lWcg51fin4Fhk7iYMzhi8k0YG8mjAdav5FwgOuRx

Pentingnya Kemudahan Akses untuk Perpustakaan Kota

pentingnya akses perpustakaan kota

Alhamdulillah saya termasuk salah satu dari 2,4 juta warga kota Bandung yang beruntung bisa punya rumah hanya 1,9 km dari perpustakaan paling besar di kota ini. Dipikir-pikir, saya nggak beda-beda amat sama teman-teman di luar negeri yang biasa bercerita mengenai senangnya punya perpustakaan bagus di kota mereka. 

Tapi apakah saya benar-benar beruntung? Apakah saya bisa memanfaatkan fasilitas ini sebaik-baiknya? Kayanya nggak juga. Kok bisa? Sabar ya, akan saya ceritakan di blog post ini. 

Nama perpustakaannya Dispusibda atau Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat. Letaknya di Jl. Kawaluyaan Indah II no 4 Jatisari Kecamatan Buahbatu Kota Bandung. Walau berbeda kecamatan, lokasi perpustakaan ini hanya 5 menitan naik motor saja dari depan rumah saya. 

Jangan tertukar dengan Disarpus atau Dinas Arsip dan Perpustakaan kota Bandung yang letaknya lebih di jalan Seram no 2. Dulu namanya sempat sama-sama Dispusibda nih. Sekarang ternyata dibolak-balik namanya. Mungkin karena membingungkan kalau memakai aplikasi ojek online. 

Fasilitas Dispusibda

Perpustakaan 4 lantai ini bisa dibilang cukup nyaman buat membaca buku, bekerja, atau janjian sama teman. 

Di lantai 1 ada Perpustakaan anak dan ruang pameran. Lantai 2 dan 3 terdapat 3 ruang perpustakaan untuk buku-buku dewasa, buku-buku khas Jawa Barat, dan buku-buku referensi. 

Dulu sempat ada yang namanya ruang buku remaja. Ini adalah favorit saya, karena berisi buku-buku baru yang masih segar wanginya. Buku baru itu kan bikin semangat baca, dibandingkan kita diberikan buku-buku tua yang infonya sudah ketinggalan zaman dan lusuh. Namun kemudian ruang buku remaja ini diganti dengan koleksi khas Jawa Barat. Sayang keburu pandemi dan perpustakaan ditutup hampir selama 2 tahun, saya pun belum sempat masuk ke ruangan ini. 

Di lantai 4 ada aula yang cukup besar untuk kegiatan yang bisa menampung banyak orang. Sudah beberapa kali saya menghadiri kegiatan literasi di gedung ini. Pokoknya kalau ada acara komunitas di Dispusibda, saya pasti mengusahakan hadir. Ya iyalah, mumpung dekat rumah.

Saat akhir minggu, ada sejumlah kegiatan menarik yang ditawarkan. Seperti belajar menulis, bahasa, musik, menggambar, menari, dan lain-lain. Kegiatan ini bisa diikuti siapa saja yang mendaftar. Ada yang berbayar, ada yang gratis juga seingat saya. Saya sendiri belum sempat untuk mendaftar satu kegiatan pun. Walau sebenarnya anak-anak sempat tertarik untuk ikut juga. 

perpustakaan dispusibda bandung
Gedung Dispusibda Jawa Barat yang besar dan megah (Sumber: dispusipda.jabarprov.go.id)

Bekerja di Perpustakaan

Saya sempat memanfaatkan perpustakaan sebagai coworking space gratisan. Menulis di perpustakaan itu sensasinya memang beda dengan menulis di rumah. 

Sebelum pandemi, anak-anak pergi sekolah sejak pukul 7 pagi. Setelah anak-anak pergi, saya baru sempat menulis dengan tenang. 

Itu ekspektasinya. Realitanya adalah ketika anak-anak pergi sekolah, saya mulai beberes rumah, mencuci piring, baca-baca sosmed, sarapan sambil nonton film. Dan tiba-tiba sudah zuhur lagi. Menulisnya wassalam sudah. 

Ternyata buat saya sulit sekali untuk bisa tetap disiplin menulis di rumah walau tidak ada siapa-siapa. Mungkin efek segalanya kelihatan ya. Ada dapur yang mesti diurus, ada tv yang tertarik buat ditonton, ada tukang sayur yang manggil-manggil. Pokoknya banyak gangguan lah. 

