Menulis sebagai Alternatif Me Time

Rabu, November 22, 2017


Setelah sempat tertunda-tunda, akhirnya saya bisa sampai juga di IIP Jombang.  Teman-teman dari Kota Santri yang terletak di Jawa Timur ini ternyata sudah menyambut dengan antusias. Buktinya saya kebanjiran pertanyaan seputar menjadikan Menulis sebagai Alternatif Me Time. Jangan khawatir, yang nggak bisa hadir di sana, bisa ikut icip-icip oleh yang saya bawa ini. Masih hangat fresh from the oven.

Materi Menulis sebagai Alternatif Me Time

Setiap orang punya minatnya masing-masing. Ada yang merasa bahagia memasak di dapur. Ada yang senang berdandan dan mempadupadankan pakaian sehingga terlihat cantik. Atau ada yang suka menulis menumpahkan perasaan di selembar kertas.

Minat setiap orang tidak bisa dipaksakan. Tidak bisa asal ikut-ikutan karena melihat orang lain asyik melakukannya. Untuk bisa mendapatkan manfaat dari suatu hobi/minat, biarlah itu keluar secara alami dari kebutuhan diri sendiri.

Saya butuh menulis karena saya memang suka menyimpan isi kepala saya yang aneh-aneh ini.
Saya ketagihan menulis karena itu membuat saya bahagia dan merasa bermanfaat buat orang lain.
Saya suka menulis karena bisa membantu saya mengingat sesuatu.
Saya harus menulis karena saya ingin tetap diingat oleh anak-anak saya.

Jadi manfaat menulis atau pun hobi lain itu sifatnya sangat personal.

Cobalah teman-teman renungkan apa kegiatan yang paling membuat teman-teman merasa bahagia? Dan cari tahu, apakah menulis adalah salah satunya?

Kalau memang tidak, tidak perlu dipaksakan. Kembangkan dulu minat lain yang lebih membuat bahagia. Bukan tidak mungkin, jika sudah menemukan sesuatu yang buat kita senang, kebutuhan untuk menuliskan perasaan itu akan muncul.

Yang suka masak bisa buat cerita soal masak atau berbagi cerita tentang tempat kuliner favoritnya. Yang suka dandan, bisa sharing tentang merek bedak atau lipstik terbaru. Beda sekali rasanya ketika menulis sesuatu yang memang membuat kita bahagia.

So take your time and enjoy what you really love to do.

Pertanyaan

#1 Pertanyaan Nurul, Jombang

1. Bagaimana cara menemukan gaya menulis yang khas, pinjam istilah gaya menulis "gue banget"?

Jawaban:
Banyak baca dan banyak latihan Nurul. Ini adalah sebuah proses. Nggak akan ketemu gaya menulis yang ‘gue banget’ kalau jam terbangnya kurang. Coba saja menekuni hobi menulis ini selama bertahun-tahun, nanti akan ketemu sendiri mana gaya menulis yang paling nyaman buat kita. Kalau buat pemula kaya kita-kita, memang wajar banget kalau masih niru sini, niru sana. Dinikmati saja prosesnya.

2. Dalam menulis apakah selalu identik dengan publikasi?

Jawaban:
Maksudnya apa setiap menulis harus dipublikasikan? Ya nggak harus lah. Bertahun-tahun saya menulis sekedar disimpan dalam lembaran kertas yang terlalu norak untuk dibaca umum. Tapi itu membuat saya senang dan belajar banyak untuk bisa mengungkapkan isi pikiran secara tertulis. Ada masanya, kita ingin tulisan kita dibaca publik. Ini adalah sebuah kebutuhan yang berbeda. Merasa tulisan pengalaman kita bisa membantu orang lain, itu sesuatu banget.

3. Bila telah memilih masuk ranah publikasi, bagaimana menciptakan rasa nyaman menulis di tengah hiruk-pikuknya?

Jawaban:
Hiruk-pikuk bagaimana maksudnya? Menghadapi komentar orang? Ya dihadapi saja. Perbedaan pendapat itu kan biasa. Kita usahakan saja sebisa mungkin imbang dalam menuliskan sesuatu dan tidak dengan sengaja menyinggung orang lain. Tapi namanya juga orang itu macam-macam, kita tidak akan bisa mengontrol isi kepala orang lain. Yang bagus diambil, yang buruk dibuang.

