lWcg51fin4Fhk7iYMzhi8k0YG8mjAdav5FwgOuRx

Masih Bisakah Saya Menulis?


Saya rasa saya lupa caranya menulis sesuatu yang layak dibaca orang lain. Kalau saya lihat, blog saya terakhir terisi awal April. Catatan Free Writing terakhir hanya sampai pertengahan Juni. Isinya pun hanya sekedar ide-ide kasar yang tidak beraturan. 

Rasanya begitu banyak yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini yang membuat mood menulis saya menurun sekali. 

Ternyata hal seperti ini bisa terjadi! Akan ada masa-masa nge-hang seperti ini. Dan beneran deh, rasanya sangat nggak enak. 

Kepingin bisa menulis. Tapi ya rasanya tidak selera. Bosan. Malas. Enakan scrolling cerita-cerita kehidupan random di Quora atau nonton film.

Bisa jadi masa-masa cuti menulis itu memang perlu disediakan khusus ya. Seperti orang yang olahraga. Ada breaknya. Bukan olahraga setiap hari. Tapi memang perlu ada waktu-waktu khusus untuk mengizinkan tubuh beristirahat. Dimana otot-otot diberikan kesempatan untuk melakukan pemulihan dan berkembang dengan baik. 

Saya perlu melihat lagi dari sudut pandang yang berbeda mengenai apa yang sebenarnya perlu saya tulis. 

Saya ini sebenarnya mau menulis untuk siapa? Menulis untuk dinikmati sendiri kah? Atau menulis untuk bisa dinikmati orang lain dan mendapatkan banyak perhatian? Atau bahkan sekedar menulis untuk memenuhi kepuasan mereka yang membayar? 

Saya rasa saya kehilangan arah. 

Tapi mau sampai kapan? Nggak bisalah dibiarkan nyasar terlalu lama. Makanya saya senang sekali ajang 30 days journal of AWI season 5 kembali diadakan bulan ini. 

Jadi ingat keseruan kegiatan ini tahun lalu. Jarang-jarang saya bisa aktif mengisi Instagram setiap hari kalau bukan karena mengikuti tantangan.

Targetnya ikut season 5 kali ini adalah mengembalikan otot-otot menulis yang sudah nyaris berkarat. Harus dipaksakan ah. Malas itu nggak bisa diikuti. Bosan itu nggak boleh manjakan. Mumpung masih diberi waktu dan kesempatan. 

Mulai dengan menulis untuk diri sendiri dulu deh. Sekedar menulis renungan harian yang memang menarik untuk direkam. Hari yang tidak ditulis adalah hari yang sia-sia. Dilupakan begitu saja. Kan sayang juga ya kalau seperti itu.

Selama ini saya sekedar mencatat kegiatan harian hanya dalam bentuk poin-poin saja. Sekedar untuk mengingat hal-hal penting mengenai apa yang terjadi pada hari tersebut. Tapi jarang untuk sempat menulis perenungan-perenungan yang membuat suatu hari berharga. Sayang sekali padahal. Mudah-mudahan dengan mengikuti AWI di bulan Juli ini, saya jadi bisa menulis jurnal dengan lebih baik daripada sebelumnya. Walau memang ya, tantangan menulis di malam hari itu lumayan berat. Bawaannya sudah ngantuk dan malah nggak fokus. Kadang malah jadinya menulis sekedar mengejar setoran saja. 

Jadi kepikiran strateginya adalah menulis di pagi hari mengenai kejadian atau perenungan sehari kemarin. Tidak perlu dipaksakan menulis malam. Bisa dilakukan di pagi hari saja setelah sholat subuh agar masih fresh. Semangat!


(400 kata)

Related Posts
Shanty Dewi Arifin
Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Related Posts

Posting Komentar