Marahkah kita jika dipanggil dengan panggilan yang salah oleh orang lain?

October 23, 2017


Belum lama ini saya sempat nyasar membaca screen shoot mengenai komentar seseorang yang terasa rasis. Saya sih menyorotinya ke masalah cara memanggil seseorang berdasarkan etnisnya. Dalam screen shoot sebuah obrolan tersebut tertangkap bahwa ada orang yang menolak dipanggil dengan sebutan tertentu karena dia etnisnya bukan itu. Jadi seperti orang Jawa menolak kalau di panggil Teteh. Mestinya dipanggil Mbak.

Sebenarnya ini sih masalah receh aja. Di hari orang lagi sibuk mencari segenggam berlian, lah masih ada orang yang pundung mengenai dipanggil dengan sebutan apa. Apalagi ini soal panggilan yang sebenarnya netral saja. Lain hal kalau panggilan yang memang bernada negatif. Seperti orang kulit hitam yang menolak dipanggil negro. Entah karena kurang banyak kerjaan, saya jadi gatal pengen membahas soal receh ini. Sebenarnya bagaimana sih kita ingin memanggil dan dipanggil orang lain? Bagaimana pilihan ini bisa menunjukkan cara berpikir dan identitas kita.

Bagaimana saya dipanggil orang lain

Saya ini biasa dipanggil orang dengan Teh Shanty, Mbak Shanty, Kak Shanty, Bu Shanty, Mama Shanty, Tante Shanty, Hala Shanty, atau cukup Shanty saja. Pernah juga ada yang memanggil Pak dalam sebuah chat - walau sudah diberitahu bahwa saya perempuan yang bernama Shanty. Tapi belum ada yang memanggil saya Cici Shanty atau Uni Shanty. Entah apa yang membuat orang bisa yakin 100% saya memang bukan etnis Tionghoa yang perlu di panggil Cici atau etnis Padang yang bisa dipanggil Uni.

Saya tahu terkadang orang bingung dan bertanya bagaimana saya seharusnya dipanggil. Kalau buat saya, panggilan terhadap seseorang itu saya serahkan kepada yang memanggil. Dia sendiri berasal dari etnis apa, dan bagaimana dia biasa memanggil orang disekitarnya. Misalnya kalau dia orang Sunda dan biasa memanggil orang yang lebih tua di sekitarnya dengan panggilan teteh. Maka silakan memanggil saya dengan Teh Shanty. Kalau dia orang Jawa, boleh memanggil saya Mbak Shanty. Kalau dia orang Sumatra atau daerah lain, bisa memanggil dengan Kak Shanty.

Panggilan juga biasanya berdasarkan kebiasaan dalam lingkungan tertentu. Misalnya di kompleks saya, kami biasa saling memanggil Ibu. Ada yang dipanggil dengan nama suaminya, ada yang namanya sendiri. Itu bebas saja. Kalau jaman Mama saya, seorang perempuan seringnya dikenal dengan nama suaminya karena identitas dirinya sendiri biasanya dianggap tidak terlalu penting. Kalau sekarang, saya perhatikan lebih banyak perempuan yang memang dikenal dengan namanya sendiri. Bahkan di kalangan ibu-ibu kompleks saya, kalau kami tidak tahu nama suami ibu tersebut, maka si suaminya akan dipanggil dengan nama Pak (nama istrinya). Misalnya suami Bu Shanty akan di panggil Pak Shanty. Buat yang belum tahu, namanya Pak Shanty adalah Pak Yogi. Apalin ya, siapa tahu nanti ada Give Awaynya. Ini tentu saja bisa berlaku sebaliknya. Di lingkungan suami, yang tidak kenal dengan istrinya, maka istrinya akan dipanggil nama suaminya. Di kantor suami saya, amannya ya saya dipanggil Bu Yogi bagi yang belum tahu kalau nama saya Shanty.

Demikian juga di sekolah anak-anak. Karena patokannya anak kita, maka nama panggilan kita juga jadi berubah. Kalau di kelas Raka, nama panggilan saya jadi Mama Raka. Di kelas Sasya, berubah jadi Mama Sasya. Kalau secara umum di sekolah yang tahu saya mamanya Raka dan Sasya, maka saya akan dipanggil sebagai Mama Raka sebagai anak yang paling besar. Apakah Bu Shanty, Teh Shanty, Mbak Shanty, di kenal di situ? Saya curiga pasti banyak yang menuduh itu adalah orang yang lain lagi.

