Apa yang Perlu Ditulis

 apa yang perlu ditulis

Walau sudah lama menulis dan ngeblog, saya masih saja sering ragu dengan apa yang perlu saya tulis untuk bisa dibaca orang lain. Kalau menulis untuk diri sendiri seperti yang biasa saya lakukan selama ini, tentu saja bisa sangat mudah. Tidak ada batasan sehingga bisa mengalir begitu saja. Mau curhatan marah-marah, mau cerita pendek yang lompat-lompat alurnya, mau kesan dari film atau buku yang dibaca, semua bisa mengalir dengan lancarnya.

Tapi begitu memutuskan untuk tulisan ini bisa dibaca banyak orang, persoalannya jadi tidak sederhana. Tiba-tiba rasanya jadi banyak pertimbangan. Jadi kepikiran, apa tulisan ini berguna? Apa ada yang perlu? Apa pesan menulisnya sampai? Apa tidak khawatir ada yang tersinggung atau marah? Apakah pendapat saya beneran perlu untuk diabadikan dalam sebuah tulisan? 

Apa nggak lebih aman, diem-diem saja dan lanjut scrolling sosmed saja, tanpa perlu repot menulis. Lah gimana sih ini? Efek sudah malam ya jadi begini. Menulisnya jadi ngecapruk nggak jelas.

Setelah selama ini saya merasa sudah cukup banyak berlatih menulis untuk diri sendiri, jadi di tahun 2026 ini saya berkomitmen untuk lebih banyak menulis terbuka di blog. Tulisan yang tentunya bisa dibaca orang lain.

Di sini kadang yang menjadi kebingungan saya. Apakah tulisan di blog ini perlu saya batasi hanya apa yang kira-kira disukai dan dibutuhkan segmen pembaca blog saya? Atau saya boleh menulis apa saja yang saya sukai? Haruskah saya membatasi diri dengan menulis niche tertentu? 

Tu kan… memikirkan yang seperti ini yang bikin menulis menjadi tertunda-tunda. Mikirnya lama banget. Malah akhirnya memilih untuk tidak menulis. Nah kalau sudah begini, ya salah lah. Ini yang membuat banyak sekali KLIPers tidak lulus KLIP.

Yang penting mulai dengan mencoba menulis dulu. Boleh kok menulis apa saja. Paling nggak ada yang mampir dan baca aja, kalau tulisannya tidak menarik dan dibutuhkan orang. Jadi saya pikir, kalau sebagai pemula, menulis itu memang dibebaskan saja. Yang utamanya adalah menulis topik yang kita sukai dulu pastinya. Bukan topik yang sejuta umat suka tapi sayanya nggak suka ya. Ini sih kayanya agak menyiksa ya. Menulis untuk orang lain, tapi kitanya sendiri tidak punya hati untuk tema tersebut. 

Terkadang menulis topik yang kita sukai itu membuat kita bisa mencurahkan fokus lebih baik terhadap tema tersebut. Hasilnya akan kelihatan dalam tulisannya. Dan biasanya, tulisan-tulisan yang bisa mencerminkan minat penulisnya, itu enak sekali dibacanya. 

Jadi mau menulis curhatan pribadi (yang tentunya sudah disensor mestinya ya), renungan harian, pengalaman menarik hari ini, ulasan tulisan yang dibaca atau film yang ditonton, semua tetap ok sih. Tidak perlu dibatasi dengan kewajiban perlu niche tertentu. Setidaknya sampai bisa menemukan ritme yang nyaman dan bisa menulis dengan rutin. 

Nanti setelah tulisan mulai banyak, mulai deh bisa dipilah-pilih mana dari sejumlah tulisan yang kita buat yang feedbacknya positif. Topik mana yang banyak orang suka dari tulisan kita. Saya sih percaya, setiap topik bisa punya pembacanya sendiri. Nanti seiring waktu akan kelihatan kekuatan menulis kita ke arah yang mana. Saat itu, baru deh strategi menulisnya bisa lebih tajam dan terarah. 

Kalau sekarang, mending menulis apa saja yang ada di kepala dan menikmati prosesnya menulisnya. Sepakat teman-teman penulis pemula?


Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Posting Komentar untuk "Apa yang Perlu Ditulis"