4. Menurut pengalaman Teh Shanty, kapan waktu yang tepat untuk menulis bagi seorang ibu (di ranah domestik/publik)

Jawaban:
Setiap orang pasti punya waktunya sendiri. Sangat personal ini sih.

Kalau saya bisa menulis kapan saja saya mau. Dunia bisa berhenti kalau saya nulis. Mau dapur berantakan, anak-anak belum makan, dompet kosong, kalau memang mau nulis, ya nulis aja. Saya juga baru bisa mulai ngeblog saat anak paling kecil sudah masuk TK. Sebelumnya nggak sempat ngapa-ngapain juga. Paling sekedar corat-coret ide di kertas, yang baru bisa selesaikan beberapa tahun kemudian.

Saya punya sih jadwal menulis, cuma seringnya gagal diikuti karena sayanya bukan orang yang biasa disiplin dan suka rutinitas. Bukan ajaran yang bagus. Saya juga lagi belajar untuk lebih disiplin biar bisa lebih produktif seperti teman-teman senior yang lain.

#2 Pertanyaan Aisyah, Jombang

Bagaimana caranya membuat kalimat penutup yang "pas"? Karena sering sekali di awal sudah lancar ingin menulis ini itu, tapi saat ingin menutup paragraf, jadi kebingungan.
Jawaban:
Kalau saya berusaha menutup dengan mengulang lagi poin-poin penting dari yang sudah dijelaskan ngalor-ngidul sebelumnya. Jadi seperti kesimpulan.

Saya jadi ingat kebiasaan menutup sebuah pembicaraan dari Teh Atalia Praratya dengan sebuah quotes. Mungkin ini menarik juga kalau diterapkan dalam tulisan Aisyah.


#3 Pertanyaan Wenny - Jombang

Bagaimana menulis sesuai kaidah agama Islam, tidak menimbulkan riya' dalam diri penulis, bisa memberi manfaat bagi pembaca dalam tujuan mensyiarkan Ilmu Allah?

Jawaban:
Gimana niat kalau menurut saya Wen. Niatnya riya nggak? Atau niatnya mau berbagi? Kita nggak bisa mengontrol pendapat pembaca, tapi kita bisa meluruskan niat kita dalam menulis. Saya banyak baca pengalaman spiritual seseorang yang indah. Seperti bukunya Peggy Melati Sukma yang menceritakan pengalaman spiritualnya. Buat saya itu nggak riya dan saya bisa banyak dapat inspirasi dari cerita Peggy.

#4 Pertanyaan Puji, Situbondo

Bagaimana memunculkan keinginan untuk menulis biar bisa menulis secara istiqomah? Bukan menulis menurut mood aja.

Jawaban:
Saya juga belum istiqomah menulisnya Puji. Dan menurut saya menulis itu butuh mood. Menulis itu pakai hati. Saya pernah ikut program rutin menulis yang dipaksakan setiap hari. Hasilnya nggak bagus banget. Males banget saya baca hasil tulisan saya. Nggak pakai hati dan hanya kejar setoran.

Yang saya lakukan saat ini adalah menjaga mood untuk selalu menulis. Ternyata kuncinya di banyak membaca dan membuka wawasan. Ngobrol sama teman, nonton film, datang ke acara blogger, lihat kreatifitas anak-anak, bahkan lihat komen teman di Facebook, bisa merangsang jari-jari kita buat menulis.

Menulis itu nggak harus selalu 1 postingan 1000 kata. Satu pendapat sederhana yang utuh juga merupakan tulisan ungkapan isi kepala kita. Kita bisa mulai dari situ. Pernah baca kan buku yang merupakan kumpulan twitter seseorang. Cuma dari kalimat 140 kata, bisa dirangkai jadi 1 buku. Yang penting menulisnya dengan hati.

#5 Pertanyaan Kharis, Jombang

Kadang-kadang muncul keinginan/ide membuat suatu tulisan,tapi karena terserang tumpukan pekerjaan kantor atau pikiran kerjaan rumah yang belum beres (dan akhirnya saya anggap prioritas di waktu itu juga) jadinya lupa, hilang, g mood,dll.
Apa ada tips supaya ketika punya ide, bisa ingat atau bisa terlaksana?