Memang lucu juga sih kalau di grup WhatsApp sekolah. Kita hanya bisa membaca: mama….typing. Nggak ada bedanya mama yang satu dengan mama yang lain. Karena semua namanya di save sebagai mama si anak. Makanya sekarang saya berusaha memiliki nama setiap mama di grup orang tua murid. Jadi misalnya nama saya akan di save sebagai Shanty mama Raka, Nur Aisyah mama Omar, dan seterusnya. Biar nggak bingung lihat para mama yang lagi typing…

Mengapa saya tidak membatasi orang untuk memanggil dengan panggilan etnis tertentu? Kan saya di Sunda, ya sudah panggil saja Teh Shanty. Masalahnya saya bukan orang Sunda. Saya bahkan nggak bisa bahasa Sunda walau sudah dari tahun 1987 tinggal di Jawa Barat. Sudah lah, tidak perlu diungkit-ungkit kelemahan saya dalam menguasai bahasa daerah. Saya memang tidak menguasai bahasa daerah mana pun. Karena saya tidak merasa punya 1 etnis yang benar-benar murni. Saya kan anak indo. Indonesia maksudnya. Ibu Medan, Bapak Sumbawa. Kami sih di rumah menggunakan panggilan Kakak saja. Ya udah, pada manggil Kak Shanty aja? Tapi kan saya di tanah Sunda. Jarang orang memanggil Kak di Bandung ini. Ditambah, di tanah Jawa ini, begitu banyak orang Jawa yang menggunakan panggilan Mbak. So, we have to blend kan.

Bagaimana dengan pilihan panggilan Ibu atau Mbak? Saya sekali tidak ada masalah dengan ini. Bukan karena saya memang ibu-ibu berusia 40-an tahun. Memang ketika saya berusia 20 tahunan, ada rasa tidak nyaman ketika dipanggil ibu. Apalagi dalam lingkungan pekerjaan. Ketika kita berhubungan profesional dengan orang di luar kantor seperti client atau lainnya, maka kita akan dipanggil Ibu. Ini bukan menunjukkan usia.

Terkadang bagi perempuan, panggilan Ibu/Mbak itu menunjukkan usia. Kita merasa lebih muda kalau dipanggil mbak/teteh/kakak dibanding kalau dipanggil Bu. Serius ya ini konyol banget. Ini kan cuma ada di rasa. Usia di KTP mah tetap saja segitu. Coba deh ke sekolah dan lihat ibu-ibu guru muda berkulit kinclong yang pada baru lulus. Mereka tetap muda beneran walau dipanggil ibu. Sementara teteh-teteh senior, biar dipanggilnya teteh tetap saja keriput tidak bisa disembunyikan di balik bedak.
Jadi, kalau buat saya, tidak ada pengaruhnya mau dipanggil Ibu atau Teteh. Umurku 42 tahun, dan panggilan tidak akan bisa mengubah perasaanku menjadi lebih tua atau lebih muda. Lagian tua dan muda itu kan relatif. Dibanding yang umurnya 20-an, usia 40-an bisa jadi disebut tua. Sementara dibanding yang umurnya 60-an, tentu saja usia 40-an lagi matang-matangnya. Tapi dipikir-pikir ya, usia 40-an itu memang the best deh. Loh kok kita jadi bahas soal umur ya. Baiklah, mari kita kembali ke soal panggilan.

Saya tidak terlalu bermasalah di panggil apa saja. Sebenarnya yang masalah yang menuliskan nama saya dengan Santi dan bukan Shanty. Nah ini yang rada ganggu. Nggak enak aja lihatnya. Cuma semakin uzur, saya semakin bijak dan memahami bahwa nama orang lain memang nggak mudah untuk diingat. Sudah luar biasa orang bisa ingat nama saya Santi. Bukan Sinta. Apalagi jadi Dina atau Tuti. Saya sendiri sebenarnya juga sangat sulit untuk bisa mengingat nama orang. Perlu puluhan kali bertemu dan punya hubungan dekat yang agak intim, untuk bisa mengingat nama orang lain dengan baik. Maklumlah hardware mulai ketinggalan jaman.

