anak, atau saling barter dengan teman lain. Banyak jalan menuju Roma Perpustakaan kalau memang niat.

#7 Menambah kosakata baru dan mengerti arti kata
Membaca membantu anak mengenal kosa kata baru yang mungkin tidak diucapkan dalam bahasa sehari-hari dan hanya ada dalam bahasa tulisan.

Misalnya kata mendengus, menerkam, mengendus mungkin bukan kata-kata yang biasa kita ucapkan dalam percakapan sehari-hari. Nah, anak-anak akan belajar dari sejumlah buku yang dibacakan.

#8 Mengenal ilustrasi dan gambar
Dengan memperlihatkan dan menceritakan mengenai gambar pada sebuah buku, anak akan belajar mengenai konsep gambar untuk menjelaskan sebuah kejadian.

#9 Menjadi teladan membaca untuk anak
Anak akan melihat bagaimana orang tuanya membacakannya cerita dan menjadikan mereka lebih alami untuk mencontoh. Jadi jangan berharap banyak anak bisa suka buku, kalau kita jarang membacakan cerita atau jarang baca buku di rumah.

Bu Roosie sempat mengakui bahwa mengapa ia lebih menyukai membacakan anaknya cerita dari buku dari pada mendongeng adalah karena ia kesulitan untuk mengingat. “Cerita Cinderella hari ini, beda dengan cerita Cinderella kemarin, karena ingatan seorang mama yang tercampur dengan cucian atau masakan,” akunya.

Tos Bu, sama saya juga.


Suasana workshop di Aula Bandung Creative Hub yang dihadiri sekitar 20-an peserta. Sumber: www.ceritashanty.com


Sudah tahu dengan 4 keterampilan yang perlu dimiliki anak di abad 21 ini?

Keterampian untuk KREATIF
Keterampilan BERPIKIR KRITIS
Keterampilan BERKOMUNIKASI
Keterampilan BERKOLABORASI dengan orang lain

Dengan membacakan cerita, anak bisa mendapatkan keterampilan ini secara bersamaan. Luar biasa ya. Di sini saya baru sadar mengapa Bu Roosie semangat banget mengkampanyekan pentingnya membacakan cerita bagi anak-anak. Buat yang perlu ilmu dari Bu Roosie, si Ibu akan dengan senang hati berbagi.

Aku mendukungmu Bu Roosie!!!


Mulai kapan sih kita membacakan cerita untuk anak?

“Sedini mungkin,” kata Bu Roosie.

Masih hapal kan dengan konsep 1000 hari pertama seorang anak? Yaitu 40 minggu dalam kandungan dan 24 bulan setelah ia lahir ke dunia.

Tahapan belajar membaca itu:

  • Pra Membaca saat anak usia dibawah 3 tahun

Pada masa ini anak melalui tahap mendengar (0-2 bulan), tahap mengamati (2-4 bulan), tahap bergumam (4-8 bulan), tahap berceloteh (8-12 bulan), tahap membuat kata (12-18 bulan), tahap mengucapkan kalimat (18-24 bulan).

Dalam buku Membaca Nyaring, bisa dibaca mengenai bagaimana kegiatan yang tepat dalam setiap tahapan, buku yang sesuai, dan tantangan yang mungkin pembaca lalui. Highly recommeded book untuk yang punya batita.
  • Membaca dini
  • Membaca awal
  • Membaca lancar
  • Membaca lanjut
  • Membaca mahir
  • Membaca kritis

Agina dan Sundari yang mencoba mempratekkan membaca nyaring. Udah pada jago nih! Sumber foto: www.ceritashanty.com

Tapi saya sibuk Bu?

“Cukup dengan 10 menit sehari saja,” jawab Bu Roosie.

Serius cuma 10 menit saja? Kalau itu sih kayanya cincai lah ya.

Saran Bu Rossie, tujuan membacakan cerita itu BUKAN untuk menyelesaikan 1 buku. Tapi menikmati prosesnya. Itu sebabnya 10 menit sehari saja sudah cukup.

Prosesnya itu ngapain?