Jawaban:
Its so me Kharis. Saya selalu mengalami masalah itu. Cuma saya punya notes buat corat-coret yang lusuh banget karena sering saya nulisnya dalam kondisi tangan kotor karena lagi cabut rumput liar atau basah karena lagi cuci piring. Pokoknya pas ada ide melintas, itu ditulis dulu seadanya di notes. Yang penting kalimat yang melayang-layang di kepala tertulis dulu. Nanti gampang kalau mau di cari lagi. Mengembangkannya bisa lama kemudian. Beberapa tulisan saya itu draft tulisan tangannya sudah bertahun-tahun sebelumnya.

Bisa juga pakai rekaman suara yang di HP kalau suka. Atau langsung notes singkat di HP. Nanti di cari aja nyamannya yang mana. Yang pasti, memang ide yang lewat harus segera ditangkap dulu.

#6 Pertanyaan Yanti, Jombang

Bagaimana tips menulis di blog yang baik. Adakah batasan-batasannya atau standar bakunya?

Jawaban:
Tergantung selera masing-masing Yan. Itu gunanya rajin blogwalking atau jalan-jalan ke blog orang lain. Kita bisa lihat mana blog yang sesuai dengan selera kita. Bisa jadi blog yang menurut sejuta umat bagus, tapi menurut kita terlalu alay atau sebaliknya terlalu berat.

Kalau saya suka blog yang isinya pengalaman pribadi dengan bahasa yang rapi. Saya nggak gitu suka blog yang isinya dominan produk review atau curhat tanpa tujuan.

#7 Pertanyaan Novi, Jombang

Bagaimana ya tips menulis dengan kaidah EBI tapi tetap menarik untuk dibaca? Saat belajar menulis dengan EBI, kok rasanya tulisan saya jadi terkesan kaku.

Jawaban:
Kalau kita aslinya nggak berbahasa EBI, ya nggak usah dipaksakan. Itu yang bikin kesan kaku. Karena terasa nggak gue banget. Coba banyak-banyak baca tulisan buku-buku yang bagus. Biasanya penulisnya pandai menggunakan bahasa EBI tapi sajiannya tetap menarik buat pembaca Novi.

#8 Pertanyaan Mesa, Jombang

1. Teh Shanty, teteh selalu menyajikan tulisan berbobot. Bagi teteh sendiri, adakah standar yang harus terpenuhi sebelum tulisan teteh diposting di blog? Kalau ada, apa saja teh aspeknya? Apakah memerlukan survey maupun studi literatur? Berapa lama waktu untuk menyelesaikan 1 tulisan?

Jawaban:
Saya merasa ditahap blogger abegeh yang masih mencari-cari jati diri Mes. Maklum baru 3 tahun terakhir ini tahu yang namanya blog. Masih ikut sana, ikut sini. Kadang tulisannya bermutu, kadang sekedar kejar setoran karena dibayar. Kepinginnya sih semua bermutu dan minimal bermanfaat buat saya sendiri. Saya suka tulisan yang utuh dan lengkap, sehingga kalau saya nyari informasi mengenai hal tersebut nggak sulit lagi. Makanya sering segala hal disumpelin di situ dalam bentuk link pendukung.

Riset untuk sebuah tulisan itu sih wajib. Referensi utama saya biasanya Wikipedia.

Untuk 1 tulisan biasanya dari ide sampai tulisan tayang bisa sampai 5 jam kalau saya hitung. Itu termasuk draft, riset, menulisnya, menyiapkan image, revisi, sampai sharing ke berbagai medsos. Cuma sukanya dicicil sedikit-sedikit. Hari ini risetnya, besok imagenya, dan seterusnya. 

Lagi belajar juga nih biar bisa lebih produktif. Target saya bisa menulis 1 artikel 30 menitan saja diluar riset dan pendukungnya.

2. Menurut pengamatan teh Shanty, apakah setiap penulis handal memiliki tulisan dengan karakter kuat dan unik? Jika iya, bentuknya seperti apa teh?

Jawaban:
Iya banget. Gaya setiap penulis atau blogger papan atas biasanya khas banget. Kerasa aja kalau bacanya. Tonenya, pilihan katanya, tema yang dibawakan, itu jadi ciri khas seseorang.

3. Teteh sudah menemukan strong why teteh dalam menulis. Apa impian besar teteh di ranah kepenulisan ini?

Jawaban:
Kepengen bikin orang sadar kalau dunia literasi itu penting, seru, asyik, keren dan tentu saja meningkatkan kualitas hidup seseorang. Sedih banget kalau lihat kemampuan literasi yang sangat kurang di masyarakat kita. Bagaimana masih banyak orang yang kesulitan untuk bisa mencerna sebuah berita. Tidak tahu mana yang hoax mana yang tidak.