Kesimpulannya untuk panggilan, saya suka menyerahkan kepada mereka yang memanggil saya. Karena ini bagian dari saya menilai dan mengingat orang tersebut. Apakah orang tersebut sederhana cara berpikirnya, orangnya asyik, orang dari etnis tertentu, caranya memandang dan menghormati orang lain, itu bisa ditangkap dari caranya memanggil seseorang. Secara tidak langsung, cara seseorang memanggil orang lain menunjukkan identitasnya.

Saran untuk orang yang mau memanggil saya:
  • Panggillah saya dengan apapun panggilan yang kalian nyaman dan biasa memanggil orang lain.
  • Memanggil dengan Shanty saja itu sangat disarankan untuk orang yang seumuran (2-3 tahun ke bawah atau di atas saya). Karena ada rasa keakraban dan membaurkan jarak diantara kita dengan cukup memanggil nama saja. Seperti saya nggak mungkin memanggil mbak atau teteh ke sahabat baik saya kan? Eh tapi nggak juga sih, salah satu sahabat baik, saya panggil Mbak Ani hanya karena kebiasaan bahwa semua orang memanggilnya seperti ini dan untuk membedakan dengan sahabat lain yang bernama Ani juga. Dan ini benar-benar statusnya sahabat dekat ya. Tapi ini kasuistik banget. Hanya untuk Mbak Ani seorang.
  • Jangan tanya ingin dipanggil apa ke saya. Karena jawabannya ada di poin pertama.


Bagaimana saya memanggil orang lain

Saya sebenarnya lebih suka memanggil orang lain cukup dengan nama saja. Pendek! Tanpa embel-embel kak, mbak, uni, dll. Ini adalah kebiasaan yang saya dapat di masa kuliah saya yang maha lama itu. Di kampus kami biasa memanggil orang cukup dengan namanya saja. Apalagi yang usianya hanya terpaut 2-3 angkatan di atas dan di bawah kita.

Kalau dosen muda yang usianya di atas 3 angkatan, biasanya saya panggil Mas/Mbak dengan pertimbangan itu etnis terbanyak di pulau Jawa. Apalagi di kampus tidak banyak yang murni berdarah Sunda yang perlu dipanggil Akang/Aa/Teteh. Kalau dosen yang lebih senior, tentunya dipanggil dengan panggilan Pak/Bu.

Untuk ke orang yang punya posisi tertentu, tetap ada rasa kurang nyaman kalau langsung memanggil nama. Ini lumayan bikin kagok ketika kita bergaul dengan orang dari negara yang berbeda. Ketika saya di Jepang, para senior biasanya cukup dipanggil nama saja. Aduh tapi rasanya kok nggak enak banget ya. Nggak biasa… Saya akhirnya memilih selalu menambahkan kata -san di belakang nama orang Jepang yang saya kenal, sebagai bentuk penghormatan dan mengganti kebiasaan memanggil dengan panggilan Pak atau Bu. Saya juga biasanya tetap memanggil bule yang saya kenal dengan sebutan Pak atau Bu. Abis nggak biasa aja sih memanggil nama langsung untuk orang yang saya anggap senior.

Kasus lain misalnya untuk Kang Emil yang saat ini walikota Bandung. Beliau kebetulan 3 angkatan di atas saya di kampus dan kebagian jatah mengospek angkatan saya. Bisa saja saya panggil nama saja. Tapi nggak bisa juga. Rasanya nggak enak aja. Saya memilih memanggilnya Kang Emil seperti banyak orang memanggilnya seperti itu. Ini sama kasusnya dengan saya memanggil Bu Septi, founder IIP atau Uni Dina Sulaeman, pakar urusan Timur Tengah itu. Walau usia kami hanya terpaut sekitar 1 tahun saja, saya tetap merasa lebih nyaman memanggil mereka dengan embel-embel Bu atau Uni. Bukan sekedar sebagai bentuk jaga jarak, tapi juga sekaligus sebagai memberi ruang untuk memberikan penghormatan terhadap pencapaian mereka.

