--> Ketika Menulis di Blog Menjadi Beban - Cerita Shanty
lWcg51fin4Fhk7iYMzhi8k0YG8mjAdav5FwgOuRx

Ketika Menulis di Blog Menjadi Beban

Ketika Menulis di Blog Menjadi Beban

Hanya 7 post yang berhasil saya tulis dalam 4 bulan terakhir ini. Duh ya, memalukan sekali sebenarnya. Padahal saya selalu punya cita-cita luhur dan mulia untuk bisa ODOP alias one day one post. 

Emang sebenarnya ngapain aja selama 4 bulan ini?

Setelah bertahun-tahun gagal dalam mencoba berbagai macam resolusi menulis yang aneh-aneh, akhirnya tahun ini saya mencoba sesuatu yang sedikit berbeda. Saya memulainya dengan menulis tanpa beban dulu. Free writing kalau katanya Eyang Peter Elbow.

Memang sih, belum bisa menulis blogpost impian seperti Neil Patel. Tapi selama 120 hari terakhir ini, saya sudah berhasil menulis selama 100 hari loh. Dengan total jumlah kata 75 ribu kata kurang 45 kata. Rata-rata 750 kata per sekali menulis. 

Terima kasih buat Reisha yang sudah dengan canggihnya membuat sistem spreadsheet Rapor KLIP yang bisa mendata semua ini dengan mudah. 

Terharu nggak sih….

Ini pencapaian menulis terbaik saya selama ini. Bagaimana setiap hari saya pasti punya waktu menulis sekitar 1 jam. Dan rasanya begitu menyenangkan.  Menulis tanpa beban memang selalu menyenangkan dan bikin ketagihan. 


Mengapa menulis di blog menjadi beban?

Menulis di blog itu namanya juga tulisan yang akan dibaca orang lain. Bagaimanapun adalah rasa beban tertentu kalau saya. Minimal harus tema tertentu yang fokus

Kalau mau curhat, ya curhat mengenai topik tertentu yang jelas. Bukan random nggak jelas. Mulai dari ngomongin kekesalan hati, sampai ingatan soal jemuran yang mengganggu. Ini jelas bukan suatu tulisan yang perlu dipajang di sebuah blogpost.

Selain menentukan tema atau topik pikiran, saya juga merasa perlu memikirkan mengenai typo pada tulisan. Nggak enak lah rasanya kalau tulisan yang akan dibaca banyak orang kok isinya berantakan banget. Bisa pusing yang bacanya juga kalau banyak salah ketik.

Dan hal lain yang saya rasa paling memberatkan adalah masalah menyiapkan gambar untuk blog. Duh ini tu asli PR banget. Cari gambarnya, cari tulisannya, pilih-pilih template. Belum lagi urusan teknis untuk download dalam bentuk zip jika diperlukan beberapa gambar. Lalu di-extract gambarnya. Di-rename dengan keyword yang sesuai. Masukkan ke google photo sebelum diupload ke blog. Panjang kan….

Belum lagi kalau ingin membahas beban berat printilan SEO. Ah sudah lah…. Menulis menjadi tidak menyenangkan. 

Belum apa-apa sudah capek duluan. Kalau sudah capek dan lelah, bawaan otak mencari pelarian pada sesuatu yang lebih untuk dilakukan. Sesuatu yang tidak pakai mikir. Buka sosmed misalnya. Ini jauhhh lebih mudah kan ya?


Jadi bagaimana caranya agar bisa menulis menyenangkan?

Berdasarkan pengalaman selama 4 bulan terakhir ini, akhirnya saya bisa bilang untuk mulai dengan menulis tanpa beban dulu. 

Berhentilah berpikir yang rumit-rumit. Tidak perlu memikirkan tema tertentu. Menulis acak tidak mengapa. Typo parah nggak masalah. Percaya nggak, saya pernah mencoba mengetik dengan mata tertutup. Hanya mengetik, mengetik, dan mengetik tanpa mengedit sama sekali. Kecepatan mengetik saya dalam kondisi seperti ini ternyata bisa mencapai 1000 kata per 30 menit!

Urusan pakai gambar juga diabaikan dulu pada tahap ini. Pokoknya sekedar menulis dengan cepat saja.

Paling tantangan harian yang saya berikan pada diri sendiri adalah mengusahakan menulis sepagi mungkin yang bisa saya lakukan. Kalau bisa dibawah pukul 12 siang. Tapi kalau tidak bisa, ya setidaknya sebelum magrib lah. Kalau terpaksa banget, ya sudah terpaksa malam sebelum tidur. 

Minimal 300 kata saja kok. Dan rasanya saya jarang sekali bisa menulis hanya 300 kata kalau untuk menulis tanpa beban. Cukup menulis di Google Dokumen yang mudah diakses dari Hp yang bisa dibawa ke tempat tidur. 

Menulis tanpa beban itu membuat proses menulis jadi lebih lancar. Lebih santai dan ringan. 

Saya rasa, semua orang perlu memulai dengan menulis tanpa beban jika ingin membiasakan diri untuk menulis. Minimal untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk bisa menulis rutin. Berapa lama bisa berkomitmen untuk menyediakan waktu menulis setiap harinya? Nyamannya menulis di laptop atau di smartphone? Sukanya menulis apa? 

Hal-hal seperti ini yang perlu diketahui terlebih dahulu.

Seberapa lama seseorang perlu free writing? 1 bulan? 4 bulan? Atau sepanjang tahun? Saya rasa setiap orang punya standar kemampuannya sendiri-sendiri. 

Saya sih mencoba untuk mulai menapak ke step selanjutnya pada sesi 2 Mei - Agustus 2021 ini. Saya perlu naik tangga sedikit lebih tinggi. Tidak lagi sekedar menulis tanpa beban, tapi mulai menambah sedikit beban dengan mulai rutin membuat blogpost sesering mungkin. Minimal 500 kata lah.

Wish me good luck. Want to join me?

Sertifikat KLIP Sesi 1 2021 Shanty


700 kata







Related Posts
Shanty Dewi Arifin
Mama yang sedang semangat belajar menulis demi bisa bayar zakat sendiri.

Related Posts

Posting Komentar