Tempat yang Berkesan, tentang Maluk dan Suzuka
Tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog pembuka di tahun 2026 ini cukup menarik. Yaitu tentang Tempat/Lokasi yang Membentukku dari Mamah May Sari Hendrawati. Saya itu sebenarnya sudah semangat loh mau melepas status deadliner dengan menjadi penyetor pertama yang membagikan pengalaman pribadinya.
Eh… tau-tau, timeline ramai dengan penghakiman terhadap Mbak Dwi Sasetyaningtyas yang dianggap oversharing dan bikin ribut se-Indonesia Raya. Dari sekedar membagikan kebahagiaan mendapatkan paspor Inggris untuk anak, lah kok jadi dapat tagihan 7,7M plus jadi bahan olok-olok netizen begini.
Jadi takut dong, mau sembarangan nulis pengalaman lagi. Ngeri juga kalau apa-apa yang kita sampaikan dengan maksud berbagi, malah bisa jadi merugikan diri sendiri.
Mikirnya lama… banget. Sampai akhirnya tiba di hari deadline (halah... alesan). Dan saya memutuskan untuk tetap membagikan pengalaman pribadi ini. Dengan niat merekam pengalaman hidup yang mudah-mudahan bisa ada manfaat bagi yang membacanya. Aih, mulia amat sih ya.
50 tahun sudah tinggal di mana saja?
Sebelumnya saya tidak pernah menghitung persisnya saya tinggal di suatu tempat selama berapa lama. Baru dalam rangka menulis tulisan ini, saya sadar ternyata saya itu selalu berpindah setiap 6 tahun.
Enam tahun pertama kehidupan saya dimulai di kota Mataram. Selanjutnya pindah ke kota Dompu selama 6 tahun masa SD. Enam tahun berikutnya masa SMP dan SMA saya habiskan di kota Karawang. Sementara masa kuliah 6 tahun saya habiskan di Bandung.
Lama amat kuliah 144 SKS sampai 6 tahun? Saya sampai cek lagi KTM saya, masa sih saya sampai punya 12 KTM? Memalukan amat. Ternyata nggak kok. Hanya 10 semester saja. Dan semester ke-11 itu hanya dalam rangka magang dan menunggu wisuda saja di bulan Juli.
Setelah lulus saya sempat kerja 1 tahun di daerah pertambangan Newmont Nusa Tenggara, Maluk Sumbawa. Sebuah kampung kecil di tepi pantai bagian barat pulau Sumbawa.
Baru setelah itu, saya menetap di Bandung hingga 25 tahun berikutnya. Bekerja, menikah, mengambil KPR rumah, punya anak pertama, punya anak kedua, sampai anak pertama kuliah di Bandung juga.
Selain itu, ada satu masa dalam kehidupan saya dimana saya berkesempatan tinggal selama 2 bulan di Suzuka, Jepang selama program IATSS Forum tahun 2003.
Walau Sebentar Namun Berkesan
Masa 6 tahun di Mataram, Dompu, Karawang dan 6 + 25 tahun di Bandung tentunya sangat membentuk diri saya yang sekarang. Namun buat saya, Maluk dan Suzuka yang hanya saya tinggali selama 1 tahun dan 2 bulan saja itu, malah memberikan banyak perubahan pada diri saya.
Cerita tentang Maluk
![]() |
| Jarang-jarang bisa punya kantor di dekat pantai cantik kaya gini |
Saat di Maluk ini, saya pertama kali dapat kerja. Ada rasa bangga karena bisa dapat kerja dengan gaji yang sangat bagus bagi fresh graduate saat itu. Wajar sih sebenarnya, maklum ‘dibuang’ ke ujung dunia seperti Sumbawa itu.
Di daerah yang memiliki pantai yang sangat indah itu, saya jadi tahu betapa bodohnya saya dalam bekerja sebagai arsitek junior. Beruntung sekali saya dapat bimbingan dari para senior yang sabar menanggapi anak fresh graduated yang ngeyelan dan nggak pinter ini.
Karena posisi kami saat itu sebagai perusahaan sub kontraktor dari Perusahaan Pertambangan Newmont Nusa Tenggara, saya jadi berkesempatan tinggal di barak bersama karyawan perusahaan utama. Jadi tahu daerah pertambangan yang terpencil tapi memiliki dunianya sendiri itu seperti apa.
Padahal sebelumnya sebagai lulusan arsitek, bayangan saya kerja arsitektur itu tentunya di kota membangun bangunan yang keren-keren. Ternyata di Sumbawa ini, kami malah berhubungan dengan masyarakat lokal untuk membantu membangunkan fasilitas masyarakat seperti sekolah, puskesmas, dan pasar.