Memang ada juga orang-orang yang akhirnya terkenal dengan brand panggilan dirinya. Misalnya Aa Gym, Teh Ninih, Mamah Dedeh, dan lain-lain. Walau tetap ada saja orang yang tidak mengerti akan memanggil Pak Agym misalnya. Kalau orang yang sudah punya brand nama panggilan seperti itu, saya kira akan lebih mudah untuk kita menentukan panggilan. Panggilan yang sudah menjadi brand seperti itu muncul dan viral secara alami. Bukan lah sesuatu yang dipaksakan atau direkayasa.
Saya sebenarnya lebih suka kalau ada orang yang bisa membantu kita dengan menyebut bagaimana kita sebaiknya memanggil mereka. Seperti Bunda Intan, teman saya di grup #ODOPfor99days. Si Bunda yang sudah senior ini, nggak bikin kita bingung dengan harus memilih memanggilnya Ibu, Teteh, Tante, Ceu, atau lainnya. Si Bunda akan memperkenalkan diri sebagai Bunda Intan. Kan enak, simple dan nggak nambah kerjaan kita.

Saya juga sebenarnya pengen juga punya panggilan tetap kaya si Bunda Intan. Jadi orang nggak repot untuk mengingat. Kadang dalam 1 kalimat memanggil saya mbak, dan dalam kalimat yang lain memanggil saya teteh. Kasihan kan, dia jadi bingung. Cuma masalahnya, saya belum tahu juga saya mau dipanggil apa. Karena saya nggak masalah mau dipanggil apa pun. Mungkin bisa jadi ini menunjukkan karakter saya yang suka bikin orang lain repot dan bingung. Sementara Bunda Intan orangnya lebih suka membantu dan tidak bikin susah orang.

Saran saya sih kalau untuk memanggil orang lain:
  • Tanya saja mereka lebih nyaman dipanggil apa. Orang yang terbuka, biasanya akan langsung mengatakan mereka lebih suka dipanggil dengan panggilan apa. Dengan nama pendek apa atau dengan embel-embel apa? Ada loh orang yang suka kalau namanya di sebut lengkap dengan titelnya. Misalnya Pak dokter oz, atau lainnya.
  • Cek orang-orang di lingkungan itu suka memanggil dengan cara seperti apa. Misalnya Bu Septi di komunitas IIP di kenal dengan panggilan Bu Septi. Nggak perlu lah kita ujug-ujug menyapa sok akrab dengan panggilan Septi saja atau Mbak Septi. Tapi kalau kita nyaman dengan itu, ya nggak apa-apa juga sih.


Bagaimana menyikapi cara orang memanggil kita?

Perlukah kita tersinggung ketika orang lain memanggil kita dengan panggilan yang salah? 

Sebenarnya suka-suka teman-teman juga sih, mau tersinggung apa nggak. Yang punya waktu untuk nge-baper-in urusan receh kaya gini ya silakan saja sih. Kalau kamu memang punya waktu, mending langsung disampaikan saja, bahwa kita lebih suka dipanggil dengan sebutan tertentu. Positif thinking aja, bahwa nggak semua orang bisa lihat bentukmu seperti apa sehingga tahu perlu dipanggil apa. Seperti saya yang bete banget waktu dipanggil Pak - walau sudah dikasih tahu bahwa saya perempuan bernama Shanty. (Entah kenapa soal ini kok ya gondoknya nggak hilang-hilang). Kalau sudah kita kasih tahu kita nyamannya di panggil apa, dan orangnya tetap kekeuh surekeuh memaksakan panggilan yang tidak kita sukai, kita punya pilihan kok untuk meninggalkannya. Nah itu kalau kalian memang punya banyak waktu untuk mempermasalahkan masalah receh ini.

Kira-kira gitu deh curhat saya kali ini. Sekedar karena gatal ingin berkomentar melihat orang yang bisa marah hanya karena ia dipanggil salah oleh orang lain. Nggak terasa sudah 2000 kata saja. Jadi… bagaimana dengan teman-teman sendiri? Sukanya dipanggil apa? Share dalam komen di bawah ya. Biar saya simpan dalam phone book saya.



2 comments:

  1. aku termasuk orang yang santai aja orang manggil apa, selama masih dalam koridor wajar ya. tapi kalo ke orang lain paling sering pake kak atau bang kalo yang dirasa setara. hehee

    ReplyDelete
  2. Saya termasuk yang santai orang manggil apa aja, asal bukan salah sebut nama org lain :D. Selama tinggal di Jkt, saya suka dipanggil "Teh" pdhl saya org Jawa. hehe.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.