Proses anak bertanya. “Mengapa begini Ma?” “Kok dia begitu sih?”

Dalam proses ini anak akan belajar proses bertanya. “Kita ini di sekolah kurang diajarkan untuk bertanya. Kita hanya diajarkan untuk menjawab pertanyaan. Padahal menjawab pertanyaan, apalagi yang jelas-jelas sudah ada di buku, itu sangat lah mudah,” terang Bu Roosie.

Jadi jangan mematahkan semangat anak dengan mengatakan, “Cerewet banget sih Nak, nanya-nanya melulu.”

Buku seperti apa sih yang perlu dibacakan?

Saya baru tahu loh, ternyata kita nggak usah terlalu ribet soal buku. Saat anak bayi misalnya, kalau mamanya lagi baca buku parenting, ya bacakan saja buku itu. Kalau ayahnya lagi baca koran, ya bacakan saja itu dengan suara keras.

Ternyata emang ada loh jurnalis yang memang sejak kecil sering dibacakan koran oleh ayahnya. Siapa sangka kegiatan itu mengantarkan menjadi menyukai koran dan menjadi jurnalis terkenal di dunia.

Sekarang buku anak itu banyak sekali macamnya. Ada buku bergambar, buku kain yang bisa di cuci, buku mandi yang bisa dibawa basah-basahan, buku yang agak keras yang bisa jadi teether, buku besar untuk dibacakan di kelas, atau buku yang bisa diisi dengan foto-foto sendiri.

Beragam jenis buku disesuaikan dengan umur anak, bisa dibaca lengkap di buku Membaca Nyaring. Beli langsung saja ya, harga resmi Rp 69.000,-. Kalau buku The Read Aloud Handbook-nya Jim Trealease harga resminya Rp 89.000,-.

Referensi buku Read Aloud versi bahasa Indonesia yang bisa ditemukan di toko buku saat ini. Sumber: Gramedia.com


Bu Roosie juga mengungkap kekagumannya dengan buku dari negara maju. Karena mereka itu sangat integrated saat membuat buku. Jadi saat menciptakan sebuah tokoh dalam sebuah buku, akan ada filmnya, mainannya, dan pernak-pernik lainnya yang akan membangun imaginasi anak menjadi lebih hidup.

Ah saja jadi ingat masa-masa Raka suka Mc Queen. Lengkap dari film yang di tonton puluhan kaki, sampai rasanya saya bisa hapal setiap dialognya, buku-buku cerita, puzzle, sampai lego lengkap seluruh pemeran dalam film tersebut.

Bagaimana dengan buku berbahasa asing? Masalahkah mengenalkan anak dengan 2 bahasa sedini mungkin?

Berdasarkan pengalaman beliau dengan 4 cucunya, hal tersebut tidak masalah. Anak akan mampu memisahkan mana bahasa ibunya dan bahasa asing. Bahkan tidak aneh anak bisa 3 bahasa. Asal itu dilakukan secara konsisten dan tidak membingungkan anak. Misalnya selalu berbahasa Indonesia bersama ibu, berbahasa Inggris dengan ayah, berbahasa daerah dengan pengasuhnya misalnya.


Membacakan cerita ini sampai umur berapa?

“Kamu suka nggak dibacakan cerita,” Bu Roosie bertanya balik kepada para peserta.

Semua orang suka dibacakan cerita. Bahkan konon ada dosen yang suka membacakan cerita anak kepada mahasiswa di saat memulai pelajarannya. Alhasil, mahasiswanya jadi lebih rajin datang pada awal waktu karena tidak ingin ketinggalan kegiatan dibacakan cerita oleh Sang Dosen. #ThePowerofReadAloud.

Tinggal bacaannya aja yang perlu disesuaikan dengan minat sesuai umur anak. Bisa saja membacakan novel untuk anak yang lebih besar dengan mengambil bagian-bagian pentingnya.

Anak saya nggak bisa diam untuk dibacakan cerita, maunya lari-lari saja?