#9 Pertanyaan Hanik, Jombang

1. Bagaimana kiat membuat judul yang baik?

Jawaban:
Ini baru minggu kemarin di bahas di ODOP. Langsung saya kasih link dari teman kami Carolina Ratri ya.

Kalau perlu teknis blogging yang lain, langsung saja meluncur ke situ. Tinggal dibaca dan dipraktekkan di blog masing-masing.

2. Bagaimana tips untuk penulis pemula?

Jawaban:
Menulisnya dari hal yang disukai terlebih dahulu. Menulislah dimana saja. Dan mulailah sedikit demi sedikit. Mungkin satu dua paragraf di status facebook itu sudah cukup.

3. Apa yang sebaiknya kita lakukan jika tulisan kita 'macet di tengah jalan' , agar selanjutnya dapat mengalirkannya dengan indah kembali dari awal hingga akhir?

Jawaban:
Berhenti dulu. Istirahat. Tarik napas untuk melihat sekitar. Banyak baca. Biasanya ide akan mengalir lancar di saat kita relaks.

#10 Pertanyaan Abhida, Jombang

1. Pernahkah teteh mengalami mood swing dalam menulis? Bagaimana trik mengatasi saat tidak mood padahal ada yang perlu ditulis?

Jawaban:
Nggak pernah Da. Saya selalu kepengen menulis, menulis dan menulis. Kalau boleh seharian disuruh menulis saya pasti senang sekali. Ada setumpuk ide yang harus dimasak biar bisa segera matang dan bisa dinikmati. Cuma masalahnya di sibuk ini itu dan kemampuan saya mengatur waktu untuk bisa menulis. Serakah ingin ini, ingin itu, akhirnya tersesat di belantara Facebook. Jadi kambing hitamnya bukan mood tapi manajemen waktu buat menulis kalau saya.

Solusinya ya terus berlatih dan mencoba untuk bisa lebih baik. Saya banyak belajar dari teman-teman di ODOP bagaimana mereka bisa selalu menyediakan waktu menulis, belajar bagaimana kira-kira teknik yang paling memungkinkan untuk bisa lebih optimal. Ini semua masih proses yang terus berjalan.

2. Terkadang setelah saya menulis panjang lebar, saya baca kembali hapus sana sini, gonta ganti kata,  saya merasa bahasa saya kaku. Tidak bisa luwes mengalir. Bagaimana trik pemilihan kata yang teteh lakukan?

Jawaban:
Prinsipnya kalau saya menulis apa yang ingin saya baca. Kalau kita banyak membaca, nanti kerasa mana yang kurang mengalir. Saya itu kan suka narsis sama tulisan sendiri. Tiap kali dibaca, pasti ada aja kata atau kalimat yang terasa kurang dan kepengen diganti. Makanya revisi suatu postingan bisa puluhan kali kalau di blog saya. #belumpintar.

#11 Pertanyaan Iil, Jombang

1. Apa yang harus dilakukan oleh penulis pemula agar memiliki banyak ide segar sebagai bahan tulisan?

Jawaban:
Tolonglah untuk banyak membaca. Akan sangat sulit sekali bisa menulis dengan baik tanpa banyak membaca.

Coba lihat orang-orang yang jago masak, mereka itu biasanya punya perbendaharaan kuliner yang hebat. Suka jajan dan mencoba berbagai rasa makanan dengan semangat. Jadi mereka punya ide buat memasak dan tastenya terhadap rasa masakan jadi terasah. Kalau orang malas makan kaya saya, biasanya nggak jago masak. Gitu juga dengan menulis. Kalau malas membaca, biasanya nggak akan bisa jadi penulis yang baik. Dan rasanya saya belum pernah tahu ada penulis bagus yang tidak suka membaca.

Kalau membaca dirasakan masih sulit. Coba mulai dari membaca buku yang sesuai minat kita. Mama saya itu orang yang mengakunya nggak suka dan nggak bisa membaca lama. Tapi kalau saya perhatikan, Masya Allah itu koleksi bukunya banyak banget. Umumnya buku-buku keterampilan perempuan yang banyak gambar dan illustrasinya.

Biarkan keinginan membaca muncul secara alami sesuai kebutuhan kita. Membaca itu adalah perintah agama. Iqra adalah ayat Tuhan pertama. Sebuah perintah untuk membaca. Al Quran itu adalah kumpulan bacaan yang maknanya sangat dalam. Khusus untuk orang-orang yang berpikir. Diperlukan kecerdasan literasi untuk bisa memahami makna dari setiap kata-kata yang tertulis. Jadi please…munculkanlah kebutuhan untuk membaca dan mengembangkan rasa ingin tahu.