Sampai saya punya ide untuk mencoba bekerja di perpustakaan saja. Ini idenya dari Dee Lestari yang sempat cerita bagaimana ia pernah memilih untuk kos di suatu tempat sebagai ruang kerja menulisnya saat menulis novel Perahu Kertas. Dengan punya ruang kerja khusus begini, menulis kan bisa lebih fokus.

Saya sih nggak kepikiran buat sewa kamar kos. Atau bahkan nyewa working space yang mahal itu. Bukan apa-apa, apa nggak habis waktu di jalan kalau lokasinya jauh dari rumah kita? 

Mumpung ada perpustakaan yang dekat, kenapa saya nggak mencoba untuk bekerja di perpustakaan saja pikir saya. Jadi setiap pagi, setelah anak-anak ke sekolah, saya nebeng suami yang mau ke kantor untuk diantar ke perpustakaan dulu. 

fasilitas dispusibda jawa barat
Bagian dalam perpustakaan Dispusibda Jawa Barat yang tidak kalah dengan perpustakaan di  negara lain. (Sumber: dispusipda.jabarprov.go.id)

Di perpustakaan, saya bisa fokus menulis hingga pukul 12 siang. Tanpa dekat dapur, tv atau teriakan mang sayur. Pulangnya, saya akan naik ojek online yang harganya sekitar 12 ribu. Kadang kalau malas masak, saya mampir dulu ke warung di depan perpustakaan untuk beli makan siang keluarga. Jadi di rumah, untuk makan siang sudah ada. Sempurna sekali!

Saya menikmati banget nih masa-masa bekerja di perpustakaan. Ruang untuk bekerjanya sangat nyaman. Ada banyak colokan listrik untuk laptop. Privacy kita juga terjaga karena bentuk mejanya seperti ruang kerja yang ada pembatasnya. 

Sebenarnya bisa pilih-pilih mau bekerja di meja yang mana. Bisa pilih-pilih kalau bosan di satu tempat. Suasananya juga sangat tenang.

Kecuali memang ada hari-hari yang sangat menjengkelkan ketika ada kunjungan anak sekolah yang sangat ramai. Duh, masa-masa itu bisa sangat mengganggu konsentrasi. Tapi memang jarang-jarang sih. 

Saya merasa sangat produktif sekali bisa menulis dengan tenang di perpustakaan seperti itu. Sayang kebiasaan ini tidak bisa berlangsung lebih dari sebulan. 

Karena setelah dihitung-hitung, eh kok jatuhnya mahal juga ya ongkosnya. Kalau setiap hari, bisa mencapai 60 ribu/minggu. Ini belum dengan budget makan siang atau tambahan ongkos pergi kalau kebetulan suami tidak bisa mengantar. 

Masalah kemudahan akses perpustakaan

Akses menuju perpustakaan Dispusibda Jawa Barat
Dari arah jalan Soekarno Hatta, perlu berjalan 400 meter untuk mencapai gedung perpustakaan.

Dari pengalaman ini, saya jadi berpikir mengenai pentingnya kemudahan akses saat membuat perpustakaan. Idealnya perpustakaan itu menurut saya bisa mudah diakses untuk pejalan kaki. Mungkin ia tidak perlu besar, tapi setidaknya cukup nyaman untuk sejumlah orang bisa bekerja atau membaca di sana. 

Jangan hanya mengandalkan akses dari kendaraan pribadi saja. Seperti lokasi perpustakaan Dispusibda Bandung ini saya nilai kurang bagus aksesnya. Bagi pengguna kendaraan umum seperti angkot atau bis, mereka harus berjalan sekitar 400 meter dari pemberhentian kendaraan ke gedung perpustakaan. 

Mending kalau akses pejalan kakinya cukup nyaman. Ini bahkan tidak ada jalur khusus untuk pejalan kaki dari arah jalan Soekarno Hatta. Jalan Kawaluyaan juga bukan jalan yang cukup lebar. Walau jalan di depan perpustakaan berupa boulevard 2 jalur yang cukup lebar. Benar-benar perencanaan kota yang tidak matang. 