“Ya sudah bacakan saja sambil membiarkannya berlari-lari. Ia tetap akan mendengarkannya kok. Asal ingat untuk mematikan TV ya, “ pesan Bu Roosie yang mengaku di masa kelas 1 SD mengalami kesulitan membaca karena Dyslexia.

Bagaimana yang anaknya keburu tidak suka membaca?

Tetap rangsang dengan membacakan nyaring buku yang sesuai dengan minatnya. Bu Roosie mengakui kalau buku sekarang, banyak yang tidak sesuai dengan minat anak laki-laki. Ternyata terkadang salah memilih buku bisa berakibat anak jadi malas baca buku. Misalnya buku yang kalimatnya terlalu panjang-panjang dan tidak sesuai dengan tingkat kemampuan baca anak. Leveling buku berbahasa Indonesia memang belum dikenal. Kalau di luar negeri, buku itu ada levelnya. Buku untuk anak yang baru belajar baca, hingga level yang sudah mahir. Jadi tingkatnya bisa disesuaikan.


Pesan yang ingin disampaikan dengan kegiatan membacakan cerita ini pada intinya ada 2. Yang pertama adalah bahwa perlu cara yang menyenangkan untuk menjadikan seseorang suka membaca. Dan yang kedua adalah bahwa belajar membaca itu adalah keahlian yang didapat secara bertahap. Bukan kursus membaca 3 bulan, anak-anak ujug-ujug bisa membaca! There is no such things.

Salah satu printable reading challenge buat anak-anak. Sumber: naturalbeachliving.com


Ketika saya mempersiapkan tulisan ini, saya terpana melihat sejumlah materi bagus di Pinterest mengenai kebiasan Read Aloud di negara lain. Mereka sangat serius menggarap mengenai membacakan cerita bagi anak-anak. Kayanya asyik juga kalau ada komunitas di lingkungan kita untuk bisa saling berbagi ilmu.

“360 jam membacakan nyaring, akan membuat anak bisa membaca buku dengan sendirinya tanpa diajarkan,” kata Bu Roosie. Mau membuktikan sendiri?

Bagaimana oleh-olehnya?
Dapat ilmu baru seperti saya?

Ceritakan dong apa kesulitan teman-teman dalam membacakan cerita untuk anak dalam kolom komentar di bawah. Mudah-mudahan Bu Roosie bisa ikut bantu menjawab.

Terima kasih sudah mampir.

Para peserta workshop Membaca Nyaring bersama Roosie Setiawan (minus Dessy yang jadi photografer). Sumber: RB Literasi Bandung

7 komentar:

  1. saya dr anak usia 4 bulan sudah mulai sering membackanya buku, sekarang 17 bulan kosakatanya sudah mulai banyak.


    pas baca tentang membaca nyaring ini. ternyata punya manfaat yang lebih banyak lagi.


    thx teh santi sudah berbagi sukses terus yah...

    BalasHapus
  2. Sukaaa banget ulasannya teh Shanty lengkap kap kap :)

    BalasHapus
  3. wuaah iyaa...yaa...

    membacakan nyaring itu lebih seru dibanding membaca dalam hati atau kadang-kadang bersuara kadang tidak. Ekspresi si anak yang mendengarkan sambil matanya melihat buku, itu yang tak terbayar...

    berharap di kota bogor juga ada komunitas seperti ini.

    BalasHapus
  4. Inspiratif Teh Shanty. Selama ini saya merasa gak bisa mendongeng pada anak. Dan ternyata read a loud menjadi solusinya. Gak ada alasan lagi bagi orang tua untuk tidak membacakan buku pada anak.

    BalasHapus
  5. Saya suka bercerita dengan suara nyaring. Kelihatan banget respon anak bagus. Terlihat sambil membayangkan apa yang diceritakan.

    BalasHapus
  6. Waaahh bagus ya acaranya.
    Saya juga punya buku yang sebelah kiri. Dan selama ini memang efektif ke Salfa saat saya bacakan dengan nyaring plus mimik wajah yang sesuai dengan cerita

    BalasHapus
  7. Izin untuk share dengan merujuk pada blog ini.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.