Saya jadi ingat tugas pertama sama saat baru tiba di kota ini adalah diminta membuatkan desain sebuah tempat wudhu mesjid desa. Saya ingat mengerjakannya dengan susah payah karena belum familiar dengan sistem Autocad bawaan dari kantor ini. Benar-benar fresh graduate yang menyedihkan!
![]() |
| Bareng teman-teman Camp Benete Newmont Nusa Tenggara |
Sebenarnya karena lulus dengan IP yang agak memalukan, saya sempat memutuskan untuk tidak akan mau jadi arsitek yang tugasnya menggambar. Saya ingin jadi yang lain saja. Namun ternyata takdir membawa saya harus menggambar, ya sudah dijalani saja.
Tidak terasa, 1 tahun berlalu hingga kontrak perusahaan kami habis dan kami pun kembali ke Bandung.
Cerita tentang Suzuka
Kesempatan tinggal di luar negeri itu memang penting sekali ya buat pengembangan diri seseorang. Pengalaman saya walau hanya 55 hari di Suzuka, benar-benar membuka mata saya pada banyak hal baru.
Saya beruntung mengikuti program rutin yang didanai oleh Honda Motor ini bersama seorang teman perempuan dari Surabaya. Namanya Ermida Simanjuntak. Kami berdua terpilih untuk mengikuti IATSS Forum batch 33 bersama 16 partisipan lain dari 9 negara ASEAN.
![]() |
| Study tour ke Nara bersama IATSS Forum batch 33 |
Saya dan Mida saat itu sama-sama belum pernah tinggal lama di luar negeri. Jadilah kami dua orang yang norak banget di kampung orang. Saya beruntung banget dapat teman yang sefrekuensi. Jadi nggak malunya sendirian gitu.
Selama 55 hari itu, selalu saja saya menemukan pelajaran berharga setiap harinya. Apalagi kegiatan kami selama di Jepang ini sangatlah padat.
Dari sejumlah topik seminar yang perlu diikuti dan diisi oleh nara sumber profesor sejumlah universitas di Jepang, study tour ke berbagai kota di Jepang, acara-acara kebudayaan, sampai ke sekedar ngobrol-ngobrol santai dengan warga Jepang dan partisipan dari 9 negara ASEAN ini. Beneran sebuah kesempatan yang luar biasa banget sih emang program ini.
![]() |
| Berfoto wajib angkatan dengan kimono di depan markas IATSS Forum Suzuka Jepang |
Menemukan begitu banyak hal baru yang membuat saya begitu terkesan dengan Jepang. Sebuah pengalaman yang terus saya bawa hingga saat ini untuk saya ceritakan sama anak-anak. Pokoknya anak-anak wajib lah ke Jepang!
Merasakan hidup langsung di lingkungan yang baru itu memang berbeda dengan sekedar mendengar cerita, nonton film, atau bahkan kunjungan wisata singkat. Setiap orang rasanya memang perlu pengalaman tinggal lama di sebuah lokasi baru untuk mengenal lebih baik daerah tersebut.
![]() |
| Bersama calon host parent dan teman-teman perempuan di Suzuka |
Penutup
Walau sebentar, Maluk dan Suzuka membantu saya untuk bisa berubah secara signifikan. Maluk mengubah saya dari lulusan fresh graduate yang songong dan tidak mau jadi arsitek, menjadi bisa melihat pekerjaan arsitektur dari sudut yang berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya. Setelah dari Maluk ini, saya menjadi arsitek selama hampir 7 tahun berikutnya.
Suzuka mengubah saya dari seorang arsitek junior dari sebuah konsultan di Bandung yang cupu dan norak, menjadi punya wawasan baru dengan kesempatan melihat betapa canggihnya kehidupan di Jepang. Setelah dari Jepang, saya jadi punya kesempatan untuk bekerja di konsultan berbeda dan mencoba bidang keahlian arsitektur yang lain.
Demikianlah kedua tempat yang paling berkesan dalam hidup saya. Jadi kepikiran, kira-kira masih memungkinkan nggak ya punya tempat baru lagi di usia ½ abad ini?
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
3 komentar untuk "Tempat yang Berkesan, tentang Maluk dan Suzuka"
Seru banget cerita di Newmont, tempatnya bagus banget kan, aku dulu sempat mampir bentar. Tinggal di remote area sama teman-teman seumuran dan sefrekuensi pasti seru, kayanya mirip-mirip ceritaku pas di Balikpapan dulu. Sama-sama anak fresh grad baru melihat dunia.
Kayanya mungkin aja sih tinggal di tempat baru kan, aku sama suami juga lagi nyari tempat tinggal kami berikutnya, belum ada ide :). Selamat berpuasa ya Teh Shanty.