2. Kiat apa yang perlu dilakukan untuk menjadikan ide tersebut menjadi sebuah tulisan yang menarik dan mudah dipahami pembaca?

Jawaban:
Keep it short and simple. Nggak terlalu kemana-mana dan jelas mau ngomong apa. Makanya saya suka memulai draft sebuah tulisan dengan 1 kalimat mengenai saya sebenarnya mau ngomong apa. Baru nanti sisanya diisi dengan pendukung apa yang mau disampaikan.

3. Adakah trik-trik teknis dalam dunia kepenulisan yang penulis pemula harus ketahui?
untuk memudahkan membuat suatu tulisan. Baik dari segi isi tulisan, kalimat penyusun paragraf dan pemisahan antar paragraf.
Jawaban:
Ada. Coba beli buku pelajaran Bahasa Indonesia SD untuk menghadapi UN. Semua ada di sana. Saya suka sedih kalau baca tulisan orang-orang yang minimal konsep dasar ilmu bahasa indonesia ini saja belum bisa. Bagaimana menempatkan huruf kapital, tanda baca, menentukan ide pokok sebuah paragrap, dan sejenisnya.

Nggak perlu saingan sama anak SD untuk ikut Bimbel bahasa Indonesia agar nilai UN-nya 9. Nggak perlu juga langsung stress membayangkan harus menulis rapi 1 postingan utuh di blog. Pelajarilah Bahasa Indonesia dalam hal-hal yang sederhana seperti saat menulis pesan di whatapp atau sekedar status di facebook. Belajar mengeluarkan pendapat di media sosial dengan utuh. Jangan sekedar maki-maki satu kalimat yang nggak ada faedahnya.

Kemampuan mengeluarkan pendapat dalam bentuk tertulis ini perlu dilatih, supaya kita bisa efektif berkomunikasi dengan orang lain. 

Menulis adalah salah satu media untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain dan mengeluarkan uneg-uneg di hati.

Pesan Penutup

Untuk bisa menjadikan Menulis sebagai alternatif Me Time, pastikan bahwa itu muncul secara alami sebagai kebutuhan kita. Kalau memang tidak mood menulis, tidak butuh menulis, tidak suka menulis, jangan sekali-kali memaksakan diri untuk menulis.

Pastikan kita memang menikmati proses menulis dan suka saat membaca hasil tulisan kita. Bonusnya bisa rasa bahagia ketika tulisan kita ternyata bermanfaat buat orang lain plus segenggam dua genggam receh untuk sekedar biaya perpanjangan domain blog tahunan.

Mulailah dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan dengan konsisten. Seperti membaca 1 postingan 1 hari, menulis 5 menit jurnal syukur setiap hari, main ke toko buku 1 bulan 1 kali, atau menghadiri acara penulis 1 bulan 1 kali.

Dan yang paling penting, cari teman yang punya hobi yang sama untuk saling mendukung. Jadi bergabunglah dengan #ODOPfor99days atau komunitas menulis lain untuk menjamin konsistensi menulis teman-teman tetap terjaga.


***
Sudah? Begitu saja? Jadi boleh pulang nih kita?

Nggak dong, tunggu dulu. Ternyata di Jombang ada tantangannya. Dalam rangka mengikat ilmu seperti nasehat Imam Asy-Syafi'i, para peserta diminta untuk membuat review mengenai materi hari ini.
Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.

Poin penting apa yang tercatat dalam pemikiran kita?
Gerak laku apa yang bersegera kita aplikasikan dalam keseharian?
Perubahan apa yang akan kita canangkan dari ilmu menulis ini?

Hasil kontemplasi boleh ditulis dalam format apapun dan dikumpulkan pada Kamis, 23 November 2017 pk 12.00 WIB. Ada hadiah 1 buku Me Time menanti untuk ibu-ibu yang rajin.

Tidak terasa 1 jam berlalu sambil saya goreng ikan dan ngerebus sayuran untuk bekal makan siang anak hari-ini. Senang sekali bisa mampir dan berbagi dengan teman-teman yang punya minat yang sama. It's really bright up my day. 

Semoga bermanfaat. Selamat menulis dan bersenang-senang.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.