Di sekitar perpustakaan bukanlah daerah perumahan. Melainkan sejumlah kantor berhalaman luas seperti kantor Samsat dan kantor Dinas Permukiman dan Perumahan. Memang ada banyak perumahan dalam radius 1 km-an. Tapi saya rasa karena jalur pejalan kaki yang tidak nyaman dari perumahan, akses menuju perpustakaan ini memerlukan naik motor atau sepeda saja. 

Walau rumah saya jaraknya 1,9 km saja, saya tidak terlalu yakin berani melepas anak ke perpustakaan ini sendiri dengan naik sepeda. Karena akses ke sini melalui jalan yang tidak terlalu besar dan ramai oleh motor. Kayanya terlalu berbahaya kalau anak-anak pergi sendiri ke sini. Jadi perlu diantar dengan orang tuanya naik kendaraan pribadi. 

Jika tidak punya kendaraan pribadi, perlu naik ojek online yang harganya sekali jalan sekitar 12 ribu (1 orang)  atau 19 ribu jika naik mobil (2-3 orang). Lumayan kan buat keluarga yang budget transportasinya pas-pasan. 

Saya rasa alasan ini yang menyebabkan perpustakaan Dispusibda tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk masyarakat di sekitar lingkungan Kawaluyaan ini. Kami jadi harus punya waktu dan budget khusus untuk bisa sering-sering menikmati fasilitas perpustakaan yang semestinya bisa mudah diakses setiap hari.

Cerita Perpustakaan Kota Lain

Saya jadi teringat cerita perpustakaan lingkungan di Surabaya yang sempat digalakkan pada masa Bu Risma menjadi walikota. Jadi ada perpustakaan di setiap lingkungan. Perpustakaan ini bisa diakses dengan mudah oleh anak-anak dari rumah mereka. Anak-anak tidak perlu ongkos dan waktu khusus untuk menghabiskan waktu di perpustakaan kalau seperti itu. 

Atau perpustakaan seperti diceritakan dalam buku Matilda (GPU, 1988) karangan Roadl Dahl. Bagaimana Matilda yang umurnya 4 tahun, bisa berjalan SENDIRI selama 10 menit menuju perpustakaan di desanya dan membaca hampir semua buku di sana. 

Nah, itulah perpustakaan yang dibutuhkan oleh negeri ini. Bukan sekedar perpustakaan besar mentereng yang sulit diakses masyarakat di sekitarnya. 


Beberapa perpustakaan di Bandung ini saya lihat sekedar bagus saja. Tapi tidak memikirkan akses yang mudah untuk warganya. Padahal kan repot sekali kalau kita tidak bisa rutin mengunjungi perpustakaan yang sama. Bagaimana mau mengembalikan bukunya coba? 

Semoga di tahun-tahun ke depan, pemerintah kota bisa bisa dalam menentukan lokasi perpustakaan yang yang lebih baik buat warganya. Bukan sekedar membangun gedung besar dan mentereng yang diisi oleh buku. 

Tema Tantangan Menulis KLIP
Tulisan ini dibuat dalam rangka Tema Tantangan Menulis KLIP 



Related Posts
Shanty Dewi Arifin
Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Related Posts

10 komentar

  1. Betul Teh, sejak pindah ke Kawaluyaan, saya belum pernah ke perpustakaan. Waktu masih di pinggir jalan Soekarno-Hatta saya masih sering mampir.
    Perpustakaan kota Bandung yang di Cikapundung dulu juga lokasinya enak (ieu zaman kapan yaaah... 😁). Semoga didengar oleh para pemangku kebijakan dan kekuasaan

    BalasHapus
  2. Aku sungguh tidak tahu kalau di Indonesia perpusnya udah keren kayak gitu mbak������

    Iya benar, akses itu penting bgt buat perpus. Tapi sayang perpus kami pun aksesnya sih ok di pusat kota, cuma parkirnya mahal kekkekekeke

    Biasanya kalau mau ikut kelas bahasa di perpus, aku parkir di perumahan jarak 800 meter dari perpus trus jalan kaki ke sana ��

    BalasHapus
  3. Penjelasan mengenai perpustakaan Dispusibda-nya lengkaap, Mba Shanty. Beserta review dan masukannya, juga lengkap.

    Dan dari sini pula, saya juga baru tahu kalau ada perpustakaan megah dan besar yang dikelola oleh pemerintah di Bandung. Woww, jadi pingin berkunjung ke sana saat nanti ke Bandung. Pak Suami dan anak pasti suka.

    Semoga pihak-pihak yang punya ide untuk bikin perpustakaan, mengikuti paparan karakterisitik perpustakaan ideal ala Mba Shanty. Saya setuju sekali yang bagian kemudahan akses menujunya, terutama buat anak kecil.

    Btw yang ide menulis di coworking space seru juga ya Mba. Ehehe. Saya hanya pernah iseng mencoba menulis di coffee shop deket rumah, karena ambience-nya enak, tapi malah ga jadi nulis dengan optimal, karena:
    - terdistract dengan yang keluar masuk
    - pinginnya jadi njajal banyak makanan minuman yang ada di menu, akibatnya pengeluaran hari itu membengkak
    - pas sedang pingin leyeh leyeh, gak mungkin bisa
    - etc
    - etc

    Walaaah, udah deh enak di rumah saja. Ehehe.

    BalasHapus
  4. hai teh shanty ... senangnya rumah dekat perpus
    di jakarta favoritku perpusnas di kawasan monas, dekat kantor balaikota dki, jauh dari rumah tapi bisa naik transjakarta (walau butuh satu jam lebih) he3 ...

    kalau nanti sedang liburan di bandung, nyoba mampir di perpuskot ini deh ...
    salam semangat

    BalasHapus
  5. Waduh teh, idaman banget bisa nulis blog di perpus. Pengen juga suatu hari. Kayanya lebih nyaman dari coffee shop. Cuma kayanya masih ga sekarang ya aku, masih dibuntutin. Rumahku ga terlalu deket perpus nih, jadi kangen ke perpus

    BalasHapus
  6. Kayanya memang bagus banget ya Teh perpustakaannya, meja kursinya juga kelihatan baru semua, sangat nyaman. Kalau deket rumah pengen juga kesana hehe, enakeun, ngga nyangka di Bandung ada seperti ini.

    Kangen juga ke perpustakaan, dulu jaman SMA aku langganan ke perpustakaan daerah yang di Cikapundung, itu kecil aja sih tapi bukunya lumayan update, seneng banget kesana makanya.

    BalasHapus
  7. Bener banget mbak, perpustakaan keren kalau susah diakses akhirnya orang-orang malas datang. mudah-mudahan semakin banyak perpustakaan yang jaraknya dekat dari perumahan sehingga anak-anak bisa jalan kaki sendiri ke perpustakaan seperti Matilda nya Roald Dahl.

    Eh tapi, aku ga pernah tahu Bandung punya perpus keren begini, dulu taunya perpus cuma yg dalam kampus aja selain penyewaan buku komik hehehe...

    Semoga ada kesempatan mengunjungi perpusnya kalau ke Bandung lagi.

    BalasHapus
  8. Setuju deh teh sama opini teteh soal akses ke perpustakaan. Coba kalau aksesnya dibuat lebih mudah, kan pasti masyarakat lebih banyak yang mau berkunjung ke perpustakaan dan literasi masyarakat Indonesia (khususnya Bandung) jadi lebih baik ya. Saya sendiri hanya pernah sekali ke perpustakaan Kota Bandung, itu pun duluuuu saat masih kuliah. Hehe.. Kurang lebih alasannya sama, karena kurang mudah untuk sering-sering diakses. Semoga tulisan teteh ini bisa jadi masukan untuk pemerintah ya teh. Kan sayang perpustakaannya sudah bagus tapi kurang pengunjung.

    BalasHapus
  9. Duh, jadi kangen udah lama enggak main ke perpus di kawaluyaan... Biasanya rutin main ke sana berdua sama jav... Tapi sejak rashya lahit belum sempat ke sana lagi... Terus keburu pandemi, huhuhu...
    Iya aksesnya kurang nyaman untuk pejalan kaki, saya biasanya pakai becak...

    BalasHapus
  10. Perpustakaannya nyaman ya Shan.... dan enaknya deket dari rumah. Bisa berangkat bareng suami, lagi. Sayang, suami aku udah gak ke Bandung lagi. Dulu, waktu sering ke Bandung malah belum tahu rumah Shanty deket situ.... hahaha, bisa ke perpus bareng kita.

    BalasHapus